NIRMANA SEKOTAK KOREK API


I.

Geming tak memberiku preferensi kedua di samping menatap langit dalam bisu, alih-alih berkeriap di sekitar jilatan api unggun. Ellen si bocah ber-hoodie itu sibuk hilir mudik. Kaki lencirnya tertekuk separuh, sementara tangan pendeknya berusaha menggapai onggokan kayu bakar.

“Bukankah malam ini terlalu dingin?” tanyanya. Tak ada yang menjawab. Keempat bibir lain terkunci rapat. Memang terdengar angkuh, namun aku terlalu sibuk meredam gemuruh di dalam perutku.

Tak ada alasan lain, selain menepi sejenak, memilih tenda medis ketimbang berdiri berebut kehangatan dari sepucuk api unggun di alun-alun berkepala batalion. Sinting. Memang sinting. Aku tahu, kakak panitia menganggapku bercanda lantaran tak sengaja menyunggingkan senyum permisi yang terlihat kontras di antara kesan pilu. Tapi toh aku tetap melenggang acuh tak acuh. Menguar isi tas di tengah kegelapan kemah, menjinjing kantung obat ke tenda beremblem salib merah.

II.

Rasa itu telah melayah seperempat jam lalu. Empat orang di hadapanku masih beradu tatap, tatkala Ellen kembali berlarian di samping perapian. Aku tak mengacuhkannya, memilih menggenggam erat gelas karton berisi air panas yang nyaris tandas.

Aku memang pengecut. Apa seharusnya aku kembali bergabung pada kegiatan kamp sialan itu? Pertanyaan pelik itu berkelebat begitu saja, hingga sekonyong-konyong aku menangkap sosok jangkung yang separuh dipapah Kak Rio—koordinator seksi medis.

Bibirku menganga. Baiklah, itu bukan momen yang tepat untuk mengajukan sapa. Manik mataku tepekur cukup lama. Mengingat wajahnya yang pucat pasi. Hidung bangirnya kembang kempis.  Okta. Apa yang ia lakukan di tempat ini? tanyaku dalam hati.

III.

Okta dibopong keluar tenda. Ia duduk di sampingku. Masih dengan napas yang tersengal. Ia enggan memandang lurus. Aku sengaja menggeser tempat, kendati beralaskan sepetak semen pejal.

“Hei, kok lu di sini sih?” tanyaku, menyenggol bahunya. Okta gemar bercanda, aku tahu itu. Ia kerap mempermainkan kenaifanku, menipunya dengan rentetan kelakar. Tapi tidak malam itu. Mata cokelatnya mengintip dari balik lengan berbalut manset tebal.

Hngg?” erangnya pelan, menahan air mata.

Aku merasa amat bersalah. Kepalaku yang kopong tak berpikir, ia begitu menderita. Sekonyong-konyong saja teringat pada gelas karton yang kugenggam, aku mengangsurkan benda itu padanya.

“Itu punya gue, moga aja masih anget. Lumayan biar lu gak terlalu kedinginan,” sambungku. Ia menerimanya dengan tangan gemetar.

Okta tak bersuara. Ia tak menyesap pinggiran gelas. Seolah merepetisi gerakanku, jemari lampai itu hanya sanggup menggenggam. Mengais sisa-sisa kehangatan di dinding karton.

IV.

Embun belesak menghujani ubun-ubun kami. Okta berdeham singkat. Aku mencuri lihat, rautnya berubah jahil seperti biasa. Ia meletakkan gelas karton itu di sisinya. Tangannya mulai merapat, seiring kami bertiga duduk kian lekat. Aku, Okta, dan seorang lagi di sisi kiriku.

“Rin, pegang deh tangan gue,” ujar Okta tiba-tiba.

“Er?” Alisku mengedik. Cukup lama, sampai dahiku berkerut. Menatap kulitnya yang sepasi fajar. Namun, aku memberanikan diri menyentuhnya perlahan. “Ih, gila!” semburku.

“Dingin banget ya?” Okta mengimbuh.

“Iya, makanya gue di sini. Gue kira lu kuat. Tadi siang keliatannya lu sok kuat gitu, padahal lu punya penyakit maag ‘kan?” singgungku.

Tentu aku tak berhak menghakimi, kendati Egy—rekan setimku yang lain—sudah gemas dengan lagak Okta yang sok kuat. Okta bukan manusia baja, aku kerap memergokinya memegangi perut. Mungkin ia bisa perkompromi dengan musuh bebuyutan yang menyatroninya di kala siang. Namun, malam terlanjur menyerbu, satu hal lain yang perlu kuketahui tentang Okta. Ia bertandang ke tenda medis dalam keadaan sesak napas.

“Nggak kok, gue gak sakit. Gue baik-baik aja. Nih buktinya gue sehat walafiat,” sanggahnya, menepuk-nepuk dada.

Deuh, lagi-lagi. Kenapa gak ngaku aja sih? Barusan lu kenapa? O ya, Egy bilang lu punya asma,” aku berceloteh panjang lebar.

“Gue punya asma dulu banget, Rin. Tapi gue kagak pake in-haler gituan.”

“Wah, terus gimana dong? Lu kesiksa semaleman?”

“Bisa aja sih gue bertahan. Tinggal terlungkup aja, biasanya asmanya reda sendiri.”

Konversasi kami terhenti. Setidaknya aku hanya sanggup melongo singkat, hingga terpikir untuk menanyakan kabarnya sekali lagi. “Terus barusan itu asma lu kambuh ya?”

“Kagak kok. Gue cuma kelebihan oksigen.”

Mataku lekas memburai. “Konslet kali ya lu,” cecarku tak sanggup tergelak. Okta terkekeh, tapi aku masih teringat tatapan nanarnya lima menit lalu. Entahlah, mungkin keadaan kritis itu hanya bagian dari panggung sandiwaranya, tapi bagiku, itu entitas Okta yang sesungguhnya.

Yeh, masa gue dibilang konslet sih,” Okta tidak mau kalah. Gundukan lehernya lekas menegak, sementara ia merapatkan celah jaket.

“Abis gue nanya bener-bener, lu malah bilang kelebihan oksigen.” Bibirku mengerucut. Okta tak nampak mengacuhkan. Ia menjenjangkan kedua lengannya, menggapai ubun-ubun  api unggun.

“Abis gue malu,” ujarnya pelan. Aku mendengar pengakuan itu. Singkat, namun amat menjatuhkan bagi Okta. Pemuda jangkung di hadapanku, biasa menjulurkan tangan pada para sejawat, kini malah ikut bermukim tak berdaya.

Kalimat pemburit itu bukan opiniku. Okta teman yang menyenangkan. Sama seperti memoar-memoar jenaka ciptaannya.

“Lho? Kok lu malu sih? Sakit ‘kan—”

“—ah, udah, Rin. Jangan bahas itu lagi,” potong Okta, kembali membenamkan wajahnya ke bawah manset jaket.

V.

Kesepuluh jemariku masih terkepit di antara lutut. Hangat tak ayal meruap naik, dan aku teringat pada kata-kata Kak Rio: bakal ada kembang api sebagai acara penutup. Okta agaknya mengelar aksi bungkam sesaat. Rautnya tidak tercoreng kesal, lantaran topik pembahasan yang tak sengaja kusinggung tiga menit lalu.

“Ta, gue denger ntar bakal ada kembang api,” cetusku.

“Er?” lagi-lagi Okta mengangkat kepalanya, separuh sadar.

“Iya, kembang api. Bentar lagi acaranya selesai nih, kayaknya.” Tak ada arloji yang melingkari lengan kiriku, alih-alih suara kamp di sayap kiri terdengar sayup digayuti embun.

Okta mengangguk ringan. Bibirnya merekah. “Kembang api asyiknya diliat duaan, Rin,” celetuknya.

“Eh?” Aku tak menyangka Okta akan merespons kata-kataku. “Sama siapa? Indri ya?” Aku sengaja beringsut ke kanan. Sedikit oleng, menyentuh bahunya.

“Ih, apaan sih lu! Kok sama Indri,” elaknya gusar.

“Ah, ngaku aja lu. Perasaan lu deket banget sama Indri. Lu suka ‘kan sama Indri?” godaku, mengernyih usil.

“Amit deh. Mana gue suka sama Indri. Ngawur lu.”

Kala itu aku tertawa. Okta mengernyit tak suka, namun di momen itu pula kembang api berwarna fuchsia melebur di atas kami. Aku tak percaya. Seakan menebar ekspektasi akan kata-kata Okta barusan, kami baru saja menatap percikan itu berdua. Suaraku tercekat, terlebih Okta yang tengah melengos ke arah tendanya.

Celetukan Okta boleh diartikan sebagai nirmana. Kalam tanpa arti, kendati aku berharap kami bisa menjadi tungkai-tungkai liliput di dalam sekotak korek api. Silih menerangi, membagi kehangatan di tengah rasa kelam yang mengeriapi.

Untuk teman yang kelebihan oksigen.

11 thoughts on “NIRMANA SEKOTAK KOREK API

    • hahaha iya🙂 agak garing sih sebenernya, tapi ini bercerita tentang saia dan temen saia pas lagi OSPEK kemarin hehe🙂
      er, nggak juga sih. saia lebih demen membaca novel sekarang.

    • Setuju sama komentar Gina. Ini tulisan yang bikin aku sampai harus buka google buat nyari tau arti beberapa kata yang muncul di cerita ini.

      Penjaja kata satu ini sepertinya punya perbendaharaan kata yang kaya sekali🙂

  1. Ah, membaca diksi-diksi indah itu membuat saya segera lari ke apotik untuk membeli inhaler.

    Terima kasih telah membagi diksi cantik itu dengan kami, ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s