Memories 01 : Flashback


We used to love during the many days

We were together

We used to hurt together

Making each other’s pain our own

“Siap?” bisik Andra padamu. KaMu mengangguk, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ini mungkin bukan pertama kalinya suaramu mengudara di radio, tapi ini pertama kalinya kaMu membawakan acara ini. Andra mengecilkan volume musik latar dan kaMu mulai berbicara.

“107,7 Youngsters FM radio, the adorable youngers. Selamat malam Youngers semua, bertemu lagi dengan DJ Lova,” kau berdehem kecil kemudian membaca naskahmu. “Bicara tentang cinta. Cinta bisa datang dari mana saja, cinta bisa datang kapan saja, cinta juga bisa pada apa saja,” kaMu memberi jeda  untuk kesan dramatis. Agak terkejut mendengar suaramu sendiri yang terdengar lebih formal dari hari biasanya. “Cinta bisa datang pada seseorang yang baru kautemui, seseorang yang kaukenal seumur hidupmu, atau mungkin dari hal-hal yang tidak pernah kauduga sebelumnya. Malam ini selama 60 menit ke depan, Lova akan berbagi kisah-kisah cinta dan kenangan tentang cinta di program baru radio Youngster; Love Potion, tell me your love story. Stay tune di 107,7 Youngsters FM radio, the adorable youngers, I’ll be right back.

KaMu mengecilkan volume microphone sementara Andra, partner siaranmu memutar lagu di playlist kalian. Lagu pertama adalah Separated milik Usher. Lagu ini mengingatkanmu akan hal sama yang pernah kau ambil atas kesepakatan bersama dengan seorang pria beberapa bulan lalu.

***

“Lara,  aku rasa kita sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan ini,” begitu katanya waktu itu. Kamu terdiam beberapa lama. Kamu sudah menyiapkan mentalmu jauh hari untuk mendengarnya, namun tetap saja keputusan ini sedikit mengejutkanmu.

“Aku tahu.”

Dia menaikkan sebelah alisnya. Oh, tolong jangan pandangan itu, bisikmu dalam hati. “Terima kasih sudah bersama-sama denganku selama dua tahun belakangan ini. Aku sangat menghargainya.” Kamu merasa mual mendengar kalimat diplomatisnya. Menghargai, katanya? Jadi, berapa hargamu selama ini dimatanya? Darahmu mulai bergejolak lagi namun kamu menahannya.

“Ya, aku juga,” jawabmu sinis. Kamu tidak bisa berpura-pura baik terus di depannya, meskipun kauingin. Kamu tahu dia punya sisi sensitivitas yang tinggi, dan kamu tidak ingin kalian berdua berakhir dengan buruk. Tidak, kamu hanya menginginkan perpisahan yang baik seperti awal perkenalan kalian dulu. Sesederhana itu.

“Jadi, Lara, aku rasa ini saatnya kita jalani hidup masing-masing. Aku dengan kesibukanku yang baru, dan kau ….” kalimatnya menggantung. Kamu tahu, dia bahkan tidak bisa mengingat percakapan kalian saat terakhir bertemu. Tentang kegiatan terakhir yang kamu lakukan. Kamu bilang padanya kau mendapat pekerjaan di salah satu stasiun radio di kotamu dan dia membalasnya dengan bercerita tentang sesi pemotretan untuk sampul album baru. Dia begitu bersemangat dengan kegiatan-kegiatannya selama ini dan kamu bahkan tidak merasa heran kalau dia mengabaikanmu. Sepertinya kamu malah sudah terbiasa dengan ini.

“Yah, aku tahu,” potongmu cepat. “Let me make it quick, selamat tinggal Henry. Aku tahu saat ini kau sibuk, terima kasih sudah menyempatkan datang,” kamu membereskan serbet, chocolate taart-mu bahkan belum kausentuh. “Aku buru-buru, bukan cuma kamu yang punya kesibukan lain. Jadi, selamat tinggal sekali lagi. semoga sukses dengan segala aktivitas keartisanmu,” kamu gamit clutch hijau gelap bertabur kristal dari atas meja, dan berjalan keluar. Kamu bahkan mengabaikan sapaan ramah waitress yang membukakan pintu sembari berterima kasih atas kunjunganmu.

***

Kesadaranmu kembali ke studio kecil kalian tepat sebelum lagu kedua habis diputar, dan kamu bertemu dengan muka bengong Andra.

“Gue kira tadi lo gak bakal balik!” serunya riang. Kamu balas ejekan tersebut dengan menyikut rusuknya pelan. “Lo kelihatan mendalami banget lagunya. Pengalaman pribadi ya?” sindirnya. Tubuh gembulnya bergerak-gerak menahan tawa.

“Dasaaar ….” jingle radio kalian sudah diputar dan kamu bersiap-siap untuk on air, mengurungkan niatmu untuk menjitak kepala Andra yang agak botak. Andra memberi hitungan mundur dimulai dari tiga dan kamu menunduk, membaca naskah. “107,7 Youngsters FM radio, the adorable youngers, back again with Lova.” Jeda lagi. Kamu membiarkan jingle radiomu selesai, kemudian memutarkan musik latar di awal acara tadi. “Jam waktu bagian Youngsters menunjukkan pukul 9.13 malam, waktunya Lova untuk mendongeng. Jadi para Youngers dipersilakan untuk cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi, dan siap-siap di tempat tidur,” kamu terkikik pelan. Kamu merusak suasana romantis sendu malam ini yang diciptakan musik latarmu. Andra menjitak kepalamu keras. Kamu menahan diri agar tidak mengaduh.

Kamu buka email resmi radio, dan mendapati enam email yang masuk. Permulaan yang cukup baik, mengingat ini hari pertama program Love Potion mengudara sejak diiklankan tiga hari lalu. Kamu lirik naskahmu, ada satu yang paling bagus diantara enam email tersebut yang sudah Andra pilihkan untuk kamu baca malam ini. Namun kamu tiba-tiba kau berubah pikiran.

“Malam ini Lova akan bercerita tentang kisah hidup Lova sendiri. Rasanya untuk permulaan tayang, akan lebih adil jika Lova yang mengawali rangkaian kisah cinta di Love Potion. Jadi yang hari ini sudah mengirim email ke Lova, Lova simpan dulu ya, untuk besok-besok,” Andra bengong, namun tidak memberimu isyarat apa-apa. Kamu berdehem kecil lagi dan mulai bercerita. “Waktu Lova masih awal kuliah, Lova dekat dengan seorang laki-laki nih, Youngers,” memorimu menerawang lagi, kembali ke masa-masa awal hubunganmu dengan seorang pria bernama Henry.

***

“Ra, minjem mobilnya bentar, ya? Pentiiiing ….” Angga, ketua BEM sekaligus sahabatmu sejak SMP tiba-tiba menyambar kunci mobilmu di meja, tepat disaat kamu sedang menikmati suapan terakhir mie ayam bu Sulastri yang terkenal lezat di kalangan mahasiswa kampus.

“Eh, buat apa?” tanyamu heran. Tidak biasanya Angga terburu-buru seperti itu.

“Mau dipake jemput artis yang mau jadi bintang tamu acara dies natalis jurusan kita itu. Driver kita si Reza, lagi asistensi sama Pak Parmo nggak kelar-kelar dari tadi. Udah telat, nih …” Angga melirik gelas es tehmu yang masih penuh, menenggaknya setengah, kemudian berlari menuju ke parkiran.

“Eh, Anggaaaa,” teriakmu ke arahnya. Si robot bertenaga kuda itu berhenti, menoleh ke arahmu. “Lo kan nggak bisa nyetir mobil.”

Angga menepuk dahinya keras, bagaimana kondisi kepepet begitu bisa membuatnya lupa akan hal yang penting. “Ra, tolong setirin ya? Please.”

***

“Singkat cerita, akhirnya Lova dan teman Lova si A pergi ke bandara buat menjemput artis bintang tamu itu. Pada awalnya kami kira dia bakal marah besar. Secara, kami telah 1,5 jam buat jemput dia. Bayangkan Youngers, kalau kita hitung secara ekonomi, dengan jadi bintang tamu di sebuah talk show saja dia bisa menghasilkan beberapa juta rupiah, nah ini …” kamu senyum-senyum sendiri mengingatnya. Kamu bahkan hapal betul, setiap kata yang diluncurkan manajer galak Henry padamu dan Angga karena kalian tidak bersikap profesional. “Sampai di bandara, kita sempat nyasar pula, jemputnya di terminal keberangkatan bukan kedatangan. Wah, lucu deh Youngers. Diantara saya dan A memang belum pernah ada yang berpergian naik pesawat. Alhasil, manajernya artis itu marah-marah deh. Sampai sini dulu, kita dengarkan single ini ya, dari Daniel Beddingfield dengan If You’re Not the One, stay tune terus di 107,7 Youngsters FM radio, the adorable youngers.”

Andra memutar otomatis dua lagu dengan beberapa jeda iklan, sementara kamu dan Andra meluruskan punggung. Siaran malam memang lebih melelahkan dari biasanya, namun kamu menikmatinya. Kamu sendiri yang memutuskan untuk menjadi penyiar radio dan menyia-nyiakan gelar sarjana kesehatan masyarakatmu. Lagipula, alasan terbesarmu bekerja di dunia hiburan adalah kamu ingin membuang sebagian besar kenangan yang malam ini malah sengaja kauhadirkan kembali seperti kilas balik. Flashback.

“Minum, Va,” Andra menyodorkan sebotol air mineral yang langsung kamu tenggak sepertiganya. “Haus ya?”

“Lumayan,” kamu tersenyum simpul. Heran juga dengan Andra yang terus memanggilmu Lova sejak awal kau siaran di radio, padahal dia tahu nama aslimu Lara. “Trims ya Bos,”

Anytime gals,” Andra memberimu aba-aba on air, dan kau bersiap melanjutkan ceritamu.

***

“Hai, saya Henry, senang bertemu kalian,” Henry dengan senyumnya yang polos seolah tidak terjadi apa-apa menjabat tanganmu dan Angga. Dia berhasil mencairkan suasana antara kalian dan manajer galaknya. Setengah jam kemudian kalian duduk bersama di sebuah coffee shop membicarakan konsep acara. Beberapa kali kamu mencuri pandang ke arah Henry. Yah, dia memang luar biasa tampan, juga penyanyi bersuara emas yang dijagokan untuk go internasional. Dan sikapnya tadi semakin membuat nilainya begitu baik di matamu.

Acara berlangsung meriah, bisa dikatakan sukses, dan hampir tidak ada kendala. Wajah Angga dan timnya begitu sumringah, dan sebagai gantinya ia berjanji mentraktir kalian semua makan nasi goreng gila Cak No. Di tengah-tengah makan, ponselmu berdering. Ada SMS dari Henry.

Iya! Kamu tidak salah baca. Seorang Henry mengirim SMS untukmu. Dia memberitahumu mereka sudah sampai ibukota dengan selamat dan mengucapkan terima kasih untuk kerjasama dengan kalian semua. Kamu sampaikan pesannya pada teman-temanmu dan mendapat ‘huuuu’ keras dari mereka semua. Namun kamu tidak peduli, perasaanmu begitu senang hari itu.

Sekian waktu berlalu dan Henry masih sering mengirimimu SMS. Entah ucapan selamat malam, selamat beraktivitas, dan ucapan selamat yang lain. Kadang kamu membalasnya, kalian berbalas SMS, lalu tiba-tiba terputus karena kesibukan Henry. Hingga suatu malam kamu mendapat pesan yang cukup serius dari Henry.

Aku ada di kotamu. Mau jalan-jalan malam denganku?

Malam itu Henry menyatakan perasaannya padamu. Bahwa dia benar-benar menyukaimu sejak pertama kalian bertemu. Walau saat itu kamu hanya memakai kemeja dan jins butut serta sneaker kusam, meski kamu tidak berdandan selayaknya mahasiswi lain, meski kamu dan Angga lebih cocok dikatakan seperti gelandangan daripada mahasiswa, namun Henry tetap menyukaimu. Dan kamu menerimanya, dengan segala resiko termasuk merahasiakan identitasmu dari pers.

Tahun pertama berjalan lancar. Henry mengunjungimu dua bulan sekali, kadang mengirimimu tiket pesawat dan mengajakmu berkeliling kotanya. Kalian hampir tidak ada masalah, meski harus sembunyi-sembunyi. Beberapa kali kamu dan Henry harus bersembunyi, atau bepergian ke daerah pinggiran agar tidak dicurigai. Dan selama itu kalian aman.

Pertengahan tahun kedua, Henry semakin sibuk dengan kegiatan keartisannya. Ia menerima tawaran sinetron dan sering terlihat berduaan dengan lawan mainnya. Meski ia sempat mengklarifikasi bahwa diantara mereka tidak ada apa-apa, namun toh setelah syuting sinetron berakhir mereka masih sering tertangkap kamera infotainment sedang jalan berdua. Dan Henry semakin jarang menghubungimu. Namun, entah kenapa kamu tidak merasa cemburu dengan gadis itu. Kamu bahkan tidak menonton sinetronnya meski saat kalian bertelepon Henry selalu memberimu bocoran cerita. Kamu sepertinya sudah mulai tidak peduli dengan hubungan ini.

Puncaknya, Henry meresmikan hubungan dengan artis wanita itu di hadapan pers hingga membuatmu sakit hati. Hubungan kalian di ambang kehancuran ketika suatu malam Henry meneleponmu untuk menjelaskan semuanya. Dia dan artis wanita itu sedang promo film terbaru mereka dan hubungan fiktif itu untuk mendongkrak popularitas filmnya. Sungguh taktik yang licik, rutukmu. Henry sendiri pun tidak mau melakukannya, ia tidak ingin menyakitimu. Kamu bahkan bisa mendengar suaranya yang tiba-tiba menjadi berat dan ia sedikit tersedu. Malam itu kalian berdua larut dalam badai air mata dan kalian berbaikan. Kamu pun sebetulnya masih mencintainya, hanya saja kau seperti kehilangan kepercayaan.

Akhir tahun kedua, Henry sibuk mempersiapkan album baru. Single-nya sudah keluar dua bulan sebelum album itu diluncurkan dan dia sibuk promo keliling kota. Tapi kali ini tidak ada pihak ketiga maupun manapun. Kamu hanya merasa … entahlah, mungkimn bisa dikatakan jenuh. Begitupun Henry. Meski tanpa pertengkaran yang serius, tanpa banjir air mata seperti dulu, meski kau sudah berusaha untuk berpisah secara baik-baik, tetap saja kaumerasa kalimat perpisahanmu tidak semanis pertemuanmu. Dan hubungan ini mati. Bersamaan dengan hatimu yang ikut menjadi beku.

But have one last cry, one last cry

Before I leave it all behind

I gotta put you outta my mind, this time

Stop living a lie

One thought on “Memories 01 : Flashback

  1. Wah, wah, wah … saya turut sedih buat Lara ya. Fiksi ini cerkas banget lho. Sebenernya dari awal, yang bikin saya tertarik membaca adalah soal profesinya Lara, serorang penyiar radio, jadi teringat acara curhat tiap malem di antara jam 1 sampe jam 3 subuh. Suara bisik-bisik. Cuma bedanya di sini penyiarnya yang ikut curhat. Idenya brilian lho. Saya sebagai pembaca secara tidak langsung menjadi pendengar juga hehehe. Kisah cintanya memang biasa, tapi lagi-lagi dikemas secara apik. Love it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s