Seribu, dua ribu.

Semata, dua mata.

 

Kadang aku iri pada lampu merah. Tak peduli situasi di sekelilingnya, dia terus menyala. Mandiri, tak bergantung pada siapa-siapa.

Kupandangi kedua tanganku yang kecil.

Kotor.

Kukuku hitam dengan daki bercampur debu. Ini karena terlalu sering menyisir rambutku dengan jari.

Jujur, aku benci rambut panjang ini. Kusut, bercabang, tak terurus. Mungkin saja ada telur binatang di sana. Entahlah. Aku tak punya kemewahan untuk memilih di mana aku bisa tidur.

Buatku mandi itu musuh. Mana ada orang yang akan memberiku uang bila aku bersih?

Jangankan itu. Bila baju yang kupakai sedikit bagus, mereka mendengus.

Tidakkah mereka tahu ini pemberian dari orang lain yang naik mobil?

“Untukmu, walau bekas, namun masih layak pakai.” Si Dermawan menatapku sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Apakah itu ekspresi kasihan? Bila kasihan, mengapa tak kau singkirkan saja kantong baju tak berguna ini dan bawa aku pergi. Jadi pembantu pun aku tidak peduli. Setidaknya di rumahmu ada kasur dan makanan 3 kali sehari.

Rutinitas yang sama. Lampu merah yang sama. Mobil-mobil mewah yang sama. Hanya untuk ditolak dengan gerakan tangan yang sama.

Kibaskan tanganmu satu kali, aku melengos lalu mendekat.

Kibaskan sekali lagi, dan aku memasang tampang memelas dengan jari mengerucut.

“Om, tante, belum makan…”

Ini taruhannya. Dalam sepersekian detik, bila kau melirikku, aku menang. Bila tidak, maka saatnya mengalihkan harapan pada mobil di belakang.

Aku paling benci satu hal. Saat temanmu menghentikan tanganmu dari memberiku sedikit receh.

“Buat apa? Lu tau ‘kan duit yang lu kasih berakhir di tangan siapa?”

Dan hanya semudah itu, uang seribu berganti dengan kibasan tangan yang mengusirku pergi.

Hei kalian, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang tinggal di ibu kota. Turun dari tandu besi mewah kalian dan buka mata. Lihat kenyataan pahit yang terjadi di bawah jembatan-jembatan tempat kalian melintas sehari-hari.

Saat bulan menguasai kota dan jalanan menyepi, dan kalian tengah terlelap dalam pelukan kasur dan selimut nyaman, aku berdiri gemetar menunggu tangan-tangan kasar itu menghitung penghasilan hari ini.

“Delapan belas, sembilan… Belas?” Lalu gerakannya terhenti. Jari telunjuknya terangkat ke udara, menuntut uang yang tidak ada di sana.

Hening.

Aku memaksa diriku menatap matanya. Berharap dia bisa melihat sinar kejujuran di sana. Sungguh, Bang, hanya itu. Mereka tidak peduli. Karena mereka tahu uang ini akan berakhir di tangan siapa.

“Oh, ya? Bagaimana kalau kita beri sedikit alasan agar mereka peduli?” Ucapnya dengan seringai sinis. “Untuk meminta-minta, kau tidak butuh dua mata.”

Kilatan pisau itu lagi. Kemarin meleset, tapi pasti tidak hari ini.

 

***

 

Mereka bilang ada lalat di sini.

Di mana?

Aku tidak merasakannya.

Orang lain menyembunyikannya, aku memperlihatkannya dengan terbuka.

Ayo, ayo, datang ke sini. Semakin banyak yang lihat, semakin baik.

“Kasihan om… Tante… Aku mau obatin mata ini.”

Kini setidaknya bangun pagi sudah tidak sesulit dulu. Abang tidak pernah marah lagi dan aku bisa makan dua kali sehari.

Aku hanya berharap, pria busuk ini tidak serakah, dan suatu hari bertanya-tanya berapa banyak lagi yang bisa kita dapat jika aku juga tidak punya kaki.

 

Hei, kau yang masih punya dua mata,

lihat, lihat, lihat.

Jangan kau pikir kau tahu segalanya.

 

Sepuluh detikmu, seumur hariku.

Gerakkan tanganmu untuk ganti tanganku.

Berikan uangmu untuk ganti mataku.

4 thoughts on “

  1. Kata apa yang harus aku pakai untuk mengomentari tulisan ini? Rasanya seperti memaksa kita untuk menoleh, melihat apa yang selama ini terabaikan oleh mata dan hati kita. Ironis sekali bagaimana sepasang mata bisa dianggap nyaris tidak berharga hingga dirusak begitu saja demi beberapa lembar uang ribuan.

    Well, sepertinya penggigit bintang satu ini juga mampu menggigit hati pembaca dengan tulisannya. Good job!🙂

    • Hehehehe setuju🙂 StellaRa yg selalu ngaku berdarah keju, kali ini ngeluarin karya yg spicy abis. Ini isu yg menurut aku emang bikin hati nyeeesss gitu.

      Me lovey! Sejak baca pertama kali sblm diedit sampe skrg, me loveeeyyy~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s