[Jotir] Episode 1: Sunset Romance (NatNut)


Image

Mentari sore perlahan turun mendekati garis pantai. Sinar jingga membanjiri air laut dengan semburat kemuning yang membuai. Sesosok gadis berlari, dengan linangan air mata yang disembunyikannya dengan susah payah. Di belakangnya, seorang pria mengejar dengan jantung berdebar-debar.

Pria itu tahu jika salah paham ini tidak diselesaikan sekarang, dia harus membayarnya dengan penyesalan seumur hidup.

“Tunggu,” ucap George sembari menarik tangan sang gadis.

Gadis itu berbalik dengan pipi yang sudah basah oleh air mata. Tatapan gadis itu merindu namun berbalut perih, dan kerapuhan itu menghancurkan logika George.

Refleks, George langsung merenggut sang gadis ke pelukannya, menekan kepalanya yang lembut ke dadanya yang bidang. Gadis itu pun meronta.

“Lepaskan,” ujar sang gadis sembari terisak-isak.

Saat itu George tahu, bukan kata-kata yang bisa menenangkan si gadis.

Dengan satu tarikan nafas, bibir George mencium bibir gadis itu. Rasa asin air mata sang gadis menyebar di lidahnya. Pagutan George semakin dalam. Seiring tiap pergerakan, panas tubuh mereka semakin memuncak. Tangan George mengelus menuruni rambut sang gadis, lalu turun ke punggung, lalu semakin turun. George pun menyelipkan tangannya ke…

PRANG!

“PANAAAS!!!”

Coco membeku dalam posisi berdiri dan kedua tangan menutup mata. Gelas pesanan meja nomor dua yang tadi dibawanya kini tinggal kenangan, dan Natasha rasanya mau mati. Ini kali yang namanya nyaris botak gara-gara kopi.

“Ini mah!–” Ucapan Coco terhenti. Dia melihat sekeliling dengan waspada, lalu berbisik lantang di kuping Natasha, “Ini mah pornooohhh!!”

Natasha langsung mencengkeram moncong Coco dengan geram dan menjauhkan nafas panas Coco dari telinganya.

“Ini namanya novel de-wa-sa! Lagian siapa yang suruh lu ngintip-ngintip kerjaan gue, hah, Anak Kecil?!”omelnya gemas.

“Namanya juga penasaran…”

“Tapi enggak sambil bawa-bawa kopi panas! Kerjaan gue ini not for the faint-hearted!” cerocos Natasha kesal sambil mengusap-usap kepala dengan es yang diraupnya dari gelas es teh manis. Urusan disemutin itu belakangan.

“Astaga! Kopi!” Coco langsung berjalan cepat ke meja nomor dua dan berkata dengan suara super manis, “Maaf, tadi tangan saya tergelincir, hohoho. Saya buatkan lagi pesanan Anda. Segera jadiii~”

Natasha terdiam dan menatap Coco dengan tatapan ilfil. Oh, well, Coco memang mudah teralihkan. Natasha memutuskan untuk melanjutkan kerjanya. Dia memutar kepalanya dengan cepat ke arah laptop, dan nyaris mati untuk kali kedua.

Jantung Natasha bagai loncat naik ke tenggorokan dan kembali ke posisi semula. Nancy terduduk di depan laptopnya dengan mata melotot bagai Sadako, melahap dengan rakus setiap kalimat yang tidak berani dilihat Coco.

“Bisa pendek umur gue kalau sering-sering bikin kerjaan di cafe. Woy, inget-inget ngedip!” Natasha menoyor Nancy, menarik jiwa Nancy balik ke Bumi.

“Habis kata ‘direbahkan’ apa lanjutannya? Mana copy bahasa Inggrisnya? Manaaa?” tuntut Nancy dengan gaya ibu-ibu minta jatah uang belanja ke suami.

Natasha langsung menutup laptopnya dengan gerakan menampar. “Nih barang, ada amannya dijauhin dari lu-lu pada, hai jomblo-jomblo getir. Yang satu terlalu polos, yang satu terlalu nafsu.” Natasha menjejalkan laptopnya dengan gemas ke ransel biru tosca polcadot putih.

Kerjaan Natasha memang agak enggak lazim. Freelance translator novel-novel romance dewasa. Seperti kerjaan kebanyakan, awalnya hanya iseng, tapi malah berlanjut sampai lulus kuliah dan jadi kerjaan tetap. Dulu sih, reaksinya mirip Coco. Satu tangan menutup sebelah mata dan satu tangan lagi mengetik kalimat penuh gairah dengan bergetar. Tapi sekarang, dirinya sudah mati rasa.

“Hhh… seandainya jatuh cinta gampang kayak di novel ya.” Nancy bertopang dagu dan menusuk-nusuk roti panggangnya.

Dalam hati, Natasha mengiyakan. Mana mungkin orang bisa saling suka hanya bermodalkan saling menatap? Tapi itu kemungkinan jatuh cinta yang paling sering terjadi di novel-novel terjemahannya. Lirikan pertama, jantung sang pria berhenti. Lirikan kedua, jantung sang wanita berhenti. Lirikan ketiga, Coco berhenti, mata sipit Nancy melotot sebesar yang ia bisa, dan Natasha menatap dua sahabatnya dengan ilfil.

“Kalau aja jatuh cinta segampang film India,” ujar Coco sekembalinya dari menyeduh kopi.

Yeah, maka seluruh dunia akan penuh dengan puser bergoyang dan pohon kelapa tumbang. Tapi, yang pasti puser gue gak ikut-ikutan,” ujar Natasha sambil merinding membayangkan itu terjadi.

Kemudian hening.

Ketiga wanita getir itu menatap ke luar jendela dan mulai sirik pada Marni, si anjing tetangga yang hamil lagi entah dengan anjing jantan mana. Andai Marni bisa ngomong dan membagi rahasia kesuksesannya menggaet pasangan demi pasangan walau udah punya anak delapan.

“Kayanya pergi liburan itu ide yang bagus juga ya buat cari-cari romansa. Liat tuh si Marni, tiap gue denger dia hilang berhari-hari, balik-balik uda berisi,” komentar ngaco Coco.

“Liburan? Hey, actually gue baru aja dapat undangan nikah temen SMA gue di Bali. Denger-denger sih, some old high school mates akan dateng juga. Apa gue… ke sana aja?” Natasha mengangkat sebelah alisnya.

“NIKAHAN? DATENG! Itu salah satu tempat terbaik buat cari jodoh! Di Bali pula. Ohh… Sunset romance.” Nancy terlarut dalam bayangannya, dan memeluk diri sendiri dengan erat. Me-nye-dih-kan.

“Kerjaan lu gimana? Bukannya ada deadline?” Coco menunjuk laptop di tas Natasha.

Actually, kalau gue itung-itung, gue masih punya spare beberapa hari santai. Gue uda sempet kebut pas di awal.”

“Nikahannya kapan?”

“Sekitar minggu depan.”

“Gue ngantor dan Coco ga mungkin mau ninggalin cafe pas weekend. Lu go solo deh. Inget ya, selalu incer dulu bestman-nya. Biasanya bestman itu jomblo.” Nancy menggoyangkan jari telunjuknya dengan wajah ahli.

“Hihihi, gue kok jadi excited ya? Ah… sunset romance… sambil peluk-peluk bestman bertubuh sixpack yang bertelanjang dada. Hihi.” Coco mulai ketularan otak ngeres Nancy.

“Yeah, sunset romance…” Dan bestman sixpack? Not a bad choice, really. Sambung Natasha dalam hati sambil mengangguk-angguk dengan senyum dikulum kecil.

Saat mereka bertiga larut dalam bayangan masing-masing, smartphone Natasha tiba-tiba berbunyi. Ketiganya langsung terdiam. Bahkan Coco dan Nancy sudah sangat kenal bunyi itu. Bunyi yang khusus di-assign Natasha untuk email dari editor setan.

Oh, no. Jangan buka sekarang deh, firasat gue buruk.” Coco menggeleng kencang.

“Mending buka sekarang, dari pada lu pingsan sendiri pas di kamar nanti malam,” ujar Nancy.

Yeah, great suggestion. Pegangin gue, Ning. Co, siap-siap telepon ambulans.”

Email From: Samuel@DebaranMedia.com

Hi, rencana penerbitan mendadak dimajukan. Deadline maju jadi akhir bulan ini. Jika kamu sudah selesai menerjemahkan sampai halaman 50, boleh kirim ke saya untuk saya cicil edit.

Thanks.

Kekejaman itu ada batasnya, tapi si editor Setan ini jelas tidak kenal batas itu. Natasha melihat kalender dan langsung melorot di kursinya. Akhir bulan tinggal 10 hari lagi dan masih ada 83 halaman penuh adegan dewasa yang menanti.

Selamat tinggal sunset di Bali dan bestman sixpack yang tidak akan pernah Natasha temui.

***

@_NatNut *makan beling* @_DeCoco @fancy_nancy RT #NoMention My, my, look at tht body. 1 of the BEST bestman everrr!!!

@_NatNut Dear Novel Characters. Sick of 135 pages full of ur kissing, fighting, make-up, kissing, and fighting again. *siram kopi ke kepala*

 

 

Photo Courtesy: http://iwillbethehopeful.wordpress.com/author/aaronsaurusrex/

8 thoughts on “[Jotir] Episode 1: Sunset Romance (NatNut)

  1. Pertama-tama aku mau bilang, aku suka foto yang dijadiin poster buat cerita ini. Dari foto itu aja aku udah bisa ngebayangin sore yang romantis di pinggir pantai bareng someone special.

    Seperti biasa, cerita tentang 3 jotir ini selalu bisa bikin aku ketawa. Adegan ketumpahan kopi jadi juara buat cerita ini. Sumpah, tuh orang bertiga kalo ada di dunia nyata pasti bakal bikin heboh di mana-mana.
    Tapi sayang bgt tuh rencana sunset romance-nya mesti gagal gara2 kejar deadline. Yeah, sometimes deadline can make us feel like one step closer to death.

    Di awal cerita (yang bagian translate-an novel) ada inkonsistensi buat nyebut gadisnya. Kebanyakan kan pake ‘sang’, tapi ada tuh satu yang keselip pake ‘si’. Ga apa2 sih sebenernya, tp menurut aku bakal lebih baik kalo seragam mau pake Sang atau Si.
    Ada juga penulisan ‘bali’ di tengah2 cerita, B-nya lupa dipakein huruf kapital.

    “Mending buka sekarang, dari pada lu pingsan sendiri pas di kamar nanti malam,” ujar Bianca.
    Who’s Bianca?
    Yang aku tahu tokoh utama cerita ini cuma Coco, Nancy, sama Natasha.
    Apa mungkin Bianca itu cameo? Hehehe😀

    • Kyaaaa! *peluk dan cium terima kasih*
      ah saya memang butuh pembaca yang jeli
      *senyum bahagia tabur bungaaa*

      hehehe
      Iya ini ditulis jam 3 pagi dengan ngantuk2.
      Gina yang bantu edit pun lagi terhimpit proyek kiri-kanan.

      Thanks sekali.
      Yang Bianca benar-benar lolos dari editan :”D
      Itu Nancy maksudnya.

      Segera saya benarkan ^^
      Dan untuk yang konsistensi, yup saya setuju, juga akan di edit.

      Thanks so much ya Aya^^

  2. ya ampun….saking getirnya sampe iri dan mencari ilham dari anjing *facepalm*…..adegan ketumpahan kopi yang paling kocak di cerita ini :D:D

    • Hehe Tataaa. Akhirnya saya melihat sosokmu😉

      Tata si donat :”3
      Makasiiii buat komennya.
      Bantu doakan yak biar ga writer’s block di edisi selanjutnya. LOL~

      As gina said.
      Gue… writers block.
      Di kalimat kedua. *jgeeer*

  3. Makasih buat postingnya yang lucu dan menghibur. Kegetiran itu kalau diolah dengan baik dan benar pada temperatur yang cukup bisa menjadi bahan tertawaan yang menyenangkan.

    Ayo, Natnut! Jangan kalah sama anjing tetangga!

  4. Pingback: [Jotir] Prolog « Gadis Penjaja Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s