[Jotir] Episode 1: Taktik (Nancy)


Image

 

“Woi, Ningsih.”

Toyoran keras di jidat langsung membangunkan sang Dewi Eka Ayu Ningsih a.k.a Nancy dari tidurnya yang pulas. Matanya merem melek silau dengan sorotan lampu studio yang menembak langsung ke mata coklat tuanya yang sipit.

“Hah, eh? Udah kelar?” tanya Ning…, ehem, Nancy setengah meracau, arwahnya masih setengah melayang di dunia mimpi. Pertanyaannya itu menghasilkan decakan tidak setuju dari tetangga merangkap teman sejak kecilnya, Rangga.

“Lu kalo mo tidur, sana pulang. Ngapain bayar mahal di bioskop?”

Nancy menguap tak peduli, merenggangkan badannya dengan malas seolah sama sekali tidak mendengar Rangga berbicara. Seluruh badannya pegal gara-gara tidur dengan pose duduk selama dua jam lebih.

“Bagus ga filmnya?”

“Menurut lu? Siapa suruh tidur,” sahut Rangga sinis. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku untuk mengecek jam dan pesan.

Pukul 20:20 dengan 2 missed calls dan 3 pesan dari pacarnya, Risa, yang sedang tugas ke Bandung.

Nancy membuka matanya selebar mungkin dengan maksud melotot pada Rangga, yang sama sekali tidak menyadarinya. Selain karena mata Nancy tidak ada bedanya antara melotot dan melek biasa, Rangga sedang terlalu sibuk mengetak-ngetik iPhonenya dengan penuh semangat.

Memberengut, Nancy mendesah. Iri pada Rangga yang sudah punya pacar sekaligus jengkel padanya. Ia ingin memberikan sebuah high kick dengan sendal jepit pada punggung yang kini menghadap ke arahnya.

Ia kesal karena tidak dibangunkan, padahal jelas-jelas Rangga tahu kalau Nancy sudah pulas di 30 menit pertama Perahu Kertas. No offense. Nancy pada umumnya tidak pernah bisa berada di ruangan gelap melebihi waktu setengah jam tanpa tertidur pulas. Itu sudah terprogram di sistemnya secara otomatis.

Dia memaksakan diri berada di sini gara-gara gebetan terbarunya. Si kutu buku Nathan tiba-tiba menulis soal Perahu Kertas, film adaptasi dari novelnya Dee di timeline Twitternya. Ini sebuah keajaiban di mana akhirnya mungkin, MUNGKIN, mereka bisa ngobrolin sebuah topik tanpa ngebuat kepala Nancy berasap atau harus bolak-balik ngecek Wikipedia gara-gara ga ngerti apa atau siapa yang Nathan bicarakan. Terakhir kali, ia mencoba membaca Tolstoy dalam bahasa Inggris seperti yang Nathan pernah ceritakan, dan ia tertidur setelah halaman kedua.

Makanya saat twit tentang Perahu Kertas itu muncul, dengan langkah mantap Nancy langsung membeli tiket di bioskop dekat rumahnya, A.S.A.P
Kekekekeke.

Ngomong-ngomong soal Nathan, Nancy benar-benar ingin menjadikan laki-laki berambut ikal itu pacarnya. Mereka bertemu di salah satu acara pecinta film indie-nya Natnut minggu lalu, dan Nancy langsung menjatuhkan pilihannya pada Nathan yang bola matanya sepekat kopi tapi senyumnya semanis karamel.

Umurnya 24 tahun, dan menurut si Natnut, ia berasal dari keluarga seniman di Jogja. Kalem dan seorang pecinta berat Tolstoy. Buat yang ga tahu siapa Tolstoy seperti Nancy sebelumnya, dia itu penulis buku Anna Karenina. Kalau ga tau Anna Karenina juga (sama seperti Nancy), well, kamu bisa cek sendiri di Wikipedia.

Nathan sendiri adalah seorang penulis buku-buku penuh filsafat dan saat ini sedang lanjut kuliah S2. How cool is that?

Yeah, whatever,” kata Rangga sambil mendecak-decakkan lidah penuh ketidaksetujuan ketika Nancy menceritakan ‘inceran’ terbarunya untuk kesekian ratus kalinya, di setiap kesempatan yang ada.

Menghela nafas, Rangga selalu, selalu, selalu tidak mengerti kenapa si Ningsih satu ini selalu menyesuaikan dirinya dengan cowok manapun yang ia suka saat itu. Kali ini film dan buku demi Nathan, bulan lalu bola gara-gara Thomas, dan yang paling heboh terjadi tiga bulan lalu ketika Ningsih bela-belain belajar panjat tebing gara-gara gebetannya adalah seorang pecinta alam.

Isn’t this too much?

“Engga. Ini namanya taktik. Smart Move.” Itu selalu menjadi pembelaan Nancy setiap kali Rangga menanyakan hal yang sama di situasi yang sama hanya dengan calon pacar yang berbeda. Kali ini juga tidak terkecuali. Nancy memberikan jawaban standarnya ketika mereka makan berdua di food court mall tersebut.

Rangga mendesah lagi, menatap Nancy dengan prihatin. Kalau memang move-nya se-smart itu, kenapa Nancy masih jomblo sampai sekarang?

Nancy hampir saja menusuk jidat Rangga dengan sumpit.

“Mana gue tahu?! Kalo gue tahu, menurut lu, gue masih bakalan duduk di sini bareng lu?” nada suara Nancy meninggi, sangat-sangat tersinggung. Hidungnya kembang kempis.

Rangga manggut-manggut setuju, membuat Nancy makin emosi. Apalagi ketika Rangga dengan santainya memberikan pertanyaan yang paling Nancy benci nomor dua setelah “Ah, masa sih kamu ga punya pacar, kok bisa?”

Pertanyaan itu adalah: “Lu terlalu milih-milih kali?”

Nancy langsung meledak.

“Jadi, lu mau gue jadian sama Thomas yang ternyata sudah punya pacar? atau dengan Anton si racist, atau sama Budi yang setelah ngintip KTP gue, berani bilang kalo nama gue kampungan?! Kampungan! How dare he! lu coba aja teriak nama Budi di sini, gue jamin pasti bakalan ada yang angkat tangan!”

Rangga meringis, tahu kalau dia sudah menekan ‘tombol’ yang salah. Ia menyodorkan minuman pada Nancy yang langsung meneguknya dengan semangat berapi-api.

Garuk-garuk kelapa, eh kepala, jujur, Rangga ga bisa komentar soal cowok-cowok yang selama ini mendekati atau ingin didekati oleh Nancy. Yang pasti, biasanya sih ending pergulatan penuh taktiknya ini berakhir dengan tragis.

Sebuah akhir cerita yang membuat Nancy rutin mengutuki nasibnya setiap malam Minggu.

Why? Why? Why?! Kenapa cewek-cewek lain bisa dapat pacar? Bahkan cewek seperti Risa.”

Hey, that’s my girlfriend you’re talking about.”

So? Lu tahu gue masih ga setuju lu pacaran sama dia kan?”

“Apa hak lu? Mak gue juga bukan.”

“Tante Dinda juga ga setuju.”

Yang ini, Rangga ga bisa membalas, karena mamanya memang ga setuju dia pacaran dengan Risa. Tapi hey, itu cuma masalah first impression yang salah. Seiring berjalannya waktu, pasti mamanya bakalan setuju.

But, it’s another story for another day. Sekarang fokus lagi ke Ning… salah, Nancy.

“Jadi, gimana prospekan lu sama Nathan?”

Nancy mengangkat bahunya. Sampai saat ini mereka baru sampai di level sesekali ngobrol di BBM dan Twitter, yang berujung pada dirinya menonton Perahu Kertas bersama Rangga. Berdua saja, gara-gara temannya si Coco lagi asyik chatting dengan calon jodoh no.38 (don’t ask). Dan si Natnut, well, entahlah, rasanya terlalu menyedihkan nonton film romantis berdua saja dengan teman sejenismu yang juga jomblo di malam minggu, di ruangan yang bertabur sejuta pasangan dari segala penjuru mata angin.

Getir.

Pokoknya, malam Minggu depan, ia sudah harus bisa mengajak Nathan nonton bareng.

“Ga, tuh film bagus ga?” Nancy balas bertanya. Sebenarnya itu alasan utama kenapa dirinya ngajak Rangga nonton bareng, biar cowok jabrik itu bisa nge-review buat Nancy.

Rangga mendecak lagi, tapi menceritakan juga apa yang ia tonton.

Not bad, terutama cerita cinta Keenan dan Kugy. Stuffs like long-lasting love is kinda sweet for me,” jawab Rangga dengan senyum simpul.

Nancy ngenges lebar. Tuh anak benar-benar romantis melankolis mentok. Agak mirip Ted-nya How I Met Your Mother. Bahkan kerjaan mereka berdua juga sama banget. Arsitek.

Sekarang, Nancy punya bahan baru buat ngobrol dengan Nathan deh. Yay!

Rencananya adalah:

    1. Nancy akan menulis status di Twitternya untuk bilang kalau dia sudah menonton Perahu Kertas dengan tidak lupa memention Nathan dan Natnut. Kenapa Natnut ada di sana? Untuk kamuflase tentunya.
    2. Setelah Nathan membalas Twit-nya, Nancy akan mulai membahas soal Perahu Kertas.
    3. Setelah beberapa saat, dengan oh so subtle, Nancy akan bertanya “Oh, kamu suka nonton? Sabtu depan nonton bareng yuk.”
    4. Tadah! Mereka nonton bareng dan Nancy akan membuat Nathan terpesona oleh kepintarannya.
    5. Lalu tidak lama kemudian mereka jadian, Happy ending ever after deh. Muahahahahahahahaha.

Nancy terkikik membayangkan strategi sempurnanya untuk menangkap Nathan dalam pelukannya.

Saatnya untuk memulai. Ia lalu nge-twit:

@fun_nancy: @_natnut & @Nathan88, akhirnya nonton Perahu Kertas juga. Manis yah (^^)

Tweet.

Okeeeeeeeeeh!

BB-nya langsung berbunyi.

@_natnut: @fun_nancy Eeeeeh, koq, nonton ga ngajak2 gw? Pengkhianat.

Nancy langsung bete, dan dengan kecepatan melebihi kilat langsung BBM ke grup para jotir..

Fancy Nancy: Ini juga gw nonton demi Nathan. Mohon maklum.

Lady Natasha: Oh, another attempt? Nonton ama siapa lu? Ndiri?

Fancy Nancy: Namanya juga usaha. Gw nonton ama Rangga.

Coco Cola: Sama Rangga? Titip salam yah, bilangin di cafe ada menu baru. Si Nathan udah bales?

Fancy Nancy: Belom. Lagi sibuk mungkin?

Lady Natasha: Lu yakin bakalan dibales? Nathan gitu.

Fancy Nancy: … *gasp*

Ups. Nancy baru nyadar kalau ada lubang di strateginya yang luar biasa.

Nathan mungkin aja ga bales.

Stupid.

9 thoughts on “[Jotir] Episode 1: Taktik (Nancy)

  1. Hai, Ning.. eh, Nancy
    hihihi. Serial Jotir ini suka bikin cekikikan sendiri, ringan dan menghibur. Jadi pengen makan gula-gula kapas sambil bacanya <– alasan buat ngemil

    Sebelumnya, saya mau minta maaf karena bermaksud mendrop beberapa kripik… eh, kritik <– now where's that cotton candy? *jadi ganas karena laper*

    Ini, penulisan i-phone yang tercetak miring. Penulisan yang benar untuk nama merk setahu saya tidak dicetak miring: iPhone. Kebetulan saya penggila iPhone juga, hehe.

    Sama satu lagi, A.S.A.P yang dicetak miring. Sepengetahuan saya, singkatan itu tidak dicetak miring, sekalipun dari serapan bahasa Inggris.

    Semoga membantu, hehe.

    Oh, Nancy, kalau respon Nathan kurang bagus seperti yang udah-udah, jangan sedih ya. Terus berusaha. Seperti kata Tolstoy:

    “If there are as many minds as there are men, then there are as many kinds of love as there are hearts.”
    🙂

    • Waduh maappp *angkat tangan perlahan*

      Itu saya yg salah ngedit, kelewatan utk iPhone dan salah miring utk ASAP. Kekeke…

      *ngaku duluan sebelum diomelin ning… eh nancy*
      *sblm kabur ambil kripik dan gula kapas*

      Btw… Tolstoy itu… dalem yah.

      • Kekekeke, makasih Omi buat kripik, eh, kritiknya🙂 akan segera diperbaiki.
        Jangan sungkan2 memberi masukan, soalnya masih dalam pembelajaran.

        Btw, Ginaaaaaaa, makasih yah buat editannya *peluk* untuk kedepannya, sepertinya akan masih merepotkanmuh😉

  2. selamat malam, Penjaja kata…

    finally Jotir publish juga. buat cerita ini, tiap tokoh pengarangnya beda, ya? berarti nanti tinggal nungguin versi Natasha ikutan membagi cerita kejombloannya😀

    Stuffs like long-lasting love is kinda sweet for me,” jawab Rangga dengan senyum simpul -> ini mencurigakan! :p

    ada dua pertanyaan konyol yang muncul di kepalaku setelah baca postingan ini. 1. apa hubungan gambar dua orang ciuman yang diantarai sama papan catur sama cerita ini secara keseluruhan?
    apa karena catur identik sama taktik? maaf kalo aku bawel, tapi kalo aku pribadi, pas baca cerita yang ada posternya, biasanya belum apa2 udah mencoba menerka2 isi cerita berdasarkan gambar yang ada. dan jujur gara2 itu aku nungguin adegan kissing di sini *ditabok pake buku*
    2. siapakah Tolstoy? *kabur ke wikipedia*

    • Hehe, yup🙂 ada tiga penulis Jotir untuk masing-masing karakternya. Gina buat Coco, aku buat Nancy, dan Stella Ra buat Natnut nanti.
      Terus baca dan dukung Jotir yah😀 semoga dirimu suka dengan trio jotir dan cerita kegetiran hidup mereka.

      Trus buat pertanyaan kamu soal gambar pembuka, yup! Bingo. Aya benar sekali. Gambar itu aku pakai karena catur identik dengan taktik dan kenapa couple yang ciuman? well, itu karena Nancy selalu memakai taktik di setiap hubungan percintaan yang ia buat, meski hampir selalu gagal :p tapi yah, namanya juga usaha….

  3. perjuangan banget ya jadi Ningsih *ditabok Nancy* Strategi percintaanya ternyata memiliki lubang yang sangat fatal.
    Dan! Banyakin Nathannya! Banyakin Nathannyaaaaa! – 3 – saya perlu pasokan cowok-cowok dingin dan kaku! Maaaanaaaa?! *anarkis* *todong yang punya lapak pake terong*
    #DUAK
    *diusir dari lapak*

    ETT! Tapi, saya tertarik banget sama tokoh Rangga di sini. Teman masa kecil si Ning, eng, Nancy kan? Dan jujur, saya suka percintaan teman masa kecil. Kayaknya lucu juga kalau misalnya si Nancy menyerah atas nathan terus si Rangga putus sama Risa, dan akhirnya mereka jadian #maunya *kebiasaan nebak-nebak, mohon dimaklumi*

    Hehehehe, terima kasih atas suguhannya ya Kak. Saya sebagai salah satu jomblo getir mengharapkan semakin banyak cerita dari mereka2 ini^^

  4. Pingback: [Jotir] Prolog « Gadis Penjaja Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s