Forget-Me-Not


art-ballerina-ballet-bird-bjd-Favim-1.com-111671

Untuk beberapa masa lalu
yang tidak pernah benar-benar pergi.

“Satu, satu, Evie sayang James—”

Setengah tertidur, James bisa mendengar suara gadis-gadis kecil bernyanyi samar. Apakah adiknya? Bukan adiknya, bukan—itu suara Evie dan Silvy, teman-teman sepermainan yang lebih muda beberapa tahun dari dirinya.

“Dua, dua, Silvy sayang James—”

Gadis-gadis kecil memang sangat mengesalkan. Sejak tadi, Evie yang berwajah serius dan jauh lebih dewasa dari umur sebenarnya terus-menerus memegang buku kumpulan dongeng yang lebih tebal dari batu bata, padahal James yakin ia belum bisa membacanya dengan lancar. Wajahnya hampir tidak kelihatan saking seriusnya ia menunduk memelototi deretan huruf-huruf di halaman buku tersebut. Kepangan rambutnya berayun-ayun ke kiri dan kanan sembari ia membaca. Evie sudah tenggelam ke dalam dunianya sendiri, bersama semua putri dan pangeran dan tukang sihir dan entah apa lagi.

Sedangkan Silvy, si kecil yang baterainya tak pernah habis, terus menerus berceloteh. Tapi, yang ia ocehkan hanyalah cerita balet. Anak itu gemar sekali menari balet, walaupun tariannya masih jauh dari indah. Cerita tarian yang paling ia sukai, dan lantas paling sering ia ocehkan, adalah La Sylphide. Matanya yang besar dan hitam berkilau penuh semangat, wajahnya sama sekali tak tertutup rambut karena rambutnya disanggul ala balerina bun.

Silvy terus-menerus berceloteh betapa La Sylphide itu sangat indah dan romantis. Rasanya telinga James, dan sepertinya telinga Evie juga, sudah panas karena terlalu sering mendengar cerita tentang datangnya seorang peri kepada pria yang dicintainya, tepat di malam sebelum pria itu menikah. Silvy akan bercerita dengan suara mendesah dan mata penuh mimpi, lalu gadis kecil itu akan menutup ceritanya dengan berkomentar bahwa nama mereka sangat mirip dengan nama-nama tokoh cerita tersebut: James, Effie, dan sang peri—dalam cerita aslinya sang peri disebut La Sylphide, dan Silvy merasa bahwa “Silvy” dan “Sylphide” itu mirip.

Yah, James tidak peduli.

Yang James inginkan hanyalah bermain bersama mereka. Merasa tidak dihiraukan, ia akhirnya memutuskan untuk tidur siang dengan hati mendongkol. Tapi, akhirnya Evie dan Silvy malah memutuskan untuk mengganggunya bersama-sama. Mereka menyanyi sambil mengikat rambutnya menjadi kunciran-kunciran kecil. James tahu dia seharusnya bangun dan mengomeli mereka, tapi mungkin sebentar lagi karena tangan-tangan kecil itu terasa nyaman sekali di kepalanya.

Evie dan Silvy terus bernyanyi.

“Tiga, tiga, James sayang—”

Siapa?

Dan James pun terbangun.

Di hadapannya, kegelapan membentang luas dan membisu. Tak ada satupun suara yang sampai ke telinganya, kecuali deru lembut pendingin udara. Ia terpekur menatap kegelapan yang kosong itu.

Sudah belasan tahun sejak peristiwa dalam mimpi itu terjadi, tapi dia masih belum bisa mengingat bagaimana lagu itu berakhir. Dia masih belum bisa memutuskan, apabila ia harus memutuskan, bagaimana ia akan menyanyikan baris terakhir lagu itu.

James sayang Evie? James sayang Silvy? James sayang keduanya?

Mendengus kesal pada dirinya sendiri, James mengacak-acak rambut pendeknya dan berguling ke samping. Ia lalu menarik laci nakasnya dan mengeluarkan kotak yang sudah lama sekali tersimpan di sana. James mengelus kotak tersebut dengan lembut, menikmati rasa saat permukaan ukiran yang tak rata bertemu dengan jari-jarinya. Bahkan dalam kegelapan pun, ia tahu bagaimana persisnya kotak itu terlihat. Ia hanya perlu menyentuhnya, dan sebuah imaji akan datang dalam benaknya. Kotak itu terbuat dari besi tempa dengan motif ukiran bunga-bunga kecil berwarna biru.

James lalu membukanya.

Denting-denting nada lembut perlahan terdengar mengisi udara yang semula hampa. Sampai sekarang, James masih tetap tidak tahu itu lagu apa. Namun lagu itu selalu berhasil membawanya ke masa lalu, kepada sebuah hari yang takkan pernah bisa ia lupakan.

Hari sebelum tahun baru, sekian tahun yang lampau.

Hari itu adalah hari di mana ia menyatakan ketetapan hatinya.

Hari itu adalah hari di mana ia akan meminta Silvy menjadi kekasihnya.

Hari itu juga, saat ia berkunjung ke rumah Silvy dan belum sempat mengucapkan apa-apa, Silvy menghampirinya dan mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu. Ia akan berhenti dari sekolahnya, dan melanjutkan pendidikannya di luar negeri untuk memperdalam balet. Sambil memberikan kotak musik itu, ia berjanji suatu hari akan kembali ke Indonesia—untuk menari. Bukan untuk James. Bukan karena cinta.

Hari itu, James sama sekali tak bisa menikmati perayaan tahun baru yang ramai di rumah Silvy. Ia hanya bisa menatap gadis itu, dan memikirkan tentang perpisahan yang akan segera terjadi.

Hati James yang merasa sedikit pedih berubah menjadi berdebar-debar tak karuan saat ponselnya bergetar tiba-tiba. Sebuah pesan telah masuk. Ia membukanya dan langsung merasa bersalah karena masih memikirkan, bahkan menyayangkan, hari perpisahan itu.

Udah bangun? Jangan lupa jemput Silvy ke bandara ya… Huh. Dasar penerbit rese, gue kesel banget ga bisa ikut, padahal udah belasan taun ga liat Silvy… kangeeennn!!! Akhirnya kita bisa tahun baruan bareng lagi tahun ini. Can’t wait. Love you *hugs*Hati-hati di jalan!

Evie.

Beberapa bulan lagi, Evie akan lulus dari kuliah pascasarjana dan pertunangan mereka akan diresmikan. James mengerang.

Evie tak pernah meragukan kesetiaannya, dan selalu mencintainya dengan tulus. Pria mendua hati sepertinya, apakah pantas dicintai?

Dengan gontai ia menyeret dirinya untuk mandi dan bersiap-siap. Jalanan pasti akan macet, dan ia tak mau mengambil resiko terlambat walaupun ia baru saja kembali dari perjalanan ke luar negeri dan merasa amat sangat lelah.

Ketika akhirnya James sudah segar dan bisa duduk tenang menyantap sarapan, berbagai macam pertanyaan datang menghantui benaknya. Bagaimanakah ia harus bersikap saat bertemu kembali dengan Silvy, sendirian?

Bagaimana jika ternyata perasaan dari masa lalu itu belum berlalu?

Ia menatap kosong ke arah televisi yang sengaja dinyalakannya untuk menemani makan. Tampak pembaca berita yang sedang membahas lagi tentang sebuah kecelakaan pesawat, entah kapan dan di mana. Beberapa hari ini berita penuh dengan update terbaru dari kecelakaan itu, tapi benak James terlalu kacau untuk bisa menyimak.

Menyerah mencoba menonton berita atau berkonsentrasi pada apapun juga, James memencet tombol off. Andai pikirannya juga bisa dimatikan dalam satu klik, pikirnya saat hendak berangkat menuju bandara.

***

Bandara Internasional Soekarno Hatta
Terminal 2, Gate E

 Gadis itu seperti keluar dari dalam mimpinya. Mukanya telah berubah dewasa, persis seperti yang dibayangkan oleh James.

Senyum dan semangatnya masih sama. Tatanan rambutnya pun masih sama, masih balerina bun. Hanya saja, Silvy sekarang tampak jauh lebih tinggi, dan lebih dewasa—kalau berteriak dan berlari menghambur ke arahnya itu masih bisa disebut dewasa.

Silvy memang tidak tahu bahwa James akan datang untuk menyambutnya. Sebenarnya, di tahun kesekian, mereka sudah kehilangan kontak. Tidak mudah bagi seorang remaja untuk menjaga hubungan dengan teman yang berada di luar negeri. Apalagi dulu mereka bertiga tidak ada yang terdaftar di situs jejaring sosial macam Friendster atau Facebook.

James tahu jadwal kedatangan Silvy saat ia tak sengaja mendengar orang tua gadis itu bercerita pada orangtuanya sendiri. Akhirnya, grup tari Silvy akan mengadakan pertunjukan di Jakarta dan Silvy bisa pulang. James langsung menelepon Evie dan sepakat akan membuat kejutan berdua.

“James kan? Ini James kan? Ini pasti James!” seru Silvy, membuyarkan semua pikiran James.

Dengan cepat ia berdeham dan memasang senyum.

“Hehe, kaget? Sori Evie ga bisa dateng. Dia ada workshop penting yang ga bisa dijadwal ulang. Tapi nanti malem dia bakal ikut dateng kok untuk nonton kamu nari,” kata James, berusaha bersikap biasa-biasa saja dan menekan luapan perasaan yang membuncah di rongga dadanya.

“Ga apa! Wah, senangnya bisa balik! Ngomong-ngomong, James tinggi jauh ya! Gila, udah lama banget! Kangen banget ketemu Evie juga. Jadi ga sabar. Eh, kita mau makan di mana nih? Aku lapar,” celoteh Silvy tanpa henti, persis seperti yang James ingat.

“Orang tua kamu di mana?” tanya James sambil melihat ke sekeliling mereka.

“Oh, mereka ngga bisa datang katanya, tiba-tiba harus ke rumah sakit karena ada paman yang kondisinya gawat,” kata Silvy dengan enteng, lalu kembali berceloteh.

Dan celotehan itu tidak berhenti, bahkan setelah tiba di depan The Garden, sebuah kafe di pusat kota yang memakan waktu tempuh sekitar dua jam dari bandara.

“Itu cincin kan? Couple ring?” tanya Silvy saat James membukakan pintu untuknya.

James bahkan tidak sadar dia memakainya pagi tadi. Tampaknya memakai cincin itu kini sudah menjadi kebiasaan. Suatu kewajaran, suatu hal yang seharusnya.

“Iya,” jawab James, “Beli bareng Evie.”

Silvy menjerit dan mengepalkan kedua tangannya di sisi wajah.

“Kamu harus cerita semuanya dari awal! Gimana awalnya kamu jatuh cinta sama Evie?” tanya Silvy dengan mata berbinar-binar.

James berpikir keras.

Selama ini, semua orang selalu menganggap bahwa hubungannya dengan Evie adalah hal yang wajar karena mereka adalah teman masa kecil. Kapankah pertama kalinya ia melihat Evie lebih daripada sekedar sahabat? Kapankah hatinya mulai condong ke arah Evie?

“Hm. Evie dari dulu itu kan tegas dan agak bossy. Dari dulu juga, dia bener-bener suka sama yang namanya buku,” kata James, yang disambut dengan anggukan antusias dari Silvy.

“Dia akhirnya berhasil jadi penulis, dan meskipun waktu itu masih kuliah, dia juga aktif kerja sosial di mana dia bisa menyalurkan ke-bossy-annya ke semua orang yang dia temuin. Suatu hari, aku lagi suntuk dan pengen ajak dia makan, jadi aku jemputlah dia dari kafe ini. Waktu itu dia lagi ada book reading session di sini, di acara amal apa aku ga inget. Aku rasa, itulah pertama kali aku bener-bener ‘ngeliat’ dia.”

Mata Silvy melebar. “Maksud kamu?”

“Waktu itu aku datang dan dia lagi bercerita tentang cerita kesukaan dia—inget ga? Cerita dongeng klasik yang ada di kumpulan dongeng tebalnya itu. Dia lagi cerita bagaimana dongeng itu mempengaruhi dia, dan bagaimana dia juga mau nulis dongeng yang bisa berpengaruh buat orang lain. Waktu ngeliat dia yang bercerita seperti itu, dan cara pembacanya, terutama anak-anak, ngerumunin dia dengan antusias—aku sadar aku mau itu.”

“Itu?” tanya Silvy dengan sedikit bingung.

“Aku mau pemandangan itu setiap kali aku pulang. Aku mau ada Evie. Aku mau ada anak-anak. Dan itu mungkin agak nyeremin, karena saat itu kami masih kuliah. Tapi, saat itu aku bener-bener bisa ngebayangin masa depan aku, dan di dalam masa depan itu ada Evie,” kata James sambil memandang Silvy.

Ia mencintai Evie. Namun, mengapa hatinya terasa hangat dan pedih secara bersamaan saat melihat Silvy?

“Wah, romantisnya! Dan kamu baru sadar hal itu pas liat dia ngomong ke anak-anak?”

“Hm. Sepertinya iya. Entah kenapa, pas ngeliat pemandangan itu rasanya seperti nemuin harta karun yang langka banget, terus kamu jadi pengen simpen itu buat diri kamu sendiri. Biasanya Evie tuh berkutat sama deadline dan buku. Dan dengan sifat dia yang dewasa itu, aku rasa jarang ada yang pernah liat langsung sisi Evie yang kekanakan dan penyayang,” cerita James sambil tersenyum.

“Hehehe. Kalo Evie sih, udah suka kamu dari kecil lho.”

“Aku tau.” James memasang tampang sok cool.

“James Setiadi! Belagu banget kau,” kata Silvy, pura-pura mencibir.

“Eh, ngomong-ngomong, kamu jam berapa harus sampe ke rumah? Atau mau ke mana? Malam ini pentas kan?” tanya James.

“Ke tempat pentas aja, mau pulang istirahat rasanya tanggung.”

Lalu mereka keluar dari kafe tersebut. Silvy duluan, dan James mengikutinya, memandanginya dari belakang dengan perasaan campur aduk.

Malam harinya, James tak bisa berhenti memandang Evie. Kalau saja Evie tahu apa yang kini memenuhi hatinya. Kebimbangan. Rasa bersalah. Kesedihan. Cinta.

“Lu cantik banget malem ini,” katanya dengan suara tercekat, setengah berbisik saat melewati pintu masuk gedung pertunjukan.

Evie terkejut, tapi lalu tersenyum dan mengecupnya lembut.

“Dasar gombal,” jawabnya, tapi terlihat sangat bahagia.

Malam itu, Silvy akan menari sebagai La Sylphide, tokoh kesayangannya semenjak kecil.

“Ga nyangka ya, akhirnya dia kesampean juga balik untuk nari di sini. Gue ngga sabar mau ketemu dia!” seru Evie dengan antusias.

Mau tak mau, James tersenyum kecil melihat kelakuan Evie.

“Eh, ada yang jual buku program acara. Beli yuk, buat kenang-kenangan,” kata Evie. Mereka lalu asik membuka-buka buku itu berdua.

“James, lihat—” kata Evie, heran, setelah beberapa saat.

“Nama Silvy ditutup dan diganti nama orang lain,” kata James, menyelesaikan kalimat Evie, yang kini sedang membalik halaman-halaman buku itu dengan sangat cepat.

Mereka saling berpandang-pandangan. Setelah pertunjukan berakhir pun, Silvy masih tidak terlihat.

“Gue bener-bener nganter dia ke sini lho tadi,” ujar James kebingungan.

“Lu punya nomor teleponnya?” tanya Evie.

“Ngga. Tadi gue lupa nanya.”

“Kalau nomor rumahnya? Gue ga punya nih.”

“Gue juga. Sejak Silvy pergi, gue jarang hubungan sama orang tua dia. Mau gue tanyain ke orang tua gue?”

“Ga usah, nanti jadi gosip. Pasti dia ngga nari malam ini karena alasan yang penting,” jawab Evie.

“Lu mau datang ke rumah dia besok?” kata James. Entah mengapa, ia merasa cemas.

“Gue masih harus ke workshop,” jawab Evie, merasa cemas juga. “Gini deh. Lu ke sana pagi-pagi. Besok ada speaker lain, gue bukan speaker tunggal, jadi mungkin gue bisa nyusul walaupun agak siang.”

Dan esoknya, pagi-pagi sekali, James sudah berada di balik setir.

Gerbang rumah Silvy hanya beberapa meter lagi jaraknya ketika ia melihat orang tua Silvy masuk ke mobil, lalu mengemudi menjauh. James bimbang. Haruskah ia turun dari mobil dan mencoba mencari Silvy di rumahnya? Tapi, bagaimana kalau Silvy ternyata turut ada di dalam mobil itu?

Akhirnya, James memutuskan untuk membuntuti mobil orang tua Silvy. Kalaupun nantinya tidak ada Silvy di sana, setidaknya James masih bisa menanyakan alasan mengapa Silvy tidak jadi menari.

Mobil itu melaju, dan terus melaju. James jadi teringat cerita balet yang seharusnya ditarikan oleh Silvy semalam, La Sylphide, yang dulu begitu sering dibicarakan olehnya sehingga sebagian cerita itu masih teringat, walaupun setelah bertahun-tahun lamanya.

Dalam cerita itu, James dan Effie akan menikah, tapi lalu datanglah seorang peri yang mencuri hati James. Akhirnya, ia mengejar peri itu ke dalam hutan. Bukankah cerita itu kini sedikit mirip dengan kenyataan? Ia merasa seperti sedang merambah hutan-hutan beton, mengejar bayangan Silvy yang datang secara misterius ke kota ini—dan ke hatinya.

Jalanan padat, mungkin karena mau malam tahun baru. James mengemudi melalui gedung dan jalan yang berkelok-kelok sampai akhirnya memasuki jalan tol. Mobil yang dibuntutinya mengarah keluar dari kota Jakarta. James semakin terheran-heran.

Mengapa harus ke luar kota dengan mendadak sampai membatalkan penampilan Silvy yang begitu ditunggu-tunggu? Mungkinkah mereka sekeluarga sedang kabur secara diam-diam dari sesuatu?

Sebelum imajinasinya berlanjut, mobil yang diikutinya itu berbelok secara tiba-tiba, keluar dari jalan utama, dan memasuki sebuah gerbang yang tidak begitu James perhatikan karena terlampau fokus membuntuti.

Kini berjalan kaki, James mengikuti mereka melewati padang asri dan pepohonan pinus yang membuat tempat itu terlihat seperti dunia khayalan. Ada sesuatu dalam keindahan dan ketenangan tempat itu. Dan setelah beberapa lama, James tahu alasannya.

Ini adalah pemakaman.

Kini ia mengerti alasan mengapa pemakaman disebut sebagai tempat peristirahatan terakhir. Jiwanya merasa tenang di tempat yang indah ini.

James mengikuti orang tua Silvy menuju ke dataran yang mengarah ke sebuah danau buatan. Ia berjalan mendekat, perlahan—

Dan tiba-tiba tenggorokannya tercekat.

Sebuah batu nisan.

Nama Silvy terukir di sana.

“Silvy—?” desahnya lirih, tak percaya. Matanya terus berusaha mengirimkan pesan ke benaknya bahwa Silvy sudah tiada. Tapi, hatinya menentang keras. Baru kemarin mereka makan siang bersama!

“James?” tanya ibu Silvy yang telah menyadari kehadirannya.

“Kapan kamu pulang dari luar negeri? Tadinya om mau kasih tau kamu, tapi ternyata kamu udah tau sendiri ya,” kata ayah Silvy dengan raut muka sedih.

James masih belum bisa menerima apa yang sedang terjadi. “Silvy—kenapa?”

“Dia udah ga sabar untuk pulang, jadi dia putusin untuk berangkat lebih awal dan ga kasih tau siapa-siapa, sebagai kejutan,” kata ayah Silvy lagi.

James terus menatap batu nisan itu. Tanggal yang terukir di batu tersebut menunjukkan bahwa Silvy meninggal beberapa hari yang lalu.

“Tapi pesawatnya kecelakaan,” sambung ibu Silvy sebelum meledak dalam tangisan.

Kecelakaan pesawat?

Tiba-tiba James teringat berita yang ditontonnya kemarin. Sepertinya banyak korban dari kecelakaan itu yang jasadnya bahkan belum ditemukan. Tapi, berita semacam itu selalu terasa jauh dari kenyataan. Terutama sekarang. Tidak mungkin Silvy. Tidak mungkin Silvy-nya! Tidak mungkin. Mereka masih bertemu kemarin!

Lalu angin pun mendadak menghening. James menoleh. Entah berapa lama ia sudah mematung di sana. Badannya terasa sangat dingin karena tertiup angin. Tidak ada siapa-siapa di sana. Rupanya orang tua Silvy sudah meninggalkannya tenggelam dalam pikirannya sendiri—tapi ia tidak merasa sendirian.

Matahari mulai tenggelam. Kegelapan mulai memenuhi udara. Tapi walaupun tidak bisa melihatnya, James tahu. Ada kehadiran manis yang terasa dengan sangat pekat di sana.

“Maaf,” ujar sebuah suara, lemah dan sayup seperti desau angin.

Suara Silvy.

“Maaf,” katanya lagi.

Samar-samar, James bisa melihat sesosok kabur perempuan dalam balutan gaun berwarna krem. Paras dan sosoknya menoreh hati James dengan sangat pedih. Gadis yang kemarin ditemuinya, penuh kehidupan, kini hanyalah bayang kabur yang tersembunyi di antara pepohonan.

“Aku ga bisa pergi tanpa pamit,” kata Silvy sedih.

“Jangan,” bisik James, “jangan pergi.”

“Aku ga maksud bikin kamu bimbang, kamu tau kan? Aku cuma mau ketemu kamu lagi, untuk yang terakhir kalinya.”

Sosok itu lalu memudar diterpa kemilau lampu-lampu taman yang mulai menyala.

“Jangan,” kata James, lalu suaranya pecah menjadi tangisan.

James tidak siap. Untuk kenyataan ini, untuk perpisahan ini. Entah mengapa, kalau Silvy menghilang sekarang, James merasa segala kenangan mereka akan dianggap sebagai buih imajinasi belaka, ikut terbawa ke suatu tempat yang sangat jauh, di mana Silvy seharusnya berada sekarang.

Ia bahkan mulai meragukan apakah hari sebelumnya itu nyata.

“Selamat tinggal, James,” bisik gadis itu.

“Silvy!” serunya, namun terlambat. Kehadiran itu sudah tiada, menguap hilang ditelan kehampaan. Tinggal James di sana, sendirian, patah hati, di perbatasan antara ada dan tiada, nyata dan semu.

Angin berhembus.

Angin berhembus, dan sesuatu yang lembut dan dingin menggesek lembut tangannya.

Apa ini?

James menengadah. Dari langit, berjatuhan milyaran kuntum-kuntum kecil bunga biru ilusi, yang lenyap saat menyentuh tanah. Ia terkesima.

“Hujan bunga. Bener-bener khas Silvy,” kata sebuah suara dari balik bahu James.

“Evie—?” tanya James dengan suara lemah.

“Dia dateng ke mimpi gue semalem dan nyuruh gue kemari. Awalnya gue kira cuma mimpi buruk karena cemas, tapi tadi di jalan gue tidur, dan dia dateng lagi ke mimpi gue untuk nyuruh gue kemari. Jadi begitu bangun, gue langsung ke sini,” jelas Evie dengan tenang, namun air mata tak berhenti mengalir menuruni wajahnya.

“Kita bahkan ga sempet bilang selamat tinggal ke dia,” bisik James sambil memeluk Evie.

Evie balas memeluknya erat.

Mereka terus berpelukan dalam tangis dan diam sementara bunga-bunga magis itu tak hentinya turun dari langit, seakan berusaha membanjiri hati mereka dengan permohonan maaf, dan supaya tak dilupakan.

Satu lagi malam tahun baru terlewatkan. Satu lagi pertemuan datang menghampiri. Satu lagi perpisahan terjadi.

Dan, saat itu juga, dalam sebuah laci, alas sebuah kotak musik membuka, memperlihatkan secarik kertas yang sebelumnya tersembunyi. Nada-nada manis pun berdenting lembut, tak terdengar oleh sepasang manusia itu, melayang naik mengantar kepergian sesosok peri, kembali ke peraduannya.

Tahun yang baru telah datang.

***

Dearest James,

Aku harap kamu suka kotak musik ini. Aku minta tolong mama supaya pesan khusus untuk hadiah ulang tahun kamu, tapi ternyata harus aku kasih sebagai hadiah perpisahan.

Lagu ini adalah lagu lama yang sering mama setel, dan aku rasa akan sering aku setel nanti setelah aku pergi. Kalau kamu ga tau, tenang aja, aku udah tulisin liriknya di balik surat ini.

Bunga-bunga yang aku pilih ini namanya forget-me-not. Seandainya masih belum jelas juga, ini artinya kamu ga boleh lupa sama aku. Ini artinya aku bakal kembali lagi.

Tapi untuk sekarang, selamat tahun baru, dan selamat tinggal.

Suatu saat nanti aku pasti kembali.

Karena aku cinta sama James.

***

Lagu Tengah Malam

Ada lagu yang diam-diam kunyanyikan
Kala rindu menyusup dalam bayangan
Akan sang terkasih, entah di mana gerangan

Nada tinggi, nada rendah
Bertalu-talu memecah hening kelam
Merangkai kata dalam untaian nada
Berhiaskan cinta, lagu tengah malam

Kendarai awan, tinggi melayang
Berlayar di lautan penuh bintang
Wahai angin, hembuskanlah rasa rindu
Melewati ruang, menyeb’rangi waktu
Sampai saatnya nanti bertemu

Saat kelambu malam perlahan turun
Ada lagu yang diam-diam mulai kunyanyikan
Bisikkanlah lagu ini saat semua insan terlelap
dan biarlah angan terjaga dalam gelap
Cinta menunggu di gerbang mimpi


Sekali lagi, selamat tahun baru.
Ingatlah aku saat tengah malam datang.
–Silvy

******
Image taken from favim.com

22 thoughts on “Forget-Me-Not

  1. ya ampun, baca ini terenyuh banget sih kak. Saya speechles. Gak tahu mesti gimana. Habis baca ini rasanya mau nangis aja, bener-bener sesuatu banget. Semangat kak! Saya vote tulisan kakak jadi juara deh!

    • Ya ampun, ternyata saya memulai tahun ini dengan bikin pembaca hampir nangis :p

      As always, terima kasih sudah baca tulisan saya. Kalau saya, saya vote tulisan kamu jadi juara😀 Sama-sama semangat ya!

  2. dari awal sudah curiga sama berita yang ditonton James, tapi semakin membaca, semakin gak tega kalau tokoh utamanya beneran meninggal karena kecelakaan.
    kemarin baca cerpen kamu tentang Taraka bikin saya pengen jalan-jalan nyobain makanan di tiger express. Sekarang cerita ini bikin saya yang buta soal dunia balet jadi sibuk googling sana-sini tentang La Sylphide.
    oh iya, lagu tengah malamnya bagus🙂

    • Wah, senang sekali mendengar kalau tulisan ini membuat kamu jadi tertarik sama cerita La Sylphide yang balet. Gimana? Suka? Saya belum pernah nonton langsung tapi seneng banget waktu nonton di YouTube. Hehe…

      Terima kasih sudah baca dan suka tulisan saya🙂 Your feedback means a lot to me.

  3. Merosot…

    Bengong…

    Dan enggan terbangun.
    Ginaaa, Tulisan kamu ngebawa aku “menonton” kisah ini, like literally.
    Dalam 10 menit baca ini aku serasa dibawa pergi.
    Aku lupa diriku ada di mana,

    Membayangkan alunan kotak musiknya,
    Perbincangan mereka,
    Pedih di hati james,
    Sampai desau angin dan hujan bunga yg turun.

    Aku hanyut.

    Thank you.
    For writing it beautifully.

    Ps: and happy new year dear gadis penjaja ♡

    • *tarik supaya ngga merosot* Senang sekali kalau bisa bawa pembaca melihat apa yang saya lihat waktu menulis ini.

      Terima kasih sudah mau ikut saya dalam kisah ini, dari awal sampai ke hujan bunga di San Diego Hills pada malam tahun baru.

      Happy New Year to you too😀

  4. Oh iya….suka juga sama deskripsi pemakaman yang terkesan damai dan tenang…ga menyeramkan seperi yang biasa dideskripsikan…saya jadi ikut mengerti alasan kenapa pemakaman disebut peristirahatan terakhir🙂

  5. I like the story..
    A reminder for us all to say what’s in our heart before it’s too late to do anything (easier said than done though)..
    A bit sad and creepy at some point..
    Keep up the good work!!!

    • Thank you sudah baca dan suka cerita ini. Memang ada banyak hal yang kita tau harus dilakukan tapi rasanya berat. Semoga cerita ini bisa sedikit banyak membantu untuk menggerakkan hati🙂

      Once again, thanks for reading and please keep supporting me ♥

  6. Gina mah! Awal tahun sudah langsung bikin galau…
    Paling ga tahan sama cerita kayak gini, penyesalan selalu datang terlambat dan perpisahan selalu menyedihkan, orang yang sudah ke dunia sana akan selalu menyisakan kata “andai saja” buat yang masih di dunia ini. *hela napas*

    • Maaf hehehehe… *menyesal tapi juga senang karena dirimu kebawa sama ceritanya* Semoga sedikit terhibur dengan adegan penutupnya ya🙂 Terima kasih sudah mau baca & komen cerita ini. *peluk*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s