[Kisah Dunia Mimpi] Pria dari Lembah Es


“Berapa lama, Manusia?”
 tanya sebuah suara, dingin menusuk.
Yang ditanya terdiam, letih dan sedih.
Tak melihat jalan lain, tak terperikan pedih Hati.
“Selamanya,” jawab sang pria, tak mau lukanya membusuk.

Lalu angin keras berhembus mendesau,
mengiringi tatapan mereka yang risau.
Butir-butir salju menggulung,
dan dalam seketika Hati terselubung,
terkubur dalam es, jauh di dalam gunung.

Pria dari Lembah Es, inilah legendanya.
Terluka lalu bekukan Hati tanpa tanya.
Seandainya saja ia tahu sebuah rahasia,
bahwa semua ini adalah sia-sia.

(Kutipan Pria dari Lembah Es dari Tawarik Dunia Mimpi,
Tarikh dan pencatat tidak diketahui,
diambil dari Koleksi Perkamen Langka milik Istana Masa Kini)

***

Tadinya ia hanyalah seorang pria muda biasa, berjalan melanglang buana dengan Hati yang merah cerah dan terpampang jelas.

Teman, biar kuberitahukan satu hal padamu: Hati hanya punya satu keinginan, yaitu untuk bebas merasa. Itulah persisnya yang pemuda itu lakukan—membebaskan Hatinya—dan ia pun bahagia.

Matanya yang berwarna madu seakan berkilau terkena sinar siang hari. Rambutnya yang berwarna senada beriap-riap diterpa angin, begitupun kemeja longgar yang dikenakannya. Sepatu botnya berketak-ketuk menyentuh tanah, ritme langkahnya diselaraskan dengan siulan dan petikan lincah ukulele yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Dengan topi berhias sehelai bulu panjang, ia terlihat persis seperti musisi keliling yang sama sekali tak mempedulikan dunia. Dan memang benar, ia tidak begitu peduli. Di masa-masa awal perjalanannya, ia menyadari bahwa banyak orang menutupi Hati mereka rapat-rapat sembari berjalan, dan ia merasa bahwa mereka itu bodoh. Mana mungkin Hati bisa tahan disekap seperti itu? Ia lantas bertekad untuk takkan pernah menutup-nutupi Hatinya sendiri.

Teman, kalau saja ia mengambil waktu sebentar untuk melihat dengan lebih seksama, maka ia akan mendapati bahwa Hatinya yang terpampang itu ternyata sudah lusuh dan penuh goresan.

Tak kenal ampun, hujan dan terik mendera silih berganti. Dan, karena ia terus berjalan, ia pun terus bersinggungan, menyerempet, kadang menabrak di sini dan sana. Awalnya, ia masih tidak sadar. Namun semakin hari goresannya semakin bertambah. Hatinya semakin perih dan melemah. Pemuda itu mulai bingung harus bagaimana.

Kemudian, ia menyadari bahwa ada sesosok perempuan di sampingnya. Perempuan itu membelai lembut Hatinya yang tanpa perlindungan.

“Berikanlah Hatimu padaku. Akan kurawat sampai sembuh,” katanya teduh.

Pemuda itu pun menyerahkan Hatinya tanpa curiga. Tetapi, alih-alih menyembuhkan, perempuan itu malah menikam dan melemparkan Hati tersebut begitu saja. Setelah susah payah mengambil Hatinya kembali, ia menyadari bahwa di Hatinya yang kini sudah lecet-lecet ada pula luka sayatan yang menganga lebar.

Langkah-langkah kakinya yang semula ringan kini menjadi berat dan perlahan. Setiap kali ia menapak, luka di Hatinya bereaksi. Seakan ada yang meremas lukanya, lalu melepasnya sebentar untuk bernafas, dan kemudian meremasnya lagi tanpa kenal ampun. Hatinya yang tersayat itu berdenyut, memanas, dan terasa pedih luar biasa. Ia tidak mengerti bagaimana ini semua bisa terjadi padanya, tetapi ia tahu bahwa luka ini harus disembuhkan. Segera.

Sayangnya, bahkan di Dunia Mimpi pun belum ada ramuan obat yang bisa menyembuhkan luka Hati. Putus asa, akhirnya ia melakukan hal sama seperti orang-orang yang tadinya ia cemooh: ia mulai menyembunyikan dan menutup Hatinya rapat-rapat supaya tak ada lagi yang bisa menyakitinya.

Mungkin saja ternyata orang-orang itu juga menutup Hati mereka karena terluka, siapa tahu. Yang jelas, ia tidak peduli. Yang ia tahu, Hatinya luka dan terasa sakit sekali. Terseok-seok menahan kesakitan yang semakin menjadi, ia akhirnya berjalan bersama mereka untuk mencari tahu apa yang harus ia lakukan dengan Hati bila terluka. Ia bertanya dan mengumpulkan cerita mereka, lalu berjalan, dan lalu bertanya lagi.

Temanku, di antara kelelahannya berjalan, entah bagaimana ia tertidur dan sampai ke dalam sebuah Mimpi yang sangat aneh. Banyak hal dari Mimpi itu yang tak bisa ia ingat, tetapi ia ingat melihat kertas terlipat yang terbang ditiup angin, menunjukkan jalan baginya.

Patut kau camkan bahwa ia bukannya yakin akan apa yang ia lakukan. Sebenarnya, ia sama sekali tidak yakin. Tetapi, Teman, saat kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan, kau akan mencoba segalanya. Bahkan hal yang paling tidak masuk akal sekalipun.

Singkat cerita, ia melangkahkan kakinya ke arah kertas itu terbang dalam Mimpi yang dilihatnya, dan langkah kakinya itu menuntunnya ke Lembah Es.

Teman, tempat itu sebenarnya lebih tepat disebut ngarai karena berada di antara pegunungan. Jalan setapak untuk masuknya panjang, sempit dan berangin kencang. Semakin jauh melangkah, rasanya pemuda itu seperti masuk ke dalam perut gunung, dan tiba-tiba saja ia sudah sampai di suatu dataran es. Butiran-butiran salju berjatuhan perlahan, menumpuk di mana-mana, padahal saat itu sudah bukan musim dingin.

Tiba-tiba ia merasakan ada yang menggamit telapak tangannya dari bawah.

“Tempat ini adalah tempat yang tepat untuk mengistirahatkan Hatimu yang luka,” kata anak lelaki tembus pandang yang menggandengnya. Suara anak itu lirih namun menusuk, terasa dingin di Hati seperti serpihan-serpihan halus es saat menerpa kulit, dihembuskan oleh angin Lembah Es.

Terkesima—dan merasa nyaman dengan kesejukan yang ia rasa dalam Hatinya—pemuda itu menurut saja saat si anak lelaki menuntunnya berjalan di atas permukaan es menuju sebuah lahan yang lebih luas lagi, di mana banyak anak-anak tembus pandang, lelaki dan perempuan, masing-masing memeluk sebuah Hati. Para pemilik Hati itu menunggu di sebelah mereka. Ada yang bercakap-cakap, ada yang hanya diam menatap.

Dan, Teman, jika kau melihat lebih dekat, semua Hati itu masing-masing terluka dengan cara yang berbeda.

“Hati yang itu mengerdil dan menjadi sempit karena tidak mau belajar bagaimana caranya menjadi lapang,” kata sang anak sambil menunjuk ke sebuah Hati kisut dalam pelukan seorang anak perempuan tembus pandang.

Anak lelaki itu menarik tangan si pemuda supaya ia terus melangkah maju.

“Hati yang itu memaksa diri menjadi besar. Tetapi karena dilakukan dengan tergesa-gesa tanpa pikir panjang, Hati itu rapuh dan akhirnya patah,” katanya lagi sambil menunjuk kepada Hati yang terbelah dua, dipeluk oleh seorang anak lelaki tembus pandang yang berbaring dan mengusap-usapnya dengan lembut.

Mereka pun terus berjalan.

“Hati yang itu mengeras sampai akhirnya tidak bisa merasakan apa-apa lagi,” ujar sang anak sambil menunjuk ke sebuah Hati yang seakan terbuat dari batu. Hati itu berada dalam pelukan anak lelaki tembus pandang yang berlutut, seakan memohon agar pelukannya bisa melembutkan Hati batu tersebut.

Teman, Lembah Es ini memang tempat yang sangat tidak biasa. Belum sempat si pemuda mencerna semua yang ia lihat, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang berlari, hendak keluar dari Lembah Es. Di belakangnya, seorang anak perempuan tembus pandang mengejarnya sambil memeluk sebuah Hati. Anak perempuan itu menangis tanpa suara.

“Kasihan sekali. Nona itu merasa tidak memerlukan Hati, lantas membuangnya. Padahal, ia takkan bisa hidup tanpa Hati,” komentar sang anak lelaki saat melihat peristiwa yang sedang berlangsung.

“Lalu, mengapa anak perempuan itu tidak memberitahukan saja hal tersebut padanya?” tanya si pemuda. Anak perempuan tembus pandang itu masih berlari sambil kini mengacung-acungkan Hati yang dibuang pemiliknya.

“Percuma. Untuk apa berbicara jika sudah pasti takkan didengar?” Sang anak balas bertanya, lalu berhenti berjalan dan berbalik menghadap pemuda itu.

“Mari, berikan Hatimu, aku akan menyejukkannya,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Menyejukkan? Kusangka kau akan menyembuhkan Hatiku,” kata si pemuda. Ia bingung.

“Tidak, tidak. Tugas kami di sini hanyalah membuat Hatimu sejuk, sesejuk mungkin,” jelas anak lelaki itu sambil terus mengulurkan tangan, meminta Hati si pemuda.

“Lalu, setelahnya, kau akan mengembalikan Hati itu begitu saja kepadaku?”

“Ya.”

“Tapi, aku mau supaya Hatiku tanpa luka, dan tak akan bisa terluka lagi.”

“Manusia, tahukah kau bahwa luka Hati itu sebenarnya tak terhindarkan? Yang kau perlukan hanyalah Hati yang sejuk dan lembut. Hati yang sejuk dan lembut akan sembuh dari luka apapun dengan kecepatan yang mengagumkan,” kata anak lelaki tembus pandang itu dengan sungguh.

Teman, Lembah Es memang sebenarnya hanyalah tempat untuk mendinginkan Hati sejenak saat kau tak sanggup lagi berjalan menanggung luka dan sakit Hati. Akan sembuh atau tidak nantinya, itu tergantung pada si empunya Hati. Setidaknya, begitulah yang aku tahu. Tetapi pemuda itu terus bersikukuh.

“Tidak, aku tak mau ada luka di Hati milikku. Aku tak mau hanya mendinginkannya. Aku mau disembuhkan. Sekarang.”

Sang anak menghela nafas sebelum berkata, “Seperti yang sudah kubilang tadi, terluka itu tak terhindarkan. Saat kau menjalani hidupmu di luar sana, Hatimu akan tergores, tersayat, atau bahkan patah. Kecuali kalau kau terus-terusan menutupi Hatimu, tapi itupun akan membuatnya membatu atau mengerdil, seperti yang kau lihat tadi.”

“Aku tak peduli. Aku tak mau terluka. Tidak sekarang, dan tidak nanti,” tegas si pemuda lagi, dan anak lelaki tembus pandang itu pun menyerah. Untuk apa terus berbicara jika sudah pasti takkan didengar?

“Baiklah, jadi apa yang kau inginkan? Ingat, aku tak punya kekuatan untuk menyembuhkan Hati,” tanya anak itu.

Pemuda itu kehilangan kesabarannya dan menukas, “Bekukan saja kalau begitu, supaya aku tak usah merasakan sakit lagi.”

Sang anak yang tembus pandang menarik nafas dengan terkejut, lalu membelalak dan menatapnya lama dalam diam. Kemudian ia menghilang seluruhnya, dan sebagai gantinya angin mulai mendesau-desau dengan sedikit ganas, seakan mengelilingi diri pemuda itu.

“Berapa lama, Manusia?” tanya sebuah suara yang sangat dingin menusuk. Suara lembah itu entah datang dari mana, tapi kini setengah mendesis di telinga si pemuda.

Ia merasa sedikit takut, lalu Hatinya yang luka itu berdenyut. Sayatan lukanya semakin menganga lebar. Setiap denyutan Hati itu kini membawa sakit yang luar biasa, mengalahkan semua rasa takut yang ada.

Angin masih bertiup, seakan menunggu jawaban. Ia melihat sekeliling, ke arah semua salju dan kesejukan yang sudah kembali membelai Hatinya yang luka. Untuk sejenak rasa sakitnya menghilang. Ia berharap rasa dingin itu datang lagi, supaya ia tak perlu menghadapi kenyataan menyakitkan bahwa Hatinya terluka parah.

Ia mencoba untuk tak melihat tatkala merenggut Hati itu dari dada tempatnya disematkan dan menjawab, “Selama-lamanya.”

Lalu dataran es tempatnya berpijak mulai berkeretak dan bergejolak. Laksana permukaan air yang bergelombang, es itu retak menjadi serpihan-serpihan kecil dan mengggulung ke arah pemuda itu, membentuk sebuah tiang di hadapannya. Ada sesuatu yang membius dalam beku tiang itu, dan waktu seakan berhenti bagi si pemuda.

“Ada yang ingin membekukan Hatinya.” Anak-anak tembus pandang di tempat itu mulai saling berbisik.

Teman, di Lembah Es ini, bisikan yang paling lirih sekalipun bisa terdengar jelas sampai kemana-mana. Dan nampaknya, isi bisikan kali ini mencuri perhatian semua orang. Bahkan para pemilik Hati yang sedang beristirahat di tempat itu menoleh penasaran.

“Lihat, lihat, ada yang ingin membekukan Hatinya.” Begitu kata mereka, satu dengan yang lain.

“Tetapi, Hati yang beku hampir tidak mungkin dicairkan kembali. Masa ia mau membawa-bawa Hati beku seumur hidupnya?” tanya salah seorang anak yang sedang memeluk Hati. Anak tembus pandang tersebut terlihat sangat muda dan ketakutan melihat apa yang sedang dilakukan oleh pemuda itu.

“Itu Hatinya. Itu kehendaknya. Kita tak punya kuasa apa-apa untuk mencegahnya,” jawab anak lelaki yang tadinya menggandeng tangan si pemuda. Ia lalu menambahkan dengan muram, “Walaupun aku sungguh berharap ia tak melakukannya.”

Tetapi, Harapan anak itu tidak terwujud. Mata semua penghuni Lembah Es melihat saat si pemuda meletakkan Hatinya di atas tiang es tersebut, dan Hati itu langsung terselimuti dengan lapisan es yang akhirnya membongkah. Pemuda itu tak bisa merasakan apa-apa lagi. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada rasa apa-apa.

Saat itulah anak lelaki tembus pandang tadi kembali lagi menyatakan dirinya di hadapan si pemuda.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau meminta lembah ini untuk membekukan Hatimu selama-lamanya. Jika kau pergi dan meninggalkan Hatimu di sini, kau akan mati.”

“Aku akan menetap di sini, kalau begitu. Toh aku tak punya siapa-siapa di luar sana,” jawab pemuda itu.

Ia menyadari bahwa suaranya menjadi semakin lirih seiring dengan setiap kata yang ia ucapkan, seakan hendak menyatu dengan desau angin dan serpihan-serpihan es yang terbawa bersama angin itu. Ia lantas terduduk karena mulai merasa lemas, dan bersandar ke tiang es yang berisikan Hati bekunya.

Anak lelaki yang tembus pandang itu menitikkan air mata, memeluknya, lalu menjadi debu es dan hilang tertiup angin. Dan pemuda yang membekukan Hatinya lalu tinggal di tempat itu, sendirian.

Lama kelamaan, rambutnya yang dulu berwarna madu berubah menjadi abu dengan semburat-semburat biru tua. Kulitnya pucat membiru, matanya perlahan mengkristal dan menutup. Tetapi, sebelum kedua kelopak matanya terkatup rapat, dari mulutnya keluar bisikan lirih.

“Seandainya saja ada yang bisa menyembuhkan Hatiku.”

Sementara itu, dari dalam tiang es, Hatinya yang perlahan membeku terus-menerus mengeluarkan kesedihan dan kepahitan. Bergabung dengan bisikan lirih sang pemuda, semuanya itu membumbung tinggi dan menghantam langit, menambah memar yang ada di sana.

Lalu Hati itu beku seluruhnya.

******

(Klik di sini untuk baca ceritanya berurutan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s