[She Says] Episode 22: Just A Little While


Changi Airport

9.45 PM

 

Dia menatap gue dengan tatapan memelas.  Gimana caranya dia tahu flight mana yang gue tumpangi atau jam berapa gue mendarat adalah sebuah misteri besar yang membuat gue curiga bahwa ini orang berbakat menjadi seorang stalker.  Namun kemudian gue teringat bahwa kemungkinan besar dia mengetahui info tentang penerbangan gue dari akun Twitter gue.  Secara bodohnya, begitu gue tiba di Soetta dan mendapati bahwa pesawat gue delayed selama tiga jam, gue iseng nge-tweet kebosanan gue karena terpaksa menunggu  di bandara.

Be careful with what you Tweet.

Gue mengalihkan pandangan gue pada cowok jangkung yang berdiri di sebelah gue.  Cowok yang barusan memegang tangan gue erat-erat ketika turbulensi membuat pesawat yang kami tumpangi berguncang hebat.  Cowok yang mulai minggu depan akan menjadi bos gue.  Kemudian, gue mengembalikan tatapan gue padanya.  Dia masih menatap gue dengan tatapan memelas yang sama.  Lingkaran hitam di bawah matanya menandakan bahwa sudah lumayan lama sejak terakhir kali ia tidur.  T-shirt abu-abunya lecek, celana khakinya kusut luar biasa, dan ia mengenakan sepasang sendal jepit tanpa membawa barang lain selain paspor di tangannya.  Gue menduga dia langsung cabut ke bandara setelah membaca tweet gue.

Calon bos gue agaknya menyadari kecanggungan yang tercipta di antara gue dan cowok yang berdiri di hadapan gue — yang nggak lain dan nggak bukan adalah cowok gue — karena dia tiba-tiba menepuk bahu gue dengan ringan dan berkata, “I’ll see you at the office on Monday.”

No, no, no, please don’t go, gue memohon dengan putus asa dalam hati.

Namun tentu saja gue hanya bisa mengucapkan permohonan itu dalam hati.  Gue nggak mungkin menarik paksa seseorang yang sama sekali nggak tahu apa-apa tentang masalah di antara gue dan cowok gue dan memaksanya untuk tinggal bersama kita.  Gue hanya bisa menatap punggungnya menjauh dalam diam, sebelum akhirnya gue kembali berpaling menatap cowok gue.

I can’t lose you now.  Not like this,” katanya dengan suara tersendat-sendat.  “Please, let me make it up to you.

Gue membuka mulut gue, siap untuk melontarkan sumpah serapah tentang betapa nggak adilnya perlakuan dia pada gue selama ini.  Tapi kemudian gue teringat bahwa dia baru saja kehilangan nyokapnya.  Gue masih punya hati.  Gue nggak bakal tega menuang garam di atas lukanya.

Hold on for a little longer, Taya.  Just for a little while, until he gets better.  Then you can go.  Soon enough, he’ll have no more reasons to ask you to stay with him.

Kalau saja pada saat itu gue tahu bahwa nyokapnya telah meminta cowok gue untuk menikahi pacarnya sebelum beliau meninggal… kalau saja pada saat itu gue tahu bahwa cowok gue telah lama menyanggupi permintaan nyokapnya itu… kalau saja gue tahu…

Tentu saja gue tidak akan membiarkan diri gue menunggu lebih lama lagi untuk mengejar seseorang yang gue sukai.

*

 

Dua jam sebelumnya…

 

Ternyata penerbangan gue sempat tertunda karena ada kesalahan teknis pada pesawat yang akan gue tumpangi.  Awalnya sih gue santai-santai aja.  Ketika akhirnya gue masuk pesawat, gue juga masih santai-santai aja.  Nggak ada tuh yang namanya firasat buruk tentang penerbangan gue.  Malah, karena gue capek banget — setelah drama dengan Nora dan tunangan sialannya itu, gue belum sempat tidur — gue langsung tertidur begitu gue duduk di kursi gue.

Tidur gue itu nggak berlangsung lama, karena guncangan keras yang membuat tubuh gue menghantam jendela pesawat beberapa saat kemudian seketika menyadarkan gue.  Sebelum gue sempat mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi, lampu pesawat tiba-tiba dipadamkan agar lampu darurat yang mengarah pada pintu keluar darurat bisa terlihat dengan jelas.  Tubuh pesawat tiba-tiba oleng ke kanan, menimbulkan teriakan-teriakan panik dari para penumpang.

Jujur, pada momen itu, pikiran pertama yang melintas di kepala gue adalah: is this how I’m going to die?

Dan begitu gue menyadari dampak yang dibawa oleh kalimat itu, tubuh gue mulai gemetaran hebat.  Bukan, bukan karena gue takut meninggal.  Tapi karena gue tahu bahwa sepanjang hidup gue yang singkat ini, gue belum berhasil meraih kebahagiaan gue.  Gue belum pernah menjalani hidup sepenuhnya.  Hidup gue hanya terdiri atas setumpuk  penyesalan.  Gue tidak pernah menghargai anugerah hidup gue selama ini dengan menjadikan setiap momen berarti.

Rasa takut itu membakar paru-paru gue hingga gue kesulitan untuk bernapas.  Tanpa sadar, gue meraih tangan penumpang yang berada di sebelah gue dan mencengkeramnya erat-erat selagi gue berusaha untuk mengambil oksigen.  Entah mengapa, pada saat itu, rasanya bernapas adalah sesuatu yang sangat sulit untuk gue lakukan.   Seolah-olah sesuatu telah membuat gue lupa akan bagaimana caranya bernapas.

Kemudian, semua itu berakhir.  Dalam sekejap, gue kembali bisa bernapas dengan normal.  Rasa panas yang barusan seolah membakar paru-paru gue perlahan-lahan mulai menghilang, dan gue mulai bisa berpikir dengan jernih.  Ketika gue membuka mata gue, gue menyadari bahwa penumpang di sebelah gue telah memasangkan masker oksigen gue sehingga gue bisa kembali bernapas.  Gue terhenyak halus begitu menyadari bahwa tak hanya orang itu telah membantu memasangkan masker oksigen untuk gue, tapi dia juga telah membiarkan gue mencengkeram tangannya dengan begitu kuat.

Gue menengadah, bermaksud untuk berterima kasih pada orang tersebut.  Mata gue menemukan sepasang bola mata cokelat terang yang teduh.  Raut wajah yang mengingatkan gue akan Andrew Garfield.

It’s okay, Taya,” bisiknya, tepat di telinga gue.  Gue bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa kulit wajah gue.  “You’re safe, we’re gonna be okay.”

And just like that, I forget about anything but the feel of his hands.  

For the first time after a very, very long time, I finally feel safe.

9 thoughts on “[She Says] Episode 22: Just A Little While

  1. aku: tejas, mana tejas?
    omi: tejas lagi sibuk ngurus pasien. ntar dia nongol lagi di episode entah kapan
    aku: yah, mana taya juga udah balik ke singapur. tejas bakalan susah kalo mau muncul lagi di cerita ini
    omi: berisik lu ah!
    aku: *terbang ke singapur*

    cieeee Si Bos… a journey to find home-nya udah dimulai nih yee… cieeee…
    tapi mesti sabar dulu yah, Bos. Taya masih dalam tahap melepaskan diri dari cowoknya.

    aku jadi ga ngerti sebenarnya si cowok berhati dua ini antagonis apa nggak. dia baik sih.. tapi kok egois gitu. udah mau nikah juga, masih aja ga bisa ngelepasin taya. padahal kalo dia ngerelain taya pergi, kan taya udah bisa happy2 sama si bos.

    hm, aku penasaran mau baca cerita versi ceweknya si pria berhati dua (sorry, I forget her name). kan di episode sebelum2nya dia salah dipangil sbg taya tuh… trus cwonya ngejar taya sampe singapur pula. tau gak ya dia? kecewa gak ya?

  2. What what what ???? Taya merasa aman deket sm si Boss tiang listrik …. Feel safe .. Uuu
    tinggal menunggu waktu Taya lepas dar belenggu pria berhati dua alias Ale ….
    Tejas mana Tejas mana ????
    Pada siapapun kelak Taya .. Pria itu haruslah yg benar benar mencintai Taya …… #HopeFull

  3. Saya udah mutusin. Saya akan jadi team Tejas biar Taya jadi sama Tejas, lalu si bos ini bisa buat saya. Begitulah. *lari gondol si bos dan dikejar satu lapak*

    Tapi… Entah kenapa, saya rasanya pengen tau lebih tentang si bos. Jadi was-was, soalnya si Omi kan tukang sulap. Ga mungkin kan, si bos itu sempurna. *lalu berspekulasi sendiri* *balikin dulu bosnya, ga jadi digondol*

  4. Okeh, untuk menebus semua episode yang belum saya komentari, saya akan melakukannya dalam satu komentar penuh di episode ini. Mungkin enggak terlalu panjang. Soalnya Kak Omi sudah tahu perasaan saya juga terhadap cerita ini *kedip-kedipin mata*

    Mulai dari kemunculan si Jack Hanafia: Well, he’s the most person I hate in this series til now. Kemunculan pertama aja kesannya udah enggak banget. Gimana ke depan-ke depannya? Playboy cap cicak! ARGH! *tendang Jack*
    Sorry~ Sorry~Sorry~Jack! Kubukan cewek murahaaan!! *nyanyi bareng Taya*

    Then, untuk PoV-nya Glenn Lewis :* I’m speechless yaaaaa…. saya TEAM GLEEEENN!! GO Taya! Temukan kebahagiaan kamu pada Gleeenn! *menari pompom*
    Tapi dapat spoiler… -____- ada twist pada diri Glenn *hening* *nurutin Kak Gabby* Untuk sekarang saya puja kamu dari jauh ya, Say…

    DAN! untuk eps ini… I’VE ALREADY KNOW THAT PERSON IS GLEEEENNN! *sorry untuk semua bahasa Inggris yang kacau ini* *stress*
    WOW, sooooo charming banget deeeeh yaaaa! Demi apa deh, waktu bagian ini

    “It’s okay, Taya,” bisiknya, tepat di telinga gue. Gue bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa kulit wajah gue. ”You’re safe, we’re gonna be okay.”

    saya bener-bener speechless dan tiba-tiba mau nangis. Seandainya diluar sana ada orang yang bisa berkata seperti itu pada saya… *sigh* Taya, kamu benar-benar beruntung. Beruntung sekali.

    Hehehe, sekian yo Kak, semoga ini bisa menebus semua eps yang belum saya komentari… caaaaaw!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s