[She Says] Episode 25: Some Nights


So if by the time the bar closes
And you feel like falling down
I’ll carry you home tonight

 

We Are Young — fun.

 

Hill St, Singapore

00.15 AM

 

“Yakin lo kita masih bisa masuk Zirca jam segini?”  tanya Tejas, mengamati sahabat jaman SMP-nya itu dengan tatapan sangsi.  Ia melirik pergelangan tangannya untuk mengecek waktu, tapi kemudian ia teringat bahwa tali jamnya putus minggu lalu ketika pasiennya yang histeris mendadak merenggut pergelangan tangannya.  Usut punya usut, pasien itu dikirim ke rumah sakit oleh orangtuanya setelah ketahuan sedang sakaw berat di atap rumah keluarganya.  Gimana ceritanya seseorang yang lagi sakaw berat bisa berakhir di genteng adalah sebuah misteri besar yang sampai sekarang masih menimbulkan berbagai spekulasi konyol di antara kolega Tejas.

Apaan itu di pergelangan tangan lo?” Taya balik bertanya sambil menyipitkan mata, memusatkan pandangannya pada pergelangan tangan Tejas yang setengah tertutupi oleh kemeja abu-abu yang dikenakannya bersama jins biru gelap.  Sejak tadi, Taya banyak menangkap pandangan-pandangan orang terarah pada mereka diiringi senyum-senyum jenaka.  Mengingat hari itu Taya mengenakan wrap dress yang sewarna dengan kemeja Tejas, ia yakin orang-orang yang melihat mereka mengira mereka adalah pasangan.

“Sini gue lihat.”  Taya menghampiri Tejas, yang pada saat itu sedang menyalakan rokoknya.  Ia meraih tangan Tejas agar ia bisa melihat dengan lebih jelas pergelangan tangannya, namun frozen margarita serta banana daiquiry yang tadi ditenggaknya membuat pandangannya sedikit mengabur sehingga tanpa sengaja jari-jarinya malah mengenai bara api dari lighter milik Tejas.

“Aw…!”  Taya meringis kesakitan seraya menggoyangkan-goyangkan jari-jarinya yang barusan terbakar.

“Woy, nggak papa lo?”  Tejas meraih pergelangan tangan Taya dan mengamati jari-jari sahabatnya itu dengan seksama.  Keningnya berkerut saat ia mengangkat wajahnya dan menatap Taya dengan cemas.  “Udah gue bilang jangan minum banyak-banyak.  Elo kena alkohol dikit aja udah teler berat gitu.”  Lalu, sebelum Taya sempat membantahnya, Tejas menggenggam jari-jari Taya yang barusan terbakar dan mengecupnya secara bergantian dengan sangat hati-hati.  Sentuhan bibir Tejas terasa ringan dan lembut; seperti kapas yang dilemparkan ke udara.  Kecupannya itu tidak berlangsung lama — kurang dari satu menit, malah — namun efek yang dihasilkannya pada Taya membuat kedua lututnya mendadak terasa lemas.

“Dulu waktu gue kecil, cici gue suka nyium kening gue tiap gue jatoh.  Sampai akhirnya gue lupa deh sama sakitnya,” cerita Tejas seraya memain-mainkan jari Taya dengan jari-jarinya.  Seulas senyum boyish yang menunjukkan gigi gingsulnya muncul di sudut bibirnya, membuat Taya seketika terbawa kembali pada masa-masa mereka duduk bersebelahan jaman SMP dulu.  

Taya terhenyak halus.  I’ve tried, I keep on trying hard and I’m still half as liked.  But Tejas… he likes me for who I am.  He always does.  He was my only friend back then, one who understood the reason why I hated being paraded around like a horse.  One who understood why it was so important for me to step out from the bubble created by mother so that I could complete myself.  

Ia teringat akan salah satu dari sekian banyak percakapan mereka dulu.  “Trust me, as you get to know me, I just get weirder.”

Tejas menanggapi perkataannya itu dengan tawa ringan.  “We’re all a little weird. And life is weird. And when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall into mutually satisfying weirdness—and call it love—true love.”

Taya melongo kaget.  Gila juga ini orang.  Baru kenal beberapa jam ngegombalnya udah pol abis gini.  Namun sebelum kecurigaannya itu bertambah besar, Tejas meneruskan perkataannya.

“Itu quote dari Robert Fulghum,” katanya sambil cengengesan polos.  “Tenang aja, gue tahu diri, kok.  Gue tahu gue nggak pantes ngegombalin lo.  Tapi gue juga tahu kalau lo butuh seorang teman yang bisa dengerin cerita lo.  And I could be that person.  I am more than qualified, you know.

“I know,” balas Taya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.  Tejas selalu berhasil membuatnya terkejut, meskipun ia sudah begitu lama mengenalnya.  Ia yakin tidak banyak orang yang tahu kalau di belakang gayanya yang cool cenderung slengean itu, Tejas adalah seorang penggemar berat Greek Mythology.  Dan pasti nggak banyak yang menyangka kalau sebenarnya Tejas punya cita-cita mulia untuk membangun kembali rumah keluarganya yang hancur saat kerusuhan Mei 1998 lalu.  Tejas is actually a bigger enigma than everyone could ever guess.

Here we are now, pikir Taya sambil melirik Tejas yang sedang berjalan santai di sampingnya menuju Zirca.  We’re just two people who wanna be friends but sometimes attracted to each other.

Tejas diam-diam memutar kepalanya ke arah Taya, menahan decak kagum yang nyaris meluncur dari bibirnya.  Seperti yang telah dijanjikan olehnya, mereka bisa mendapatkan free pass Zirca dengan mudahnya karena kebetulan Taya kenal dengan siapalah itu kerabat yang punya Zirca.  Dia bilang, itu cowok sempat ngejar-ngejar dia waktu Taya pertama pindah ke Singapura.

“Trus nggak lo jadiin?” tanya Tejas, setengah berteriak untuk mengatasi bisingnya musik yang berkumandang.  Di bawah tata cahaya yang mutakhir, wajah Taya kelihatan seperti pahatan Dewi Yunani kuno.  Elegan, angkuh, dan tidak tersentuh.  Damn, bayangkan betapa banyak pria yang saat ini rela bertukar posisi dengannya.  Ketika mereka pertama kali duduk bersebelahan kemarin, Tejas harus berkali-kali mengedarkan pandangannya agar Taya tidak sampai menangkap betapa gugupnya ia.  Bayangkan, setelah empat belas tahun lamanya terpisahkan, tiba-tiba saja serangkaian kejadian membawa garis hidup mereka menjadi satu dan mempertemukan mereka!  Kali ini Tejas berniat untuk tidak melepaskan tatapannya sekali pun dari sahabatnya itu.  Siapa yang tahu kapan lagi ia bisa bertemu dengannya?

Taya menggeleng singkat tanpa menjelaskan alasannya.  “Udah ah, ngomong melulu.  Yuk, dance sama gue!”

*

 

Robertson Walk, Singapore

04.35 AM

 

“Gilaaa… Cosmo-nya nendang abis…. eehh… ih apaan sih lo?  Turunin gue, Jas!  Gue masih bisa jalan.”

Tejas berdecak tanpa menuruti permintaan Taya.  Dengan mengatakan kalau dirinya itu masih bisa berjalan sendiri sudah menjadi bukti betapa mabuknya ia.  Sejak kapan ya Taya mulai suka minum begini?  Mendadak, Tejas merasa prihatin campur khawatir. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan cowok sialan yang tega menjadikan Taya selingkuhannya?  

“Lo sejak kapan sih mulai suka minum?” tanya Tejas.  Di punggungnya, Taya akhirnya berhenti berontak.  Ia menyandarkan kepalanya di bahu kiri Tejas, dan sekali-sekali napasnya yang hangat menerpa pipi Tejas.  

“It’s the only way I know.”

“The only way for what?”

“To forget my pain.”

Kening Tejas berkerut.  Ya ampun, itu alasan klise banget, sih.  Hanya orang-orang lemah yang nggak tahan sama rasa sakit yang menggunakan alasan semacam itu, dan Tejas tahu bahwa Taya tidak selemah itu.  Perjalanan hidupnya yang tidak mudah itu tidak mungkin membuat ia mudah terjatuh seperti ini.  

“My father used to drink himself into oblivion before he died,” gumam Taya, setengah tidak sadar.  Dari situlah gue mulai berpikir kalau itu adalah satu-satunya jalan tercepat untuk melupakan sakit gue.  It used to work for him, after all.

Tejas terhenyak kaget.  Ia tidak menyangka Taya akan membuka dirinya seperti itu.  Mungkin memang benar, di bawah pengaruh alkohol, seseorang lebih mudah mengutarakan apa yang ada dalam hatinya.  “You’re way too young and too pretty to be this sad, Tay.”

Taya mendengus, lalu ia tergelak sendiri.  “Tejas, elo baik banget sih.  Pacar lo pasti bahagia banget punya elo.”

“Hahahaa, gue nggak punya pacar, Tay.”

“Apa? Ih, nggak mungkin, ah!”  Tiba-tiba, Taya melompat turun dari punggung Tejas dan menghalaunya.  Dengan sedikit limbung, ia menengadah dan meletakkan kedua belah telapak tangannya di sisi wajah Tejas, mempertemukan mata mereka.  “Elo kenapa bisa jomblo?”

Tejas tertawa gugup.  Memang sih dia jomblo bukan karena dia dengan naifnya berharap suatu hari dia akan dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya.  Tapi, kini setelah berdiri di hadapan cinta pertamanya, ia jadi kesulitan mengingat mengapa ia masih jomblo.  Aduh, kok jadi susah nginget alasannya, sih?  Jangan norak, ah!  Kok jadi grogi begini?

Tiba-tiba saja, tetesan air turun menimpa puncak kepala Tejas.  Ia menengadah tepat ketika hujan mulai menderas, dalam seketika membuat keduanya menjadi basah kuyup.

“Hujaaaan…!”  Taya berseru kaget.

Tanpa berpikir panjang, Tejas meraih tubuh sahabatnya itu dan menggendongnya kembali sebelum ia mulai berlari mencari tempat berteduh.  Napasnya putus-putus ketika akhirnya mereka tiba di sebuah halte bus.  Ia menurunkan tubuh Taya, mendudukkan sahabatnya itu, lalu memandang berkeliling sambil berharap taksi akan lewat.  Tiba-tiba, ia merasakan Taya meraih tangannya.  Ketika ia memutar tubuhnya, Taya sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.  Ada begitu banyak emosi yang berkecamuk dalam bola mata cokelat kehijauan itu.  Untuk pertama kalinya, Tejas bisa melihat bahwa yang membuat perempuan ini istimewa bukanlah kecantikan fisiknya, namun kompleksitas yang melekat jauh di permukaan kulitnya.  Ia berteriak untuk dimengerti, namun dunia di sekelilingnya terlalu sibuk untuk bisa mendengarkan jeritan hatinya.  Ia bergerak namun ia juga diam di tempat, berharap akhirnya akan ada seseorang yang menghampirinya dan bertanya apakah ia baik-baik saja.

So delicate and beautiful, ready to break.

Perlahan-lahan, Taya bangkit berdiri dan bergerak mendekat.  Layaknya dua kutub magnet yang berlawan, mereka tidak bisa melawan daya tarik yang begitu kuat di antara mereka.  Tejas meletakkan tangannya di sisi wajah Taya, dan Taya menyandarkan wajahnya pada tangan Tejas, seolah-olah memercayakan dirinya sepenuhnya pada Tejas.  

Siapa yang menyangka, apa yang terjadi selanjutnya malah menghancurkan kepercayaan Taya pada Tejas.

*

 

Empat bulan kemudian….

 

Tokyo Bay, Japan

19.25 PM

 

Semuanya terjadi dengan begitu cepat.  Beberapa detik yang lalu, gue masih berada di atas sepeda yang gue ambil paksa dari Kaminari-san, meneriakkan sumimasen pada siapapun yang menghalangi jalan gue.  Gue harus bergerak.  Gue harus terus bergerak sebelum gue meledak.  Rasa yang membuncah dalam hati gue ini nyaris membuat gue gila.  Gue bisa merasakan tusukan rasa sakit itu dengan begitu jelas.  Apakah suatu hari nanti gue akan bisa melupakan rasa sakit ini?  Apakah suatu saat nanti gue akan bisa sembuh?

You okay?”  Seorang pemuda berpakaian formal bergerak mendekat setelah ia meminta orang-orang yang mengelilingi gue agar memberi ruang untuk gue.

Siapa dia?  Kenapa gue bisa berada di sini?  Apa yang telah terjadi?

Namun sebelum gue bisa mendapatkan jawaban atas serentetan pertanyaan yang memenuhi kepala gue, kegelapan mulai turun dan dalam sekejap menyelimuti gue, menarik gue ke alam bawah sadar gue.

10 thoughts on “[She Says] Episode 25: Some Nights

  1. Om nom nom nom noooom!
    I am sooo gonna comment this kuot after kuottt! *jari menggelegak krn hepi banget baca tulisan buaguusssss*

    “Tejas menggenggam jari-jari Taya yang barusan terbakar dan mengecupnya secara bergantian dengan sangat hati-hati. ” –> TEJAS! *sodorkan tangan juga minta dikecup :”>* Beli di mana sihhh satu yang kaya kamuuu~

    “. “We’re all a little weird. And life is weird. And when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall into mutually satisfying weirdness—and call it love—true love.” –> Awwwww! *mengaduk jiwa jomblo getir, sodorin natnut buat baca ini* LOL.

    “You’re way too young and too pretty to be this sad, Tay.” –> Buener Tay! beneeeer ngaca kamuuu, sadaaar *celupin taya di bak mandi terdekat*

    “Ia berteriak untuk dimengerti, namun dunia di sekelilingnya terlalu sibuk untuk bisa mendengarkan jeritan hatinya. Ia bergerak namun ia juga diam di tempat, berharap akhirnya akan ada seseorang yang menghampirinya dan bertanya apakah ia baik-baik saja.” –> dan gue baca ini, terhenyak dalam lamunan. Rasanya I can really see Taya from Tejas’s eyes. I can hear that sound of rain, in the middle of the night, di halte kosong. Cuma mereka :”) *aaaw*

    Good joob om nom… me likey bery bery muchaaas *ayunkan buntut dino*

  2. Dinooo ~
    Maaf ya Bite, pos pertama ancur abis spasinya. Ga tau kenapa tuh, padahal waktu dipos sih ga berantakan gitu *tendang WordPress*

    Jejingkrakan sendiri abis baca komen kamuu !!!!!! *jatuh menimpa korban terdekat*
    Makasih banyak🙂
    Tunggu episode berikutnya ya, soon!

  3. Yah, kuot-nya udah diambil semua sama Kak Stella — 3 — *colek pinggangnya Kak Stella* bagi-bagi duoooong!

    Oke, emmmh, mungkin sebagai Team si Bos-tiang-listrik (Eaaaaah~!) saya membaca ini tidak sampai jerat-jerit. Hahahaha. *Diarak tim Tejas* But, I really like every moment, saya bisa merasakan Tejas yang begitu adore sama Taya, bagaimana perasaan Tejas, bagaimana cinta Tejas, bagaimana dia berusaha menjadi satu-satunya cowok yang “ada” untuk Taya. Yah…meski ending-nya pun Taya malah menyalahkan Tejas atas apa yang terjadi. Padahal itu kesalahan mereka berdua.

    Juga nih, saya suka, penggambaran untuk flash back itu pake sudut pandang orang ke tiga. Jadi kerasa bedanya ^^

    HA! Kiminari-san!? Hontou ni? Saya sambil mengerjap dua kali pada bagian terakhir, hahahaha. Ternyata perjalanan kakak ke Jepang sedikit banyak di bawa ke tulisan Kakak. Can’t wait for another moment Taya with anak brondong yang kakak kenal di Jepang itu. Hahahaha.

    Terima kasih banyak!😀

  4. Tejas meletakkan tangannya di sisi wajah Taya, dan Taya menyandarkan wajahnya pada tangan Tejas, seolah-olah memercayakan dirinya sepenuhnya pada Tejas >> sukaaaa banget sama adegan ini. Baca ini sukses bikin aku senyum-senyum ga jelas di angkot. Ya ampun Tejas, how could you be so unyu?

    Taya kenapa bisa ada di Jepang? Terakhir aku baca dia masih di Spore, masih dengan status selingkuhan, masih cewe yang jatuh cinta sama bosnya, dan masih lupa sama detail kejadian ‘malam itu’ sama Tejas.

    Dan siapakah pemuda berpakaian formal itu?

    • Hai kamu yang lagi senyum-senyum di angkot ;D

      Hihihi… terima kasih sudah menyimak kisah kasih cinta Taya, untuk alasan mengapa dia ada di Jepang dan siapakah pemuda berpakaian formal itu… tunggu episode selanjutnya, ya *tahan mulut supaya ga bocorin spoiler*

  5. Selalu suka sm setiap moment taya & tejas .. Too much sweet …🙂 .. Walaupun kali ini moment.a mlah membuat taya & Tejas makin jauuuh .. Uuuu T.T …
    Taya di Jepang … Wwaaah
    Yaach d tunggy next chapter …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s