[Onsra] 4: Keputusan


image

Hala berpaling dari sosok yang tak pernah dianggapnya sebagai ayah—sampai sekarang.

Ia selalu menyangka Marama berbohong ketika berkata bahwa Raja Erasyl menginginkannya hidup, bahkan setelah ia tahu bahwa nyawanya sendiri akan dipertaruhkan. Selama ini Hala berpikir bahwa bagi Raja Erasyl ia hanyalah Heliodoro yang harus dikorbankan. Tidak lebih.

Namun, mata sang raja yang menatapnya tadi itu tergenang air mata, sorotnya nampak penuh kehangatan dan kerinduan. Mata itu tak pernah dilihat Hala—mata seorang ayah, yang siap mati bagi putrinya.

Apakah pilihanku ini benar, Ayah?

Hala menatap sosok pria yang baru saja memasuki Altar Mahin. Pria itu berjalan dengan perlahan, seakan sedang menilik situasi. Perawakannya sedikit lebih tinggi dari Hala, tegap, dan langkahnya sama sekali tidak menimbulkan bunyi. Air mukanya tidak terlihat begitu kekanak-kanakan seperti biasanya. Hari itu mukanya terlihat tegas, terlihat waspada.

Rakaisha.

Hala tak pernah tahu namanya, tapi ia telah mengamati pria itu setiap hari, sejak sejauh yang bisa ia ingat. Rambut sebahu pria itu yang hitam kelam dan biasanya berantakan, kini tersisir rapi dan sedikit tertutup oleh ikat kepala berwarna biru. Busur kayu panjang dan kantung anak panah tersampir rapi di punggungnya.

“Yang Mulia Raja Erasyl, Yang Mulia Putri Hala,” katanya sambil berlutut memberi hormat. Hala berpikir bahwa kimono upacara biru-putih yang dipakainya membuat sang Rakaisha terlihat seperti cendekiawan alih-alih pembunuh.

Mata pria itu lalu menatapnya, dan Hala terkesiap. Sorot mata sang pria berubah menjadi lembut dan bibirnya tidak terkatup kaku seperti saat ia pertama kali datang. Selama sepersekian detik, sang Rakaisha menatapnya sambil tersenyum sedih, dan seketika itu juga Hala mengerti—Rakaisha sudah tahu dan siap menjalankan rencananya.

Rencana Marama, lebih tepatnya.

Tuan Putri, hamba mengajari Tuan Putri cara mengendalikan cermin bukan hanya supaya bisa mengamati dunia luar.

Hala masih ingat hari ketika Marama berkata demikian. Ia baru saja tertangkap basah sedang memandangi padang dan pegunungan Terhenetär yang terletak jauh di perbatasan Selatan.

Putri, cermin bisa menjadi banyak hal selain jendela. Ia bisa menjadi teman bicara, gerbang, dan juga pembalik. Jika Tuan Putri ingin hidup, Tuan Putri harus belajar membalikkan keadaan dengan cermin. Lebih tepatnya, menukar.

Hala mengingat-ingat semua latihan yang diam-diam dilakukannya bersama Marama. Susu panas dan air dingin menjadi susu dingin dan air panas. Bunga putih dan selendang hitam menjadi bunga hitam dan selendang putih. Terus begitu, sesering yang mereka bisa.

Inilah rencana Marama: supaya bisa hidup, Hala harus menukar tempatnya dengan Rakaisha. Heliodoro menjadi Rakaisha, dan Rakaisha menjadi Heliodoro. Korban menjadi pembunuh, pembunuh menjadi korban. Yang seharusnya mati menjadi hidup, yang seharusnya hidup menjadi mati.

Hamba akan menyihir cermin dengan menggunakan air dari kolam air mancur. Lalu, Raja Erasyl akan menggunakan kekuatan mahkota dan tongkat raja untuk memperkuat sihirnya. Ia akan membuat dinding perlindungan dan menahan Koios serta para penyihir supaya tidak bisa menggunakan kekuatan mereka.

Hala berusaha mengatur nafasnya yang mulai menderu. Koios sedang menyerahkan Bilah Bulan kepada Rakaisha. Hala bersimpuh membelakangi kedua Bulan, menunggu pembunuh yang ditakdirkan itu datang kepadanya. Saat Rakaisha mengangkat Bilah Bulan tinggi-tinggi, itulah tanda yang disepakati.

Kulit Marama berpendar, keemasan dan keperakan seperti kunang-kunang di tengah hujan es yang berkilau. Air dari kolam melayang di udara tepat di hadapan Hala dan sang Rakaisha, membentuk sebuah cermin air yang terlihat hidup.

Mahkota dan tongkat Raja Erasyl yang keperakan juga mengeluarkan sinar. Sang raja melebarkan kedua tangannya, dan angin bertiup ribut seakan sedang dibengkokkan, berputar membentuk dinding perlindungan di sekitar mereka. Penyihir maupun tentara sama-sama tak ada yang bisa bergerak. Koios pun seakan ikut lumpuh, hanya menatap dengan sorot mata tak percaya.

Hala memusatkan perhatiannya pada cermin tersebut, tangan kanannya meraih tanda Heliodoro di punggung tangan kirinya.

Tukar, perintahnya dalam hati.

Lalu ia meraih tangan Rakaisha yang menggenggam Bilah Bulan, dan gelombang sejuk datang menggulung-gulung dari cermin, menghampirinya seperti selimut yang lembut. Hala mulai merasa lemas. Tenaganya hampir terkuras habis.

Tukar, perintahnya lagi dengan mengerahkan seluruh tekad yang ia miliki.

Dari dalam ulu hatinya, terasa ada sesuatu yang hangat, menggulung-gulung dan menjalar keluar menuju ke cermin. Pendar cahaya keemasan tampak ketika kehangatan itu memantul dan masuk ke tubuh Rakaisha.

Sesuai rencana Marama, Hala lalu merebut Bilah Bulan dan melepaskan genggamannya.

Heliodoro harus mati.

Ucapan Marama terngiang-ngiang di benaknya.

Maka dari itu, Putri Hala tidak boleh menjadi Heliodoro.

Rencana Marama berhasil. Kini ia adalah Rakaisha. Pria di hadapannya adalah Heliodoro.

Napas Hala mulai tersengal. Ia menegakkan tubuhnya.

Kini, yang harus ia lakukan hanyalah menikam pria itu, sang Heliodoro, dengan Bilah Bulan.

Hala mendekat ke arah pria yang juga berjalan ke arahnya tanpa perlawanan. Di tepi kolam air mancur, Marama masih mempertahankan cermin itu dengan sekuat tenaga. Di belakang Hala, tubuh Raja Erasyl bergetar hebat karena menahan gejolak kekuatan sihir yang sangat besar. Mahkota dan tongkatnya mulai bersinar luar biasa terang.

Setitik keraguan merasuk ke hati Hala, tapi lalu ucapan Marama terngiang lagi di benaknya.

Putri, cermin bisa menjadi banyak hal selain jendela. Ia bisa menjadi teman bicara, gerbang, dan juga pembalik. Jika Tuan Putri ingin hidup, Tuan Putri harus belajar membalikkan keadaan dengan cermin.

Hala mengangkat Bilah Bulan. Pria itu menutup matanya. Tangan Hala bergetar.

Maafkan aku, Ayah. Aku anak egois. Kalian semua sudah siap berkorban nyawa bagiku, tapi aku tak sanggup mencabut nyawa pria ini.

Hala lalu meraih tangan sang Heliodoro.

Maafkan aku, Marama. Aku ingin hidup, tapi tak ingin dia mati. Jadi aku diam-diam berlatih sesuatu yang lain.

Dengan sisa kekuatannya, ia merengkuh pria itu lalu menjatuhkan diri mereka ke arah cermin. Hala memejamkan matanya, berharap agar ia masih bisa melakukan sihir dengan kekuatan Bulan yang sekarang ada di dalamnya.

Gerbang, perintahnya dalam hati.

Tubuh mereka mulai masuk ke dalam cermin. Rasanya seperti masuk ke dalam tembok air, tetapi tidak basah. Kepala Hala mulai terasa ringan. Ia mencoba memusatkan pikiran pada Marama dan ayahnya.

Lari. Sembunyi. Kabur.

Tenaga tak kasat mata merangsek Raja Erasyl dan Marama. Mereka terpental, tapi Hala tak lagi melihatnya. Ia sudah kehabisan tenaga.

Hala tak sadarkan diri.

Lalu cermin itu menelan mereka berdua, menggelenyar, dan hilang sama sekali.

Sejarah mencatat bahwa pada Ritual Bilah Bulan kali itu, Heliodoro tidak mati. Rakaisha pun menghilang bersama Bilah Bulan, dan dengan demikian kekuatannya tidak bisa diambil.

Rakaisha baru tidak bisa dipilih.

Tinggal satu bulan lagi menuju kelahiran Heliodoro yang baru, sedangkan tidak pernah ada dua Heliodoro hidup bersamaan di dunia ini.

Kekacauan akan segera terjadi.

Klik di sini untuk membaca cerita selengkapnya.

5 thoughts on “[Onsra] 4: Keputusan

  1. gak nyangka ritual bilah bulannya jadi kayak gini. saya bener2 ga kepikiran lho kalau waktu hala merhatiin rakaisha lewat cermin itu ternyata ada maksud tersembunyi yang sifatnya lebih rumit. kirain karena naksir doang. hahaha..
    jadi makin penasaran sama kelanjutan cerita ini, apakah nanti cerita akan berfokus ke raja erasyl pasca mengacaukan ritual, atau ke hala dan rakaisha (yang dalam bayangan saya kayak pendekar2 di drama korea) yang belum ketauan namanya. belum lagi kekacauan yang dimaksud, bisa2 ada perang dunia baru season 2😀
    chapter selanjutnya sangat ditunggu🙂

    • Terima kasih buat dukungannya🙂
      Benar-benar membangkitkan semangat nulis.

      Bagian 5 sebenarnya udah ada, sedang dirapikan. Hohohoho… Semoga bisa segera di-post.

      Saya rasa begitu saya post, akan menuai pro dan kontra. Makanya agak takut (payah nih ya hahaha). Nantikan apa yang terjadi selanjutnya *musik iklan*

      NB: Tapi apapun yang terjadi, catatan plot saya udah begitu lho yaaa… Jangan ditimpukin batu😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s