[She Says] Episode 24: Use Somebody


Well, some nights, I wish that this all would end
Cause I could use some friends for a change
And some nights, I’m scared you’ll forget me again
Some nights, I always win, I always win…

But I still wake up, I still see your ghost
Oh Lord, I’m still not sure what I stand for, oh
What do I stand for? What do I stand for?
Most nights, I don’t know… (come on)

So this is it? I sold my soul for this?

Some Nights  — Fun.

 

“Infusnya sudah terpasang.  Sekarang tinggal kasih dia Nexium aja buat lambungnya.”

“Baik, Dok.”

Satu bulan.  Satu bulan telah berlalu semenjak terakhir kali gue melihat Taya, dan anxiety disorder gue masih juga belum mereda.  Gue sering tiba-tiba kebangun saat gue lagi tidur, merasa nggak tenang dan hampa, takut akan kehilangan sesuatu yang berarti dalam hidup gue.  Tapi apa?

Ah, kalau gue ini orang awam yang nggak tahu apa-apa tentang dunia kedokteran, mungkin gue udah lari ke psikolog detik ini juga.

Entah kenapa, gue merasa… there’s more reason as to why I’m suffered from this anxiety disorder.  I just can’t really grasp what it is exactly. 

“Tidur aja dulu sebentar, Dok.  Mumpung IGD lagi sepi,” saran Nora, salah satu perawat yang malam itu bertugas bareng gue di IGD.

Gue mengangguk sekilas dan beranjak menuju ruangan gue sambil membaca file salah satu pasien gawat titipan teman gue yang hari itu lagi off.  Kaget juga sih gue mendengar Nora tiba-tiba menyarankan gue untuk rehat bentar, mengingat biasanya dia jarang banget ngobrol sama gue.  Gue dan Nora memang nggak terlalu akrab, kalau dibandingkan dengan perawat-perawat lain yang bekerja bareng gue.  Nora itu perawat paling muda dan paling menjanjikan yang pernah gue temui, tapi jujur, kemampuan bersosialisasinya parah banget.  Orangnya jarang banget senyum dan irit banget ngomong.  Gue tahu dia nggak bermaksud buat terlihat galak dan menyebalkan, tapi itulah image yang melekat pada dirinya karena dia sepertinya nggak pernah berusaha untuk bersosialisasi dengan siapapun.  Bahkan nggak jarang pasien pun mengeluh soal attitude-nya itu.  Memang sih, beberapa pasien sering punya permintaan yang nggak masuk akal.  Tapi di rumah sakit, pasien itu ibaratnya raja.  Kita harus bisa memenuhi kebutuhan mereka sampai akhirnya mereka sembuh seperti sedia kala.

Pernah, gue diceritain sama salah satu perawat gue bahwa ada seorang pasien yang minta Nora untuk membacakan dia buku.  Dan respon Nora waktu itu kontan membuat dia jadi bahan omongan satu rumah sakit.  Katanya, Nora langsung berkata pada pasien itu kalau dia itu seorang perawat, bukan baby sitter.  Membacakan buku untuk pasien tidak tercatat sebagai salah satu tugasnya sebagai seorang perawat.  Untunglah itu pasien nggak sampai ngadu sama pihak manajemen rumah sakit.  Karena kalau iya, Nora nggak mungkin masih bisa bekerja bareng gue sekarang.

Baru saja gue menutup pintu ruangan gue, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari luar.  Gue membatalkan niat gue buat tidur dan kembali melangkah ke luar ruangan gue untuk mengecek apa yang sedang terjadi.  Yang pertama kali gue lihat adalah Nora, berdiri di depan seorang pemuda berkulit gelap dengan wajah ditekuk.  Dari ekspresi penuh penyesalan yang tertera di wajah itu cowok, gue menduga bahwa cowok itu punya hubungan khusus dengan Nora.  Beberapa orang perawat dan dokter yang bertugas malam itu mengamati drama di antara keduanya dalam diam, mata mereka membelalak lebar.  Mau nggak mau gue jadi penasaran akan apa yang sedang berlangsung.  Gue melangkah menghampiri kerumunan kecil yang sedang memandangi Nora dan cowok itu dari kejauhan sambil bertanya pada salah satu teman gue tentang apa yang barusan terjadi.

“Oh, itu kayaknya tunangan si Nora, deh.”

“Tunangan?  Oh ya?”

“Iye.  Kayaknya dia ketangkep selingkuh atau apalah, dan dia lagi berusaha buat minta maaf sama Nora.  Gila ya, ganteng juga kagak.  Masih berani selingkuh, pula,” komentar teman gue itu dengan berapi-api.

“Hahaha… kok jadi lo yang panas?”

“Nora, tolong jangan begitu dong sama aku,” kata cowok itu dengan lantang.  Tiba-tiba saja dia bertekuk lutut di hadapan Nora, mengundang desahan terkejut dari para penonton yang sedari tadi dengan nggak tahu malunya menyimak pertengkaran mereka.

I’m not exactly proud to admit that I am one of them, but actually watching them is much better than trying to fall asleep only to have my anxiety disorder kicks in and wake me up, drowning in my own pool of cold sweat.

Nora mengentakkan kaki dengan wajah merah padam — entah karena marah atau karena malu menjadi tontonan gratis dadakan.  Ia lalu meraih tangan cowok itu, memaksanya untuk bangkit berdiri, dan menyeretnya menjauh hingga keduanya menghilang dari pandangan.  Beberapa orang yang sedari tadi menonton menghela napas kecewa dengan nggak tahu dirinya sebelum kembali pada kerjaannya masing-masing.

“Bersambung,” kata gue, mengundang tawa geli dari teman-teman gue.

“Kamu mah gila, Jas,” kata Kak Siska, salah satu perawat yang paling tua.  “Mentang-mentang banyak fans, kamu enteng aja becandain mereka.”

Gue membalas ucapan setengah menyindir dari Kak Siska itu dengan senyum setengah hati.  Memang benar kata orang, yang terlihat dari luar memang seringkali lebih indah daripada apa yang sebenarnya berlangsung di dalam.  Makanya Kak Siska bisa dengan enteng menarik kesimpulan tentang gue.

Gue tercenung selama beberapa saat. Perkataan Kak Siska barusan itu membuat gue teringat akan kali terakhir gue melihat Taya.  Gue tahu dia marah sama gue, dan mungkin dia memang berhak untuk marah sama gue.  But no matter how mad she is, she always has a way of looking at me, at you, at anybody, that makes everything unravel and wants to fall at her feet.  

Ketika dia membantu gue untuk berdiri setelah sebelumnya gue tumbang karena dihajar cowoknya, gue nggak bisa menahan diri gue untuk nggak menanyakan sesuatu yang telah lama berputar-putar dalam kepala gue.  Pertanyaan yang tolol sih sebetulnya, dan gue seharusnya udah tahu jawabannya.

But still…

Are you still mad at me?”

Taya terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan yang gue berikan padanya.  Melihat kabut yang muncul di bola mata cokelat-kehijauan itu, gue menduga Taya sedang menimbang jawabannya dengan sangat hati-hati.  “No,” jawabnya akhirnya.

Gue nyaris tersedak saking kagetnya.  Itu bukanlah jawaban yang gue kira akan terlontar darinya selama ini.  “Are you sure?”

Untuk pertama kalinya malam itu, Taya menatap manik mata gue lekat-lekat, membuat gue mendadak sulit bernapas.  “I was never really mad at you.”

Apa?  Lagi, gue nggak menyangka dia akan mengatakan itu pada gue.  Gue kira, selama ini dia nggak bakalan keberatan kalau ada orang yang nyantet gue saking bencinya dia sama gue.

Honestly, I was confused when seeing how mad Taya  was the morning after we slept together.  Gue beneran nggak mengerti kenapa dia marah.  Did she have no recollections of what happened the night before?  How we danced in the rain… how I carried her all the way back to her apartment… how we sang together loudly like two drunken captains… how she tiptoed in front of her door to give me a sweet good night kiss on my lips… 

What were you, then?” tanya gue akhirnya.

Taya menjawab pertanyaan gue itu dengan satu kata yang diucapkannya dengan kedalaman emosi yang seketika menghancurkan gue hingga berkeping-keping.

Hurt,” jawabnya lirih.

Hurt?  Karena gue?  Gue, seseorang yang mengklaim bahwa selama ini Taya tak pernah lenyap dari benak gue.  Gue, seseorang yang yakin bahwa sampai kapanpun Taya selalu memiliki sebuah ruang khusus di dalam hati gue.  Jika memang Taya memiliki arti yang begitu besar buat gue, kenapa gue masih punya kapasitas untuk menyakitinya sebegitu parahnya?

Gue menghela napas panjang, mengusir kenangan menyakitkan itu dari kepala gue.  Akhirnya, gue ke luar untuk cari angin sejenak daripada memaksakan diri untuk tidur.  Percuma.  Gue tahu gue hanya akan terbangun lagi nantinya, merasa tersesat dan kehilangan.

Ketika gue baru menyalakan rokok gue, tiba-tiba seseorang berdehem, membuat gue menolah dan menemukan Nora berdiri tak jauh dari tempat gue berdiri.  Matanya sembab, dan hidungnya merah.  Sepertinya dia habis menangis.

“Punya ekstra, Dok?” tanyanya, menunjuk rokok di tangan gue.

Gue mengangguk, dan mengulurkan kotak Marlboro Menthol gue ke arah Nora.  Dia mengambil sebatang, dan gue mengulurkan lighter untuk menyalakan rokoknya.  Nora menggumamkan terima kasihnya, lalu mulai menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Uhuk!  Huk!”

Gue melirik Nora sekilas.  “Pertama kali?”

Nora menggeleng.  “Saya cuma ngerokok kalau saya lagi stress, Dok.  Terakhir ngerokok setahun yang lalu.”

“Oh.”  Haruskah gue tanya apakah sekarang ini dia baik-baik saja?

“Dokter tahu nggak sih bahayanya ngerokok?” tanya Nora tiba-tiba.

Gue menjawab pertanyaan itu dengan tawa pendek.  Gue yakin Nora sebetulnya tahu jawaban atas pertanyaannya barusan; she’s a nurse.  

You see, you can always alternate beer with soda, oranges, or even oatmeal.  The cigarette stays, though.  And the problems too.

Nora ketawa garing sebelum gue sempat menjawab.  “Maaf, jelas Dokter tahu.”  Ia terdiam sejenak sambil menghembuskan asap rokoknya.  Lalu, dengan ragu-ragu, dia berkata, “Saya cuma perlu teman ngobrol aja, Dok.”

“Oh.”  Lagi, gue nggak bisa memikirkan respon lain selain ‘oh’.  Apakah ini berarti dia pengen gue jadi teman ngobrol dia?

Biasanya gue nggak pernah kesulitan untuk membuka percakapan dengan siapapun.  Tapi dengan Nora, gue nggak yakin harus ngomong apa, mengingat ini orang juteknya nggak kira-kira.  Dua tahun lebih gue bekerja bareng Nora, dan selama itu, nggak pernah sekali pun dia bicara dengan gue selain tentang kondisi para pasien.  Lalu tiba-tiba saja, malam ini, dia menghampiri gue dan mengajak gue ngobrol.   Malam yang aneh.  Gue jadi ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nora dan cowok barusan itu.

“Menurut Dokter, kenapa sih kebahagiaan itu sulit banget buat didapatkan?”

Gue tertawa pelan.  Begitu banyak manusia di dunia ini yang mengira bahwa kebahagiaan itu sesuatu yang begitu sulit untuk diperoleh.  Padahal, menurut gue sendiri, jawabannya sederhana aja.  “Karena kita kesulitan untuk melepaskan hal-hal yang membuat kita nggak bahagia.”

Nora menoleh dan menatap gue lekat-lekat.  “Masa?  Bukan karena kita merasa kita nggak cukup memiliki sesuatu untuk membuat kita bahagia, ya?”

“Nah, itu.  Gimana kamu bisa bahagia kalau kamu terus-menerus menggantungkan kebahagiaan kamu pada sesuatu yang nggak kamu miliki?  Padahal, belum tentu ketika akhirnya sesuatu itu jadi milik kamu, kamu bakal bahagia.  Happiness is a state of mind.  Ngapain kamu bebanin diri kamu sendiri dengan hal-hal yang bikin kamu nggak bahagia?” kata gue.  Pada saat bersamaan, senyuman Taya ketika pertama kali gue dan dia berhasil bolos sekolah melintas di kepala gue.  Making her smile is probably one of the best feeling.  Dan kalau itu berarti gue harus melepaskan dia supaya dia bahagia, gue rela.  Karena bila melepaskan dia berarti membahagiakan dia, berarti itu akan membahagiakan gue juga.

Hanya saja, mengapa hingga sekarang masih ada rasa hampa yang mengisi rongga hati gue?   Apakah ini berarti bahwa melepaskan Taya sebenarnya tidak lantas membuatnya bahagia?

We convince ourselves that we know the other person well, but do we really know anything important about anyone?

The other night, you wouldn’t believe the dream I just had about you and me
I called you up, but we’d both agree
It’s for the best you didn’t listen
It’s for the best we get our distance… oh…
It’s for the best you didn’t listen
It’s for the best we get our distance… oh…”

Nora sontak melirik gue dengan mata membelalak lebar.  Mulutnya terbuka sedikit, dan ia kelihatan syok gila mendengar gue mendadak nyanyi kayak barusan.  Gue tergelak melihat ekspresi syoknya itu.  Bukan, bukan karena dia terlihat lucu atau apa.  Tapi karena inilah pertama kalinya Nora menunjukkan emosinya di hadapan gue. Lalu, tiba-tiba saja Nora meledak tertawa.  Tawanya begitu keras hingga badannya berguncang-guncang dan matanya berair.

What’s so funny?

Nora menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan gue.  Ia masih terus tergelak, kali ini sambil memegangi perutnya.  Nggak pernah  terlintas di kepala gue kalau Nora bisa ketawa sekencang ini.  Gue kira orang se-uptight dia nggak bisa senyum lama-lama, apalagi ketawa.  Lama-kelamaan, gue jadi ikutan ketawa.  Mungkin memang benar ya, yang namanya tawa itu menular.  Gue nggak nyangka seorang Nora bisa bikin gue tertawa, but it feels good, hingga akhirnya gue biarkan diri gue diselimuti dengan tawa kita berdua.

3 thoughts on “[She Says] Episode 24: Use Somebody

  1. WAT?!!?!nooooooooo…no no no nooooooo….jgn bilang nanti tejas jadi sama nora..noooooooooo…hikz…tejaaaaaasss..huaaaaa…

    *lebay ah*
    Tpi bener..jgn sampeee jadiny sama nora..hik..klo taya ga mau..buat gue ajaa…lol..

  2. Halo, Tejas… *lambai2 pake sapu tangan*

    Akhirnya Tejas muncul lagi. Dan sementara Taya masih dilanda kebimbangan di Singapur sana, Tejas sama Nora (sepertinya) sedang memulai hubungan yang akan berlanjut dan bikin cerita cinta segibanyak ini jadi makin complicated.

    “Apakah ini berarti bahwa melepaskan Taya sebenarnya tidak lantas membuatnya bahagia?”
    Bener, Jas… Jangan lepasin Taya. Jangan aja deh, pokoknya. Jangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s