Untuk C dan Dongeng yang Tak Jadi


image

#30HariMenulisSuratCinta

******

Dear C,

Baru saja angin menghantar sedikit kabar tentang dirimu. Entah ada apa di udara hari-hari ini. Desirannya terasa pedih dan rindu di dalam hati.

Beberapa kali aku mendapati diriku sendiri menatap udara kosong, memikirkanmu dan sebuah dongeng yang tak jadi.

Dongeng kita.

C, aku dulu berpikir bahwa kamu itu pangeran dan aku katak. Sekarang, aku baru sadar kamu dulu berpikir bahwa aku ini putri dan kamu katak.

Aku rasa, sebenarnya tidak ada dari kita yang adalah pangeran dan putri. Kita hanyalah dua katak pemimpi yang bodoh, yang sama-sama merasa tak cukup baik.

Mungkin kita terlalu merasa pertemuan adalah awal sebuah dongeng. Kamu pangeran yang selalu tersenyum, dan aku putri yang tenang dan kuat hati. Lalu kita akan jatuh cinta dan bahagia selamanya. Sebuah dongeng yang sederhana.

Padahal, jauh sebelum kita bertemu, cerita kita masing-masing sudah dimulai di dunia nyata. Kita tiba di awal dongeng dengan membawa banyak beban. Masing-masing terluka dengan caranya sendiri. Masing-masing tidak dewasa dengan caranya sendiri. Dan dongeng kita pun akhirnya tak jadi dimulai.

Kamu pernah berkata aku adalah sosok kekuatan yang membawa tentram, terasa ada mendampingi walaupun tak terlihat. Aku memang ingin jadi kekuatan bagimu, tapi aku tinggal di dalam bayang-bayang hanya karena aku takut menampakkan diriku–dan hatiku. Aku takut terlihat.

Kalau saja kamu tahu apa yang terjadi saat terakhir kali aku memperlihatkan hatiku. Kalau saja kamu tahu bagaimana keadaan hatiku saat bertemu denganmu.

Kalau saja kamu tahu. Mungkin kamu akan mengerti mengapa aku begitu takut.

Dan mungkin juga, selama ini pengertianku akan cinta juga salah. Mungkin aku menganggap cinta datang sebagai sebuah garis, sebuah batas tebing untuk terjun bebas dan jatuh lurus.

Padahal, bagi kita pemimpi, cinta datang seperti kantuk. Bergelombang. Kadang surut, kadang menerjang kuat, tapi selalu ada, menggulung-gulung di batas sadar, membujuk kita untuk hanyut.

Dan kita adalah dua katak bodoh yang berjuang keras untuk terjaga, menantikan yang satunya terlelap duluan. Lalu kita bergantian maju dan mundur, tanpa tahu rasa yang ada. Sama-sama tak jujur.

Berapa kali aku menemukan diriku hampir pulas terlelap? Berapa kali aku memaksa diriku bangun, berpura-pura tak nyaris hanyut dalam kantuk dan tak melihat mimpi?

C, kalau dipikir-pikir lagi, ini bukan surat cinta. Ini surat permohonan maaf.

Aku menyesal untuk keseratus delapan puluh hari di mana kamu harus selalu menghampiriku tanpa aku mendatangimu.

Aku menyesal karena saat kamu dengan sedih menyiratkan bahwa kamu katak dan aku putri, aku hanya menyangkalnya tanpa memberitahukan perasaanku yang sebenarnya.

Aku minta maaf karena tidak lantas mengatakan bahwa aku menyukaimu apa adanya. Bahkan kalaupun benar kamu adalah katak. Atau kecebong sekalipun.

Aku melihat banyak kebaikan dalam dirimu, beban dan ketakutan dan mimpi dan tekad yang kamu coba tutupi di balik senyum ringan. Katak yang memakai kostum pangeran, dan takut membuka penyamarannya.

C, hatiku jatuh bukan karena merasa melihat pangeran. Aku berhasil mengintip sedikit ke dalam jiwamu–saat itu aku memang benar-benar melihat seorang pangeran, sosok impianmu di masa depan.

Dan aku yakin pada impianmu itu.

Sama seperti seorang anak yang bahagia melihat kardus terbungkus kertas, karena yakin ada sesuatu yang berharga di dalamnya. Sama seperti melihat tunas, dan tahu itu bisa menjadi pohon yang luar biasa indah.

Aku minta maaf karena tak pernah memberitahukan hal ini kepadamu, dan membiarkan dongeng kita pupus.

Tapi, C, aku berharap ada maksud di balik ini.

Dongeng kita mungkin tak jadi karena kita tak siap, karena kita harus hidup dulu di dunia nyata. Di mana katak tak lantas jadi putri dan pangeran dalam sekejap mata.

Mungkin kita harus merasakan dulu apa yang namanya perubahan. Perubahan hati, perubahan pikiran, perubahan kedewasaan.

Mungkin kita harus belajar dulu bagaimana rasanya berdiri tegak menggantang angin, sendirian. Mungkin kita harus belajar dulu bagaimana caranya pulih, sendirian.

Mungkin kita harus merasakan dulu tahapan di antara katak dan putri ataupun pangeran, yaitu di mana kita menjadi manusia biasa. Di dunia nyata.

Lalu, dari tengah-tengah kehidupan manusia biasa di dunia nyata tersebut, barulah dongeng bisa dimulai.

Mungkin.

Pada akhirnya, C, aku tetap merasa bersalah. Dan di antara sekian banyak permohonan maaf yang harus kusampaikan padamu, aku menyisipkan sedikit bangga dan banyak doa.

Semoga dongeng barumu cepat datang, semoga kamu menemukan putri yang tepat untuk ceritamu. Dan sementara menunggu saat itu tiba, aku bangga melihatmu melepaskan semuanya dan berjuang menjadi manusia yang baik.

Kamu menghadapi dirimu sendiri dan kamu sudah menang. Kamu sudah tahu siapa dirimu, dan bisa mengendalikannya. Kamu tahu apa mimpimu dan sedang mengejarnya. Kamu takkan pernah lagi menjadi katak.

Dan aku di sini bahagia, karena aku tahu kamu kelak akan bahagia.

Itu cukup.

Dunia nyata, Februari 2015,
dari hati seorang manusia biasa,
kala menantikan kantuk datang lagi.

2 thoughts on “Untuk C dan Dongeng yang Tak Jadi

  1. Aaaaaakkk!! suka bgt sama tulisan ini. rasanya pengen nge-share tulisan ini ke twitter dan nge-tag seseorang. tapi…. ah, sudahlah.

    bagian favorit saya adalah ini: “…aku dulu berpikir bahwa kamu itu pangeran dan aku katak. Sekarang, aku baru sadar kamu dulu berpikir bahwa aku ini putri dan kamu katak. Aku rasa, sebenarnya tidak ada dari kita yang adalah pangeran dan putri. Kita hanyalah dua katak pemimpi yang bodoh, yang sama-sama merasa tak cukup baik.”

    iya, sama-sama gak merasa cukup baik untuk satu sama lain, jadinya gitulah… padahal…

    oh iya, kenapa ceritanya disebut dongeng yang tak jadi? menurut saya kisah ini tetap bisa jadi dongeng yang cantik kok (biarpun rada nyesekin). pada akhirnya si penulis tetap bahagia dan C juga ttp akan bahagia. udah memenuhi standar dongeng lah itu…😀

    maaf ya kalau komentar saya rada lebay dan gak penting, tapi percayalah, ini komennya pake hati. haha😀

    • Hai! Selalu senang baca komentarmu. Ga ada komen yang lebay dan ga penting, tenang saja. Buat saya semua komen itu luar biasa menyenangkan, so thank you udah luangin waktu ketak-ketik komen ini hihihi…

      Kenapa disebut dongeng tak jadi? Karena di benak penulis, seharusnya dongeng itu dimulai dengan kertas kosong. Lalu dibuka dengan “Pada zaman dahulu kala”, cerita berjalan, dan akhirnya Pangeran dan Putri yang jatuh cinta hidup bahagia.

      “…and they lived happily ever after.”

      Tapi “dongeng” di surat ini berisi dua tokoh yang kisahnya tidak dimulai dari kertas kosong. Lalu ceritanya tidak jadi dimulai. Dua-dua ga ada yang maju. Ga jadi deh dongengnya.

      Dan, soal akhir bahagia yang ditulis di akhir, kan masih “akan”. Hohoho… Jadi buat saya, ini dongeng yang batal jadi dongeng.

      Tapi mungkin dongeng kamu bisa berlanjut kalau kamu share ini dengan mention orang itu di Twitter… (lalu ditimpuk keyboard)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s