[Jotir] Episode 2: NatNutella (NatNut)


Glass Slipper

“Yang kiri itu pacar Dinda nomor tiga,” ujar Dinda sambil memainkan kepangannya dengan genit.

Natasha tersedak kelapa dan nyaris menjatuhkan ponsel mutakhir milik keponakannya yang masih kelas dua SD. PACAR? NOMOR TIGA?

“Emang pacar kamu berapa, Da?”

“Empat. Susah deh ngurusnya.”

Ladies, pernah merasa ditabok kingkong on a very perfect day? Natasha juga tidak pernah, tapi kalau itu mungkin terjadi, pasti begini rasanya.

Natasha belum pernah tertampar kenyataan separah ini. Dia bahkan kalah oleh keponakannya yang baru kelas dua SD. Bocah yang baru dua tahun lepas dari popok. Bocah itu punya empat pacar, bahkan masih cukup laku untuk menolak kedatangan yang kelima. Itu bocah yang bahkan belum punya dada. Sementara Natasha?

Natasha pernah pacaran, cuma sekali. It lasted for quite some time, sampai akhirnya ketidakcocokan yang menumpuk memisahkan. Tapi sejak itu… Kering. Sekering gurun Sahara di musim kemarau.

Jumlah pria yang mendekati Natasha selama dia empat tahun officially balik ke pasaran bisa dihitung dengan sebelah tangan. Yang pertama adalah playboy kelas kacang yang main tembak ke semua makhluk yang bisa pakai rok. Yang kedua cowok freak yang dikenal Natasha dari komunitas gamer milik temannya. Kenapa NatNut masukkan dia dalam kategori Freak? Belum apa-apa, isi chat-nya adalah:

RomeoIsAlive: Kenapa kamu tadi ga angkat telepon aku?

NatNut: Nomor lu yang mana? Lu tau nomor gue dari si Indra ya?

RomeoIsAlive: Kok kamu ga save nomor aku?

Natnut: Lah kita kan baru kenal kemarin. Lu tau dari Indra ya?

RomeoIsAlive: Kamu tega.

NatNut Has leave the chat.

Leave Group. Delete Contact. Everything else, blocked and unfollow.

Dan berakhirlah sejarah cowo yang berani mendekati NatNut. Selain dari dua itu, ga ada lagi. Nada. Nihil. Zero. Nein. Eopseo.

Selama ini, being jomblo itu baik-baik saja. Tapi memang, harus Natasha akui, ada harinya di mana dia getir (banget malah). Terutama di saat seperti malam ini. Malam minggu. Malam hang-out sementara Coco sibuk mengurus kafenya yang dipenuhi sejoli-sejoli dimabuk cinta dan Ningsih dilanda lembur. Being jomblo is fine, as long as your friends are jomblo and around.

Natasha duduk di pojok kursi tunggu bioskop. Dengan memeluk popcorn dan lemon tea. Porsi single tentunya.

Satu, dua, sepuluh, entah berapa belas… dan Natasha berhenti menghitung.

Entah sudah berapa pasang sejoli yang lewat dengan bergandeng-tangan, saling menatap penuh cinta, atau Public Display Affection yang nyaris membuat Natasha melempar popcorn-nya ke mereka.

Frankly speaking, tidak semuanya good-looking. Ada pasangan beauty-handsome. Beauty-handsome wallet, ugly face. Sampai ugly-ugly but definitely very happy. Lihat? Bahkan orang-orang seperti itu punya pasangan. Someway, somehow, they found each other!

Belum pulih kegetiran Natasha, mbak penjaga karcis malah menabur garam ke lukanya.

“Satu tiket?” tanya mbak penjaga karcis di depan pintu studio dengan lantang sambil menerima tiket Natasha.

Beberapa pasang kepala yang sedang mengantri masuk, ikut melongok ke arah Natasha. Natasha hanya mengangguk sambil menyeruput minumannya. Jujur agak malu.

“Jadi sendirian ya, Mbak? Row A16.” Lagi-lagi mbak penjaga karcis bicara dengan keras.

Iyaaah! Sendirian, single, jomblooo!

Saat duduk di bioskop dan terapit di antara pasangan-pasangan, dan lampu bioskop meredup, Natasha melihat bayangan couple-couple yang mulai merapat. Saling bersender, saling memeluk. Dan, seiring film berjalan, saat Natasha mulai kebelet pipis, dia terpaksa mengepak semua barang bawaannya dan ribet mencari karcis demi bisa masuk ke bioskop lagi. Itulah derita nonton sendiri.

Saat mengantri WC, karena bosan, Natasha mengirim pesan ke Coco dan Ningsih. Dia berharap pesan singkatnya bisa memancing joke yang akan menyelamatkan malam ini. Namun sampai Natasha keluar dari WC, kedua pesan itu masih belum dibaca.

Mau tidak mau, Natasha jadi teringat saat dia punya pacar.

Natasha tidak sadar betapa nyaman hidupnya dengan adanya pacar. Ada rasa aman. Perasaan itu, knowing that you are never alone.

Ada teman yang available nearly 24/7. Saat terbangun tengah malam dan mimpi buruk, Natasha tahu ada seseorang di ujung sana yang akan mengangkat teleponnya walau hanya untuk tertidur lagi dengan telepon masih menyala. Meninggalkan suara dengkuran yang terlalu manis untuk ditutup.

Walau tidak setiap saat, tapi pacarnya sigap membalas pesan-pesannya. Nyetirin mobil di hari hujan. Tiba-tiba muncul dengan kejutan. Surprise-surprise kecil yang menggetarkan hati dan mengingatkan Natasha bahwa dia masih wanita.

Harus diakui, walau mungkin banyak membawa masalah, pacar memang membawa kebahagiaan yang berbeda. Sepatu yang tidak bisa diisi oleh keberadaan teman.

Natasha membuka ponselnya, mencari tanda-tanda manusia lain yang merindukan keberadaannya. Chat, email, apa pun.

No New Chat.

No New Message.

Email: [Kuponku] Promo Coral Blue Restaurant 76% off.

Email: [GoAbroadNow] It’s time to volunteer, meet Children in Burma.

Email: [Samuel@debaranmedia.com] New Novel Assignment.

Natasha berhenti di nama Si Editor Setan. Bahkan di malam minggu begini, pesan yang dia dapat jika bukan email promo atau newsletter langganan, pasti isinya soal kerjaan.

Natasha tersenyum lemah dan melihat ke langit di atas. Tonight, she really can’t help feeling lonely.

Natasha ingat Coco yang kutu buku pernah membuat riset kecil-kecilan soal dongeng. Coco menarik kesimpulan bahwa semua putri itu punya satu kesamaan. The prince found them. Bahkan Ariel yang ada di dasar laut sekali pun, didatangi lebih dulu oleh pangeran yang tenggelam.

All… but one.

Cinderella.

Cinderella-lah yang berinisiatif dan mati-matian berusaha ke istana. Saking putus asanya sampai mengundang simpati tikus-tikus dan Ibu Peri. Dia yang berusaha setengah mati hingga pangeran menyadari adanya seorang Cinderella, jatuh hati, dan menyisir seluruh negeri walau hanya bermodalkan sebelah sepatu kaca milik gadis tanpa nama.

Dan sama seperti kegetiran yang tiba-tiba datang, sepercik harapan menetes di hati Natasha.

Selama ini Natasha sudah menanti empat tahun sampai rasanya sudah dililit sarang laba-laba. Tapi hasilnya, hanya bawahan kelas kodok yang menemukan dia. Lalu, kenapa tidak dia yang mencari pangerannya sendiri sekarang?

Yes, be a Cinderella.

 

@_NatNut If the Prince couldn’t find you, it’s time you find the Prince! #NatNutella

@MisshaBissha Emansipasi abis😉 RT@_NatNut If the Prince couldn’t find you, it’s time you find the Prince! #NatNutella

@BloBlaBlu Tasha?! What a surprise. Folbek and DM nomor kamu. RT @_NatNut If The Prince | via @MisshaBissha

Pagi itu, Natasha terbangun dengan darah mendesir naik ke otaknya. Hanya seseorang yang memanggilnya dengan nama “Tasha”.

Seseorang dari masa lalu.

Cinta pertamanya.

 

6 thoughts on “[Jotir] Episode 2: NatNutella (NatNut)

  1. Perasaan itu, knowing that you are never alone.

    Ada teman yang available nearly 24/7. Saat terbangun tengah malam dan mimpi buruk, Natasha tahu ada seseorang di ujung sana yang akan mengangkat teleponnya walau hanya untuk tertidur lagi dengan telepon masih menyala.

    ^ aw, aw, aw, dalem!
    I know this feeling, and I bet many girls out there used to experience this kind of thing.

    Suka! post yang sangat yummy, ditutup dengan ending yang bikin saya mau menarik buntut Dinosaurus kamu.

    MANA TERUSANNYA?

    • Mweheheh omi chann.
      Apakah itu hal telepon itu juga kamu rasakan dengan oppa? *kedip-kedip penuh makna.

      *tarik balik buntut dino gue
      *kemplang omi dengan sepakan buntut

      Terusannya….
      Bentar yah, Gue cari wangsit dulu dalam mimpi :”DD

      *loncat ke ranjang

  2. ada hikmahnya juga kok gak ada pacar yah setidaknya bisa hemat pulsa sedikit ckck…

    itu Natasha kenapa gak sekalian aja pasang iklan dikoran hehehe……

    jadi penasaran siapakah -nama- seseorang dari masa lalu natasha itu???
    hmmm… kayaknya dia spesial banget deh???

    nantikan jawabannya di episode berikutnya hehehe…..

    • “itu Natasha kenapa gak sekalian aja pasang iklan dikoran hehehe……” –> IYA JUGA! Ide bagus tuuuu *Senyum iblis kkkk…

      “nantikan jawabannya di episode berikutnya hehehe…..” –> Lalu kamera zoom out, layar freeze. *Sinetron banget.

      Hehehe.

      Thanks yaaaaa sudah mampir dan memberi komentar😉
      Jangan lupa baca kisah coco dan ningsih juga😉

  3. Setelah baca cerita ini, aku baru nyadar tentang fakta di dongeng-dongeng itu. Ternyata emansipasi udah ada dari zamannya Cinderella. Riset yang menarik sekali.

    Selama ini, being jomblo itu baik-baik saja. Tapi memang, harus Natasha akui, ada harinya di mana dia getir (banget malah). Terutama di saat seperti malam ini. Malam minggu. >> satu tanggapan buat paragraf ini: EHM!

    Tapi sebenernya ada hikmahnya juga Natnut selama ini single. Who knows mantan yang kembali menampakkan diri itu bisa jadi pacar pertama dan terakhirnya? Apalagi namanya BloBlaBlu. Mungkinkah Blo diambil dr kata jomblo? Kan bisa CLBK tuh😀

    • Dan again, komen darimu terlewatkan.
      Maafkan sayaaaaaa *lari nangis ke dapur.

      Eh… iya juga ya blo bisa nyambung dgn kaga jomblo.
      *jreeeng

      Ahahaha.
      Anyway, terima kasih sekali sudah mampir dan beri komen😉

      Yep.
      Sometimes it’s not about how many relationship you got.
      In the end, what matters, is the one that lasted.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s