Surat Cinta untuk Pria Dalam Mimpi


image

#30HariMenulisSuratCinta

******

Wahai Pria dalam Mimpi,

Pertemuan pertama kita tak berawal dan tak berakhir.

Pertama kali aku melihatmu, kau sedang duduk menyetir di sebelahku. Dan aku langsung tahu, kaulah orangnya.

Kita sedang merambah kemacetan Jakarta, berjuang menghadiri sebuah undangan pesta. Aku berusaha tenang, namun sebenarnya aku cemas. Mataku terus-menerus melirik jam yang ada dalam mobil.

Kau mencuri pandang ke arahku beberapa kali, tapi tak mengatakan apa-apa, lalu kembali berkonsentrasi menyetir. Sementara itu, waktu terus berjalan, dan jam pestanya sudah terlewat. Padahal pesta itu cukup penting, dan aku sudah mati-matian berdandan.

Saat akhirnya kita sampai di gedung parkir, pestanya sudah selesai. Sudah larut malam.

“Sepertinya kita harus langsung pulang,” kataku selembut mungkin. Aku cemas kau akan mendapat masalah karena tidak memenuhi undangan, tapi aku tahu kau pun lelah dan sudah berusaha semampumu. Maka, untuk menghela nafas pun aku merasa tidak patut, apalagi mengeluh.

Tapi kau malah tersenyum kecil dan memacu mobilmu, terus menanjak tinggi, menaiki tingkatan-tingkatan gedung parkir itu.

Di tingkat yang tinggi dan sepi, kau memberi isyarat padaku untuk turun.

“Mau apa di sini?” tanyaku heran.

Kau mulai tertawa kecil sambil menyalakan musik. Lagu berirama lambat mulai merambati udara dan memenuhi seisi mobil. Kau mengeraskan suaranya dan melangkah keluar.

Lalu kau membuka pintu mobilku dan menyuruhku keluar juga.

“Kan sayang, sudah dandan,” katamu. Aku kenal sorot matamu–kilat jenaka itu hanya keluar kalau akal sehatmu sedang hilang. Dan, seperti biasanya, aku senang hilang akal sehat bersamamu.

Aku melangkah keluar.

Saat kau tidak menutup kembali pintu mobilnya, baru aku sadar apa yang hendak kau lakukan.

“Gila,” ujarku, tapi toh tertawa juga.

Kau menarik tanganku lalu merengkuhku masuk dalam sebuah dansa. Musik terus mengalun dari dalam mobil. Gaunku melambai perlahan seiring setiap gerakan. Hatiku tenang berada di dekatmu.

Bibirku membentuk sebuah senyum, dan seperti cermin, kau pun turut tersenyum.

Dan itulah pertemuan pertamaku denganmu, mimpi pertamaku akan dirimu, kencan pertama kita, tarian pelan di gedung parkir.

Lalu aku terbangun, jauh lebih muda, bahagia tapi pelupa. Wajahmu kabur, irama musiknya terlupakan.

Bunga tidur, begitu pikirku. Namun ternyata itu hanyalah mimpi pertama dari ratusan mimpi lainnya tentang dirimu.

Pria dalam Mimpi, akhir-akhir ini aku semakin jarang memimpikanmu.

Apakah ini artinya kita akan segera bertemu dalam dunia nyata?

Ataukah ini artinya sesederhana bahwa aku mulai berhenti bermimpi?

Jakarta, 14 Februari 2015,
Tanpa cokelat dan mawar.

******

Image taken from favim.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s