[Onsra] 2: Kisah Raja Erasyl


image

299 bulan sebelumnya.

Erasyl dikenal sebagai raja berhati paling lembut dalam sejarah bangsa Bulan.

Banyak kisah yang diceritakan secara turun-temurun kepada anak-anak Mahin, tapi ada satu kisah yang paling terkenal.

Konon katanya, pada tahun-tahun awal pemerintahan Erasyl, seorang perempuan muda yang tengah mengandung datang menghadap ke istana kerajaan bersama kakaknya.

Kakaknya itu langsung bersujud dengan kepala menyentuh lantai, tapi perempuan tersebut menghambur ke arah takhta raja sebelum ditahan oleh pengawal berbaju zirah yang bersiaga di kaki podium singgasana. Menangis tersedu-sedu, perempuan itu akhirnya bersimpuh juga di tepian tangga yang paling bawah. Tangannya menjulur keluar dari lengan gaun petaninya yang lusuh, dan di atas punggung tangannya terlihat tanda berbentuk matahari—tanda Heliodoro.

“Yang Mulia, berbelas-kasihanlah pada hambamu ini. Hari ini bulan ke-299 hamba habis, dan besok hamba harus mati, namun anak yang tengah hamba kandung ini belum waktunya lahir. Berbelas-kasihanlah, Yang Mulia, selamatkan nyawa anak ini. Jangan sampai anak ini turut mati bersama hamba,” katanya di sela-sela isak tangisnya.

Erasyl tertegun. Sebenarnya, sebagai seorang raja, ia tidak harus mempedulikan kecerobohan Heliodoro yang mengambil resiko mengandung walaupun sudah tahu waktu kematiannya. Namun Erasyl teringat akan istrinya sendiri, Cordelia, yang tengah mengandung juga. Lalu hatinya yang masih muda itu tergerak oleh kasihan.

Raja Erasyl akhirnya memanggil penyihir kerajaan, penyihir terkuat bangsa Mahin, yang bernama Koios. Ia memerintahkan agar penyihir itu berembuk dengan tabib kerajaan, Marama, untuk melakukan sesuatu agar bayi itu bisa segera lahir dengan aman.

Di hari itu juga mereka menciptakan sebuah ramuan yang diperkuat dengan rapalan sihir. Namun, ramuan itu baru akan selesai bekerja dalam tujuh hari karena usia kandungan perempuan itu masih sangat muda. Lagipula, kekuatan Matahari dalam diri Heliodoros itu menghalangi kerja ramuan yang diberi sihir Bulan.

Tanpa pikir panjang, Raja Erasyl langsung memerintahkan agar perempuan itu dan kakaknya diterima di dalam istana selama seminggu.

“Menunda Ritual Bilah Bulan akan membawa kesialan, Yang Mulia,” protes Koios. Penyihir terkuat bangsa Mahin itu tingginya sekitar dua meter, kulitnya gelap, dan rambutnya berwarna keemasan. Raut mukanya terpahat indah seperti patung. Secara keseluruhan perawakannya bisa dibilang sempurna dan mempesona—jika saja ia tidak selalu terlihat seperti itu selama berpuluh-puluh, bahkan mungkin ratusan tahun.

Koios sudah menjadi pendamping raja selama beberapa generasi, dan tidak ada yang tahu persis kapan ia datang atau darimana asalnya. Sosoknya dalam jubah bertudung berwarna biru gelap sering menjadi inspirasi para ibu untuk menakut-nakuti anak mereka yang nakal.

Namun di hadapan penyihir yang demikian, raja muda Erasyl berkata dengan tegas, “Aku adalah raja, dan sudah disumpah untuk melindungi rakyatku. Bahkan yang belum lahir sekalipun.”

Koios menatap Erasyl dengan tajam. “Baiklah. Jangan bilang hamba tidak memperingatkan Yang Mulia,” katanya dengan nada mencemooh. Ia lalu berbalik dan meninggalkan ruangan.

“Jangan pedulikan dia, Yang Mulia,” kata Marama.

Dan Raja Erasyl tidak mempedulikannya.

Tujuh hari berlalu, lalu sang Heliodoros melahirkan dengan selamat. Dengan penuh peluh dan airmata, ia berkata kepada raja dan ratu yang datang menjenguk, “Terima kasih atas belas kasihan Yang Mulia. Sekarang hamba sudah siap menjalankan takdir hamba.”

Ibu muda itu tersenyum, dan senyumnya bertahan bahkan saat menyerahkan anaknya kepada Marama. Juga saat dirinya berlutut di atas Altar Mahin, menghadap kedua Bulan yang bertahta di angkasa dengan kemilau mereka yang teduh.

Ia menoleh ke arah kakaknya, yang kini memegang Bilah Bulan. Airmata perempuan yang lebih tua itu mulai menitik.

“Jangan menangis,” kata sang Heliodoro, “Takdir memang sulit ditebak. Mungkin hanya keluarga kita yang mempunyai Heliodoro dan Rakaisha di saat yang bersamaan.”

Lalu kakaknya, Rakaisha itu, mulai menangis. Bilah Bulan yang sudah terhunus bergetar dalam genggaman tangannya. Takdir Rakaisha memang adalah untuk membunuh Heliodoro, tapi takdir macam apa yang mengharuskan seorang kakak untuk membunuh adiknya?

Sang adik tetap tersenyum, matanya menatap sang kakak dengan lembut. Ia kemudian memandang ke arah bayinya, yang menggapai-gapai udara dalam pelukan Marama. Dan akhirnya ia mengarahkan pandangannya kembali kepada kakaknya, kepada Rakaisha-nya. Ia mulai melangkah maju.

“Demi kelangsungan bangsa Mahin, dan pemerintahan Raja Erasyl yang baik,” bisiknya lirih.

Lalu ia menangkup tangan kakaknya, dan menahan kedua tangan yang bergetar tersebut agar tetap kokoh memegang Bilah Bulan saat senjata keramat itu menembus tubuhnya.

Rakaisha melolong pilu dan menahan tubuh Heliodoro yang mulai melemas. Bilah Bulan berpendar dengan sangat terang, dan selesailah Ritual Bilah Bulan kali itu. Heliodoro telah mati dengan tenang. Bangsa Mahin terhindar dari kehancuran.

Demikian akhir dari cerita terpopuler tentang kemurahan hati Raja Erasyl.

Rakyat mengelu-elukan namanya. Bahkan orang tua dari kakak-beradik yang naas itu, saat datang menjemput anak tertua mereka dan cucu mereka yang baru lahir, tetap bersujud kepadanya dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatinya.

Tetapi Erasyl membenci cerita itu lebih dari segala-galanya, karena baginya cerita itu tidak berakhir di sana.

Cerita tersebut, baginya, berakhir tiga minggu kemudian.

Ratu Cordelia meninggal dalam persalinan. Tapi itu belum semuanya.

Ia berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat, namun bayi itu datang ke dunia ini dengan tanda matahari di punggung tangannya.

***

Klik di sini untuk baca ceritanya berurutan.

3 thoughts on “[Onsra] 2: Kisah Raja Erasyl

  1. lama gak main ke sini.. sekalinya mampir langsung disuguhi tulisan secantik ini.

    berhubung saya kurang akrab dengan dongeng dan tulisan2 bergenre fantasi, saya mau mengajukan beberapa pertanyaan:

    1. onsra itu artinya apa?
    2. apakah istilah seperti heliodoro, rakaisha, marama, dan istilah2 lain yg dipakai di cerita ini dipinjam dr cerita bergenre sama yg sudah ada sebelumnya, atau murni karangan penulis?
    3. apakah kisah ini masih akan ada lanjutannya?

    • Hai! Terima kasih udah bilang tulisan ini cantik hihihi… *senang*

      1. Onsra itu judul cerita ini. Artinya kira-kira: perasaan mencintai untuk yang terakhir kali, karena tahu cintanya tidak mungkin terwujud. (Jangan kuatir, nanti akan ditulis juga di dalam ceritanya)
      2. Heliodoro dan Rakaisha adalah semacam peran/posisi, yang orangnya berubah-ubah terus. Kaya Raja, Ratu, Penasehat, dll. Marama, Hala, Erasyl, adalah nama orang. Mahin dan Arevik adalah nama bangsa. Semua nama murni hasil rekaan penulis, dan sudah mulai disinggung dari bag 1: Hari Terakhir Putri Bangsa Mahin.
      3. Kisah ini akan berlanjut sampai tamat, dengan panjang total kira-kira 1 buku novel, sama seperti halnya Kisah Dunia Mimpi :p *numpang iklan*

      Menyambung ke pertanyaan nomor 2, apakah saya kurang jelas menjelaskan istilah2 tersebut dalam cerita? Kalau iya, tolong dibantu dari sudut pembaca, biar saya tau apa yang harus direvisi.

      Lalu, saya sudah menambahkan link di akhir bag 1 dan 2 untuk ke daftar isi cerita ini. (Di bagian atas halaman, coba cari “Katalog yang Sangat Berguna (Serial)“, lalu klik “Onsra: Someway, Somehow, Somewhere Far Away“).

      Makasih banget udah nanya detail. Senang deh diajak diskusi😛

      • terima kasih banyak buat penjelasannya. awalnya saya sempat salah memahami marama sebagai sebutan untuk pengasuh/pelayan istana, bukannya nama seseorang. tapi istilah lain sudah bisa dipahami dengan satu kali baca. penjelasan dalam ceritanya sudah bagus kok, jadi sepertinya tidak perlu revisi. saya yakin pembaca lain juga bisa memahami dengan baik posisi masing-masing tokoh di cerita ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s