[She Says] Episode 23: Bimbang


Never underestimate the power of guilt.  It compels people to some pretty remarkable places.

— Revenge

*

“Ini Rania, Le.  Bukan Taya.”

Refleks, kelopak mata gue yang tadi terasa luar biasa berat membuka lebar.  Dalam hati, gue merutuki diri gue karena telah membiarkan emosi gue menyelubungi otak gue sedemikian pekatnya hingga gue sampai nggak bisa berpikir dengan jernih.

This is almost as bad as calling the wrong name during sex.

Kok bisa sih gue sampai salah sebut nama seperti itu?

Tentu saja tidak butuh seorang profesor untuk menjawab pertanyaan itu.  Jawabannya sangat sederhana: karena gue benar-benar takut kehilangan Taya.  Setelah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada seseorang yang rela melakukan apa saja untuknya, gue semakin takut gue akan kehilangan dia.  Waktu yang gue miliki dengannya kini seolah bisa dihitung dengan jari.  Gue tinggal menunggu hingga akhirnya seseorang datang dan merebut Taya dari gue selama-lamanya.  You see, men are jealous, fallible creature.  We look into our hearts and that’s what we see.

Ya, ya, spare me your lecture.  Gue tahu bahwa apa yang gue lakukan ini egois; gue tidak ingin memilih antara Rania dan Taya, karena dua-duanya merupakan elemen yang penting dalam hidup gue.  Sebagian orang mungkin kesulitan untuk memercayai bahwa seseorang bisa memiliki ruang untuk mencintai dua orang pada waktu yang bersamaan.  For those men outside there, I bet most of you are quite familiar with my situation.  Of course, it is obvious that I am more drawn to Taya than Rania.  I stay with Rania because I somehow feel guilty of what I have taken from her life: Naya.  But with Taya… it is a totally different story.

She is everything and more.  She is from another dimension, beautiful, sensuous, and so full of life.  She makes me feel as though everything is possible.  Life has no boundaries whenever she’s with me.

Apa yang harus gue lakukan?  Sepertinya apapun itu yang gue lakukan hanya akan membuat seseorang terluka.

“Barusan aku manggil kamu apa?” Akhirnya gue berlagak pura-pura bego, karena hanya itulah satu-satunya remedy yang terlintas di kepala gue.

“Nggak, barusan kamu manggil aku Taya,” jawab Rania, nadanya ringan.  Seulas senyum muncul di wajah ayunya, dan gue langsung makin merasa bersalah melihat Rania bahkan tidak marah setelah gue salah memanggil namanya barusan.

Mau rasanya gue tampol kepala gue sendiri.  What is wrong with me?  Di depan gue, berdiri seorang perempuan berhati emas yang selalu menerima gue apa adanya, bahkan setelah gue membuatnya kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.  Dia bahkan masih bisa menemukan cinta di lubuk hatinya untuk gue.  Why can’t I do the same to her?

Gue berusaha mengingat-ingat masa dimana hanya ada gue dan Rania.  Masa dimana gue belum bertemu dengan Taya.  Bersama dengan Rania selalu terasa mudah.  Mungkin karena gue sudah mengenal dia selama bertahun-tahun.  Hubungan kami mengalir dengan natural.  Baik gue maupun Rania tidak pernah harus berusaha keras untuk bisa bersama dengan satu sama lain.  Namun, gue selalu merasakan ada sebuah kepingan yang hilang.  I love her, but not in a way a man loves a woman.  Gue tidak bisa membantah bahwa rasa sayang gue pada Rania berakar dari rasa bersalah gue.  Gue menyayanginya karena gue tahu penderitaan yang harus ia lewati.  Gue menyayanginya karena gue dan dia sama-sama kehilangan seseorang yang sangat kami sayangi.  Mau tidak mau, gue harus mengakui bahwa hal itu membuat bayangan Naya terus-menerus menghantui kami.  Bayangannya menjadi semacam pihak ketiga, yang membuat gue ragu untuk mencintai Rania dengan sepenuh hati.  Gue terus-menerus membandingkan diri gue pada Naya, dan pada akhirnya — dikarenakan oleh rasa bersalah gue — gue selalu merasa tidak berhak untuk mencintai Rania seperti Naya mencintainya.

Gue sempat mengutarakan keraguan gue untuk menikahi Rania beberapa bulan lalu pada nyokap gue.  Gue tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Rania, tapi gue juga tidak yakin gue bisa menikahinya saat gue hanya separuh hati mencintainya.

Nyokap gue menjawab keraguan gue itu dengan sebuah peribahasa Jawa kuno yang sangat terkenal: witing trisna jalaran saka kulina (cinta datang karena terbiasa bersama-sama).

“Kamu hanya harus berusaha sedikit lebih keras,” kata nyokap gue.  ”Jangan biarkan rasa bersalahmu memengaruhi perasaanmu pada Rania.  Dari yang Mama lihat, kalian berdua sangat nyaman dengan keberadaan satu sama lain.  Tunggu apalagi.”

“Kamu pasti capek banget deh, Le,” kata Rania, memutuskan lamunan gue.  Ia melingkarkan lengannya di lengan gue, membimbing gue keluar dari loteng.  ”Rebahan dulu, gih.  Nanti aku bawain makan malam.”

Kebaikan Rania selalu membuat gue tak mampu berkata-kata.  Kenapa dia begitu baik pada gue?  Tak tahukah dia bahwa gue tidak pantas diperlakukan sebaik ini olehnya?  Gue merasa semakin bersalah ketika tatapan Rania bertemu dengan tatapan gue.  Di matanya tidak terpancar kemarahan ataupun kekecewaan.  Malah, tatapannya terlihat teduh oleh pengertian.  Sama sekali tidak ada tatapan menghakimi setelah apa yang gue lakukan padanya barusan.

Gue teringat akan permintaan nyokap gue sebelum beliau meninggal.  Beliau sangat ingin melihat gue dan Rania naik pelaminan.

“Mama sudah menganggap Rania itu seperti anak sendiri,” kata beliau untuk yang kesekian kalinya.  Gue mengerti kenapa nyokap gue begitu menyayangi Rania.  Kenapa tidak?  Dia begitu sempurna.

Gue menyesal karena tidak sempat mengabulkan permintaan nyokap gue selagi beliau masih hidup.  Keraguan gue telah membuat gue gagal memberikan sesuatu yang sangat diinginkannya.  Kini, setelah beliau tiada, gue tidak ingin mengecewakannya lebih jauh.  Gue ingin membuat nyokap gue tersenyum di alam sana, walaupun gue tidak akan bisa melihat senyumannya.

“Nya…”

Rania memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan gue.  Ia tersenyum seraya menatap gue dengan pandangan bertanya.  Terdapat dua lingkaran gelap di bawah matanya, dan pada saat itulah gue menyadari bahwa gue sama sekali tidak menghargai Rania yang telah mengerahkan tenaganya untuk menolong gue menghadapi hari yang berat ini. What have I done to deserve someone like you, Rania?

“Kamu… keberatan nggak menjadi Nyonya Anggoro?”

*

I can’t believe it.

Sekarang gue dan Rania telah bertunangan.  Gue memejamkan mata selagi fakta itu diserap oleh otak gue.  Tentu saja, ini berarti sudah tidak ada ruang lagi untuk Taya dalam hidup gue.  Tapi… bagaimana gue harus mengakhirinya?  Gue tahu ini tidak akan mudah.  Taya sendiri kelihatannya sudah siap untuk melepaskan gue — which only makes it harder for me.  It hurts so much, knowing that I have lost meaning to her.

Sanggupkah gue menghadapi perpisahan ini?

Sinar matahari yang sudah semakin terik menerobos masuk lewat tirai kamar gue.  Kepala gue terasa berat.  Gue benar-benar nggak tahu apa yang harus gue lakukan selanjutnya.

Tiba-tiba tangan gue menyenggol BlackBerry gue hingga terjatuh dari tempat tidur gue.  Sambil mengerang, gue bangkit untuk meraih ponsel gue.  Tanpa sengaja, jari gue menyentuh ikon Twitter, dan detik selanjutnya layar ponsel gue segera dibanjiri oleh sederetan tweet dari teman-teman gue.  Namun mata gue dengan otomatis mengabaikan sederetan tweet nggak penting yang memenuhi timeline gue begitu gue membaca salah satu tweet dari sebuah akun yang sangat gue kenal: @sputniksweetheart

Arrived 3 hours early at Soetta only to discover that my flight to Singapore is being delayed for 3 hours *yawn*

“Singapur…?”

Mendadak gue lupa akan segala hal yang sejak beberapa hari belakangan ini memenuhi pikiran gue.  Gue meraih dompet gue dan langsung mengemudikan mobil gue dengan kecepatan penuh, tanpa memedulikan klakson-klakson protes dari mobil-mobil lainnya.

Destination: Singapore

7 thoughts on “[She Says] Episode 23: Bimbang

  1. Menyadari kalau ternyata Allegro memang mencintai Taya setengah mati. Somehow, saya ngerasa kasihan sama Renya. Demi apa, meski begitu kerasnya Ale berusaha untuk mencintai Renya, tetap aja wanita yang ia cintai itu Taya. Benar, ia hanya merasa… bersalah. Dan saya enggak tahu bagaimana perasaan Renya ketika ia menyadari kalau pria itu tak pernah mencintainya seperti seorang pria mencintai seorang wanita. Cinta Ale diselipi rasa bersalah, dan entah mengapa, meski hal itu salah karena ia tak tegas dengan perasaannya sendiri. Saya tak bisa menyalahkan Ale, karena jika saya berada di posisi yang sama dengan Ale, sama mungkin akan melakukan hal yang sama.

    Saya benci rasa bersalah.

    Karena jujur, saya sudah sering merasakannya. Dan terkadang, hal itu memaksa saya merendahkan diri sedalam-dalamnya kepada orang lain. Hihihihi #malahcurcol.

    Terima kasih ya Kak Omi, atas tulisan yang membuat saya selalu berpikir:

    INI GUEEEEH BANGETTTZZZ!

    Semoga saya bisa menulis seperti Anda🙂

  2. *tarik napas panjang* ini kok complicated bgt ya kisah cintanya? *pukpuk-in satu2*

    ngeliat Renya, aku jadi ga bisa ngebedain yang mana baik yang mana naif. seriously, masa iya sih dia sama sekali ga nyadar tentang apa yang sebenarnya terjadi sama pacar (yang sudah jadi tunangannya)?

    well, Omi, kamu bener2 bisa mainin perasaan pembaca😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s