[She Says] Episode 27: The Lion King


One of the perks of working as a doctor is that every now and then you’ll get a chance to see what lies beneath a person’s skin. Literally and figuratively.

 

Manusia paling tampan sejagad bisa terbukti sebagai penjahat kelamin dan tidak ada satu pun hal yang bisa dia lakukan untuk membantah hal ini saat hasil lab sudah di tangan.  Sadly, this perk comes with a string tightly attached: doctor-patient confidentiality.

Untunglah gue cowok. Kalau gue cewek, mungkin gue udah duluan masuk ER saking seringnya gue kejang-kejang karena gatal pengen ngegosipin pasien-pasien gue.

Malam di mana gue kedatangan pasien yang kemudian mendapat julukan The Lion King dari kolega-kolega gue itu diawali dengan segala sesuatu yang terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada pertanda-pertanda khusus layaknya petir menggelegar atau kuntilanak melolong di kejauhan.

Anyhoo, gue lagi santai-santai main Anipang ketika The Lion King itu melangkah masuk dengan wajah berkerut-kerut. Kebetulan, waktu itu gue lagi santai-santai duduk di resepsionis sehingga gue-lah yang pertama melihat kedatangan dia.

Begitu melihat dia, gue langsung menyadari bahwa gue mengenali dia sebagai cowok yang derajat ketampanannya udah membuat suster-suster perempuan MRCCC nyaris botak dan tingkat pengunduran diri pegawai-pegawai laki-laki MRCCC mendadak melonjak tajam.

 

Okay, that wasn’t true. Entah kenapa, gue suka mendadak hiperbolis di saat gue lagi sakit hati kayak begini.

Nggak, gue bukan sakit hati karena cinta gue ditolak sama itu cowok. Sejauh ini, gue masih suka wanita, kok.

Gue cuma sakit hati karena itu cowok berhasil merebut perhatian Taya. Bukan sakit hati, sih. Lebih tepatnya nggak rela. Tuh, puas lo mendengar pengakuan gue?

Ketika pertama kali dia dirawat di rumah sakit ini, dia mengalami patah tangan karena kecelakaan motor. Siapa sangka patah tangan itu malah mempertemukan dia dengan pujaan hati gue.

Sial. Hidup memang seringkali nggak adil.

Udah, ah. Kenapa sih gue jadi cengeng gini?

Intinya, The Lion King melangkah masuk dengan elegannya. Beberapa kepala menengok ke arahnya secara serentak. Terjadi ledakan detak jantung di sana-sini. Feromon beterbangan mengisi udara di sekeliling gue. Dalam gerakan slow motion yang memesona, lelaki itu menebarkan pesonanya hingga semua orang terjerat dalam—damn, kenapa jadi dangdut gini?

“Saya perlu bertemu dengan dokter yang sedang jaga malam ini.”

“Oh, silakan mendaftar di—”

“Anda bisa panggilkan dulu dokter jaganya? Tolong.” The Lion King menyela ucapan gue dengan wajah orang yang sedang sembelit—maaf, maksud gue dengan wajah kesakitan.

“Saya salah satu dokter jaga malam ini, Pak. Silakan ikut saya ke ruang ker—” Kali ini perkataan gue dipotong oleh pekikan kagum yang meluncur dari teman jaga gue yang digosipin baru implan dada, Dokter Silvana.

Kenapa sih malam ini orang-orang hobi banget memotong perkataan gue? Sebegitu nggak berharganyakah gue? Mentang-mentang gue nggak seganteng si Lion King. Damn, looking that good should be deemed illegal! Korban bisa berjatuhan!

But then again, Tuhan memang adil.

Bukan, gue bukan mensyukuri kenyataan bahwa ternyata dia nggak sesempurna wajahnya. Hanya, gue jadi semakin percaya akan pepatah lama yang sangat terkenal itu: don’t judge the book by its cover.

Beberapa saat setelah gue memberikan penanganan yang dibutuhkan, gue menyarankan The Lion King untuk menemui dokter spesialis kulit dan kelamin karena area ini memang bukan keahlian gue. Yang bisa gue lakukan hanya memberikan ceftriaxone plus azithromycin. Tapi kedua antibiotik itu telah terbukti tidak selalu memberikan kesembuhan jangka panjang.

You’re not allowed to talk to others about my condition, right?” Untuk pertama kalinya sejak dia menginjakkan kaki di rumah sakit ini, wajahnya mendadak memucat.

Itu adalah emosi pertama yang gue lihat darinya. A strong one, too. Yang membuat gue semakin deg-degan nggak jelas. Gue cuma berharap penyakit kelamin yang dideritanya ini tidak dia dapatkan dari wanita pujaan hati gue.

Tunggu, nggak mungkin juga Taya mengidap penyakit ini. She only slept with me. Dan gue nggak suka ‘jajan’ sembarangan. Jadi, kalau begitu darimana dia mendapatkan penyakit ini?

“Dokter?” Suara The Lion King menyadarkan gue dari lamunan gue.

“Jangan khawatir. Doctor-patient confidentiality.”

The Lion King tersenyum lega. Setelah berkali-kali menghaturkan terima kasihnya pada gue, akhirnya dia pun pergi. Kepergiannya dilepas oleh tatapan-tatapan kagum dari para staf wanita dan juga pria. Gue heran kenapa nggak sekalian aja mereka menggelar karpet merah buat dia.

Damn, I sound a lot like a jealous wife.

 

Eh, tapi—tunggu, tunggu.

Melihat seorang staf pria memandanginya dengan begitu terpesonanya membuat gue tiba-tiba teringat akan artikel kedokteran yang gue pernah baca waktu kuliah dulu. Buru-buru gue ambil iPad gue. Gue langsung Google gonorrhea.

Dan satu paragraf yang tercantum di dalam laman Website itu seketika bikin gue nyaris pingsan saking syoknya.

Men have a 20% risk of getting the infection from a single act of vaginal intercourse with an infected woman. The risk for men who have sex with men is higher.

 

Kalimat terakhirnya itu lho…

 

6 thoughts on “[She Says] Episode 27: The Lion King

  1. *Pingsan* *kejang-kejang* *koma*

    don’t wanna talk (write) to much…. T___T Kak Omi sudah menghancurkan hati saya dengan part ini. Oh gosh, sebagai satu-satunya Tim si Boss di sini, rasanya benar-benar enggak adil….*meringkuk di bawah shower*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s