[Noona and I] Episode 1: 안녕 잘가*


Ladies and gentleman, we have safely arrived at Incheon International Airport. For safety purpose, please remain seated until theㅡ”

iPod Nano-ku yang usianya sudah mencapai tiga tahun dan sudah bocel-bocel di mana-mana itu memutarkan sebuah lagu lama dari The Beatles, Norwegian Wood. Lewat jendela pesawat, siraman matahari awal musim panas yang hangat dan mengundang rasa kantuk menerobos masuk. Jarak tempuh antara Osaka dan Seoul yang tidak seberapa jauh itu jelas tidak cukup untuk kupakai menggantikan jam tidurku yang hilang. Tanpa bisa ditahan, aku pun kembali menguap lebar sebelum mengucek-ngucek mataku dalam upayaku mengusir rasa kantuk ini. Dua gelas kopi yang aku tenggak sebelum terbang tadi pun sepertinya tidak bisa membantuku untuk terjaga. Sepertinya aku harus menunda rencanaku untuk mengelilingi Seoul hari ini dan menggantinya dengan tidur seharian.

I once had a girl, or should I say, she once had me

She showed me her room, isn’t it good, norwegian wood?

She asked me to stay and she told me to sit anywhere
So I looked around and I noticed there wasn’t a chair

I sat on the rug, biding my time, drinking her wine
We talked until two and then she said, “It’s time for bed”

Aku tidak sempat tidur tadi malam karena lagi-lagi aku terlibat dalam argumen panjang dengan ayahku. Aku sudah terlalu sering memperdebatkan hal yang sama dengan ayahku hingga aku sudah tidak ingat lagi mengapa kami bertengkar. Aku akan tetap pada pendirianku, dan beliau juga akan tetap pada pendiriannya. Ibuku akan mendengarkan tanpa bersuara dari kamar, dan beliau tidak akan berusaha untuk melerai kami. Tidak ada yang baru dari setiap perdebatan kami.

“Apakah kau yakin pergi ke Korea adalah pilihan yang tepat?” Dengan wajah khawatir, ibuku mengalihkan perhatiannya dari jalanan dan memandangku lekat-lekat. Ayahku yang sejak awal sudah berpikir aku gila karena lebih memilih mengejar mimpiku daripada mengambil tempatku di Fakultas Teknik Mesin di Universitas Osaka pada musim gugur mendatang tentu saja tidak mau turut mengantarku ke Kansai Airport.

Aku pikir menerima tumpangan dari ibuku merupakan pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu-waktu terakhir kami bersama. AKu juga bisa sekaligus menghemat uang. Aku harus bekerja paruh waktu selama satu tahun penuh agar aku bisa berangkat ke Seoul, dan aku harus sangat berhati-hati dengan uang sebelum aku bisa mendapatkan pekerjaan baru.

“Ini mimpiku, Ibu. Kau sudah tahu itu.”

“Tapi kenapa mesti Korea? Jepang memiliki industri musik yang sama besarnya.”

Aku ingin sekali menjawab bahwa sebenarnya aku hanya ingin menjauh dari ayahku. Tidak harus Korea. Tokyo pun tidak jadi masalah bagiku. Tapi aku tahu itu hanya akan menyakiti perasaan ibuku, sehingga aku memilih untuk tidak menjawab.

“Kau bahkan tidak kenal siapa-siapa di sana. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?”

Pertanyaan ibuku pagi itu membuatku teringat akan gadis yang akan menyewakan kamarnya padaku. Aku mengusir perasaan bersalah yang selalu muncul di dasar hatiku setiap kali aku teringat akan ibuku dan mengeluarkan buku catatanku. Aku membalik-balik halaman yang penuh akan lirik laguㅡbaik yang sudah selesai maupun belum, yang jelek dan yang luar biasa jelekㅡhingga akhirnya aku tiba di halaman di mana aku menulis nama si pemilik kamar tersebut.

Daniela Choi.

+82-10-3871-xxxx

Entah kenapa, aku suka namanya. Dalam bayanganku, ia seorang gadis dengan tinggi rata-rata dan rambut yang dipotong pendek sebahu. Seorang gadis yang sangat suka makanan manis dan senang mengobrol. Semoga saja bayanganku itu benar. Aku tidak masalah tinggal sendirian di negara baru, tapi memiliki seorang teman pastinya akan terasa jauh lebih menyenangkan daripada mengurung diri sendirian di kamar sepanjang hari.

Setelah mengambil bagasikuㅡyang terdiri atas sebuah koper ukuran sedang dan gitar akustik kesayangankuㅡaku turun ke lantai dasar untuk mengambil kereta yang akan mengantarkanku ke Universitas Hongik. Tanya akan menemuiku di stasiun Universitas Hongik dan menunjukkan jalan menuju tempat tinggalku yang baru.

Aku membiarkan kepalaku menunduk selagi kakiku menelusuri Incheon Airport. Suara John Mayer di telingaku memblokir kebisingan bandara, memberikanku sebuah soundtrack pribadi yang memisahkan aku dari dunia baru yang asing ini. Dalam hati, aku berharap suatu hari nanti aku tidak akan menoleh ke belakang dan menyesali keputusanku hari ini.

Hopefully.

Dan dengan harapan tipis tersebut, aku menempelkan kartu transit yang baru saja kubeli dan meninggalkan Incheon untuk memasuki belantara Seoul.

*

I never like the first day at anything. It’s a stressful, surreal blur.

Always. 

Begitu kereta yang aku tumpangi tiba di stasiun Universitas Hongik, aku langsung terjebak dalam belantara ratusan orang Korea yang sibuk lalu-lalang kesana-kemari, yakin dengan tujuannya masing-masing. Hal tersebut membuatku gentar dan untuk pertama kalinya semenjak aku membulatkan keputusanku untuk datang ke negara ini, aku mulai berpikir bahwa mewujudkan mimpiku itu tidaklah semudah yang aku bayangkan. Dan kira-kira berapa lama aku harus belajar hingga akhirnya aku bisa lancar berbahasa Korea?

Sepuluh tahun?

Sial. Aku tidak punya waktu selama itu. Ayahku akan menertawakanku habis-habisan dan ibuku akan semakin terpukul.

Ragu-ragu, aku menempelkan kartu transitku dan melangkah keluar, mengikuti arus manusia-manusia yang memenuhi statiun tersebut. Aku turut membelok ke kiri, dan aku tiba pada sebuah lorong dengan dinding serta lantai yang ditempeli granit hitam yang memberikan kesan menyejukkanㅡseperti ketika kau berada di dalam gua. Lorong itu mengingatkanku pada sebuah gua yang aku dan temanku temukan saat kami mengikuti kemping yang diwajibkan oleh sekolahku enam tahun lalu. Terdapat banyak layar kaca di sebelah kiri dinding tersebut, menampilkan seorang gadis cantik yang sepertinya pernah kulihat di toko musik langgananku di Shinsaibasi.

Yang membuatku ternganga adalah betapa banyaknya iklan jasa operasi plastik menghiasi hampir semua billboard dalam stasiun tersebut. Saking kagetnya, aku sampai hampir salah berbelok dan berakhir di Exit 2. Padahal seharusnya aku menemui Melody di Exit 9.

Ya, aku tahu memang banyak artis Korea yang melakukan operasi plastik. Tapi kupikir itu hanya karena tuntutan pekerjaan mereka saja. Aku tidak menyangka jasa tersebut juga ditawarkan pada masyarakat kebanyakan dengan cuma-cuma.

Kenapa?

Tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk bahuku. Ketika aku menoleh, aku melihat seorang gadis mungil berdiri di belakangku. Rambutnya yang panjang hampir menyentuh pinggang dibiarkan tergerai, dan angin musim panas memainkan helaian-helaiannya, menerbangkannya kesana-kemari.

“Nama kamu Kei?”

Aku mengangguk. Gadis di hadapanku ini kelihatannya seusia denganku. Celana pendek jinsnya robek-robek, dan kaus putihnya nyaris tembus pandang hingga aku bisa melihat tali bra hitamnya. Aku harus memaksa bola mataku untuk tidak terlalu lama terpaku pada dadanya karena takut gadis ini akan menamparku.

Puncak hidungnya yang kecil merona merah, dan aku bisa melihat jejak air mata di kedua pipinya saat angin musim panas bertiup dan membuat helaian-helaian halus rambutnya yang panjang itu menempel di wajahnya.

Aku tidak yakin apa yang membuat detak jantungku berpacu saat itu.

Kesempurnaan parasnya atau fakta bahwa di muka bumi ini kesedihan malah bisa membuat seseorang tampak semakin sempurna.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Aku bisa merasakan wajahku memerah saat aku bertanya pada gadis itu dengan bahasa Inggris-ku yang terbata-bata.

Gadis itu menunjuk gitar di punggungku.  “Kau bilang kau seorang gitaris,” katanya. Ia terdiam sejenak, matanya yang masih berkaca-kaca itu memandangi gitarku dengan sorot penasaran. Lalu, “Panggil aku noona, okay?”

Gadis itu menerbitkan seulas senyum dengan gaya menggoda yang membuat matanya berkilau jenaka. Sayang sekali, kilauan itu tidak bertahan lebih lama dari embun di pucuk daun di pagi hari.

“Noo-na?” Aku mengulangi, ragu-ragu. Aku tidak tahu banyak tentang bahasa Korea, tapi kalau tidak salah noona merupakan panggilan dari seorang pemuda untuk wanita yang lebih tua.

“Ne [ya].”

“Memangnya usiamu berapa?”

“Memangnya menurutmu usiaku berapa?” Aku baru menyadari bahwaㅡwalaupun gadis itu memiliki raut wajah orientalㅡia tidak memiliki aksen layaknya kebanyakan orang Asia saat berbicara dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya terdengar sempurna. Seakan itu adalah bahasa yang pertama dikenalnya saat ia lahir.

Tanpa sadar, aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Ah, berhentilah, Kei. Kau selalu saja begini setiap kali kau gugup. Apakah pukulan-pukulan dari Ayah dulu masih belum cukup untuk mendidikmu agar tidak mudah terintimidasi oleh suasana?

“18?”

Di luar dugaanku, ia tertawa. Suara tawanyaㅡberlawanan dengan tubuhnya yang mungilㅡbenar-benar keras dan membahana. Jenis suara tawa yang bisa membuatmu ikutan tertawa atau membuatmu jengkel. Tergantung kondisi hatimu pada saat mendengarnya.

Karena aku sedang sangat senang saat ituㅡsenang karena bisa lepas dari omelan Ayah yang membuat telinga panasㅡdengan mudah tawanya itu menular padaku.

Aku melihat bagaimana tawanya itu merilis bagian lain dari dirinya. Bagian yang membuatmu berpikir bahwa
inilah suara yang ingin kau dengar mengisi hari-harimu. Inilah vitamin yang kaubutuhkan saat kau terlalu jenuh menghadapi keharusan untuk belajar tanpa tahu mengapa juga kau harus berusaha belajar sekeras itu.

Suara tawa yang lepas dan lincah itu mengingatkanmu bahwa tidak seharusnya kamu merasa sejenuh ini di usiamu yang bahkan belum menginjak dua puluh. Hidupmu seharusnya kau jalani dengan ringan, layaknya tak ada lagi hari esok.

“Geojitmal [bohong]. Kau bohong. Tidak mungkin kau pikir aku masih 18.”

Aku menunjuk batang hidungku. Kebiasaan yang sangat dibenci oleh Naoko, murid sekolah khusus perempuan yang sempat berkencan denganku musim gugur yang lalu. Satu-satunya gadis yang pernah berkencan denganku, kalau boleh aku tambahkan.

“Aku bohong?”

“Tentu saja kau bohong.”

“AkuㅡMianhaeyo [maaf]. Aku salah, ya?”

“Jangan minta maaf.” Gadis itu mengibaskan tangannya. “Seharusnya aku merasa tersanjung karena kau kira usiaku masih 18.”

“Jadi sebenarnya berapa usiamu?”

“26.”

“Hah?” Sial, kenapa lagi-lagi mataku turun ke dadanya? Fokus, Kei, fokus!

“Aku serius.” Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dadaㅡsemoga ini bukan karena ia menyadari bahwa mataku sempat tertuju ke sana dua kaliㅡdan ucapannya selanjutnya membuatku nyaris mati berdiri. “Danㅡmaaf, aku punya kabar buruk untukmu. Sepertinya aku tidak bisa menyewakan kamarku padamu.”

Gila.

*Annyeong-jalga : hello, goodbye

2 thoughts on “[Noona and I] Episode 1: 안녕 잘가*

  1. AAAAAAHHH, PERTAMAXX!😀

    Baiklah, baiklah,Noona ini lucu sekali. saya bisa membayangkan dia adalah cewek yang sangat berkebalikan dengan saya. Soalnya, sementara dia sering disangka-sangka lebih muda dari umurnya; saya justru sering banget disangka lebih tua dari umur saya. –__–” itu lebih dari menyakitkan.

    Dan Kei… :* Can’t Wait for his debute. Hehehehe. Terima kasih untuk tulisannya yaaa,saya masih menanti akhir dari Taya dan Tanya akan menjadi penggantinya yang sempurnya😀

  2. sang noona terlihat lebih muda delapan tahun dari usia sebenarnya dan sepertinya memiliki sifat periang, Kei pasti sangat membutuhkan Tanya Noona untuk mengatasi kesendiriannya di Korea,,,
    ga sabar untuk nunggu episode selanjutnya… 😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s