[Jotir] Episode 3: The Date (Nancy)


Flower Mission

Biasanya, Nancy bakalan getir banget ketika adik sepupunya, si ABG yang dulu diemong sama dia, mulai nge-twit mesra di malam minggu a la ABG jaman sekarang. Isinya kurang lebih seperti ini:

“Siap-siap jalan sama si ayank @s4p1 Love you so much ♥”

Biasanya Nancy bakalan mengetik pesan dengan kecepatan yang kurang manusiawi pada sepupunya dengan satu kata sejuta makna.

“4L4Y.”

Lalu adik sepupunya akan membalas dengan kalem.

“Biarin, yang penting laku.”

Dan setelah itu Nancy akan melaporkan kepada sang tante kalau Chika, sepupunya itu, ganti pacar lagi. Adalah sebuah keajaiban Chika tidak pernah memblokir Nancy dari Twitter-nya.

Tapi, itu semua tinggal masa lalu. Kenangan! History! Karena malam ini, Nancy bakalan nge-date… sama Nathan

Muahahahahahahahahahahaha

Itu semua terjadi berkat reuni busuk minggu lalu, yang ternyata membawanya bertemu dengan Nathan, yang ternyata adalah teman mainnya Joshua, yang ternyata adalah anak pemilik venue tempat mereka reunian.

Aih. Ini kali yah yang namanya ternyata dunia hanya selebar daun kelor.

Tentu saja, Nancy tidak menyia-nyiakan kesempatan yang disodorkan padanya di atas nampan emas itu. Dengan keras ia berpikir untuk menyebutkan satu saja film cowok baru yang Natnut pernah sebutkan sebelum ia melepehkan pick up line paling standar sedunia.

“Lu udah nonton Looper belom?”

“Belum. Lu udah?”

“Belum juga. Gue ama Natnut mau nonton tuh minggu ini, mau bareng?”

“Oh, boleh.”

Dan Nancy langsung joget kuda di dalam kepalanya sambil berteriak, “Heeeey! Sekseh laydeeeeh!!!”

Mission one. Accomplished..

Yang tinggal Nancy lakukan sekarang adalah menghafal siapa pemerannya, dan tentang apa tuh film, plus baca review dari yang sudah nonton buat jaga-jaga kalo dia ga ngerti.

Juga memastikan Natnut ikut dalam rencananya. Itu… bisa diatur.

“Jadi itu alasan lu kesini pagi-pagi?!” Natnut, masih dengan piyama dinosaurusnya berdiri di ambang pintu kamarnya. Kejengkelannya tidak bisa disembunyikan. Kantung matanya menghitam seperti panda, yang berarti dia masih mengejar deadline dari Samuel si editor setan.

Pleaseeeeeeeeeeeeeeeee~~~♥”

“Emoh,” jawab Natnut pendek. Ia langsung menutup pintu kamarnya dengan cepat untuk segera kembali dalam pelukan hangat kasur dan selimut. Beneran deh, sepertinya ia harus pelihara anjing biar si Ningsih ga asal nyelonong ke kosannya seenak jidat seperti ini.

Tapi, Nancy tak kenal gentar. Percuma saja ia menjadi cucu kakeknya yang pejuang kemerdekaan kalau menghadapi pintu yang terbanting saja sudah mundur. Dengan penuh keberanian, hidungnya mendengus mengembang, mata Nancy pun berkilat penuh tekad. Ia mengedor pintu rumah Natnut seperti pemain drum barongsai.

“Natnut! Natnut! Natnut!”

Saat itu, Natnut rasanya ingin menendang Nancy ke alam baka.

“Lu mau apa? Gue beliin, gue cariin, gue lakuin! Seriusan!” teriak Nancy lagi dengan suara cemprengnya yang menggelegar.

Di balik pintu Natnut berhenti berjalan sejenak, tampak sangat tergoda.

Perlahan, ia membuka sedikit pintu kamarnya. Ia mengintip dari celah pintu untuk menatap ke dalam bola mata Nancy, membaca seberapa besar kesungguhan kata-kata yang diucapkan temannya itu.

Dari dalam diri Nancy terpancar ketulusan yang mendalam atas nama cinta.

Teryakinkan, Natnut membisikkan keinginan terdalamnya.

“Cariin cowok?”

“Gue geplak nih. Yang lain. Martabak?”

“Tambah susu kacang seteko.”

Deal.”

Dan dengan itu, Nancy berhasil memboyong Natnut ke dalam rencananya.

Peperangan pun siap dimulai.

Nancy dengan kemeja berwarna salem longgar dan hotpants biru dongker duduk manis di sofa café-nya Coco, sengaja memesan teh Grand Wedding biar terkesan elegan kalau Nathan nanya dia lagi minum apa.

Natnut sendiri sudah datang dan lagi asyik nangkring di counter bersama Coco sementara mereka menunggu Nathan tiba.

Nancy memang sengaja mengajak mereka dinner dulu di sini sebelum mulai nonton. Biar ga kaku gitu ceritanya. Takutnya habis nonton, Nathan berasa sudah selesai aja urusannya dengan Nancy dan langsung ngacir permisi.

Tidak lucu sama sekali kalau kejadiannya seperti itu.

Jadi, ini adalah rencana antisipasi Nancy untuk menjaga Nathan agar semalaman bersama-sama dengannya.

Kekeke… Nancy pintar kan?

Ia mengerling ke arah pintu dengan gugup. Belum ada tanda-tanda Nathan akan segera tiba. Nancy mengeluarkan cermin tangan berbentuk kucing hitam berpita merah, dan untuk kesekian kalinya memastikan bahwa make up-nya prima dan matanya kelihatan belo dengan garisan eyeliner tebal.

Mengedip centil pada bayangannya sendiri dengan berbagai pose dan berbagai sudut, Nancy hampir mati kaget ketika ia menurunkan cerminya dan Nathan sudah duduk manis di hadapannya.

Nathan menatap Nancy dengan heran. Nancy langsung buru-buru menyembunyikan cerminnya ke balik punggung.

“Hai,” sapa Nancy, tersenyum sangat manis dengan suara pelan yang, percayalah, sangat langka sekali terjadi apabila ia sedang bersama dengan Coco dan Natnut.

“Gue telat yah?” tanya Nathan.

Nancy buru-buru menggelengkan kepalanya. Biasanya dia akan langsung meng-high kick Rangga kalau sampai telat 10 menit saja. Tapi Nathan terlalu tampan untuk diapa-apakan, jadi Nancy hanya tersenyum saja.

“Mau pesan apa? Di sini teh dan spaghetti-nya enak banget lho,” kata Nancy membuka pembicaraan. Ia menyorongkan daftar menu pada Nathan.

“Ini café punya teman lu?” tanya Nathan sambil melambaikan tangannya pada Ayu, part timer café setelah ia memutuskan menu apa yang ingin ia pesan. Nancy salut sekali pada Nathan, ia benar-benar membaca daftar menu satu persatu dengan teliti. Pecinta buku memang beda yah. *heart*

“Mmm, itu yang lagi ngobrol sama Natnut,” tunjuk Nancy ke arah Coco. Coco tersenyum simpul pada Nathan ketika laki-laki itu menoleh ke arah mereka. Natnut juga melambaikan tangannya ke arah Nancy dan Nathan. Ia melanjutkan obrolannya sebentar dengan Coco sebelum nimbrung di meja mereka.

“Hola,” sapa Natnut santai.

“Nanti kita nonton yang jam berapa?” tanya Nathan.

Natnut melirik ke arah Nancy, karena jujur dia juga ga tahu jadwal nonton mereka. Semuanya di atur dan dibeli oleh Nancy sendiri dengan semangat membara.

“Yang jam 9, habis makan kita langsung ke bioskop,” jawab Nancy. “Ga masalah kan?”

“Ga sih. Gue jam berapa aja oke,” ujar Nathan. Ia lalu menyeruput teh darjeeling-nya dengan kalem.

Nancy rasanya mau meleleh menatap Nathan yang sikapnya tertata bak aristokrat di novel panas yang sering diterjemahkan Natnut.  *kipas-kipas*

Tapi ia harus tenang. Untuk mendapatkan Nathan, Nancy harus main cantik. Kuncinya adalah bersikap seperti seorang lady yang sepadan dengan Nathan, dan semuanya dimulai dengan percakapan yang penuh bibit, bebet, dan bobot.

“Ngomong-ngomong, lu udah pernah baca Four Past Midnight-nya Stephen King belum? Gue yah, gara-gara nge-search soal Looper, jadi ngidamnya baca buku tema time travel gitu,” ucap Nancy sesantai yang ia bisa, menyembunyikan pancingannya di balik senyum.

Natnut langsung menoleh ke arah Nancy dengan mata membelo, kaget dengan fakta bahwa Nancy bisa tahu soal Stephen King, bahkan sampai bisa menyebut judul buku yang pernah ditulis oleh penulis buku horor terkenal itu. Untuk ukuran anak yang sumber literaturnya hanya dari membaca komik saja, ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Mungkin ini nih yang namanya kekuatan penelitian atas nama cinta.

Kembali ke percakapan, Nathan memakan umpan Nancy dengan sangat baik. Ia mendongak dari ponselnya dan menatap Nancy dengan mata berbinar penuh minat.

“Belum. Lu udah?”

“Belum juga, makanya gue nanya. Kali aja lu punya. Kata Natnut lu  punya banyak banget koleksi buku,” jawab Nancy seolah-olah itu adalah rahasia umum kalau Nathan adalah kutu buku, dan bukan karena, well, Nancy mengorek informasi itu dari NatNut seperti pekerja tambang mencari berlian.

“Ga gitu banyak kok,” Nathan tersipu, terlihat bangga dengan ‘pujian’ Nancy soal dirinya yang seorang kolektor buku. Ia balik bertanya pada Nancy.

Pertanyaan tertarik pertama yang dilontarkan Nathan padanya.

“Lu suka baca juga?”

Secara harafiah, Natnut bisa melihat kilatan kemenangan di balik mata sipit Nancy.

Dengan nada merendah tapi tidak benar-benar membantah, Nancy menyibak tangannya seperti gerakan mengusir lalat.

“Ah, engga juga. Cuma sesekali saja kalau lagi bosan.”

Nathan menganggukkan kepalanya, menelan ucapan Nancy mentah-mentah. Lalu ia kembali bertanya lagi. Sepertinya ia hendak mencocokkan selera bukunya dengan Nancy.

“Terakhir baca buku apa?”

Nancy tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Dia sudah punya jawaban itu berminggu-minggu lalu, ketika ia pertama kali tahu siapa pengarang favoritnya si Nathan. Ia hanya pura-pura berpikir agar ‘akting’nya terlihat meyakinkan. Walaupun, yah, Natnut dan Coco pasti langsung tahu kalau ia sedang berusaha ngibul, Nancy selalu menggaruk dagunya, seperti saat ini.

Tapi itu cerita lain.

Nancy menatap Nathan dalam. Dengan sealami mungkin ia menjawab, “Anna Karenina-nya Tolstoy.”

Lalu seolah ada bunyi ‘klik’ kunci masuk ke dalam lubang kunci yang pas. Detik itu juga, pandangan mata Nathan ke Nancy langsung berubah, seperti baru saja menemukan respek jenis baru pada perempuan berambut hitam dicepol tinggi ke atas itu.

Sungguh, Nancy berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak “Banzai!” dan lari keliling lapangan tiga kali saat melihat respon Nathan..

Euforia membuncah di dalam kepalanya seperti kembang api yang siap meledak ke angkasa sana. Sulit rasanya untuk ia berpikir jernih dengan kemenangan di misi kedua ini (pembicaraan makan malam).

Tiba-tiba Nathan bertanya lagi untuk ketiga kalinya.

“Eh, ngomong-ngomong, lu ngikutin fiksimini ga?”

Caught off guard, Nancy dengan polosnya (dan kepala kosongnya) spontan menjawab, “Fixie mini? Sepeda Fixie maksud lu?”

Lalu hening.

“Errrr, itu akun Twitter buat penulis fiksi 140 karakter,” sela Natnut ragu. Ia tak tahu apakah ia seharusnya nimbrung atau tidak untuk mengkoreksi kesalahan ‘fatal’ Nancy.

Kemudian, semuanya kembali hening lagi.

Aih…

Mission… Failed?

4 thoughts on “[Jotir] Episode 3: The Date (Nancy)

  1. As always, cerita tentang kehidupan para jotir selalu bisa bikin aku ketawa. Udah keren-keren tuh pas bagian awal sampe menjelang akhir, eh tiba-tiba langsung berantakan gara-gara fiksimini.
    Awalnya ga ngerti joget kuda apaan, pas mikir2 lagi, aku baru sadar sindrom gangnam style juga udah nular ke Nancy😀

    Di cerita di atas, menurut aku, ada beberapa kata yang perlu dicetak miring tapi mungkin khilaf dari editan penulis. A la, kalau ditulis terpisah setahu aku jadi kalimat asing yang harus dicetak miring. Kecuali kalo dia disambung, baru deh boleh berdiri tegak tanpa diapa-apain(?)
    Make up bukannya biasa ditulis tanpa garis datar? Jd mestinya si garis datar dipake buat mengantarai make up dengan akhiran -nya. Spaghetti juga kayak gitu. Kalo kata aku sih itu harusnya dicetak miring. Dan ada beberapa kata lain yang kayak gitu.
    Maaf kalo aku cerewet trus salah pula. Hehehe, aku masih belajar🙂

    Dan btw, fiksimini itu 140 karakter, bukan 180. Batasan karater di twiiter kan cuma segitu.

    Dan btw (lagi), tolong sampein ke Nancy, dia ga akan cocok sama Nathan. Feeling aku bilang mending sama Rangga aja, krn berdasar seri jotir sebelumnya, Rangga itu mencurigakan #teamRangga

    Udah ah, kayaknya aku udah nyerocos kepanjangan. Ditunggu seri selanjutnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s