Chapter Zero: A Cluttered Mind


Squiggle_IV_by_snakstock

Aku sakit.

Salah, lebih tepatnya aku membuat diriku sendiri sakit.
Hidup di dunia tanpa warna, dipenuhi tanggung jawab tanpa akhir belaka. Lebih baik di dunia mimpi saja, semuanya bisa menjadi nyata.

Suram.

Lelah.

Sesak.

Tolong, aku ingin terlelap untuk selamanya.

Jadi aku tak perlu mati lalu bertemu Bapa disana, yang akan bertanya apa yang telah aku lakukan pada hidupku sendiri.

Menyia-nyiakannya, itu kalimat yang paling tepat.

Seperti sebuah cangkang yang telah di tinggalkan, tergeletak di atas pasir tanpa nyawa. Hatiku membuat gema kosong ketika diketuk pintunya.

Karena diam-diam aku tahu kalau aku tak pernah benar-benar perduli pada apapun atau siapapun.

Jadi buat apa aku ada di dunia ini?

Semakin kupikir, semakin aku tak mengerti. Aku merasa hilang.

Semua orang menjalani hidupnya, berusaha untuk bertahan, aku juga salah satunya. Tapi aku tak mengerti, kenapa aku harus?

Bangun pagi yang menyiksa, bekerja mendapatkan uang, lalu menghabiskannya dalam sekejap untuk mengulangi siklus yang sama.

Tidakah itu sia-sia?

Meskipun di sebuah cekungan dalam pikiran, aku paham benar kenapa.

Materi itu segalanya di dunia.

Tentu saja, di dunia ini ada hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Tapi semuanya bisa bisa dicapai dengan uang, menyedihkan.

Memuakan.

Aku ingin kabur saja.

Ke dunia fantasi seperti di dalam televisi dan buku-buku cerita.

Di sudut kecil ujung bumi, mungkin tersembunyi dunia dari dimensi lain? Seperti Hogwarts atau Alice in the Wonderland? Bahkan mungkin Twilight?

Haaaaaaaaaah~~~ menjadi dewasa itu menyebalkan.

Ketika kamu sadar bahwa semua mimpi masa muda itu hanyalah sekedar bunga tidur belaka. Dia mekar di kala malam dan layu ketika pagi menjelang, menyongsong kenyataan yang telah datang.

Lalu kemudian hidup bagaikan zombie. Berjalan tapi tak benar-benar hadir jiwanya.

Apa orang lain juga seperti aku?

Kalau iya, sungguh suram dunia ini.

Tapi kalau tidak, sungguh meyedihkan hidupku ini.

Sendirian, selalu…

“Yaiks,” bisikku pelan tanpa sengaja, tapi terdengar juga oleh suster yang sedang mengatur infus di pergelangan tanganku.

“Sakit yah?” tanyanya ramah.

Aku menoleh ke arahnya, lalu menarik seulas senyum simpul.

“Ga kok, Sus,” jawabku pendek sebelum menoleh kembali ke atas langit-langit.

Lampu tungsten berpijar terang dan aku merasakan sensasi aneh ketika menatapnya lama-lama.

Ada sekelebat pikiran di dalam kepala, tapi aku tak bisa menangkapnya. Mungkin hanya lanturan.

Siapa, bagaimana, apa, isi kepalaku mulai melayang.

“Hoaaaam.” Aku mulai mengantuk.

Makan siang di meja…

Sudahlah, aku tak ingin makan.

Biar makin sakit, makin sendirian, makin lega semuanya.

Tidur. Ayo pejamkan mata dan terlelap.

“Dia ga makan lagi?” Samar-samar suara mereka terdengar. Wanita A dan Pria B.
A menghela napas dan B berdehem keras.

Siapa yah?

Mungkin papa dan isteri barunya? Entahlah, aku malas membuka mata.

“Sudah berapa hari dia begini? Kerjaan dia gimana?” tanya A, dan aku langsung yakin kalau dia itu si mama baru.

“Katanya perutnya sakit setiap kali harus makan,” muncul suara ketiga, wanita C, yang kuduga adalah si kakak sulung baru dari pernikahan papa yang sekarang.

Bodo amat, aku tak perduli.

Lihat, Dastan sudah datang menjemput. Penyihir waktu, pemilik kalung sejarah yang mampu memutar waktu ke masa lalu. Dia hidup tenang di dalam dimensi tanpa warna, terlelap hingga aku memanggilnya untuk petualangan berikutnya.
Kali ini kemana aku akan pergi?

Kelembah penantian?

Danau pengharapan?

Bukit pendoa?

Yang mana? Bagaimana? Seperti apa kisah baru yang akan tertulis di dalam mimpi indah?

Aku penasaran sekaligus tidak.

Karena sama seperti cerita anak-anak, akhirnya pasti bahagia. Layaknya Putri Salju dan Cinderella. Mereka hidup bahagia untuk selama-lamanya.

Sampai akhir hayat tiba.

Irinya…

***

image taken from snakstock (devianART)

5 thoughts on “Chapter Zero: A Cluttered Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s