Chapter One: Kiara


blurry-hands-reaching-out-and-touching-glass-with-blue-light-8981f9

Di dalam mimpi, Dastan bertanya kepadaku.

“Kenapa kamu selalu berkunjung kesini?”

Waktu itu kami sedang berlayar di atas perahu kertas, menyusuri malam penuh bintang tanpa batas. Awalnya indah dan damai, sebelum setetes air penuh tanda tanya membuat riak di permukaannya.

“Ga boleh?” tanyaku dengan nada tinggi. Menatap ombak-ombak kecil yang merusak suasana dengan tak senang.

Dastan terkekeh geli, menjentikan jarinya dan semuanya kembali datar.

“Tentu saja boleh. Aku selalu ada disini kapan saja. Tapi apa kamu ga bosan?” tanya Dastan dengan nada penuh provokasi.

“Bosan?” Dan aku termakan pancingannya begitu saja.

“Iya, bosan. Petualanganmu hambar, tak ada apapun yang terjadi disini,” ujarnya sambil membentangkan tangan, menunjukan kekosongan tanpa batas yang sedang kujalani saat ini.

“Tapi disini tenang,” jawabku membela diri.

Dastan mendecak-decak.

“Tidakah kamu ingin sesuatu yang lebih mendebarkan?”

“Mendebarkan?”

“Iya, mendebarkan. Seperti…” Lalu suaranya mulai berubah menjadi gema.

Aku mengernyit, mencoba untuk fokus mendengarkan. Tapi tiba-tiba saja semuanya menjadi terang benderang, menusuk masuk ke dalam pandangan.

Dastan?

Dia menghilang bagaikan uap dan aku langsung paham bahwa realita baru saja menarikku kembali kepadanya dengan posesif.

Dengan berat aku membuka mata.

“Nasinya ga dimakan lagi?” Seorang pria yang melongok dengan seutas senyum tersimpul.

Untuk sesaat aku berpikir itu malaikat yang bertanya. Dia berbaju serba putih dengan siraman cahaya di sekujur tubuhnya hingga aku harus menyipitkan mata agar bisa menatapnya dengan sempurna.

Tapi ternyata itu cuma si dokter yang disinari lampu tungsten.

Siapa lagi namanya?

Anton.

Tanpa sadar aku mendecap jengkel. Tukang ikut campur. Berisik. Dia selalu bertanya dan bertanya, mengulangi hal yang sama.

“Gue punya coklat, mau?” tanyanya dengan mata membulat penuh perhatian.

Membuat sekujur badanku merinding ngeri.

Apa semua dokter muda seperti dia?

Penuh semangat dan gairah, matanya berbinar ingin menyelamatkan semuanya. Membuatku bertanya-tanya apa itu sungguhan atau hanya presentasi ego semata? Bahwa dia luar biasa, seorang penyelamat bangsa yang istimewa.

Rasa congkak di dalam hatiku menolak untuk memberinya kepuasan.

“Aku capek, boleh tutup tirainya?” ucapku dingin, sengaja tak menghiraukan afeksinya.

Aku mau lihat sendiri, apa dia tulus atau tidak.

Dan benar saja. Tangannya yang terlipat, alisnya yang mengernyit, semuanya menunjukan bahwa dia tersinggung dengan ke masa bodohanku.

Ceh.

Palsu.

Sekali lagi, aku memejamkan mata untuk tidur terlelap. Ingin bertemu dengan Dastan di dalam angan. Dia sudah berjanji untuk membawaku bertemu dengan mimpi penuh adrenalin berbahaya.

Satu.

Dua.

Tiga.

“KIARA! OH! KIARA!”

Gagal.

Aku mengerjap marah karena teriakan membahana itu. Dia baru saja menutup gerbang menuju dunia milik Dastan bagiku.

Pintu bangsal terjeblak penuh drama. Diiringi bunyi roda yang bergulir dan jeritan pedih seorang wanita yang terus menerus memanggil nama itu.

Kiara.

Dalam diam, aku mengintip dari sela-sela tirai yang tersingkap.

Ada penghuni baru di ranjang sebelah. Seorang perempuan sebaya pertengahan dua puluhan. Rambutnya hitam panjang dan kulitnya pucat pasi, seperti tokoh yang meloncat keluar dari cerita horor di senja hari. Tapi bukan itu yang membuat mataku terbelalak, melainkan perban putih di pergelangan tangannya yang bernoda merah darah.

Potong urat nadi?

Aku yakin belum sempat bermimpi tadi, tapi kenapa jantungku jadi berdebar-debar?

Dia mau mati?

Kenapa?

Sengaja atau kecelakaan?

Ooooh…

Pikiranku baru saja akan berspekulasi dengan berbagai macam kemungkinan dan alasan, ketika seorang pria awal tiga puluhan masuk ke dalam bangsal, memanggil nama Kiara dengan suara bergetar. Wajahnya pias seolah tak berwarna dan matanya basah oleh air mata. Dia tampan meskipun tampak tak keruan. Saudara?

“Ngapain loe disini?! PERGI!”

Bukan sepertinya.

Aku beralih menatap wanita yang berteriak tadi. Dari umur dan kemiripannya dengan Kiara, kurasa dia mamanya. Dia juga yang tadi berteriak dari tadi memanggil nama Kiara.

“Aku… aku mau lihat Kiara, tante,” pinta pria itu dengan melas.

Kukira mamanya akan langsung menerjang pria itu, tapi dia malah langsung memeluk Kiara dengan defensif. Seolah ingin melindungi anaknya dari pria yang berjalan semakin mendekat itu.

Seluruh badan mamanya berguncang ketakutan.

Hooo… reaksi yang menarik.

Dengan tanganku yang bergetar lemas, aku menjulurkan tangan untuk menyibak tirai agar terbuka lebih lebar.

Mama Kiara baru saja akan berteriak sekali lagi, mungkin jawaban yang ingin aku dengar. Tentang arti pria itu bagi Kiara dan tangannya yang terbebat perban.

Ketika tiba-tiba suara Anton menggelegar memenuhi ruangan dengan jumawa.

“Jangan berisik! Ini Rumah Sakit, jam besuk sudah lewat jadi saya harap kalian semua pulang sekarang. Ada pasien yang mau istirahat disini.”

Dan dengan itu, Anton si dokter muda tukang ikut campur itu merusak kunjunganku ke klimaks cerita.

Ceh.

 ***

Image taken from nothingnerdy.wikispaces.com

5 thoughts on “Chapter One: Kiara

  1. cerita ini sepertinya menarik. saya penasaran dengan karakter tokoh utama di cerita ini. manusia desperado kah dia?😀
    tokoh-tokoh lain yang terlibat sejauh ini juga sepertinya punya sisi menariknya masing-masing. chapter selanjutnya sangat ditunggu!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s