[Onsra] 3: Menara Istana Pualam


wpid-tumblr_n1896enqjz1trlmdvo1_500.png

Ada sebuah menara di Istana Pualam, istana kerajaan bangsa Mahin.

Pada mulanya, menara itu dibangun oleh seorang raja sebagai hadiah pernikahan. Tempat itu dibangun sedemikian rupa supaya calon ratunya bisa memandang Bulan dengan leluasa. Selain merupakan menara tertinggi, puncaknya pun dibuat seperti balkon yang terbuka dan luas. Raja itu merancang sebuah taman di sana, lengkap dengan kolam kecil dan air mancur di tengahnya. Katanya, bunga-bunga yang dulu tumbuh di taman itu adalah bunga ajaib yang kelopaknya seakan terbuat dari mutiara.

Tapi kini tak ada bunga yang tumbuh di sana. Setelah Perang Dunia Baru selesai, tempat itu berubah menjadi Altar Mahin.

Raja Erasyl melihat ke sekelilingnya, ke pelataran luas dengan lantai pualam berwarna pucat, ke dinding yang dijalari oleh sedikit dedaunan liar, dan merasa menyesal. Seharusnya ia menanami taman ini kembali. Istrinya dulu pernah berbicara tentang membangun kembali taman di Altar Mahin, tapi ia tak menanggapinya dengan serius.

Dulu, baginya Altar Mahin hanyalah sekadar tempat eksekusi. Bahkan banyak yang takut untuk melangkahkan kaki ke sana. Karena itulah ia langsung melupakan gagasan itu dalam sekejap.

Sampai beberapa hari terakhir ini, saat ia terpaksa mengunjungi Altar Mahin, barulah kalimat selewat lalu mendiang istrinya kembali timbul dalam benaknya.

Ada begitu banyak penyesalan dalam hidup Raja Erasyl, dan tiba-tiba saja semua penyesalan tersebut datang bersamaan untuk menggempurnya. Tak peduli betapa pun kerasnya ia berusaha mengabaikan pikiran-pikiran tersebut, penyesalan itu terus ada dan menghantuinya.

Seandainya saja ia menanami taman itu kembali.

Seandainya saja ia lebih berusaha membuat istrinya bahagia.

Seandainya saja ia tidak terburu-buru ingin mempunyai penerus takhta.

Seandainya saja istrinya tidak mengandung.

Seandainya saja istrinya tidak meninggal.

Seandainya saja anaknya bukan Heliodoro.

Seandainya saja ia mengerti bagaimana cara menghadapi kenyataan-kenyataan pahit tersebut bersama anak perempuannya.

Raja Erasyl ingin sekali menjalin hubungan dengan Hala. Hampir setiap hari ia melangkahkan kakinya ke sayap kediaman sang putri, namun langkahnya selalu terhenti dan berbalik di tengah jalan.

Terkadang ia berhasil sampai dan melihat putrinya secara sepintas. Lalu hatinya, yang susah payah berusaha bertahan, langsung hancur seketika.

Putrinya itu semakin hari semakin mirip dengan Ratu Cordelia. Rambutnya berwarna gelap dan dibiarkan panjang sampai kadang menyentuh lantai. Matanya yang juga berwarna gelap selalu terlihat seakan sedang berada di tempat lain, melihat sesuatu yang lain.

Rambut dan mata Raja Erasyl juga berwarna serupa, tapi ada sesuatu yang membuat Hala sangat mirip dengan ibunya. Caranya tertawa, dan caranya bertopang tangan saat sedang melamun memandang kedua Bulan di angkasa. Bahkan sampai caranya berjalan dan berbicara.

Erasyl tak pernah bisa membayangkan harus mengirim anaknya ke Altar Mahin saat ia genap berusia 299 bulan, tapi itulah kewajibannya sebagai raja.

“Aku adalah raja, dan sudah disumpah untuk melindungi rakyatku.” Ia ingat pernah mengatakan hal itu pada Koios.

Setelah anaknya lahir, kalimat itu terus terngiang-ngiang seperti momok dalam kepalanya. Ia adalah raja. Untuk melindungi rakyatnya, Heliodoro harus mati. Anaknya harus dikorbankan. Hala harus dibunuh dengan Bilah Bulan.

Hatinya tercabik-cabik antara perasaannya sebagai raja dan sebagai ayah, jadi Erasyl akhirnya memilih. Ia memilih untuk menjadi raja. Menjadi ayah terlalu menakutkan baginya.

Tapi pada suatu hari, saat Koios sedang menangani pemberontakan di Rumah Penyihir, Marama datang kepadanya dengan membawa sebuah tawaran.

“Yang Mulia, hamba mempunyai suatu cara agar Tuan Putri tidak mati,” begitu kata Marama kepadanya.

Erasyl tertegun, seakan hendak memastikan bahwa ibu tua itu benar-benar berkata bahwa ia bisa menyelamatkan anaknya dari nasib yang sangat kejam.

Dan sosok ayah dalam dirinya, yang telah lama dipendam, kini keluar untuk mengambil alih.

“Cepat katakan padaku bagaimana caranya,” kata Erasyl, setengah berbisik.

Marama terlihat sedikit ragu.

“Sebenarnya Hamba sudah mengemukakan hal ini juga kepada Tuan Putri, tetapi Tuan Putri berpendapat bahwa usul Hamba sangatlah beresiko.”

“Bukankah semua resiko pantas ditempuh supaya ia tetap hidup?”

“Tuan Putri berkata bahwa ia tergoda, tapi usul hamba ini kelewat kejam.”

“Dalam hal apa?”

“Yang Mulia, sebelumnya hamba harus katakan bahwa usul hamba ini belum tentu berhasil dilaksanakan. Tapi jika dicoba, akan ada nyawa-nyawa yang melayang—nyawa Yang Mulia pun terancam.”

Marama menatap matanya dengan tajam, seakan hendak mencari keraguan di sana.

Dalam segala hal yang berkenaan dengan anaknya, Erasyl sering sekali ragu. Ia sering menyesal. Tetapi hari itu, tanpa ragu ia berbicara kepada Marama.

“Beritahukan kepadaku bagaimana caranya.”

Lalu Marama menjelaskan satu-satunya cara untuk menyelamatkan putrinya, dan sejak saat itu ia tidak pernah lupa barang sehari pun.

Terlebih pada hari di mana putrinya seharusnya mati.

Hala memasuki Altar Mahin tanpa suara. Erasyl mengamati putrinya dengan perasaan campur aduk. Sudah 299 bulan berlalu, tapi ia sama sekali belum mengenal anaknya sendiri, dan tiba-tiba saja sudah saatnya untuk berpisah.

Ia mendongak ke atas, ke arah kedua Bulan yang tampak bulat sempurna dan hampir bertemu di langit gelap. Hampir tengah malam.

Hala berjalan melewati beberapa dewan penasihat istana dan sedikit pasukan elit yang bertugas untuk mengamankan Ritual Bilah Bulan. Tanpa gentar, putrinya itu melangkah dengan mantap ke ujung Altar Mahin, tempat Koios berdiri. Tempatnya berdiri juga.

Ia mengenali hiasan rambut yang dikenakan Hala. Cordelia dulu sangat menyayangi untaian kristal tersebut. Erasyl tersenyum sedih. Ia seakan melihat Cordelia berjalan di sisi Hala, dan keduanya tampak sangat cantik.

Hala mengangguk kecil kepada Marama yang berjalan di belakangnya, lalu wanita tua itu pun mengundurkan diri dan mengambil tempat agak ke pinggir tengah, di belakang kaum penyihir bangsa Mahin, di sebelah air mancur yang telah diperbaiki oleh sang raja.

Suara air yang bergemericik sedikit menenangkan hati Erasyl. Ia tidak menghidupkan tamannya kembali, tapi setidaknya ia berhasil memperbaiki air mancur itu dan membuat tempat ini terasa sedikit tidak dingin dan kejam.

Mata mereka bertemu. Hala menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit dibaca.

Erasyl teringat ucapan Marama.

“Yang Mulia, Tuan Putri belum bisa memutuskan apakah akan menjalankan rencana ini atau tidak. Ia tidak merasa harus memperjuangkan hidupnya dengan cara seperti ini. Bolehkah hamba memberitahunya bahwa Yang Mulia akan mendukung apapun keputusannya, baik itu untuk mati ataupun hidup?”

Waktu itu, Erasyl sempat bertanya-tanya dalam hati. Siapakah yang tidak akan berjuang mati-matian untuk hidup? Lalu ia mendapat jawabannya: orang yang tidak benar-benar hidup. Orang yang merasa hidup itu hampa, sama seperti dirinya.

Ia tadinya berpikir bahwa menahan putrinya di istana akan melindungi anak itu dari sakit hati saat harus mengorbankan hidupnya di usia yang muda. Tapi tanpa sadar ia telah merenggut kehidupan itu sendiri dari waktu Hala yang singkat. Apa yang bisa ia perbuat? Ia tidak bisa mengambil keputusan bagi anak yang bahkan tak pernah diasuhnya. Ia tidak berhak untuk melakukannya.

Ia tidak mau Hala mati. Itu jelas.

Tapi, untuk hidup, anaknya harus melakukan hal yang sangat kejam. Bisakah ia memaksa anaknya untuk terus hidup dalam perasaan bersalah, hanya demi menghilangkan perasaan bersalahnya sendiri?

Maka dengan suara lirih dan bergetar ia menjawab Marama, “Beritahukan kepadanya bahwa aku mendukung apapun keputusannya, walaupun aku lebih suka jika ia memilih untuk hidup.”

Detik itu juga, dan setiap detik setelahnya, Erasyl gundah. Apa keputusannya tepat? Apa keputusan yang akan Hala ambil?

Erasyl bisa merasakan tatapan mata Marama ke arahnya.

Seorang penyihir mengumumkan kedatangan Rakaisha, dan Hala memutar badannya ke belakang.

Pandangan mata Erasyl terpaku pada bagian belakang kepala anaknya. Hatinya berdebar kencang.

Di langit, kedua Bulan mulai bersatu dengan amat perlahan.

Sebentar lagi puncak malam tiba.

Anaknya akan segera memilih takdir, dan Erasyl sudah siap untuk membayar harganya.

***

Klik di sini untuk baca cerita selengkapnya.

2 thoughts on “[Onsra] 3: Menara Istana Pualam

  1. saya suka sama deskripsi di paragraf awal. saya bisa membayangkan taman luas dengan bunga-bunga cantik. ditambah air mancur dan cahaya bulan, sepertinya romantis. sayang ya harus jadi tempat eksekusi. pendeskripsian lain juga menurut saya sudah sangat bisa membuat pembaca mendapatkan gambaran jelas tentang keadaan yang berusaha disampaikan penulis. tp saya mau tanya, lagi-lagi karena kurangnya kosakata yg saya punya, apakah bertopang tangan itu istilah yg memang baku? saya biasanya cuma mendengar istilah bertopang dagu, yang saya pahami sbg menyangga dagu dengan tangan.

    hm, jadi apa yang akan dilakukan hala untuk menyelamatkan nyawanya? saya sempat mengira dia akan mengorbankan orang lain, mungkin akan disamarkan seperti dirinya dan diberi tanda seorang heliodoro demi menipu org2. saya juga sempat berpikir bahwa ayahnyalah yang akan menggantikan dia dikorbankan dlm ritual. tapi sepertinya bukan dua kemungkinan itu yg akan terjadi.

    oh iya, karena katanya onsra yang jadi judul cerita ini kurang lebih berarti mencintai untuk yg terakhir kali, bisakah saya tahu cinta seperti apa yang dimaksud? cinta ayah-anak atau cinta heliodoro-rakaisha? rakaisha-nya laki-laki, kan?

    next chapter, pleaseeeee ><

    • Hai, terima kasih udah balik dan baca cerita ini lagi🙂

      Wah, terima kasih koreksinya. Yang betul memang bertopang dagu🙂 menopang itu kan artinya menyangga, jadi bisa menyangga apa saja, CMIIW. Tapi yang saya maksud di sini memang dagu.

      Untuk apa yang akan Hala lakukan, sebenarnya sudah ada hint di awal. Tapi tunggu saja babnya yah hahahahaha… *lalu ngumpet takut ditimpuk*

      Saya lagi susun ulang biar ngga kelewat maju-mundur alurnya, takut bikin bingung pembaca.

      Ada 2 alasan kenapa saya memilih Onsra jadi judul:
      1. Sifat kata itu sendiri, yang susah dijelaskan karena pengertiannya luas dan dalam (merujuk ke catatan di awal cerita).
      2. Karena itu elemen penting dalam cerita ini. Mengenai antara siapa dan siapa, hmmmm… Hehehehe… *kalau dikasih tau, nanti spoiler soalnya*

      *kabur sebelum bener-bener ditimpuk*
      *lanjutin nulis*

      OH IYA, sebelum lupa, mohon dukungan dan kalau bisa vote-nya yah di http://gwp.co.id/author/ginagabrielle/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s