[Jotir] Episode 2: Si Mantan (Nancy)


Kalian tahu apa yang paling menyebalkan buat seorang jotir?

Itu adalah ketika sang mantan yang sudah berbahagia dengan pacar terbarunya, nge-BBM dan bertanya, “Hai, apa kabarnya? Udah punya cowok belum?”

It really pisses Nancy royally, you &*^%&^*&!!! Go to &&^^% and &^%$###@%&!!!!!!!

Tarik napas, hembuskan.

Tetap tidak berpengaruh. Nancy masih emosi jiwa.

“Kenapa lu?” Natnut mendongak dari spaghetti carbonara-nya dengan bingung. Mata bulatnya yang seperti boneka melebar, kontras sekali dengan mata segaris tipis milik Nancy.

“Lu masih ingat Andre?” tanya Nancy berapi-api.

Natnut mengerutkan alis, tampak berpikir keras, lalu melirik ke arah Coco untuk minta petuah. Dari balik meja kasir, Coco membuka tutup mulutnya seperti ikan mas koki, berusaha memberi jawaban tanpa menarik perhatian pelanggan cafe lainnya. Sore ini lumayan sepi soalnya, dan suara sepelan apapun akan terdengar.

“Man-tan es-em-a, ah… mantan SMA lu yang selingkuh sama adik kelas lu itu?” kata Natnut sembari mengeja petunjuk dari gerakan mulut Coco.

Nancy mendengus dengan mata sipit yang semakin menyipit.

“Aaargh! Beteee!” Nancy membekap kepalanya dengan kedua tangan dan mulai histeris, sama sekali tidak peduli dengan berpasang-pasang mata yang menoleh ke arahnya dengan penuh rasa ingin tahu. Coco dan Natnut langsung meringis, agak malu.

“Dia ngontek lu lagi gara-gara reunian?” tanya Natnut.

Nancy menganggukkan kepalanya, nelangsa.

“Aaa… Gue ga mau ke sana sendirian,” rengek Nancy, pura-pura tersedu-sedu.

Lebih baik dia lompat ke kolam kecoa dibandingkan menghadapi tatapan simpatik dari Andre. Apalagi kalau cowok itu sampai ngebawa pacarnya yang dulunya adalah selingkuhan Andre dulu waktu mereka pacaran.

Gaaaaaaaaah!

“Lu ajak aja si Nathan, satu batu dua burung,” usul Natnut dengan kalemnya, seperti biasa memberikan solusi paling logis yang entah bagaimana, meskipun ada benarnya, selalu membuat Nancy mengernyit dengan mulut terpelintir penuh keraguan–seperti saat ini.

“Eee… engga deh. Mau ngajak dia ngobrol aja sulit, apalagi ini?”

“Kalau Rangga?” Kali ini si Coco yang mengusulkan, ikutan nimbrung sambil menyuguhkan teh lavender hangat untuk menenangkan Nancy, dan segelas es lemon tea untuk Natnut.

Nancy langsung menggelengkan kepalanya sambil menyilangkan kedua tangannya. Mereka kan satu sekolah, teman main Nancy dulu ya teman mainnya Rangga juga. Pasti langsung ketahuan bohongnya.

“Kalo engga, cari pacar gih sana. Emergency boyfriend gitu ceritanya,” usul Natnut yang langsung disambut dengan tatapan sinis sipit Nancy (dan juga diam-diam di belakang, Coco ikut menyipit sinis).

“Lu kata gampang? Kalo iya, gue udah ga pusing gini kayaknya.”

Natnut mencomot Pocky yang tersaji dengan acuh tak acuh. Ia menaikkan bahunya.

“Sewa pacar bohongan kan bisa.”

Nancy dan Coco langsung membelalak dengan ekspresi bodoh.

“Emang bisa?” (Nancy)

“Kenapa engga?” (Natnut)

“Lu tahu tempatnya?” (Nancy)

“Google?” (Natnut)

Dan dengan satu kata itu, Nancy bersama Coco, langsung mengetik di browser smartphone dengan ganas.

Ternyata ada…

Oh-Em-Ji.

Nancy melongo, Coco lebih melongo lagi.

“I… ini, bagaimana, kok bisa, sejak kapan ada service beginian?” Coco yang konservatif mulai gelagapan sementara Nancy mulai meng-scroll untuk membaca judul-judul situs satu persatu dengan penuh konsentrasi.

Ning, eh, salah… Nancy terus memelototi layar ponselnya seperti remaja cowok yang lagi nonton bokep, sementara Coco terlihat seperti remaja cewek yang habis nonton film horor.

“Lu! Ningsih! Jangan bilang lu beneran pengen pake tuh jasa?” tanya Coco, cemas.

Untuk semenit yang terasa seperti selamanya, Nancy tidak menjawab.

Coco sudah ngeri sengeri-ngerinya kalau Nancy bakalan benar-benar menyewa cowok yang entah dari mana asalnya untuk menjadi pacar sehari. Anak itu terkadang bisa sangat ceroboh, si Ningsih itu.

“Gilingan!” seru Nancy, akhirnya bersuara juga. Ia menekan tombol keluar dari browser dan dengan terburu-buru meletakan ponselnya dengan bunyi berkeletak kencang.

Coco dan Natnut menatap Nancy penuh tanya, tidak mengerti arti sepenggal kata dari Nancy yang tidak memberi petunjuk sama sekali.

“Maksud lu?”

“Ini, pacar sewaan. Engga lah, sedih banget idup gue kalo sampai harus ngeluarin duit buat ginian,” Nancy menggelengkan kepalanya cepat dengan wajah sepat. Ia meneguk minumannya dengan penuh tekad… yang hanya bertahan tak sampai semenit.

Ketika BBM dari Andre masuk lagi, dan dengan disertai emoticon😉 yang bilang kalau ia akan pergi dengan pacarnya, si adik kelas ‘tersayang’, Nancy meledak.

Mungkin cowok berkulit cokelat eksotis itu tidak bermaksud apapun dengan pemberitahuan itu, tapi bagi jomblo getir yang makin getir setelah mendapat BBM dari mantan pacar, isi pesan dari Andre terdengar sangat menghina di telinga Nancy. Pesan itu, kalau pakai istilah di novel-novel romantis, sangat melukai harga diri Nancy.

Screw that,” Nancy langsung menekan tombol history dari browser-nya untuk kembali membuka daftar pencarian pacar sewaan tadi. Ia meng-scroll dengan mata berapi-api dan tanpa pikir panjang membuka situs dengan judul paling meyakinkan yang ia temukan.

Pokoknya, Nancy harus bawa cowok ke reunian nanti. Kalau bisa yang tampangnya mirip Lee Minho.

“Lu ngapain?” tepukan halus di pundak mengejutkan Nancy yang baru saja mau registrasi. Di belakangnya, berdiri Rangga yang menenteng dua ice cappuccino dengan laptop terkepit di ketiak.

“Hai, Rangga,” sapa Coco dan Natnut serempak, membuat Rangga tersenyum kikuk. Ia mengangkat tangan untuk menyapa mereka berdua dengan tangannya yang kosong.

“Lu juga ikut reunian?” tanya Natnut pada Rangga, tanpa kalimat pembukaan basa-basi seperti “apa kabar” dan “sedang apa di sini”.

Rangga menganggukkan kepalanya.

“Pergi sama Risa?” giliran Coco yang bertanya.

Rangga menggelengkan kepalanya.

“Engga. Risa lagi tugas ke Bogor, jadi gue pergi sendiri,” jawab Rangga lirih, tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya.

Nancy mendesah panjang. Ia menatap Rangga lama sebelum kembali menghela napas panjang kembali.

Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja dan untuk ketiga kalinya, kembali mendesah panjang. Tingkahnya itu mengundang tanya lagi dari ketiga temannya untuk alasan yang berbeda. Rangga bingung dengan helaan berkali-kalinya dan Natnut+Coco dengan batal atau jadinya rencana menyewa pacar bohongan.

“Sepertinya gue harus perawatan habis-habisan nih biar Andre ngiler nyesal udah ninggalin gue,” ujar Nancy, sama sekali tidak memberikan penjelasan apapun kepada siapapun di meja itu.

“Gue rasa, gue ga akan mati kalau datang ke reunian sendirian,” lanjutnya lagi dengan penuh ketabahan dan penerimaan nasib.

Ga akan mati… atau iya?

Karena, setelah akhirnya ia datang ke reunian, Nancy menarik semua kata-kata terakhirnya. Ia, kalau bisa, mau mengubur dirinya sendiri hidup-hidup dan mati detik itu juga. Detik ketika Andre, dengan tangan tergandeng, bertanya dengan alis menyerong turun penuh simpatik bertanya, “Koq lu sendirian, cowok lu mana?”

Nightmare.

“Gue…” otak Nancy langsung berputar keras memikirkan alasan yang paling tepat dan masuk akal.

Antara jawaban “belum ingin pacaran” dengan “sibuk sama karir”, mana yang paling bisa menyelamatkan harga dirinya?

Pilih, Nancy! Pilih!!!

Aaarrrgh! Harusnya ia kemarin beneran menyewa pacar saja.

Sebodo amat dengan Rangga dan mulut usilnya. Lebih baik ia berpura-pura punya pacar dan dihina Rangga selama setahun karena ketahuan berbohong dibandingkan harus menghadapi ini semua sendirian.

Tidak ada hikmahnya mempertahankan kejujuran kalau gengsinya harus hancur seperti ini.

Screw you, Truth.

And where the heck is Rangga?! Ngambil minuman aja koq lama banget.

“Lho, Nancy?”

Lalu, seperti sebuah mujizat yang biasanya hanya terjadi di film-film, tiba-tiba saja hadir sepasang mata gelap besar yang menatapnya dengan alis terangkat kaget.

Nancy, untuk beberapa detik yang panjang, hanya bisa diam terpukau (plus hampir ngiler) melihat laki-laki yang berdiri di dekatnya dengan kemeja putih bermotif garis biru kecil, dikeluarkan dari jeans hitamnya.

“Na-Nathan?”

3 thoughts on “[Jotir] Episode 2: Si Mantan (Nancy)

  1. Kalo ga salah ingat, Nathan itu cowok yang lagi di-PDKT-in sama Nancy di episode sebelumnya, kan? Huwaaa…. Nathan datang di waktu yang bener2 tepat. Selamatkan harga diri Nancy!!! \(^^)/

    Well, jujur kalo aku lebih nge-ship Nancy sama Rangga. Mereka berdua kayaknya cocok jadi couple.

    Oia, penulisan koq, setahu aku lazimnya pake k bukan q. Apa emang disengaja ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s