[Onsra] 5: Fernweh


Fernweh (Jerman): kerinduan akan suatu tempat yang jauh, yang mungkin belum pernah didatangi sebelumnya.

***

Di suatu tempat dan waktu yang sangat jauh

Ada pohon besar yang berdiri sendirian di tengah padang rumput luas. Pohon itu berbatang sangat besar, dahan-dahannya panjang dan bercabang. Dedauanannya sangat rimbun.

Sungguh sebatang pohon yang luar biasa gagah. Maia selalu merasa pohon itu adalah raja, penguasa padang rumput.

Ada sebuah perasaan rindu yang aneh timbul dalam hati Maia setiap kali melihat pemandangan itu. Seakan ia seharusnya berada di sana, di rumah. Seakan ia dinantikan di tempat itu.

Angin malam berdesir, menyapu lembut kulitnya dengan sensasi dingin seperti serpihan es. Daun-daun bergesekan, bunyinya seperti bisikan dari ribuan makhluk tak kasat mata yang sedang mengamatinya diam-diam.

Tetapi Maia tidak takut.

Ia mengamati pohon itu, yang selalu dilihatnya dalam malam. Kali ini, ia bertekad untuk menghampiri penguasa padang tersebut.

Gadis itu berjalan semakin mendekat, mendekat, lalu terbangun ke dalam kesunyian.

Mimpi itu lagi.

Maia mendesah. Perasaannya selalu tak keruan setiap kali terbangun dari mimpi tentang pohon misterius itu.

Ia menoleh ke samping, ke luar jendela mobil.

Hatinya mulai tenang memandangi deretan gedung dan pejalan kaki di balik jendela ketika segumpal kegelapan tiba-tiba muncul dari arah belakang dan menelan sebagian pinggir jalan yang sedang ia lalui.

Gadis itu langsung menegakkan tubuhnya dan berbalik menghadap belakang, lalu tubuhnya mendadak kaku.

Dengan mata terbelalak ia mengamati kegelapan yang menggulung seperti ombak kental; gelombang-gelombangnya perlahan semakin tinggi dan cepat.

Kegelapan itu mengejarnya.

Ia menjerit, tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Bahkan, tidak ada suara yang terdengar sedari tadi. Semua senyap.

Anehnya, kerumunan orang yang ada di kiri-kanan sepertinya sama sekali tidak peduli bahwa dunia mereka sedang ditelan oleh kegelapan.

Jantung Maia berdegup dengan sangat kencang. Ia berbalik dan berseru—entah kepada siapa—tapi lagi-lagi suaranya tidak keluar. Lalu matanya terpaku ke depan, ke balik kaca, ke arus gelap yang menderas dari kedua sisi dan akhirnya bertemu. Bagaikan laut yang mengamuk, dua ombak kegelapan itu beradu dan memecah—geloranya menjulang tinggi seakan hendak mencakar langit malam dengan ganas.

Kemudian, kegelapan itu menjadi satu lagi dan menderas ke arahnya.

Jantung gadis itu mencelos. Keringat dingin mulai mengalir menuruni pelipisnya seiring dengan tarikan nafas yang semakin memburu.

Kegelapan itu kini sudah mengepung dan menutup jarak di antara mereka.

Maia menempelkan punggungnya ke kursi mobil yang terus melaju. Dengan gemetaran ia meringkuk selagi kegelapan itu melahap mobilnya dan mulai merembes masuk dari celah pintu dan jendela. Sedikit, sedikit, dan akhirnya mencapai kakinya.

Ia memejamkan mata dan menjerit sekuat tenaga, tapi tetap tak ada suara yang keluar.

Lalu kegelapan yang terasa dingin dan hampa itu menelannya bulat-bulat.

Maia berusaha meronta tapi tangan dan kakinya tidak menyentuh apa-apa. Ia melayang, seperti dalam air, tetapi tidak basah.

Ia tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan, dan kulitnya kebas, tidak bisa merasakan apa-apa. Ia seperti bisa bernafas, tapi seakan tidak ada udara untuk dihirup. Badannya melemas, kepalanya terasa ringan.

Lalu sayup-sayup, di antara batas sadar dan tidak sadar, terdengar suara lembut seorang wanita.

“Entah bagaimana harus kuceritakan kisah ini kepadamu.”

“Ini kenyataan, tapi lebih mirip ceracau tak masuk akal.”

One thought on “[Onsra] 5: Fernweh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s