[She Says] Episode 29: U-turn


Dalam hidup setiap manusia, mereka akan bertemu dengan sebuah titik yang membuat mereka berhenti sejenak. Statis. Titik yang membuat mereka bertanya: terus maju atau putar arah? Seringkali momen ini datang di saat yang sama sekali tidak terduga. Sebuah momen yang mungkin terlihat biasa dan tidak istimewa, namun saat kau memutar kembali semua kenangan masa lalumu, kau akan terhenyak menyadari betapa momen itu telah menjadikanmu seseorang yang baru serta menghantarkanmu pada kehidupan yang kini kau jalani.

Seorang Taya Kadhita pun percaya akan hal ini. Di balik semua dinding serta benteng yang ia bangun berlapis-lapis untuk melindungi hatinya yang rapuh, tak pernah sekali pun ia meragukan bahwa akan ada satu momen dalam hidupnya—dalam hidup setiap gadis seperti dirinya—saat seorang pemuda akhirnya berhasil melihatnya. Melihat jauh menerobos batas cacat yang tercarut-marut di kulitnya. Menembus batas ketidaksempurnaan fisiknya dan menemukan siapa sebenarnya gadis yang tengah berdiri di hadapannya.

Momen di mana semuanya hampir terjadi. Dekat, begitu dekat sehingga hatimu bergetar penuh dengan kerinduan, asa yang telah letih menunggu. Sebuah momen yang membuat setiap gadis bertanya pada sanubarinya: haruskah ia terus melangkah atau haruskah ia berputar arah?

*

It’s kind of crazy, don’t you think?

Jemari Rania Syahida—yang sudah terlujur hendak mengambil kuas blush on di atas meja riasnya—berhenti secara tiba-tiba dan mengambang di udara. Ia tersenyum ke arah cermin, tersenyum ke arah Naila, adik Naya, yang tengah berdiri seraya memandang keluar dari jendela Gran Melia Hotel—tempat di mana dalam dua jam berikutnya ia akan resmi menjadi istri Ale.

“Apanya?”

Naila balas memandangnya. Sejenak detak jantung Rania seolah berhenti saat ia menatap mata gadis berusia dua puluh tiga tahun itu. Bentuk mata gadis itu begitu mirip dengan bentuk mata kakaknya, sehingga selama sepersekian detik ia seolah mampu menangkap kembali sosok Naya.

“Kakak dan Mas Ale. Finally tied the knot.

Rania tersenyum lagi. “Almost,” koreksinya lembut.

“Ah.” Naila mengangguk setuju. “Iya, benar juga.”

Hening.

Mendadak Rania merasa jengah. Ia tidak yakin keputusannya untuk mengundang Naila naik ke kamar pengantinnya merupakan sesuatu yang tepat. Tak peduli meskipun tahun demi tahun terlalu berlalu semenjak kepergian Naya, ia yakin rasa sakit yang ditinggalkan oleh pacar pertamanya itu pada keluarga tak pernah kunjung lekang dimakan waktu. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu saja melupakan sebuah kepergian tragis yang tidak meninggalkan penjelasan apapun? Bahkan hingga saat ini pun Rania masih bisa merasakan rasa hampa di dasar hatinya. Sebuah ruangan yang telah direnggut paksa saat Naya meninggal dan tak pernah bisa tergantikan oleh kehadiran siapa pun.

Have you ever thought about him?

Rania kembali menatap sosok Naila lewat cermin. Gadis itu kini duduk di tepi ranjangnya seraya memandang ke arah karpet dengan tatapan tak terfokus. Rania mengerjapkan matanya berkali-kali agar air matanya tidak sampai jatuh dan merusak riasan yang telah dikerjakan secara teliti dan cantik oleh tim rias pengantinnya. Kembali dilihatnya sosok Naya mengulurkan tangan ke arahnya saat sekolah mereka mengadakan kemping di perkemahan Cibubur dan ia nyaris terpeleset saat mereka tengah mendaki. Dirasakannya kembali jantungnya bertalu-talu hingga nyaris membuat gendang telingnya pecah saat Naya mencuri ciuman pertamanya secara tiba-tiba. Naya tidak pernah pergi. Naya selalu hidup bersama dengan dirinya. Dan tak pernah sekali pun ia berpikir bahwa suatu hari nanti ia akan mencoba menghapus Naya dari hatinya.

“Selalu.”

Naila memandangnya dan pandangan mereka bertemu di cermin. Seperti dirinya, bola mata Naila pun berkaca-kaca. Keduanya bertatapan selama beberapa saat tanpa berkata-kata. Lalu Naila bangkit berdiri dan menghampirinya. Sebelum dirinya sempat berkata apa-apa, Naila meraih buket bunga pengantinnya yang terletak di meja rias dan menyerahkannya padanya.

“Kamu adalah pengantin tercantik yang pernah aku lihat, Kak.” Dengan suara tercekat, Naila berkata padanya. Gadis itu tersenyum sebelum setitik air mata meleleh membasahi wajah cantiknya. “Naya pasti akan sangat bahagia melihatmu akhirnya bersatu dengan sahabat karibnya. Jika ada seseorang yang mampu menjagamu dengan baik—lebih baik dari Naya—itu adalah Ale, Kak.”

Rania membuka mulutnya untuk menjawab, namun ia tidak bisa menemukan suaranya. Batinnya tiba-tiba saja berkecamuk hebat. Ia tidak lagi yakin bahwa pernikahan ini adalah apa yang ia inginkan. Satu per satu kenangannya dengan Naya mulai membanjiri dirinya, membuat dadanya sesak sehingga tak ada ruang baginya untuk bernapas. Pandangannya mulai mengabur. Ia menemukan dirinya mengangguk singkat saat Naila pamit meninggalkannya. Begitu pintu kamarnya menutup, Rania terpuruk jatuh ke karpet. Tangisannya meledak tak terkendali. Ia bahkan tidak peduli bila gaun pengantinnya menjadi kotor terkena lelehan riasannya. Bahunya berguncang hebat seolah-olah ia terserang demam tinggi.

“Mbak Rania?”

Rania terkesiap kaget mendengar namanya dipanggil. Begitu ia menoleh, dilihatnya seorang gadis bertubuh tinggi yang mengenakan kemeja putih sederhana dipadu jins berdiri di muka pintu kamarnya sambil memegang sebuah kamera profesional. Gadis itu terlihat terkejut menemukan Rania dalam kondisi hancur seperti itu, dan rasa bersalahnya terlukis jelas di wajah cantiknya.

“Uhm—tadi saya ketuk pintunya tapi tidak ada jawabannya. Saya ditugaskan untuk mengambil beberapa foto Mbak saat Mbak lagi bersiap-siap sebelum turun ke bawah.” Gadis itu berusaha menjelaskan. “Maaf, saya—”

Rania tak lagi mendengarkan perkataan yang meluncur dari mulut gadis itu karena ia telah kembali hanyut dalam tangisannya. Ia mengangkat kedua belah tangannya untuk menutupi wajahnya sementara sang fotografer berdiri dengan canggung di muka pintu tanpa tahu harus melakukan apa.

Tiba-tiba saja ia merasakan bahunya dirangkul, dan ia menemukan dirinya bersandar di bahu fotografer itu. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya merangkulnya dan membiarkan Rania menangis hingga akhirnya ia terlalu lelah untuk bisa meneteskan air mata.

“Ini.” Sang fotografer mengulurkan beberapa helai tisu saat ia sudah berhenti menangis.

Rania menerimanya. Sambil tertawa miris, ia memandangi tisu di tangannya yang sudah berubah warna. “Aku pasti terlihat mengerikan sekali ya sekarang? Pengantin paling jelek yang pernah kamu lihat sepanjang karir kamu.”

Di luar dugaannya, gadis itu tersenyum mengerti mendengar jawabannya. Kala tengah tersenyum seperti itu, gadis itu terlihat berkali-kali lebih cantik sehingga Rania pun menemukan dirinya turut tersenyum. Ia bahkan tidak mengenal sang fotografer, namun dalam hati ia bersyukur karena ia tidak sendiri saat dirinya tengah hancur seperti ini.

“Menurut saya seorang pengantin sudah bersinar tanpa memerlukan riasan apapun. Kebahagiannya itulah yang membuat ia bersinar mengalahkan wanita-wanita lain yang berada dalam ruangan yang sama dengannya.”

“Kamu benar-benar berpikir begitu?”

Ia mengangguk. “Dalam line pekerjaan saya, saya sudah banyak bertemu banyak pengantin dari berbagai kalangan ras dan usia. Mereka semua memiliki keunikan yang membuat mereka luar biasa cantik bersinar. Saya nggak tahu bagaimana tepatnya saya bisa menuangkan ini ke dalam kata-kata, tapi—” gadis itu meletakkan telapak tangannya di jantungnya, “—sosok mereka selalu membuat saya percaya bahwa setiap orang lahir ke dunia ini untuk bahagia. Mereka membuat saya percaya bahwa siapa pun berhak untuk bahagia.”

“Siapa pun?” Rania berbisik. Bayangan Naya kembali menghantui benaknya, membuat hatinya sesak oleh jutaan emosi yang tak bisa ia rangkum dengan kata-kata.

Gadis itu tersenyum. “When you meet someone worth being with, you’ll know. Your heart will beat rapidly and you’ll smile for no reason.

Mendadak Rania tertawa, meski pada saat bersamaan setetes air mata kembali mengalir membasahi wajahnya. “Itu yang selalu aku rasakan setiap kali aku memikirkan tentang Ale.”

There you go.” Sekali lagi gadis itu tersenyum. Ia meraih gumpalan tisu kotor dari tangan Rania, lalu mengulurkan tangannya untuk membantunya bangkit berdiri.

Rania terkesiap kaget begitu melihat pantulan wajahnya di cermin. Ia terlihat luar biasa berantakan. Riasan matanya telah menyatu dengan riasan wajahnya, membentuk coreng moreng aneka warna yang membuat dirinya seolah baru saja dirias oleh seorang badut buta warna. Dan lipstiknya—ya Tuhan, ia bahkan tak sanggup memandang bayangan dirinya lebih lama lagi.

“Aduh! Ngeri banget!” Tanpa sadar, tangannya naik menyentuh coreng-moreng wajahnya. Ia melirik jam dinding di belakangnya dan terhenyak. Ia hanya punya tiga puluh menit. Tidak mungkin ia bisa memanggil penata riasnya tanpa menimbulkan pertanyaan. Ia tak mau Ale sampai mendengar bahwa ia menangis hanya beberapa saat sebelum pernikahan mereka. Sungguh sebuah mimpi buruk.

Gadis itu meletakkan sebelah tangannya di bahu Rania, tersenyum menenangkan. “Jangan takut. Aku tidak akan membiarkan kamu melangkah di altar sebelum kamu terlihat sempurna.”

*

“Hai.”

Gue menoleh dan menemukan Ale berdiri canggung dengan sebelah tangan di saku. Upacara pernikahannya baru saja selesai, dan gue memutuskan untuk pergi ke balkon untuk menghirup udara segar. Perasaan gue ketika itu benar-benar tak bisa dijabarkan menggunakan kata-kata, namun secara keseluruhan, anehnya gue merasa lega. Barangkali gue lega karena akhirnya sebuah lembar hidup gue—sebuah lembaran yang selama ini telah membuat gue terpaku dalam satu tempat—telah berhasil gue tutup. Dan harus gue akui, melihat Rania bersanding di sisi Ale, gue nggak akan pernah mampu menemukan seseorang yang bisa menggantikan dirinya. Mereka terlihat begitu sempurna bersama.

“Hai.”

Ale berdeham canggung. “I’m sorry that you have to find out this way.  Aku—”

“—kamu nggak berhutang penjelasan apapun sama aku, Le.” Satu bulan yang lalu, mungkin aku akan berteriak di hadapan mukanya karena tega membiarkan aku tahu akan pernikahannya dengan cara seperti ini. Tapi kejadian malam ini telah mengubah semuanya. Seperti yang barusan gue bilang sama Rania, melihat sosok seorang pengantin selalu membuat gue percaya  bahwa setiap orang berhak untuk bahagia.

Gue—dengan segala ketidaksempurnaan dan kesalahan-kesalahan yang telah gue perbuat—yakin bahwa gue bukanlah sebuah pengecualian. Entah mengapa, sesuatu di dasar lubuk hati gue meyakinkan gue bahwa gue sudah sangat dekat dengan sebuah momen yang sangat berharga. Sebuah momen yang akan mengubah hidup gue.

Jangan tanya mengapa gue bisa seyakin itu. Terkadang, kamu hanya tahu. Tahu bahwa ini bukanlah sekedar firasat belaka.

Gue tak pernah lagi bertemu dengan Ale sejak malam pernikahannya. Nor do I wish to meet him again in the future. 

Namun ada seseorang dari masa lalu gue yang belakangan ini sering muncul dalam mimpi gue. Sebuah mimpi yang sama. Gue selalu menemukan dirinya memanggil nama gue dengan segenap jiwanya saat gue—untuk sebuah alasan yang tidak pernah bisa gue mengerti—tengah berjalan ke arah laut lepas. Kedalaman air sudah hampir mencapai pinggang gue, namun gue tidak kunjung berhenti melangkah. Gue baru berhenti melangkah ketika gue mendengar dirinya meneriakkan nama gue. Ketika gue menoleh, gue melihat sosoknya berlari ke arah gue dengan tangan terulur seakan-akan ia ingin merengkuh gue.

Pada awalnya, gue tak pernah bisa melihat raut wajahnya dengan jelas. Gue selalu terbangun sebelum gue berhasil melihat raut wajahnya. Namun malam itu, akhirnya gue bisa melihatnya. Dan anehnya—begitu gue terbangun—gue menemukan diri gue memanggil namanya berulang kali.

Tejas Bakara.

8 thoughts on “[She Says] Episode 29: U-turn

  1. Akhirnya setelah sekian lama, ceritanya dilanjut juga. Sampai pertengahan, saya masih bingung sama adegannya. Beberapa kali saya mikir, yang lagi bicara ini siapa? Maklum, nama yang nyangkut di ingatan saya cuma Taya dan Tejas. Berhubung si pacar udah jadi punya orang, si bos juga kena penyakit menular (kalo gak salah ingat), jadi boleh dong Team Tejas mulai berharap lebih banyak tentang ending cerita ini nantinya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s