100% Chance of Happiness


100% Chance of Happiness

Maybe if time could go a little slower
And people would push a little softer
And what if we could try a little harder?
What if we linger a little longer?
 

If the world is a little quieter
Would our hearts be heard a little clearer?
If we could be alone a little bit more
Could it not end feeling this awfully sore?
If only, if only, if only, if only, if oh if…
I were a little braver, you a little stronger
Could we be a little more in love,
and a little less lonely?

******

 “Paket Taraka?” tanya pelayan dari balik counter sambil tersenyum.

Aku melihat Tara menyeringai sambil mengangguk mendengar nama paket yang bahkan tidak ada di menu. Rupanya ini alasan mereka menanyakan nama kami sewaktu terakhir kali berkunjung. Mungkin mereka berpikir akan lebih cepat jika memberi nama untuk pesanan kami yang selalu itu-itu saja.

Aku melayangkan pandang ke papan menu yang sebenarnya berisikan banyak sekali variasi hidangan. Sebenarnya ada banyak menu menggoda, tapi Tara selalu memilih yang itu-itu saja. Dan aku, yah, aku selalu memilih untuk menuruti Tara.

Bunyi tombol mesin kasir terdengar di sela-sela alunan musik dan deru hujan yang sedang mengamuk di luar restoran cepat saji itu. Mood-ku langsung turun. Aku benci hujan.

“Oke, jadi satu Fried Rice, satu Ala Carte Sweet Thai Chicken, dua Hot Milo,” kata sang pelayan dengan luwes.

Hm?

Choco Toast-nya jangan lupa Mbak,” kata Tara sambil mengangkat tangan seperti anak SD.

Nah.

“Satu Choco Toast,” kata si pelayan yang hampir tidak bisa menahan tawa.

And here we go again.

“Yang lain aja lah.” Aku memulai negosiasi.

Pelayan-pelayan yang mendengarkan langsung bertukar pandang penuh arti melihat adegan yang sudah terlalu sering diulang ini.

“Ngga deh ya,” jawab Tara sambil lalu.

And that’s it—negosiasi selesai. Aku mulai berpikir ada alasan mengapa nama Tara ditaruh duluan dalam “Paket Taraka”—semua orang pasti bisa melihat kalau ialah bosnya.

Aku menghela nafas berlebihan sambil mengeluarkan dompet. Selalu begini kejadiannya.

Kami sudah bersahabat lama sekali. Terlalu lama mungkin. Namun, tetap ada dua hal yang masih saja tak bisa dipahami olehnya.

Nomor satu, durian. Aku sudah berkali-kali mengatakan padanya bahwa aku benci durian.

“Gue benci duren,” kataku sambil mencomot sepotong ayam.

Tanpa mengalihkan perhatiannya dari membagi dua semua pesanan kami (Tara 1/3 bagian, Raka 2/3 bagian), gadis itu menjawab dengan santai, “Kalo dibiasain, lama-lama juga suka.”

Jawaban ini lagi.

“Ada juga yang ga bisa dibiasain, kali,” kataku lirih.

“Apa?” tanyanya.

Perasaan sesak di hatiku karena tidak lebih dari “sekedar teman”.

Itu adalah hal nomor dua yang tak dipahaminya. Tapi aku tidak bisa mengatakan hal itu padanya, maka aku menjawab sekenanya, “Duren, tau. Duren. Kenapa juga Choco Toast di sini harus pake duren?”

“Beda dong dari yang lain. Lu ga bosen makan Choco Toast yang isinya cokelat doang?”

“Kalo lu sesuka itu, abisin aja semuanya sendiri,” gerutuku dengan ekspresi sedramatis mungkin.

Tara menatap ke setangkup roti berlumur selai cokelat (dan durian!) yang sudah dipotong dua dan tertata rapi di atas piring, lalu menatapku sinis.

“Lu sangka gue mampu?” tanyanya.

“Kalo liat cara lu makan, mampu,” jawabku menantang.

Tara yang sedang lahap menyuap nasi goreng dan potongan ayam ke mulutnya langsung mengerucutkan bibirnya dengan sebal.

“Jadi, menurut lu, gue rakus?” sergahnya.

Aku melirik ke selebaran menu yang ada di atas meja, lalu mengetukkan jariku ke atas maskot restoran itu, harimau kartun bernama Jackie.

“Lu sama dia kalo adu makan, mungkin lu lebih buas,” kataku sebelum dengan cuek melanjutkan makan.

“Apa-apaan!” balas Tara penuh emosi.

Hhh—begini lagi.

Beda skenario, tapi selalu satu jalan cerita. Setiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku sendiri bahwa hari ini akan berbeda. Hari ini aku takkan sekedar menjadi penghuni friend zone

Tapi kenyataannya tidak berjalan seperti itu.

Aku menghela nafas sambil menatap ke garpuku, ke sepotong ayam goreng dengan bumbu berkilau keemasan yang menunggu untuk dinikmati. Maafkan aku, Sweet Thai Chicken. Dirimu hangat renyah dan manis gurih, tapi aku malah memakanmu sambil mengeluh.

Sial. Mengapa aku bisa berbicara tulus pada potongan ayam, tetapi tidak padanya?

“Raka? Lu kenapa? Kok lemes banget?” tanya Tara. Semua kekesalan di wajahnya lenyap, digantikan dengan raut kuatir saat ia meneliti wajahku.

“Mungkin gara-gara ujan. Gue ga suka ujan,” jawabku asal.

Tara mendesah.

“Kok yang lu ga suka banyak banget ya.”

“Terserah gue dong.”

“Kalo lu suka hujan, kemungkinan lu bahagia akan naik lho,” kata Tara tiba-tiba.

“Maksud lu?” Aku mengernyitkan alis dengan heran. Makhluk satu ini memang kadang pikirannya di luar akal sehat manusia biasa.

“Akhir-akhir ini gue mikir kalo kebahagiaan itu bisa kita atur sendiri.”

“Lalu apa hubungannya sama suka ujan?”

“Gini, lu kan cuma suka kalau mendung. Sedangkan pilihan cuaca normal di Jakarta kan ada tiga: cerah, mendung, hujan. Artinya, secara sederhana lu cuma punya 33,3% kemungkinan bahagia hari ini.”

“Oke—so what?”

“Tapi, kalo lu memutuskan untuk suka cerah dan hujan juga, lu akan punya 100% kemungkinan bahagia hari ini. Karena apapun cuaca hari ini, lu akan suka.”

Belum sempat aku menjawab, ia sudah menyerocos lagi.

“Sama kaya Choco Toast ini,” katanya sambil mengambil roti bagiannya. “Kalo lu biasain diri lu suka duren, apapun isi Toast yang gue pesen, lu akan happy-happy aja hehehe—”

“Jadi ujung-ujungnya supaya gue makan duren juga?” tanyaku, sedikit ­il-feel.

“Yep!” jawab Tara puas. Ia lalu menggigit roti panggang kesukaannya itu. Potongan mentega yang diselipkan di dalamnya meleleh karena dibiarkan terlalu lama, dan akibatnya mengalir menuruni bibir dan dagunya.

Dengan cuek Tara menggunakan sebelah jempolnya untuk mengelap lelehan mentega itu, lalu menjilatnya.

“Ih! Lu cewek atau bukan sih?” tanyaku sambil geleng-geleng kepala.

“Cewek dong, cuma jenis spesial,” jawabnya santai. Lalu ia menatapku lurus-lurus dan berkata, “Kalo lu memilih untuk bisa terima cewek jenis gue juga, kaya apapun pacar lu nanti, lu akan punya 100% kesempatan bahagia.”

Asal itu lu, Tara, seperti apapun juga jenisnya, gue akan bahagia 100%.

Aku berdeham. “Jadi maksudnya, kalo gue miskin pun, gue harus suka sama keadaan miskin itu dan ngga ngapa-ngapain lagi?” tanyaku, sengaja ingin memancing kekesalannya dan mengalihkan perhatian.

Tara mendecakkan lidahnya dan menatapku tak sabaran.

“Ya kira-kira dong. Kalo cuaca sama rasa duren, itu kan keadaan yang lu ga bisa ubah. Tapi ada keadaan yang bisa diubah. Ada hal-hal yang layak lu perjuangin kan. Intinya kaya itu lho, kata-kata mutiara yang ngetop itu: ‘Serenity to accept things I can’t change, courage to change things I can’,” jelasnya.

Lalu ia mengambil selembar tisu dan membersihkan mulut seperti layaknya seorang guru besar yang mengelap peluh seusai mengajar.

“Nih, makan,” katanya sambil meletakkan piring Choco Toast di hadapanku. “100% kemungkinan bahagia. Inget, kalo dibiasain juga lama-lama suka.”

“Gue-ngga-bakal-bisa-suka-sama-duren!” kataku ngotot.

Ia membuka mulutnya hendak menjawab, namun tiba-tiba teleponnya berbunyi. Ia melirik ke layar, lalu buru-buru mengangkat panggilan itu. Pasti sang ibu, yang ingin menjemputnya pulang.

“Halo, Ma?” Kemudian ia mendelikkan matanya ke arahku dan mulutnya mengatakan, “Makan!” tanpa suara.

Aku mendengus. Tapi setelah ia berjalan ke belakangku, aku terkekeh dan menggigit roti panggang bagianku dengan nikmat. Sebenarnya sudah lama aku sembuh dari ketidaksukaanku pada durian. Tapi Tara tak perlu tahu.

Aku terus melahap Choco Toast-ku sambil berpikir. Ada-ada saja teori makhluk satu itu. 100% kemungkinan bahagia. Dari mana pula ia mendapatkan pemikiran seperti itu? 100% kemungkinan bahagia, hanya jika kita bisa menyukai apapun dan keadaan apapun yang kita hadapi.

Kalau benar begitu, apakah mungkin ada cara supaya aku bisa bahagia juga dalam keadaan hubungan yang seperti ini dengannya?

“Ya kira-kira dong. Kalo cuaca sama rasa duren, kan lu ga bisa ubah. Tapi ada keadaan yang bisa diubah. Ada hal-hal yang layak lu perjuangin kan. Intinya kaya itu lho, kata-kata mutiara yang ngetop itu: ‘Serenity to accept things I can’t change, courage to change things I can’.”

Celoteh Tara menggema dalam benakku.

Apalagi ya yang tadi ia katakan? Oh ya. “Kebahagiaan itu bisa kita atur sendiri.”

Dan aku tahu ia benar. Hanya saja, masalahnya adalah apakah aku mempunyai cukup keberanian untuk mencobanya. Aku melirik Jackie yang tersenyum padaku dari dalam selebaran sambil melipat kedua tangannya. Di bawah harimau kartun itu tercetak nama restoran dengan huruf yang besar dan tebal: Tiger Express.

Tiger.

Seandainya saja aku bisa berani seperti harimau.

******

Tara mendengarkan ucapan ibunya dengan setengah hati. Matanya tak lepas dari punggung Raka. Ingatannya melayang jauh ke masa lalu, ke suatu saat di mana Raka tak sadar bahwa dirinya sedang ada di belakang pria itu dan bisa mendengar semua yang dikatakannya.

“Gue? Sama Tara? Gila lu, bakalan aneh banget kali. Gue ga kebayang bisa suka sama dia.”

Tara mendesah. Sudah berapa lama sejak ia mencuri dengar perkataan itu?

Kalo dibiasain, lama-lama juga suka—iya kan? Begitu harapnya dalam hati.

Lalu tiba-tiba Raka bangkit berdiri, berjalan menghampirinya dan merebut telepon genggamnya.

“Halo, Tante? Ah ya, ini Raka. Maaf tiba-tiba. Hari ini biar saya aja yang antar Tara pulang. Iya, ga apa kok Tante, ga usah jemput. Kebetulan ada yang perlu saya omongin juga sama dia.”

******

Teruntuk Jackie the Asian Tiger dan semua @TigerExpressID,
yang meminta sebuah cerita
tentang makanan yang tepat di waktu yang tepat.
Ini juga adalah cerita tentang keputusan yang tepat.
Semoga ketiga hal ini selalu ada di sana,
beserta segala kehangatan dan kebahagiaan.

******

Image taken from http://www.marcandangel.com

5 thoughts on “100% Chance of Happiness

  1. jadi ini adalah salah paham yang berbuah friendzone?
    sering gitu, ya, ada dua orang yang memendam perasaan yang sama, tapi terhalang sama hal sederhana yang akhirnya berakibat tidak sederhana.

    saya suka sama teori-teori Tara tentang kebahagiaan, sederhana dan masuk akal. dan sangat suka sekali sama adegan terakhir. so, we can say that someone has (finally) become a little braver, can’t we?

    • Hai, terima kasih sudah membaca :”) Iya, dari hal2 kecil akhirnya menumpuk… di mana2 sepertinya kasusnya sama ya kalau tentang kesalahpahaman. Sedikit2 jadi bukit. Melalui cerita ini, selain iklan restoran, saya juga ingin menunjukkan kalau keberanian untuk jujur itu meluruskan segalanya… dan bahwa kebahagiaan itu sebenarnya sederhana. (And yes, someone has become a little braver😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s