[Jotir] Episode 4: Friendship (Nancy)


rangga and nancy kecil

“Rangga, pinjam One Piece dooong.”

Secara tiba-tiba, kepala Ningsih menyembul dari balik pintu. Ia hampir saja membuat Rangga kena serangan jantung gara-gara melihat rambut hitam panjangnya yang tergerai berantakan.

“Udah berapa kali gue bilang, ngetok dulu napa?!” Rangga mengomel, lalu dengan jengkel mengelus dadanya yang berdebar keras.

Nyengir cuek bebek, Ningsih melenggang masuk ke dalam kamar Rangga dengan masih memakai daster putih lusuh kesayangannya dan dengan muka pucat ‘berbau’ bantal kental. Ningsih, Rangga yakini, begitu bangun langsung ngelayap ke rumah Rangga yang tepat berada di sebelah rumah Ningsih. Tanpa mandi tentunya.

Ningsih kontras banget deh dengan Rangga yang sudah resik rapi, nangkring ganteng di depan laptopnya yang bertengger di meja kopi beralih fungsi menjadi meja belajar itu.

“Galak amat. Lagi nonton bokep yah lu?” ujar Ningsih, terkekeh. Ia jongkok manis di depan rak komik Rangga yang semakin lama semakin lebar meskipun isinya selalu disingkirkan ke gudang secara berkala oleh tante Dinda, mamanya Rangga.

Rangga berpaling kembali ke pekerjaannya, memutuskan untuk mengabaikan Ningsih daripada dianya yang makan hati. Sementara itu, Ningsih dengan rakusnya mulai menjarah koleksi komik Rangga hingga puas, sebelum merangkak ke samping Rangga.

“Lagi ngapain sih lu?” tanya Ningsih kepo, menjulurkan kepalanya dari balik bahu Rangga.

“Kerjaan,” jawab Rangga pendek tanpa menoleh. Matanya fokus di depan layar yang menyala.

Ningsih ber-oh ria, melirik ke arah Rangga yang serius dengan design rumah 3D-nya. Ia mengerucutkan bibirnya dan pelan-pelan merangkak mundur untuk meninggalkan laki-laki berkacamata bingkai hitam tebal itu.

Ningsih baru akan membuka pintu ketika Rangga tiba-tiba mengajaknya bicara.

“Lu… kemarin jalan sama Nathan?”

Ningsih menoleh ke arah Rangga lalu berjengit, teringat lagi kejadian traumatis semalam.

Masih terekam jelas di ingatannya, alis Nathan yang terangkat ketika ia salah mengira fiksi mini itu sepeda anak-anak dari fixie. In her defence, both of them sound the same!

Kemarin, setelah insiden itu, Natnut bolak-balik menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Coco dalam diam menyuguhkan Vanilla Bourbon Tea. “Yang tabah ya…” katanya kemudian, takut-takut.

The humiliation… ouch!

“Jangan bahas deh yah,” pinta Ningsih muram.

Rangga mendengus dan mulai mendecak, langsung tahu ada yang salah dengan kencan kemarin malam.

“Kali ini apa lagi yang salah?”

Ningsih menyipitkan matanya yang memang sudah kecil pada Rangga. Anak itu yah, apa punya dendam terselubung sama Ningsih? Hobi banget menggosok-gosok lukanya dengan wajah belagu see-I’ve-told-you-so. Padahal, apa pula nasihat yang pernah bocah itu kasih ke dia?!

“Did you do something stupid again, Ningsih?”

Dan dengan satu kalimat pamungkas itu, Ningsih ngacir dengan tidak lupa membanting pintu keras-keras sambil berteriak, “I hate you!!”

Rangga menggelengkan kepalanya. Dengan temperamen seperti itu, Ningsih benar-benar sukses besar ngibulin banyak orang dengan senyum manisnya.

No wonder she never have a long relationship with man. When that façade cracks…

“Nancy kenapa?” mendadak, kepala mamanya menyembul dari balik pintu, sekali lagi hampir membuat Rangga kena serangan jantung.

“Ma!” teriak Rangga jengkel. Ia menyentuh dadanya yang berdebar kencang, déjà vu.

“Kaget amat. Lagi nonton bokep yah kamu,” canda mamanya dengan mata menyipit iseng. Persis…

Rangga memutar bola matanya, putus asa. “Tanya aja sama Ningsih, Rangga sibuk.”

Tante Dindan mengernyitkan wajahnya penuh ketidaksetujuan atas kelakukan anak bungsunya itu.

“Kamu tuh yah, suka banget cari ribut sama Nancy. Udah tahu dia ga suka banget dipanggil Ningsih.”

Dan setelah ngomong itu, Tante Dinda menghilang lagi di balik pintu, meninggalkan Rangga yang sebal sendirian.

Anak dia yang mana sih? Rangga apa Ningsih? Kompak amat…

Ck. Terima kasih untuk mereka berdua, sekarang Rangga kehilangan ;mood untuk bekerja. Lebih tepatnya lagi, jus kreativitasnya mendadak mengering seperti kurma kotakan.

Jengkel, Rangga menjatuhkan badannya ke lantai. Ia berbaring telentang menatap langit-langit kamarnya yang miring mengikuti bentuk atap rumahnya. Rangga lalu memejamkan matanya untuk berpikir dan membiarkan hembusan angin dari pendingin kamar membuai dirinya hingga terlelap.

1 tahun. 2 tahun. 3 tahun. Rangga terus menghitung semua memori yang ada di dalam kepalanya seperti hitungan domba.

Dan ketika ia membuka matanya lagi, tahu-tahu saja 3 jam telah berlalu. Itupun karena deringan ponselnya.

“Halo?”

“Rangga, sini jemput temen lu.” Tanpa basa-basi, si penelpon langsung menyerocos.

Tanpa melihat siapa nama penelponnya, Rangga langsung tahu kalau itu Coco. Suara mendayu yang khas itu gampang sekali dikenali. Tapi tumben, Coco terdengar jengkel.

“Kenapa?”

“Itu anak lagi emo yah? Café lagi rame dan Natasha ga bisa dikontek, jadi plis elu yang urusin dia yah.” Dan tanpa menunggu jawaban Rangga, Coco langsung menutup telponnya begitu saja setelah teriakan panik dari Ayu si part timer. Sepertinya ada emergency situation.

Rangga menggeram, membalik badannya dengan sepenuh tenaga yang ia punya. Ini sudah pasti. Tujuan hidup si Ningsih sejak lahir adalah untuk merepotkan dirinya. Rangga mengambil cardigan-nya. Tanpa sisiran apalagi cuci muka, ia lalu menyambar kunci mobilnya.

To Ningsih he goes, then…

***

Mantau goreng yang ia gunakan sebagai sogokan buat si Ningsih berhasil. Cewek itu mendongak menatap Rangga dalam diam ketika ia tiba.

“Lu beneran datang?” tanya Ningsih, tampak terkejut.

“Maksud?” balas Rangga.

Yang juga tidak di jawab oleh Ningsih. Anak perempuan satu itu hanya menghela napas dan terus menatap Rangga tanpa berkedip.

“Lu apaan sih?” ujar Rangga lagi, dengan kikuk mengeluarkan mantau yang ia beli.

Ningsih menghela napas lagi, kali ini lebih panjang dibandingkan sebelumnya.

“Gue yah, kenapa sih cuma punya satu cowok yang bertahan di samping gue?”

“Gue maksud lu?”

“Siapa lagi?”

Rangga diam sejenak. Ia berusaha mengingat nama cowok di sekitar Ningsih, tapi iya, benar deng. Ga ada, kecuali dirinya.

“Kenapa sih, dari semua cowok yang ada, hanya lu yang bertahan? Kenapa bukan cowok idaman gue? Someone that I fall in love with, Nathan misalnya.” Ningsih, melankolis tapi sinis, rupanya masih dendam dengan kejadian di rumah Rangga.

Chapter Nathan belom kelar juga?” Rangga juga ga kalah nyinyir dalam mengomentari kegalauan Ningsih soal cowok yang pernah diusahakan masuk ke hidupnya itu, tapi lalu  mental dengan berbagai varian cara.

Ningsih merenggut tapi ga punya bahan untuk menangkis Rangga. Jadi, yang ia lakukan hanyalah melipat tangan dan memajukan bibirnya hingga monyong maksimal. Sebuah gestur yang selalu membuat Rangga terkekeh. Bukan karena Ningsih manis, tapi karena itu membuat Rangga makin ingin mem-bully-nya.

Just go and find a boyfriend already, you,” ujar Rangga, tahu kalimat itu akan membuat Ningsih membelalakkan matanya seperti akan meloncat keluar. Tapi memang itu tujuannya, untuk membuat Ningsih yang sudah jengkel semakin jengkel lagi.

“Lu sengaja ngomong itu kan? Kilat mata lu…”

Rangga menaikkan alisnya dengan senyum lebar. Mengiyakan.

“Rese.” Ningsih menaikkan tangannya seolah akan memukul Rangga yang tertawa. Secara aneh, ia jadi ikut tertawa juga.

Mereka berdua, seperti dua orang bodoh, tertawa terus menerus selama bermenit-menit tanpa tahu pasti hal lucu mana yang membuat mereka tertawa selama itu.

Cuaca hati Ningsih yang mendung sepanjang hari mulai menjadi lebih cerah.. Itu karena Rangga, anak cowok yang secara harafiah sudah ada di hidup Ningsih sejak lahir. Tapi kenapa Ningsih ga menyadarinya yah?

What can I do without you?” ujar Ningsih pada Rangga lugas, lebih terdengar seperti pernyataan dibanding pertanyaan.

“Maksud?” tanya Rangga, tertegun dengan senyum penuh syukur yang diberikan oleh Ningsih kepadanya.

“Iya, apa jadinya hidup gue tanpa lu yah? I think I’ll cry all day long just because I’m lonely,” ujar Ningsih lugas.

Rangga terdiam. Ia menatap Ningsih yang menoleh ke luar jendela tanpa mengedipkan matanya. Jantung Rangga berdebar seperti drum. Ia berusaha mengucapkan kalimat apa saja untuk mencairkan suasana yang mendadak jadi melankolis ini, tapi hanya geraman tertahan yang terdengar.

Rangga sedang menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya ketika mendadak Ningsih mencengkeram tangan Rangga dengan kuat.

Ningsih, dengan senyum sangat manis, menunjuk ke luar jendela.

“Itu teman lu bukan?” tanya Ningsih, dan energi Rangga langsung tersedot habis.

Di luar jendela, berdiri Stephen yang melambaikan tangannya pada Rangga dengan senyum 1000 megawatt-nya.

Jadi itu alasan kenapa Ningsih menatap ke luar jendela dengan mata berkaca-kaca?

******

Image taken from favim.com

3 thoughts on “[Jotir] Episode 4: Friendship (Nancy)

  1. Sebenarnya aku rada penasaran sama insiden fiksimini itu, Nathan ngomong apa ke Nancy sampe dia jadi kayak orang putus asa gitu. Deskripsi tentang Nathan yang lalu ngangkat alis terasa belum cukup buat aku. Tapi yah, memang tidak semua harus dijelaskan secara detail.

    Seperti biasa, kisah ini selalu punya sesuatu yang bisa bikin aku gemas. Why cant she just look at Rangga? Make him someone that she fall in love with. Kalo kata jomblo di sebelah *lirik Natnut*, yang dibutuhkan seorang jomblo adalah seseorang yang available hampir setiap saat buat kita. Itu udah Rangga banget. Tapi kayaknya buat dua orang ini, Cupid selalu salah dalam urusan mengarahkan panah cinta😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s