[She Says] Episode 26: That XX


All the world is crazy anyway
What’s it matter what they say
If I’m the one that’s wrong
Then let it be my mistake

 

If Love is Blind — Tiffany

 

Alkisah ada sebuah pepatah bijak: jangan gantungkan mood kamu pada cuaca karena dia bukanlah jemuran.

 

Jadi—ketika gue tanpa sengaja menguping segerombolan cewek berkata bahwa mereka mendadak nggak mood kerja karena hujan yang tanpa henti telah mengguyur Singapore selama seminggu terakhir—mau rasanya gue hampiri mereka dan menawarkan sepotong pepatah bijak barusan.  Tapi karena gue nggak berminat kena tamparan nyasar, akhirnya gue memasang headphone gue untuk memblokir percakapan mereka.

 

Memang kalau orang lagi jatuh cinta, hujan batu pun terasa seperti hujan uang.  Padahal sekarang bukanlah lagi minggu pertama gue bekerja untuk Frankie Magazine.  Tapi setiap pagi gue selalu semangat bekerja karena sekali lagi gue punya kesempatan untuk menatap bos gue.  Yeah, yeah, I know I’ve said that he’s so much like tiang listrik it’s hard to discover what’s on his mind.  But to me, it makes him appears even more intriguing.  Mercurial.  Sexy.  Aduh… pagi-pagi pikiran udah kelayapan ke mana-mana.

 

“Ouch!”  Seorang wanita memekik kaget karena gue nyaris menyenggol venti vanilla latte pesanannya.

My bad, sorry I—

Omigosh, Taya?  Is it really you?!”  Suara wanita itu tiba-tiba naik lima oktaf.

 

Kaget, gue sontak menengadah.  Di depan gue berdiri sesosok wanita bertubuh gempal bersasak tinggi dengan mata membelalak excited.  Seakan-akan gue ini artis sinetron yang lagi naik daun.  Jujur, gue sama sekali nggak tahu dan nggak ingat siapa dia.  Jadi gue nggak bisa membagi perasaan gegap gempita yang tengah dia rasakan.  Gue hanya bisa melongo sambil menggigiti sedotan gue, berusaha mengingat-ingat apakah gue kenal dia.  Yang jelas—dari sasaknya yang setinggi Monas itu—gue bisa tahu kalau dia pastilah orang Indonesia.  Tapi siapa, ya?

 

Nihil.

Gue sama sekali nggak ingat siapa dia.

 

“Ta-yaaaa!  Ya ampun, fotografer yang lagi naik daun banget.  Aduh, nggak nyangka bisa ketemu jij di sini.  Eik beruntung banget, deh.”  Sambil terus nyerocos dalam bahasa gado-gado Indonesia-Belanda yang bikin kepala panas, wanita itu menggiring gue ke salah satu sudut yang lumayan sepi.  Dia bahkan nggak menggubris protes pelan yang gue lontarkan.  Seakan dia lupa bahwa gue harus ngantor di perusahaan yang telah membuat dia mengenal siapa gue.

 

“Bu, saya—”

“Jadi gini lho.  Saya punya usaha wedding organizer.  Kecil-kecilan aja sih, sambil ngusir suntuk nunggu suami pulang ngantor.  Nah, kebetulan eik ketiban rejeki nomflook aduh eik seneeeng banget.  Eik dapet kawinan anak pengusaha sawit tersohor dari Indo.  Eik malu dong kalau foto pre-wed doi nggak bagus.  Jij bisa kan bantu eik?  Yayaya?”

 

Merasa mendapat kesempatan untuk menjawab, gue langsung membuka mulut untuk—

 

Eik berani bayar mahal!”  Ya elah, dipotong lagi.  “Asal temanya jangan yang pasaran, ya?  Eik nggak mau jij bikin foto di padang rumput, dengan pose lagi nunjuk ke langit—” Menurut gue juga itu pose klise abis.  Nggak jelas apa maksudnya.  Demam Meteor Garden kan udah lama berlalu.  “Jij ngerti kan maksud eik?”

“Ngerti sih, Bu.  Tapi—”

“—Bagus.”  Ya ampun, kapan ya gue bisa ngomong dengan tenang dan khidmat?  The power of ibu-ibu and their sasak memang tidak terkalahkan.  Jaminan mutu, dah.  “Nah, jadi keluarga Anggoro mau ngadain pestanya dua kali.  Yang pertama—”

 

Apa?

Tunggu, tunggu, tunggu, coba diulang sekali lagi.  Keluarga Anggoro?

 

Calm yourself down, Taya.  Nama Anggoro itu ada banyak di Indonesia.  Bukan berarti yang dimaksud oleh Ibu Sasak Monas itu adalah—

 

Sayang, otak dan hati gue punya kehendak yang berbeda.

 

“Yang Ibu maksud mau nikah itu… Allegro Anggoro, bukan?”

 

*

Are you okay, Taya?”

Gue menoleh.  Bos gue sedang menatapi gue dengan tatapan yang super datar.  Tidak ada petunjuk bahwa orang ini memiliki kemampuan untuk membuat emosinya berenang ke permukaan.  Melihat betapa tenang dan terkendalinya dirinya, gue jadi malu sendiri.  Ah, andai gue bisa mengendalikan ledakan emosi gue.  Capek juga jadi orang yang emosional seperti gue.  Buat apa emosional jika tidak ada satu orang pun yang peduli akan apa yang gue rasakan?

Oh wait, my boss cares.  Possibly maybe, in his own way.  I guess I’ll never know for sure.  But at least, he asked.

Allegro Anggoro—that XX—kenapa juga dia berkeras nggak mau mengakhiri hubungan kita kalau ternyata dia bermaksud menikahi pacarnya?  Gila, ini benar-benar gila.  Dan di mana dia sekarang?  Kenapa dia tiba-tiba menghilang begitu?  Apakah dia nggak merasa bahwa gue berhak untuk mendapatkan penjelasan darinya?  Apakah gue memang nggak lebih dari sekedar selingkuhan baginya, yang tidak perlu ia pertimbangkan perasaannya?  

Damn, someone should really write a manual for heartbreak.

6 thoughts on “[She Says] Episode 26: That XX

  1. TTTAAAAYAAAA!! Kamu.. kamuh… *peluk Taya

    Hehe, I kinda smell the ending is near.
    Huft. Siap2 cari bacaan lain buat digilain (todong omi pakek kimchi)

    And this: Damn, someone should really write a manual for heartbreak. –> dan saya menghela napas dalam… sambil berteriak “YES!”

  2. Taya, aku kasih satu saran buat kamu. Kirim sms ke Ale: “LOE. GUE. END”.

    Kalo aku gak salah ingat, di cerita sebelumnya Taya lagi ada di Jepang dan ada cowo-yang-gak-disebut-namanya di cerita itu. Di sini kok gak dibahas lagi soal itu? Atau aku ngelewati satu chapter?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s