[Noona and I] Episode 3: 슬퍼해 보여요*


Pemandangan yang pertama kali aku lihat saat subway yang kami tumpangi beranjak dari Stasiun Hapjeong menuju Stasiun Dangsan adalah hamparan Sungai Han yang menghampar seolah tiada akhir. Pancaran sinar matahari yang menerpa permukaan airnya yang gelap penuh misteri membuatnya berkilau. Beberapa kapal dengan layar-layar yang berkibar tinggi berlalu perlahan-lahan membelah permukaan airnya. Sebuah gedung berkubah hijau berdiri di sisi barat, dan taman dengan sebuah jalur untuk berjalan serta mengendari sepeda menghampar di sisi permukaan sungai.

Sinar matahari yang begitu menyilaukan membuat aku tanpa sadar mundur beberapa langkah menjauhi jendela. Mataku berkedip cepat dan tiba-tiba saja aku menemukan bayangan sebuah sosok yang sangat familiar bagiku tengah menatapiku. Pantulan sosoknya terlihat dengan jelas di jendela subway di hadapanku. Kulihat bola mata sipit itu memandangiku dengan intens sebelum akhirnya sang empunya memutar tubuh dan menghilang di antara tubuh-tubuh lain yang tengah berhimpitan di dalam subway. 

Setetes keringat dingin mendadak turun membasahi keningku. Aku merasa luar biasa kedinginan meskipun semburan AC di dalam subway ini sebelumnya hampir tidak memiliki pengaruh apa-apa bagiku. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghitung sampai lima sebelum akhirnya aku memberanikan diri untuk menoleh dan mencari sosok bermata sipit yang tadi memandangiku. Namun tentu saja—dengan kondisi subway yang begitu penuh sesak—sangat sulit bagiku untuk bisa menemukannya.

Tidak mungkin.

Mendadak bulu kudukku merinding.

Tidak mungkin aku melihatnya barusan. Dia telah lama pergi. Bagaimana pula caranya ia bisa tahu tentang keberadaanku sekarang?

Buru hairu [sebuah ekspresi slang yang biasa digunakan oleh orang Jepang saat sesuatu yang aneh secara tiba-tiba terjadi].”

Tiba-tiba saja aku merasa luar biasa kesepian. Dinding-dinding tak kasat mata mulai menyekapku, membuatku kesulitan untuk bernapas. Aku mulai panik, dan karenanya irama napasku pun berubah menjadi terburu-buru seakan aku habis berlari berkilo-kilo meter. Tenggorokanku kering, dan rasanya ada berpuluh-puluh pasang mata mengamatiku dengan tatapan menuduh.

Aku merasa terjebak.

Mworago [apa kamu bilang]?” Suara Daniela membawaku kembali ke kenyataan.

Aku mengedipkan mataku sekali dan tiba-tiba saja suara-suara para penumpang yang tengah berbicara dengan satu sama lain di dalam subway kembali mememuhi gendang telingaku. Hembusan sejuk dari AC menyapa leherku yang barusan terasa panas membara, dan aku tersadar bahwa apa yang barusan aku lihat tidak mungkin nyata. Aku pasti hanya terlalu kelelahan hingga akhirnya berhalusinasi seperti itu.

Gwaenchanh-a [apakah kamu baik-baik saja]?” Daniela menengadah menatapku seraya meletakkan telapak tangannya di lenganku.

Mendadak aku merasa seperti tersetrum sehingga tanpa sengaja aku menjauh. Melihat reaksiku, Daniela menurunkan tangannya dan sebuah senyum geli muncul di sudut bibirnya. Ia melipat kedua tangannya dan memandang ke luar jendela sambil memainkan permen karet di dalam mulutnya.

“Ternyata aku masih punya efek yang sama terhadap pemuda mana pun yang aku temui.”

Karena ia berbicara dalam bahasa Inggris yang cukup cepat, aku tidak yakin bahwa aku mendengarnya dengan benar. Aku membuka mulutku, namun aku tidak punya keberanian untuk bertanya padanya tentang kalimat yang barusan ia ucapkan hingga akhirnya aku menelan rasa penasaranku dan kami menghabiskan sisa perjalanan kami dalam keheningan yang membuatku semakin canggung.

Begitu kami tiba di Stasiun Sillim, Daniela menepuk bahuku dan menunjuk ke arah pintu subway yang baru saja membuka. Tanpa mengatakan apa-apa, aku mengikuti sosoknya hingga kami melangkah keluar dari stasiun. Yang pertama kali kulihat adalah sebuah pusat perbelanjaan mini dengan logo toko pakaian terkenal dari Jepang—Uniqlo—tercantum di pintu masuknya. Baru sekarang aku tahu bahwa—seperti layaknya produk kosmetik Korea—barang terkenal dari Jepang pun ternyata berhasil menembus pasar Korea. Mengetahui hal ini tiba-tiba saja membuat aku penasaran akan hamparan kota asing di hadapanku ini.

Andai saja aku memiliki lebih banyak kesempatan untuk menjelajahi tempat-tempat asing, dengan senang hati aku akan meninggalkan Tokyo dan tidak akan pernah kembali lagi. Aku praktis tidak memiliki apapun yang mengikatku dengan kota kelahiranku itu. Aku sudah menyelesaikan sekolahku dan karenanya kedua orangtuaku tidak punya hak untuk mengatur kemana aku ingin pergi. Dan tentu saja tidak ada ikatan emosional apapun yang aku miliki dengan kota itu sehingga mudah saja bagiku untuk meninggalkannya kapanpun aku mau.

Namun dalam realita, tentu saja tidak semudah itu aku bisa mengunjungi kota-kota lain. Aku tidak punya uang. Sebelum aku bisa memenuhi impianku untuk menjadi Columbus abad 21, agaknya lebih bijaksana bila aku bisa mewujudkan impian utamaku. Mimpi yang telah membuatku nekat pergi ke Korea melawan keinginan keluargaku dan praktis membuat aku—

“Kei! Kau dengar aku nggak, sih?”

Aku mengerjap mata, tersadar dari lamunan panjangku untuk kemudian menemukan Daniela berdiri di hadapanku dengan kedua tangan berkacak di pinggangnya. Kerutan di antara kedua matanya menunjukkan bahwa ia sedang jengkel.

Tanpa tahu apa yang tiba-tiba merasuki pikiranku, aku mengeluarkan tanganku dari saku celana jinsku dan mengulurkannya ke arah wajah Daniela. Sebelum bisa menghentikan diriku, aku membelai lembut kerutan di atara kedua matanya hingga tak ada lagi kerutan yang tersisa di sana. Aku bisa mendengar Daniela menarik napas tajam, barangkali karena kaget akan gesturku yang begitu tiba-tiba itu.

Selama beberapa saat kami hanya berdiri berhadap-hadapan tanpa mengatakan apa-apa. Sekali lagi aku merasakan seakan seseorang telah menurunkan volume desau kehidupan di sekelilingku sehingga satu-satunya suara yang bisa aku dengar hanyalah suara tarikan napas kami. Segala sesuatunya terlihat jauh lebih jelas. Dengan mudah aku bisa menghitung bercak-bercak kecokelatan yang tersebar di puncak batang hidung Daniela, warna yang sama persis seperti warna bola matanya.

Tiba-tiba saja aku menemukan diriku ingin bertanya padanya mengapa ia barusan menangis sebelum menjemputku. Tiba-tiba saja aku merasakan daya tarik magnetis yang luar biasa kuat terhadap gadis yang baru aku kenal selama beberapa menit ini. Tiba-tiba aku—

“Hati-hati!”

Aku terhuyung dan nyaris menubruk Daniela. Pemuda yang barusan menubrukku karena terlalu sibuk berbicara di telepon itu bahkan tidak berhenti sejenak untuk meminta maaf.

Daniela mengawasi sosok pemuda tersebut dengan tatapan sinis, sebelum berdecak perlahan. Ia lalu mengulurkan tangannya dan dengan santai melingkarkannya di seputar lenganku.

Come. Let’s go home.

Lalu Daniela menempelkan sisi wajahnya pada lenganku dan kami pun mulai berjalan tanpa berkata-kata menuju tempat tinggalnya. Tak lama kemudian, aku merasakan kulitku sedikit lembab. Napasku tercekat di tenggorokanku, namun aku tak berani menoleh.

Karena aku tahu—di sisiku—Daniela tengah menangis tanpa suara.

*슬퍼해 보여요 (seulpheo-hae boyeo-yo) : you look sad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s