[Onsra] 1: Hari Terakhir Putri Bangsa Mahin


Seperti biasa, Hala memulai hari dengan memandangi wajah orang yang ditakdirkan untuk membunuhnya.

Hala selalu merasa wajah seperti itu seharusnya bukan jadi milik seorang pembunuh; wajahnya terlalu lembut dan kekanakan. Dari kecil, Hala melihat bagaimana pria itu beranjak dewasa—sepertinya usia tidak banyak berpengaruh kepada wajahnya. Mata pria itu berwarna hitam pekat dan sedikit menyipit. Kulitnya berwarna kuning pucat, hampir putih, ciri khas keturunan ras yang mendiami bagian Timur dari Dunia Lama.

Sepertinya pria itu sedang berlatih. Tatapan matanya berkonsentrasi penuh ke depan, rambutnya yang sedikit panjang dan biasanya berantakan kini ditahan ke belakang oleh besi tipis yang melingkari bagian atas kepalanya. Di pelipisnya, keringat mengalir turun.

Mengamati pria itu, banyak pertanyaan datang menghampiri benak Hala. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu sama.

Apakah pembunuhnya itu sudah berdamai dengan takdirnya sebagai Rakaisha?

Hala hanya tahu bahwa di hari ia lahir, sebuah anak panah sihir dilepaskan dari istana kerajaan. Panah itu akan meninggalkan jejak berpendar biru di angkasa, lalu menancap ke atap sebuah rumah yang dipilih oleh takdir. Keluarga dalam rumah itu lalu harus menyerahkan anak tertuanya kepada istana untuk dipersiapkan sebagai Rakaisha.

Konon katanya, pada hari itu angin bertiup kencang sekali dan membawa panah nasib tersebut ke pinggiran kota. Panah itu akhirnya menancap di atas sebuah gubuk yang ditinggali oleh seorang kakek dan cucunya.

Hala selalu bertanya-tanya apa rasanya hidup sebagai rakyat biasa, lalu tiba-tiba diberitahu bahwa ia adalah Rakaisha, ksatria yang terpilih untuk membawa Bilah Bulan. Apa rasanya mengetahui bahwa ia harus membunuh seseorang kelak?

Hala tersenyum miris. Bangsanya, bangsa Mahin, memenangkan perang besar di zaman Dunia Baru. Mereka berhasil melenyapkan bangsa Arevik, bangsa Matahari, dan memulai zaman Bulan. Matahari berhenti bersinar, Bulan berkuasa. Bangsa Mahin pun semakin kuat.

Namun setiap 300 bulan sekali, kekuatan Bulan berada di titik terlemah dan lahirlah seorang anak dengan tanda Arevik di punggung tangannya. Heliodoro, begitu penyihir bangsa Mahin menyebutnya. Dan untuk mencegah bangkitnya bangsa Matahari, Heliodoro harus dibunuh dengan Bilah Bulan.

Peraturan bangsa Mahin memberi kesempatan bagi Heliodoro untuk hidup selama 299 bulan. Setelah 299 bulan berlalu, Heliodoro harus menyerahkan diri untuk secara sukarela mati di tangan Rakaisha. Yang melawan—walaupun hampir tidak ada—akan melihat kematian seluruh keluarganya.

Sama sekali tidak ada yang menyangka bahwa Heliodoro kali ini adalah putri mahkota, putri tunggal kerajaan bangsa Mahin sendiri.

“Putri Hala,” panggil pengasuhnya, Marama, dari ujung ruangan.

Hala cepat-cepat menghilangkan wajah Rakaisha dari cerminnya. Agak sia-sia sebenarnya, mengingat cermin kesayangan Hala adalah cermin yang tingginya melebihi tinggi sang putri sendiri.

“Apakah kau memandangi wajah Rakaisha lagi?” tanya Marama.

Ibu-ibu tua bertubuh gempal itu menghela napas.

“Hamba mulai menyesal mengajarkan Tuan Putri cara mengendalikan cermin. Apakah tidak sakit hati Tuan Putri melihat wajah orang yang ditakdirkan untuk membunuh Tuan Putri?”

Hala ikut menghela nafas dan menghampiri Marama untuk ditata rambutnya.

“Melihat wajahnya membuatku tenang. Dan berpikir,” katanya sambil memejamkan mata dan membiarkan sisir Marama menyikat rambut gelapnya yang panjang sampai menyentuh lantai.

“Memikirkan apa, Tuan Putri?”

Hala menunggu beberapa detik sebelum menjawab.

“Cara supaya tidak ada yang perlu mati.”

Sisir Marama berhenti di udara.

“Tuan Putri bisa ditangkap kalau terdengar berbicara seperti itu.”

“Ditangkap? Aku ditakdirkan untuk mati hari ini,” tukas sang putri dengan penuh emosi, “Jadi kurasa aku boleh berbicara sesuka hatiku.”

Marama berpindah ke hadapan Hala. Kerutan-kerutan di wajahnya tampak sangat dalam, tapi tidak bisa menutupi ketajaman mata yang menatap putri itu lurus-lurus.

“Hala. Tuan Putri,” ujarnya lamat-lamat, “Tuan Putri tahu bahwa hanya Rakaisha yang punya kekuatan untuk membunuh Heliodoro, sedangkan Heliodoro tidak pernah berlatih menggunakan kekuatannya untuk melawan. Heliodoro tidak akan bisa menang melawan Rakaisha.”

Putri Mahin itu balas menatapnya tanpa gentar.

“Aku tahu,” bisiknya, “Dari kecil aku diajarkan untuk menerima takdir sebagai Heliodoro. Untuk tidak melawan. Untuk mati demi kelangsungan bangsa Bulan. Tapi bagaimana,” bisiknya lagi dengan mata berkilat-kilat, “jika Heliodoro tidak mati?”

“Maka Rakaisha yang gagal itu akan dibunuh. Rakaisha yang baru akan dipilih dan dilatih. Heliodoro harus dibunuh.”

Hala bersikeras. “Bagaimana jika ada yang menemukan cara supaya keduanya tidak mati?” tanyanya.

Marama merendahkan suara sebelum menjawab.

“Tidak ada yang tahu, Putri. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Heliodoro selalu mati.”

Hala terdiam.

Marama menatapnya sejenak dengan raut wajah yang tidak terbaca. Tapi akhirnya ia kembali menyisiri rambut sang putri, lalu membantunya memakai dalaman berwarna putih dan kimono luar yang terbuat dari bahan putih berenda.

Hala tetap terdiam saat kain putih yang disebut obi dililitkan di sekitar pinggangnya, juga saat ornamen-ornamen lain dalam baju upacara itu dipasangkan kepadanya.

Mata gadis itu mulai digenangi oleh airmata saat Marama menata rambutnya dan menyisipkan beberapa kuntum bunga putih di jalinan rambutnya, tapi ia tetap tidak mengatakan apa-apa. Begitupun ketika pengasuhnya yang setia itu menghias kepalanya dengan perhiasan kesayangan ibunya: untaian-untaian kristal tipis dengan beberapa kristal berbentuk tetesan air yang menjuntai sampai ke keningnya.

Setetes airmata menetes tepat ketika pintu kamarnya diketuk halus.

“Tuan Putri,” ujar suara lemah dari balik pintu.

Suara tersebut tidak berkata apa-apa lagi, tapi semua tahu apa makna dari diam itu.

Hala menghapus airmata dari pipinya.

“Aku siap,” katanya tegas.

Ia lalu berdiri dan memandang ke sekeliling kamarnya. Ranjang yang empuk dan besar, tapi selalu terasa dingin. Kamar berdinding dan berlantai batu pucat yang selalu terasa kosong. Cermin raksasa yang berbingkai gading. Pengasuhnya yang setia.

Putri itu lalu tersenyum sedih dan memeluk Marama dengan erat. Cermin itu adalah satu-satunya hal yang diperhitungkannya sebagai harta. Pengasuhnya itu adalah satu-satunya orang yang diperhitungkannya sebagai keluarga.

“Aku siap,” katanya lagi. Marama membelai wajahnya tanpa mengucapkan apa-apa. Wanita tua itu hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Lalu Hala berbalik, dan ia bukan lagi seorang wanita muda berumur 24 tahun. Ia adalah seorang Heliodoro yang akan menghadapi takdirnya. Dengan tenang ia memasukkan kakinya ke dalam selop berwarna putih cemerlang yang berhiaskan renda. Kaki kanan, kaki kiri, lalu ia mulai melangkah.

Dan sejarah mencatat bahwa pada hari itu, setelah 299 bulan menjalani kehidupan sebagai putri mahkota bangsa Mahin, Hala berjalan dengan tenang dan anggun menuju upacara kematiannya sendiri.

***

Klik di sini untuk baca ceritanya berurutan.

2 thoughts on “[Onsra] 1: Hari Terakhir Putri Bangsa Mahin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s