[Noona and I] Episode 2: お休みなさい


Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.
11 (2)

Satu menit penuh berlalu dan raut wajah gadis itu masih belum berubah. Yang berarti bahwa ia memang serius dengan perkataannya barusan. Yang berarti selama tiga bulan ke depan aku akan terkatung-katung tanpa tempat tinggal di negara yang bahkan tidak aku mengerti bahasanya.

Mungkin sudah seharusnya aku mendengarkan ayahku.

You… serious?” Tanpa sadar aku menyentuh tengkukku dengan gugup. Wajahku terasa panas, dan sekali lagi mataku dengan refleks turun ke dadanya.

Gadis itu pasti sangat risih berhadapan dengan remaja Jepang yang terkesan seperti seorang pervert seperti aku. Sial. Apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki keadaan ini? Haruskah aku minta maaf? Tapi bagaimana kalau nantinya dia bertanya mengapa aku minta maaf? Apa yang harus aku katakan? Jawaban apa yang harus aku berikan?

Ah, susah!

Daniela menggigit sudut bibirnya yang dipulas warna oranye. Warna tersebut terlihat kontras ketika bersanding dengan warna kulitnya yang sedikit lebih gelap dari kebanyakan orang Korea lainnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menawarkan sebuah senyuman manis yang membuatku malah makin gugup. Aku sungguh-sungguh tidak tahu apa arti senyuman tersebut. Oleh karenanya aku hanya bisa menunduk memandangi Converse putihku yang sudah lumayan kotor sambil berharap akan ada suatu keajaiban menghampiriku.

Maksudku, tidak mungkin juga kan aku tinggal di pinggir jalan selama aku di Seoul.

Well—” Daniela akhirnya membuka mulut. “Kalau kau tidak keberatan, kau bisa tinggal denganku selama beberapa hari sampai kau menemukan tempat tinggal baru. Lagipula, semua ini adalah salahku. Aku seharusnya memberitahu lebih awal. Hanya saja, saat aku tahu aku tidak bisa menyewakan tempat tinggalku padamu, kau sudah setengah jalan menuju Seoul.”

“Oh.”

Hanya itu yang bisa aku katakan. Aku ingin mengatakan hal lainㅡtapi aku tidak yakin apa yang harus aku katakan. Aku tahu aku harusnya berterima kasih karena Tanya telah berbaik hati menawarkan tempat tinggalnya padaku sehingga aku tidak harus terlunta-lunta di pinggir jalan. Namun pada saat itu sebuah pikiran lain menghampiri diriku, membuat aku mendadak terpaku di tempat.

Ini berarti, selama beberapa hari ke depanㅡsampai aku menemukan tempat tinggal yang baruㅡaku akan tinggal berdua saja dengan gadis itu.

Wajahku mendadak terasa panas. Mataku mengikuti punggung Tanya yang sudah duluan berjalan mendahuluiku dengan langkah-langkah cekatan khas orang-orang yang lahir dan besar di kota metropolitan sempit seperti Seoulㅡsebuah kebiasaan yang sering aku saksikan di kampung halamanku juga.

Aku bahkan tidak pernah bisa bicara dengan seorang gadis lebih dari lima menit tanpa tertawa gugup berulang kali. Satu-satunya gadis yang tidak membuatku gugup hanyalah kakak perempuanku. Itu pun karena aku sudah terbiasa dengan keberadaannya sejak aku kecil. Aku tidak yakin tinggal dengan seorang gadis yang tidak aku kenal adalah ide yang bagus, walaupun hanya untuk beberapa hari. Apa yang akan dikatakan orangtuaku kalau mereka sampai mengetahui hal ini?

Hey! Are you coming or not?”

Suara Daniela yang keras membahanaㅡmembelah kebisingan stasiun kereta yang dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk lalu-lalang kesana-kemariㅡmenyadarkan aku dari lamunan yang membuat kepalaku pusing itu. Aku menyadari bahwa ia telah membawa koperku dengannya, dan kini gadis itu sedang memandangiku dengan tatapan bertanya. Kepalanya sedikit dimiringkan, sehingga sebagian wajahnya tersembunyi di balik helaian-helaian halus rambutnya. Pada saat itu, sinar matahari menyorot masuk, menciptakan lingkaran halo di puncak kepalanya dan menciptakan gradasi warna pada rambutnya, membuat warna rambutnya terlihat lebih muda dari aslinya.

Aku mengerjapkan mata. Ini bukanlah apa yang telah aku rencanakan. Tapi aku juga tidak punya pilihan lain. Daniela praktis merupakan satu-satunya orang yang aku kenal di Seoul.

“Ne [ya].”

Sebuah senyuman muncul lagi di wajah Daniela. Begitu aku telah berdiri di sampingnya, tiba-tiba saja ia melingkarkan tangannya di lengan kiriku dan meremasnya erat selama beberapa detik. Sentuhan singkat itu membuatku tersentak. Bukan, bukan karena ini merupakan kontak fisikku yang pertama dengan lawan jenisku. Aku tersentak karena terkejut dengan efek aneh yang dihasilkan dari sentuhan sederhana itu.

Aku tidak menyangka sebuah sentuhan dari seseorang yang nyaris tidak aku kenal bisa membuatku tiba-tiba merasa aman sejak pertama kalinya aku mendarat di Seoul. Aku bahkan tidak merasakan rasa aman yang sama saat aku ada di kamarku, aman dari dinginnya udara di luar sana dengan secangkir cokelat panas penuh marshmallow kesukaanku di tanganku. Sentuhan itu membuatku merasa diterima, seakan gadis asing ini bisa melihat menembus tahun demi tahun yang telah aku lalui tanpa dirinya dan menerimanya seakan sejarahku merupakan bagian dari dirinya juga.

Sebuah sensasi yang aneh.

Sebuah sensasi yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

Sebuah sensasi yang tidak pernah aku temukan pada orang asing manapun, mengingat betapa payahnya aku saat berhadapan dengan sesuatu atau seseorang yang tidak familiar dengan diriku.

Dan secara mengejutkan, aku menyukainya. Dan saat gadis itu melepaskan tangannya dari lenganku, aku menemukan setetes kekecewaan jatuh menerpa sudut hatiku.

Welcome to Seoul,” bisik Daniela.

* お休みなさい : Oyasuminasai (good night)

3 thoughts on “[Noona and I] Episode 2: お休みなさい

  1. Hihihi, meski alurnya rada lambat, tapi perkembangan perasaannya pake turbo juga😛 .
    Bakal asyik nih kalau seadainya si cowok virgin ini diapa-apain sama si Noona. Huahahaha. *dijitak ka Omi*
    Ah, Kak Omi emang Queen of Twist ih, saya awalnya ngira kalau dua tokoh utama kita bakal gontok-gontokan gitu. Ternyata enggak, fufufufu~ Manisnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s