[She Says] Episode 30: Crazy


— Tokyo Bay, empat bulan setelah pernikahan Ale dan Rania

 

Step forward towards the beauty dishNo, that’s a soft boxfor crying out loudCan someone please talk to her in Japanese?”

What a cold bitchShe probably didn’t get laid much lately.”

“OMG! You—”

Ahem!”

Sang model dan makeup artist yang tadi lagi cekikikan setelah meniru ucapan gue itu langsung memucat seketika begitu menyadari kalau gue mendengar semua celaan yang mereka lontarkan di belakang punggung gue. Dengan salah tingkah dan tanpa menatap gue, mereka buru-buru meraih Starbucks takeaway cup milik mereka lalu kabur dari pojokan studio yang mereka gunakan untuk ngomongin gue.

“Jangan dengerin mereka. I know you were just trying to make everything perfect.”

Gue menoleh untuk kemudian menemukan bos gue — dashing as always — tersenyum ke arah gue.  Ada sebuah kerutan yang nyaris tak kentara pada kemeja Thomas Pink yang ia kenakan, dan gue harus menahan diri untuk nggak mengulurkan tangan gue dan merapikannya. Bisa jadi bahan gosip satu kantor kalau gue dan bos gue sampai tertangkap melakukan kontak fisik di hadapan kolega kami. Sudah cukup gue dikenal di kantor sebagai fotografer yang luar biasa OCD dan cranky tiap kali bekerja.

What are you looking at?”

Nothing.” Jawaban yang lalu terlontar dari bibir gue itu tak lebih dari sebuah bisikan halus. Gue harus memaksa diri gue untuk berpaling sebelum encounter kecil gue dengan bos gue itu tertangkap oleh mata-mata haus akan gosip yang mengelilingi kita.

Gue cinta mati sama pekerjaan gue sebagai chief photographer di Frankie Magazine; it’s like a dream come true, doing what Annie Leibovitz used to do for Rolling Stone magazine. Karenanya, walaupun gue naksir mati-matian sama bos gue, gue nggak akan memberi siapapun kesempatan untuk membuat gue kehilangan pekerjaan gue.

Lo kira gue hiberpolis? Kalau begitu lo pasti belum pernah kerja bareng orang Singapore. Kepo-nya nggak kira-kira! Heran, di tengah hiruk pikuknya tekanan hidup di salah satu negara paling mahal di  dunia, masih sempat aja gitu mereka mencari-cari bahan gosip. They could totally make all those gossip shows go bankrupt. Dari mulai tragedi teman sekantor yang punya masalah sama bau badan sampai istri simpanan perdana menteri negara tetanggasemua diomongin. Gue kadang bersyukur gue nggak bisa berbahasa Mandarin. Gue jadi bisa simpan banyak sakit hati karena seringkali gue nggak ngerti apa yang mereka omongin.

Bos gue menatap gue lamanot even kidding, lama bangettanpa mengatakan apa-apa. Lalu tiba-tiba dia mengulurkan tangannya dan menyentuh dagu gue. Sebelum gue sempat mencerna apa yang sedang terjadiatau mengecek apakah napas gue bau bawang atau nggakbos gue mendekatkan wajah gue ke wajahnya. Saking dekatnya, gue bisa menatap freckles yang tersebar di puncak hidungnya dengan jelas. Sesuatu yang selama ini selalu lengah dari perhatian gue karena konstelasi freckles itu biasanya hanya terlihat di bawah siraman sinar matahari.

Kenapa juga kok gue jadi ngomongin frecklesHoly mollysomeone call a doctor! Jantung gue bisa meledak kapan saja! Oke, Taya, jangan norak! Ini bukan pertama kalinya lo berhadapan dengan lawan jenis sedekat ini. Jangan nyengir bego! Tatap balik matanya.

Breathe, just breathe…

Begitu wajah gue dan bos gue hanya terpisah beberapa sentimeterdan jantung gue sudah mati-matian minta pensiunbos gue memiringkan wajahnya hingga bibirnya hampir menyentuh telinga gue. Dengan suara rendah yang gue yakin hanya bisa ditangkap oleh telinga gue, dia berbisik.

You have the most beautiful pair of eyes.

Segera setelah mengatakan itu, bos gue berjalan menjauh dan kembali sibuk dengan kolega-kolega kami yang lain. Well, kolega-kolega kami yang sudah pulih dari keterkejutan mereka setelah menyaksikan encounter gue dengan bos gue barusan.

Dasar manusia-manusia kepo!

 

*

Roppongi Hills, 6 jam kemudian

You should at least talk to him.”

Gue melirik bos gue dari tepian gelas champagne gue dengan tatapan you’ve-got-to-be-kidding-meHim yang dimaksud oleh bos gue adalah pemuda bernama belakang Kaminari, pemilik french lounge yang kini tengah meng-host acara makan malam seluruh tim Frankie Magazine yang terlibat dalam proyek iklan produk milik Yuka Tominagasalah satu disainer jewelry line ternama dari Jepang.

Kaminari something, gue lupa nama depan pemuda yang mungkin usianya tidak lebih dari dua puluh satu tahun itu. Dari puluhan pilihan kendaraan yang bisa dipilihnya, pemuda yang katanya tengah menempuh pendidikan di Columbia University itu memilih untuk datang naik sepeda. Dia bahkan tak peduli meskipun hal itu lantas membuat Hugo Boss white shirt-nya basah oleh keringat. Not that it makes him appears less attractive. Kaminari whatever itu bisa muncul siang bolong dengan mengenakan piyama dan para wanita mungkin masih akan tergila-gila padanya.

“Kenapa?”

Bos gue tertawa kecil. “Paling nggak untuk mengucapkan terima kasih atas champagne yang tengah kita nikmati ini.”

Gue menahan diri untuk nggak memutar bola mata gue. Beberapa saat yang lalu, seorang pelayan muncul membawakan sebuah botol champagne dengan sebuah pesan singkat diselipkan bersama setangkai mawar putih:

Because white compliments your black dress perfectly.

Gue satu-satunya orang yang mengenakan slip dress hitam di meja itu, jadi sudah jelas lah yang dia maksud adalah gue.

Gue mendesah panjang, lalu meletakkan gelas di tangan gue. Walaupun gue paling malas basa-basi, bos gue ada benarnya. It won’t hurt to say a simple thank you.

You’re right.”

Bos gue tersenyum kecil. “Jangan terlalu lama menyiksa dia. Aku yakin dia bukan satu-satunya pria yang sedang berharap kamu akan menghabiskan beberapa menit untuk sekedar menyapa mereka.”

Mendadak gue panas-dingin.

Bos gue nggak bermaksud bahwa dia adalah salah satu dari pria yang dia maksud itu, kan?

Jangan keburu ge-er, Taya!

“Aduh, maaf!”

“…” Gue terdiam seraya memandangi tumpahan onion soup di pangkuan gue. Tanpa perlu melirik stylist yang duduk di samping gue, gue sudah tahu bahwa ini bukanlah sekedar kecelakaan biasa. Gimana ceritanya mangkuk yang beberapa detik sebelumnya tengah duduk di atas meja kini bisa berada di pangkuan gue beserta isi-isinya?

“Taya! Kamu nggak apa-apa?” Bos gue bergegas menyingkirkan mangkuk sialan itu dari pangkuan gue dan menyerahkan beberapa helai tisu.

Terlambat. Gue bisa merasakan sup sialan itu mulai merembes sampai mengenai celana dalam gue. Sialan, sialan, sialan! Sambil tersenyum menahan hasrat gue untuk menjambak stylist yang gue yakin kebanyakan nonton sinetron itu, gue bangkit berdiri dan bergegas berjalan ke arah toilet.

“Maaf, toiletnya sedang dibersihkan.” Seorang pelayan menghentikan gue sebelum gue sempat melangkah memasuki toilet. Menyadari tatapan sadis gue, dia lalu buru-buru menambahkan. “Di sebelah sana ada toilet untuk para staf. Dekat loker. Bisa dicoba untuk

Gue nggak tinggal lebih lama untuk mendengar pelayan itu menyelesaikan kalimatnya. Bau bawang ini mulai terasa seperti bagian dari gue. Sialan, sialan, sialan. Gue mengabaikan tatapan para pengunjung lounge saat gue melangkah menuju toilet staf; termasuk tatapan terkejut yang datang dari Kaminari whatever itu.

Go away and just let me walk down my hall of shame in peace!

Gue membanting pintu bilik toilet terdekat dan langsung melepas dress gue. Dengan kasar, gue menyalakan keran wastafel dan mulai menggosok sup sialan itu agar segera hilang dari dress gue. Gue bahkan nggak ingat sudah berapa lama gue berdiri di sana, mengomel seraya membersihkan dress gue sampai jari-jari gue mengerut. Ketika akhirnya gue mematikan keran air, gue baru menyadari ada suara-suara teredam yang berasal dari ruang loker yang terletak tepat di sebelah toilet staf. Awalnya gue berniat untuk mengabaikannya. Tapi suara-suara gemeresik rendah itu mulai berubah menjadi… ehm, erangan dan lenguhan yang teredam.

Mendadak otak gue jalan. Mengingat betapa bitchy para wanita dalam tim gue selama perjalanan bisnis kita, gue mendadak punya sebuah ide. Pasti nggak ada yang lebih memalukan bagi mereka kalau gue tiba-tiba menangkap mereka dalam keadaanah, gue terlalu bersemangat untuk menjabarkannya. Saking semangatnya, gue bahkan nggak peduli meskipun dress gue masih basah. Gue nggak biasanya usil begini, tapi setelah tragedi mangkuk sup terbang tadi, mereka memang perlu diberi pelajaran agar mereka tahu mereka nggak bisa seenaknya sama gue.

Ha!

Tanpa suara, gue melangkah keluar dari toilet dan mengendap-endap memasuki ruang loker. Yang pertama gue lihat adalah sang pria, dengan punggungnya membelakangi gue dan secara otomatis menghalangi siapapun itu yang tengah ia cium dengan ganasnya. Gue nggak peduli siapapun wanita itu. Siapapun jugaeh, tunggu.

Tiba-tiba gue menyadari ada sesuatu yang janggal saat sang pria menyamping secara tiba-tiba, memperlihatkan pasangannya yang ternyata adalah

“Glenn?”

Keduanya mendadak membeku di tempat. Sang pria yang tak gue kenali adalah yang pertama menjauhi bos gue. Ia menunduk, seakan-akan takut gue bisa mengenalinya. Tanpa mengatakan apa-apa, ia bergegas melangkah pergi meninggalkan kami. Bahunya menubruk bahu gue dalam ketergesaannya meninggalkan ruangan itu, namun gue tak bergeming.

“Kamu” Gue tak bisa menemukan suara gue sendiri.

Dalam gerakan yang luar biasa cepat, bos gue merengkuh bahu gue secara tiba-tiba. Cengkeramannya terasa kasar, dan dari tatapan liarnya gue tahu bahwa gue adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia kecilnya ini. Paling tidak, satu-satunya orang di kantor yang tahu.

How could I be so stupid?

Gue berusaha mengingat-ingat sesuatu tentang bos gue. Apa saja. Sesuatu yang seharusnya membuat gue tersadar sejak dulu bahwa dia

I’m not gay.” Bos gue menyuarakan pikiran gue. “Please, you have to believe me. This could ruin me. I—”

—Please let me go.” 

“Taya” Bos gue masih belum melepaskan gue dari rengkuhannya.

Let me go or I’ll scream.”

Gue nggak yakin apa yang selanjutnya terjadi. Gue ingat wajah-wajah yang bersliweran di hadapan gue, tapi gue tak bisa mengenali mereka. Jantung gue bertalu-talu. Gue sempat melihat Kaminari memblokir jalan gue, tapi gue mendorongnya hingga ia menepi. Gue bahkan tak berhenti saat sang valet boy meneriaki gue saat gue mencuri sepeda milik Kaminari.

Semuanya terjadi dengan begitu cepat.  Beberapa detik yang lalu, gue masih berada di atas sepeda yang gue ambil paksa dari Kaminari-san, meneriakkan sumimasen pada siapapun yang menghalangi jalan gue.  Gue harus bergerak.  Gue harus terus bergerak sebelum gue meledak.  Rasa yang membuncah dalam hati gue ini nyaris membuat gue gila.

You okay?”  Seorang pemuda berpakaian formal bergerak mendekat setelah ia meminta orang-orang yang mengelilingi gue agar memberi ruang untuk gue.

Namun sebelum gue bisa mendapatkan jawaban atas serentetan pertanyaan yang memenuhi kepala gue, kegelapan mulai turun dan dalam sekejap menyelimuti gue, menarik gue ke alam bawah sadar gue.

3 thoughts on “[She Says] Episode 30: Crazy

  1. How dare me…!?

    KOK, bisa-bisanya baru sadar kalau She Says Update setelah nyaris 6 bulan berlalu?! Kok bisa? Apa ini karena saya gak perhatian lagi atau apa ya? Omg. Saya bener-bener kangen sama Taya. Aahhh… TAPI!!!?

    Hancur sudah.

    Kak Omi tega menghancurkan hati satu2nya Tim Glen di sini! 😭 Ya kok bisa gitu tiba2 ada bom kalau G dari Glen itu punya artian lain. Hiks.

    Tejassss… OMG. Please, you are the last man standig. Tolong kasih bahagia buat Taya. Apa pun dan bagaimana pun caranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s