Kelana


Image

Tahu apa yang kulihat di cermin?

Ibuku.

Apa sih yang biasa dikeluhkan anak berusia 14 tahun? Kurang perhatian? Atau kelebihan perhatian?

Yang pasti, aku tidak pernah merasakan hal yang pertama.

Memang aku tumbuh tanpa ayah. Tapi sosok Ibu, lebih dari cukup untuk membesarkanku.

Konon, jantung Ibu berhenti berdetak selama 12 detik, ketika ia berjuang melahirkanku.

17 September 2000, pukul 20.00.

Jantung seorang Maya Sekar berhenti.

Dia mati.

Di detik ke-13, Maya Sekar terbangun dengan satu tarikan napas yang rakus. Seakan ia takut jika tidak dihirup lekas-lekas, oksigen di sekelilingnya akan menguap jadi ruang hampa.

Detik ke-14, samar-samar di belakang, terdengar tangisanku. Keras. Mereka bilang itu tangis bahagia.

Siapa bilang? Mungkin saja itu tanda duka karena akhirnya hari itu, aku resmi jadi manusia.

Jadi ibu tunggal di usia muda, ditinggal suami tanpa harta, dipandang sebelah mata oleh para kerabat.

Itu bukan apa-apa.

Kurasa yang terberat baginya, ialah fakta bahwa setelah aku lahir, Maya bukan lagi dirinya.

Bukan Maya, semifinalis Putri Indonesia, wakil kepulauan Seribu. Bukan Maya yang nyaris dikontrak agensi ternama dan mungkin berkarier sampai ke luar negeri. Bukan Maya yang berencana akan melenggang di catwalk hingga usia 27 tahun, lalu pensiun, dan membuka sekolah ternamanya sendiri yang akan melahirkan Maya-maya baru. Bukan.

Kini Maya hanya seorang ibu.

Melewati semua, Aku yakin, Ibu tidak selalu setegar itu.

Ada masanya ia lelah.

Pasti.

Namun ketika ia menatap mata mungilku, di malam-malam aku menangis lapar dan tidak bisa tidur,

bisa kulihat sebuah binar harapan.

“Kamu, anakku, terlahir cantik.

Seperti aku.”

Maka nasibku sudah ditentukan.

Les piano, les balet, modelling, tari tradisional–konon katanya ini membuat gerakanku jadi lebih ayu. Tidak lupa les pelajaran. Apa pun, yang bisa menjaga prestasiku di sekolah tetap nomor satu. Karena ratu kecantikan tidak ada yang bodoh.

Tapi aku suka gitar.

Tapi aku benci matematika,.

Tapi aku benci berjinjit.

Tapi musik tradisional membuatku mengantuk.

Tapi aku pria.

Ibu melakukan semuanya atas nama cinta.

“Wajahmu, harta Ibu yang paling berharga.”

Begitu katanya sambil mengelus sayang wajahku yang mulus. Terlalu mulus.

“Tapi teman-teman di sekolah semua meledek, Bu. Katanya, cowo yang nari balet dan pas kecil suka dipakein rok dan wig itu banci.”

“Tahu apa mereka? Dunia suatu saat akan berubah. Dan hal-hal yang mereka tertawakan, suatu saat akan jadi biasa. Dan hal-hal biasa mungkin dianggap gila.”

“Sekarang, ayo diulang. Pirouette en de hors. Dan, arabesque.”

Ibu menatapku bangga.

Ia tersenyum, melihatku yang menarikan tarian perempuan.

Ibu sudah gila.

Hentikan.

Bunyi panjang dari ujung teko itu berdesing. Kencang sekali, membangunkanku dari lamunan.

Kutuang isinya ke baskom.

Uapnya naik, mengancam.

Kutatap lekat-lekat permukaan bening itu.

Katanya itu akan sakit sekali.

Sungguhkah?

Mataku naik, bertemu sepasang mata di balik cermin sana.

Tahu apa yang kulihat di cermin?

Ibuku.

“Wajahku, harta Ibu yang paling berharga.”

Persetan!!!

Dan kutundukkan kepalaku.

Dan kuteriakan nama Ibu.

Samar, kudengar suara napas. Semakin keras, semakin keras.

Ternyata itu napasku. Ia berselang-seling dengan bunyi monitor denyut nadiku.

Seiring kesadaran yang datang, sengatan perih menjalar di seluruh permukaan wajahku.

Rasanya antara sakit dan mati rasa.

Di depan ruanganku, terdengar suara pelan Ibu; “Dokter yakin? Permanen?”

Lalu Ibu menangis.

Perlahan, kutelengkan kepalaku ke arah jendela.

Di antara gemerlap lampu kota, dan pemandangan langit malam,

aku melihat hal yang paling indah.

Wajahku. Untuk pertama kalinya.

Bukan ibu..

Tapi Kelana.

Walau ia buruk rupa dan berbalut perban, tapi ini milikku.

Perlahan aku tersenyum..

“Nak…”

Aku menatap Ibu.

Matanya merah, berlinang sisa-sisa air mata.

Sembab.

Ibu menggenggam tanganku. Aku balas menggenggam tangannya.

Jujur, aku iba.

Walau salah, tapi cinta Ibu tetap cinta.

Maaf, Bu. Batinku. Sudah cukup kuberikan 14 tahun ini untuk ganti hidupmu.

Kali ini…—

Senyum?

Ibu tersenyum?

“Ibu sudah buat janji dengan seorang dokter ahli. Dia bisa mengembalikan wajahmu seperti semula.

“Dan dengan sedikit tambahan biaya…”

“Kamu akan hidup, sebagai Lana.”

“Permanen.”

Mata ibu turun, ke benda milikku yang selalu ia benci.

Yang kukira akan mengakhiri, malah jadi awal segalanya.

Bodoh.

Dalam perjalanan imajinasi

Mei 2013.

Pirouette en de hors: Gerakan tarian balet di mana penari berputar ke kiri dengan kaki kanan menjejak lantai.

Arabesque: Gerakan tarian balet di mana penari mengangkat sebelah kaki ke belakang.

Image Courtesy: broken mirrors by Ravencowl on deviantARTravencowl.deviantart.com

21 thoughts on “Kelana

  1. wih… parah ceritanya….
    serem ngebayangin tokohnya
    psycho berat….
    bener bener gelap….

    tapi kok keren
    tapi kok bikin aku shock
    tapi kok bikin penasaran
    tapi kok bikin aku punya ide

    mantap tulisannya
    keren pilihan tema fotonya
    keren ending dan diksinya
    keren pemotongan plottingnya.
    keren klimaksnya…
    sukaaa banget ^_^d

  2. *peluk Kelana* Saya yakin kamu cowok yang ganteng sekali kalau seandainya tak memiliki ibu kelainan metal kayak gitu<——- *dijitak rame2 gegara ngerusuh dengan komentar tidak berbobot seperti ini*

    Huuuft *peluk*, Kak Stella salah satu penjaja kata kegemaran saya meski jarang bercengkrama diluar lapak. Terima kasih atas kata-kata yang menggugah di tulisan yang penuh ombak naik turun ini, kata-kata yang sederhana tanpa diksi jelimet memiliki makna tersendiri ketika kita meletakannya di tempat yang tepat. Tolong menulis lebih banyak lagi ya Kak😀 Love, Pelanggan Rutinan.

    • Hai Sekarrr!
      Terima kasih selalu jadi pembaca setia *Big Hug*

      Tak pakai diksi jelimet
      karena kemampuannya belum nyampe se-Gina.
      Daripada ketauan bodohnya…
      *tusuk siput di ujung sana.
      *peras air mata.

      Soal menulis, amiiinnn! Diusahakan.
      *Lalu dipelototi penjaja lain–terutama Gina. Ampun… :”D

      Sekali lagi, terima kasih banyak banyak banyaaak!

      Love.

  3. dan mata saya pun nyaris keluar waktu sampai di bagian “tapi aku pria”…..di awal dikira perempuan…kasian…ckckckck

    • *lompat dan menadah in case matanya beneran keluar.

      *lumayan harga mata segar di pasar gelap

      *dijitak penjaja lain karena komennya gory.

      Lol.

      Haii Tata.
      Senang melihat namamu lagi ♡

      *berdoa semoga tidak salah Tata.

      Terimakasih suda menyempatkan mampir dan beri komennn. Really appreciate it!

      Iya.. awalnya memang Kelana ditulis sebagai perempuan,
      Tapi dia lalu cerita padaku bahwa dia pria.

      *pukpuk kelana

  4. Ini tulisan yang sangat bagus jd aku ngerasa wajib ninggalin komentar. Tp bingung mau ninggalin komentar seperti apa ._.
    Pokoknya ibunya sakit jiwa.
    *menghilang setelah nyampah komen ga jelas*

    • Ah… ini komen yang sangat intriguing jadi saya merasa wajib meninggalkan warisan *LAH?

      Iya dan induk ibunya yang sakit jiwa itu… SAYA

      *pasang musik seram
      *doraemon lewat dan menyinari dengan senter pengecil.
      *mengecil dan menghilang diiringi teriakan “Terima kasih banyak padamu yang sudah mampir dan memberi komeeeeeeeeen!!!”

      *lagi2 dijitak gina.

  5. hei Kakak mungkin kalau nanti aku lebih besar lagi, aku yakin aku akan lebih mengerti.
    Jujur saja aku tertarik sama introductionnya, tapi aku bingung waktu udah ke tengah. Mungkin karena belum terbiasa.
    Aku suka kok🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s