[She Says] Episode 21: Kau dan Aku


The weak are devoured by the strong.

 

Itu adalah perkataan ayah yang selalu menempel di kepala saya.  Tidak ada satu hari pun dilewatinya tanpa mengingatkan saya — satu-satunya anak laki-laki yang dimilikinya — akan hukum alam nomor satu itu.  Dan ketika saya menyebut diri saya sebagai satu-satunya anak laki-laki yang dimilikinya, saya memberikan penekanan khusus pada kata ‘dimilikinya’.  Artinya, sebagai properti kebangaan Ayah, Ayah tidak hanya menyirami saya dengan perhatian, tapi beliau juga menaruh harapan setinggi langit pada saya.

Ayah memiliki keyakinan yang tidak  tergoyahkan.  Ia percaya bahwa setiap manusia yang lahir ke bumi ini tidak memiliki status sosial yang sama dalam masyarakat.  Hidup ini adalah sebuah tangga hierarki, dan setiap manusia wajib melakukan apa saja yang bisa dilakukannya untuk mendaki tangga itu hingga ia tiba di puncak.  Oleh karena itu, hal terpenting bagi Ayah adalah memastikan bahwa puteranya berusaha keras untuk mencapai puncak tangga itu dengan belajar sekeras mungkin untuk mendapatkan nilai terbaik dan pada saat yang bersamaan tidak pernah ragu-ragu menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalan saya.

Ibu mendukung keyakinan ayah dengan sepenuh hati.  Baginya, ayah adalah pedoman hidupnya.  Ibu mengikuti setiap perkataan dan perintah Ayah tanpa pernah meragukan kemungkinan bahwa Ayah mungkin saja salah.  Akibatnya, Ibu menjadi seorang pribadi yang tidak mempunyai ketegasan dalam menjalani hidup.  Jika dihadapkan dengan dilema, Ibu akan bertanya pada Ayah untuk jawabannya.  Dalam ingatanku, tidak pernah sekali pun Ibu meragukan apalagi membantah Ayah.  Seluruh energinya yang tersisa — dan percayalah padaku, Ibu memiliki banyak stok energi yang tersisa karena beliau tak pernah harus berpikir keras sepanjang hidupnya — dicurahkan untuk memerhatikan penampilannya, memastikan suaminya memiliki jabatan yang terbaik di kantor, dan memastikan anak-anaknya duduk di posisi teratas di sekolah.

Dari luar, hidup saya terlihat sempurna.  Glenn Anthony Lewis, seorang pria berdarah Hong Kong-Indonesia-Amerika yang menyandang gelar suma cum laude dari Harvard School of Business, menguasai empat bahasa — Inggris, Mandarin, Indonesia, Perancis  — dan pada usianya yang baru menginjak 23 tahun ia sudah memiliki jabatan bergengsi di PricewaterhouseCoopers. Tapi di dalam, saya merasakan ada bagian dari diri saya yang telah lama hilang.  Saya tidak pernah merasa utuh.

Ayah dan Ibu saya selalu memberikan segala sesuatu yang mereka kira saya inginkan, terutama apabila saya berhasil membuat mereka bangga.  Saya tidak pernah kekurangan apapun.  Tapi karena saya mencurahkan seluruh waktu, tenaga, dan perhatian saya untuk membuat mereka bangga, saya kehilangan kesempatan untuk melakukan segala sesuatu yang biasa dilakukan oleh anak-anak normal di luar sana.  Momen paling sensitif dan paling rapuh yang sangat diperlukan untuk perkembangan emosi manusia itu terlewatkan begitu saja oleh saya.  Saya tidak pernah melakukan kenakalan seperti remaja-remaja lain.  Saya tidak pernah punya waktu untuk mengenal dan menjalin hubungan dengan lawan jenis saya.  Saya tidak pernah membiarkan diri saya lepas bebas melakukan apapun yang saya benar-benar inginkan.  Orangtua saya mengira mereka telah memberikan hal-hal terbaik yang bisa dibeli oleh uang untuk membuat saya bahagia.

Mereka salah.

Tidak pernah sekali pun dalam hidup saya, saya pernah memiliki sesuatu yang benar-benar saya inginkan.  Kau takkan bisa membayangkan seperti apa rasanya menjalani hidup seperti itu.  Dan ketika kau telah terbiasa dengan hidup semacam itu — hidup dimana kau tak pernah berkesempatan untuk memiliki sesuatu yang benar-benar kau inginkan — kau mulai kesulitan untuk mengenali apa yang sebenarnya kau inginkan.

Hingga akhirnya saya bertemu seseorang yang merubah hidup saya.  Menjadikan saya seseorang yang baru.

Orangtua saya tidak pernah bisa menghadapi kekecewaan yang datang ketika keinginan mereka tidak tercapai.  Mereka tidak mengerti kenapa saya memutuskan untuk melawan mereka dengan meninggalkan pekerjaan saya dan terpaksa hidup sulit demi mengejar mimpi saya.  Mereka menolak untuk berbicara dengan saya.  Mereka menutup mata ketika mimpi saya ditolak kemana pun saya pergi.  Mereka memutuskan untuk menghapus saya, anak yang dulu merupakan sumber kebanggaan mereka.  Mereka bahkan tetap menolak untuk menjalin kembali komunikasi dengan saya ketika akhirnya saya berhasil.

Mereka merasa gagal ketika akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi saya, karena itu berarti mereka tidak berhasil membentuk saya menjadi properti kebanggaan mereka.

*

Ketika perempuan itu tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam ruang tempat saya dirawat, saya langsung bisa mengenalinya.  Dia adalah salah satu pengunjung pertama blog saya.  Dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang membuat saya pantang menyerah, karena dukungannya selalu berhasil membakar kembali semangat saya.  Jika tidak ada dia — dan juga jutaan pembaca setia blog saya — Frankie Magazine tidak akan pernah berdiri.

Tetapi tentu saja dia tidak mengenali siapa saya.  Selama ini, saya tidak pernah menunjukkan wajah saya di blog ataupun berbagai sarana social media yang saya gunakan untuk mencurahkan mimpi-mimpi saya.  Saya juga tidak pernah mencantumkan nama keluarga saya.  Karena saya tahu, kebanyakan orang akan langsung menuduh saya sebagai seseorang yang hanya berusaha menjual mimpi kosong dengan modal wajah serta nama keluarga saya.  Saya juga ingin menghindari perlakuan spesial yang biasa diberikan orang-orang pada keturunan keluarga Lewis.  Saya ingin mimpi saya ini terwujud dengan kerja keras saya sendiri.

Melihat betapa terlukanya perempuan itu, pintu hati saya terketuk.  Ia mengingatkan saya akan diri saya sendiri.  Seseorang yang tersesat di belantara dunia, berusaha mencari tempat dimana ia bisa diterima apa adanya.  Bilang saya sok tahu.  Bilang saya hanya mengkhayalkan ini semua.  Siapapun berhak berkata seperti itu setelah mendengar pendapat saya akan perempuan itu, mengingat pendapat itu terbentuk begitu saja di kepala saya walaupun saya tidak mengenal perempuan itu.

I remember thinking how strange it is.  Sharing this room with a total stranger, yet at the same time I feel as though I have known her all my life.   The thought of how not only we share this room but also the same loss and grief suddenly overwhelms me. 

We all make home in other places.

You and I, our journey to find home is about to begin.

7 thoughts on “[She Says] Episode 21: Kau dan Aku

  1. and i wish that you could be the one i build my home with… *gonjreng gitar*

    selamat malam, Omi… -> komen malam minggu, ketauan bgt kalo jomblo😀

    wah, akhirnya cerita versi bos tiang listrik muncul juga. jadi ternyata begitu toh latar belakang kehidupan dia *manggut2*
    Dear Taya, di manapun kamu berada setelah adegan hujan2an bareng Nora dan Jack, aku cuma mau bilang kalo you’re lovable, tau… jangan merasa sendiri terus. tuh… tuh… ada 3 pria keren yang naruh hati sama kamu (biarpun aku tetep dukung dia sama Tejas)

    oia, penulisan hierarki, pake hie atau cuma hi aja? aku biasanya liat hi, ga pake e.
    tapi ga tau juga sih, aku komen berdasarkan daya ingatku yang payah :p

  2. Selamat malam juga, Aya.
    Hehe, wah kalau gitu pas banget kamu mampir serial Jotir-nya Gina😀

    Kaku banget ya dia orangnya. Mendadak pengen pakai baju kantoran dan duduk rapi kalau berhadapan sama dia :p

    Taya lagi masuk angin karena hujan-hujanan, tapi nanti saya sampaikan pesannya. Terima kasih, Team Tejas🙂

    Terima kasih revisinya. Tadi saya cek KBBI, penulisan hierarki sudah benar sih. Lumayan, ilmu baru buat kita😀

    Mari, sama-sama mengarungi Malam Minggu yang panjang ini
    *duduk depan jendela, menatap bulan sambil melolong* #eh

  3. Wah..ini ceritanya si bos kan..wkwkwk..jdi tmbh penasaran dgn kelanjutannya..Tejas or si bos?sementara ttp team Tejas dulu deh..hehehehe..

  4. Kyaaaa si Boss Tiang Listrik akhir.a muncul jg …. Lewis the Boss .. Hahaha ….. Dan dy itu kaku sekali .. Waktu baca ini … Lihat profil.a … Mengagumkan …. Akankah Taya bersama Si Boss .. Dan bukan Tejas apalagi Ale ??? *Team Tejas*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s