Puris Kanabis


PURIS KANABIS

-azureveur. 2013

Sungguh konyol memang, membawa onggokan novel klasik Tolstoy ke  konter bar milik Dean. Itu bukan pertama. Mungkin dua dalam minggu ini. Denting botol yang beradu kisruh mendera pendengaranku, lantas pasangan yang sibuk bercumbu di sisi kiri. Ugh.  Tilik pakaiannya. Baju ketat bertali spaghetti, rok mini, dan tak lupa stoking jaring yang membalut pahanya.

“Dean!” panggilku dengan mata menyalang.

“Ergh, El, apa lagi?!” Kelopak Dean memicing nyinyir. Demi Tuhan, apa ia tidak melihat tingkah pasangan sinting itu?!

Aku tak bersuara; hanya kepala yang berjengit. Bibir miring yang tertarik ke sudut kiri. Dean menilik mereka dengan santai. Tangannya dikibas-kibaskan seolah apa yang dilihatnya hanya selentingan selebriti di teve lokal. “Biarkan saja.”

“Dean?!” ringkingku separuh berbisik.

“Kauingin aku berbuat apa?” Ia menyampirkan serbet putihnya di bahu; mengedik serta-merta.

“Entahlah.” Derit kursi logam di bawah kakiku kembali terdengar. Duduk agak miring, menelekan sebelah siku di susuran kayu.

“Bahkan kau sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan.” Tatapan Dean berpindah ke arah podium. Penari-penari erotis itu mulai berlenggok. Musik ingar-bingar, bahkan bunyi kelotak stiletto pun nyaris tak terdengar lantaran dentam trance keburu bersipogang ke seantero pub.

Seperti tajuknya di pinggir pintu; “Broadway”. Aku kenal salah satu dari mereka. Olga, seorang berpipi tirus lengkap dengan celak carmine mengilap—lantaran efek glitter­-nya membias ditimpa lampu sorot dwiwarna. Bibirnya bergincu menor; merah teramat ranum. Pinggang lencirnya telah dibalut kostum berperincing emas.

“Naksir dia?” ungkitku, menggoda.

“Er? O, El. Kau gila. Sungguh gila,” serapah Dean. Aku terkikik. Sepupuku masih menggeleng-gelengkan kepala. Menekuri satu per satu botol cider yang ditatanya.

“Aku masih waras, Dean. Lantas kau yang menyeretku ke lingkaran sinting ini. Menjadikanku makhluk ekstraterestrial yang terdampar di negeri antah berantah.”

“Ini bukan negeri antah berantah, El,” sindirnya, membesut gelas-gelas berkaki tinggi itu. “Kau senang ya jika Ralph hilir mudik semalaman bertanya-tanya; ke mana kau meraib di dataran Boston?” Dean tak melanjutkan acara besut-membesut itu. Telapak tangannya tertangkup di belakang konter, lantaran ia menatapku lekat-lekat.

“Tidak perlu menilikku seperti itu. Aku bukan seorang pecandu kanabis yang kerap menghabiskan waktu bersama handai taulanku yang mirip tikus got itu. Lagi pula—”

Well, kaubisa mengesampingkan masalah kanabis itu, tapi untuk raib. Kau memang ahlinya bukan?”

“Aku hanya ke perpustakaan kota,” hardikku, menyesap lemon tea-ku lekas-lekas. Cairan keruh itu nyaris tandas. Dua senti dari kaki gelas. Tatapanku tajam. Seharusnya cukup intens untuk membuat Dean tak berkutik.

“Sama saja,” gerutunya. O, aku tak pernah menyangka orang-orang dunia menaruh apriori bahwa perpustakaan semacam kamp konstentrasi Nazi. Sangat tabu jika diinjak.

“Itu jelas lebih baik ketimbang pub doyong ini, asal kau tahu.”

“Tidak. Tentu tidak. Kau bisa membaca buku di sini, seperti yang kaulakukan sekarang.”

“Tapi tidak senyaman di perpustakaan. Lagi pula, kaubisa membawaku ke tempat yang lebih baik. Au Bon Pain, contohnya.”

“Lantas siapa yang menjagamu?” Alisnya bertaut; galur di dahinya bertambah satu garis.

“Menjagaku?” Tawaku menyembur. “Aku bukan anak kecil, Dean. Delapan belas tahun dan cukup cerdas untuk menjaga diri.” Aku menaruh kuda-kuda di depan dada, berlagak seakan hendak melandaskan tinju di wajahnya.

Dean tak ikut tergelak lantaran melihat aksi amatirku. “Tidak. Kau tetap di sini, El,” tandasnya.

Aku mendengus. Persetan dengan perintah sinting itu. Memang siapa dirinya. Dean Harper; bartender paruh waktu; anak dari adik ayahku. Lantas, ia sesumbar tentang jabatan minim itu. Erw.

Kuganjur tas berontek Benua Australia di kursi samping. Membiarkan rontek-rontek lainnya bergemericing keras.  Lantas, menjejalkan onggokan novel Tolstoy koleksiku di antara karya Bram Stroker lainnya. Aku sengaja tak menatap Dean, alih-alih menyantunkan kalimat permisi padanya.

“Hei, El!” panggil Dean. Aku dengar bunyi decit itu. Sol sepatunya yang mengentak gemas, namun sekonyong-konyong saja alunan terburu-burunya lesap ditimbun deham di sisi kursi.

Apple cider, Dean as usual,” sergah seorang pelanggan, menelusup dari kiri.

Rasakan, Dean. Lap yang disandingnya tak jadi terlempar, malah melekat kian kerat dalam genggaman. Besut. Dan besut lagi. Bagus. Lebih baik seperti itu, Dean yang tak berkutik, menilikku geram.

“Er, Coelho?” tanya orang asing itu, membuatku terdiam. Akselerasi seolah tak jadi menyihir jungur sepatu. Statis. Aku memutar pinggang dan bersehadap padanya.

Aku tertegun. “Yes?” Giliran Dean yang balas tersenyum. Ia tahu, apa yang pemuda asing itu maksud.

“Paulo Coelho?” Tunjuknya ke arah dua novel lain yang berada di tanganku.

“Bukan,” ujarku acuh tak acuh. Abdomenku seolah ingin melontarkan substansi lain ketimbang napas menderu. “Poe. Edgar Allan Poe.”

Ia memicingkan matanya. “Ah. Kukira, Coelho. Kau tahu dia ‘kan?”

“Tentu saja. Aku belum pernah membaca karyanya, memang. Tapi, Errol sempat mengatakan sesuatu tentang karya digdaya itu.”

“Coelho memang sarat pesan. O ya, bagiamana dengan Crichton?”

Aku lekas-lekas menduduki kembali spot itu. Kursi tinggi tempat di hadapan Dean, yang tersenyum-senyum bersama rendengan botolnya. “Aku sudah membaca “The Prey”, ya lagi-lagi tentang robot nano itu.”

“Aku malah belum pernah menyentuhnya. Tapi aku mempunyai koleksinya yang lain.”

Aku terkesiap. “Benarkah?” Dean menatapku, aku ganti memandangnya, sementara kedua bahunya melenting acuh tak acuh. Kukira, ia akan tertawa. Mencebik bibirnya ke depan. Seraya mengejekku dengan aksi kampungannya.

“Tentu saja. Ingin pinjam?”

“Er?”

Cider-mu,” Dean menyela kerikuhan kami. Aku menatap pemuda itu tak enak. Ia tak sedang menipu ‘kan? Laki-laki yang baru ketemui lima menit lalu.

“Kau menemukan spesiesmu, El?” cericip Dean.

Mata kami bersirobok—aku dan si tuan asing itu. Ia mengintip perawakanku di balik sesapan cider-nya.

Ish.” Aku menyikut lengan Dean. Ia tak seyogianya mengatakan itu.

“Dean?” Pemuda asing itu melongok ke belakang konter; Dean mendesis kesakitan.

“Payah,” ujarku.

“O, sial. Apa yang kauajarkan dulu padanya, Ron?” Dean masih berusaha menggusah rasa sakit itu. Ugh. Padahal aku hanya menyenggol sedikit. Kurasa ia terlalu berlebihan.

“Ron?” Nama itu terbetik di benakku, memperhatikan pemuda asing yang duduk bersilang kaki; rambutnya yang sewarna kopi, jins denim, dan kaus bersablon Bob Marley dengan sentuhan pop art, sementara matanya memandangi buku-buku Poe-ku di atas meja.

Ron tak berbicara, tapi jelas. Sangat kontras nama itu mencuat begitu saja. Ron? Ronald?

“Jangan katakan kau tak mengenalnya, El,” sindir Dean.

Ron meringis. Ia mereguk kembali sisa cider-nya.

“Ronald Boone?!” Suaraku meninggi. Ronald mungkin tak menyangka aku sudah mereparasi nama belakangnya. “Si pemecah kasus pencuri kutang beberapa tahun silam ‘kan?”

Dean kontan terbahak; Ron menyemburkan sisa cider-nya ke tempurung gelas. Aku memasang raut berbinar-binar. “Ronald Boone?” singgungnya.

“Ah, aku lupa bilang, ingat dengan Theodore Boone milik si Grisham?” Aku mengetuk-ngetuk pelipir konter.

Ron tak sempat tertegun, sebelum akhirnya ikut terkekeh setuju.

“O ya, ke mana seragam perlentemu? Dan kacamata itu?” Ingatan itu seolah masih baru. Seperti lembar kemarin yang terlewat dan voila, Ron memangkas rambut klimisnya; menjelma menjadi seorang rockstar. Tak ada lagi kacamata lodong kedodoran yang bertengger di tungkai hidung, selain sepasang manik biru terang; berbinar di ceruk korneanya.

“Aku tak mengerti apa yang kalian bicarakan?” sambar Dean.

Aku mendengus geli.

“Terutama tentang Boone itu. Siapa Grisham?”

“Sudahlah, Dean.” Aku menelengkan kepala. Seorang bertuksedo hitam bertandang menghampiri konter milik Dean. “Sana layani dia,” suruhku.

“Dasar! Berbicara dengan kalian berdua tak ubahnya berenang di lukisan Pollock. Abstrak.”

Ganti Ron yang tergelak. Kurasa Dean benar. Aku merapatkan celah mantelku.

“Jadi, bagaimana dengan Barnes & Noble?” celetuk Ron.

“Kau mengajakku?”

“Tidak juga. Hanya saja mungkin kita bisa membahas sisanya di sana,” tawar Ron. Menarik. Sangat keren, tapi tidak untuk Dean. Aku terdiam, melirik sepupuku dari kejauhan.

“Er, bagaimana?”

“Entahlah.” Kepalaku separuh berjengit.

“Kau mengkhawatirkan Dean?”

Aku mengangguk. “Izinnya, lebih tepat.”

“Itu mudah.” Ia memamerkan seringai jenaka itu. “Dean!”

“Er?” Dean menyahut. “Pinjam sepupumu.”

“Silakan!” jeritnya, kembali menjibakui blender di sudut kanan.

Dean tak sedang kesurupan banshee ‘kan? Begitu lekas ia menjawab, padahal beberapa menit lalu ia melarangku ke Au Bon Pain.

“Sekarang?”

“Er, iya. Aku hanya curiga. Apa hubunganmu dengan Dean sesungguhnya?” sindirku, menuruni kursi bertungkai tinggi.

“Lebih dari yang kautahu. Ia menjuluki puris kanabis.”

“Kanabis? Kau seorang pecandu?”

“Kanabis yang berbeda, tentunya, El.”

“Maksudmu?”

“Sastra agaknya tengah mengontrol seluruh saraf otakku,” kelakarnya.

 

 

Terlalu banyak yang terlupakan di era kontemporer.
Kendati fiksi bukan sekadar kembang gula susastra, namun kita bertemu.
Bertanya mengenai Coelho dan karyanya, “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis”.
Aku tertegun dan bersenandung, aku menemukanmu.

____________

Notes:

[1] Kanabis sesungguhnya semacam zat adiktif yang dapat memengaruhi akal dan perilaku seseorang.
[2] Puris sendiri berarti penganut setia dari sebuah ajaran atau sekte.
[3] Puris kanabis adalah sebuah frasa karangan tersebut tidak merujuk pada konotasi sesungguhya karena kanabis seseorang dapat ditilik dari perspektif yang berbeda.

2 thoughts on “Puris Kanabis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s