[She Says] Episode 20: When It Rains


Apa sih yang si Emon lihat dari Jack Hanafiah?

And yes, I pronounce his name with this condescending tone every single time.  

Gue tahu banget reputasi keluarga Hanafiah di luar sana.  Pada jaman Orde Baru dulu, mereka adalah salah satu keluarga yang mendulang keuntungan karena berada di bawah sayap salah satu partai yang mendukung pemerintahan Soeharto.  Kayaknya gue nggak perlu menjelaskan secara detail  apa saja yang telah keluarga Hanafiah lakukan untuk menambah tebal pundi-pundi kekayaan mereka.  Sayangnya, kejayaan mereka tumbang bersamaan dengan Reformasi 1998.  Aset-aset mereka disita oleh pemerintah, dan dalam sekejap gelar mereka sebagai salah satu keluarga Indonesia terkaya berubah menjadi salah satu dari sekian banyak koruptor yang merugikan negara.  Anehnya, walaupun bisa dibilang keluarga Hanafiah itu sudah bangkrut total, mereka masih bertingkah seolah-olah mereka itu keturunan raja.

Beberapa anggota keluarga mereka banyak yang kemudian mencoba peruntungan di dunia entertainment.  Gue pernah secara nggak sengaja membintangi sinetron bareng — pardon my language — the curvy, slutty Tashia Hanafiah.  Duh, itu orang lagaknya banyak banget.  Dia punya sederet permintaan yang harus dituruti setiap kali syuting.  Yang paling gila adalah, dia mengharuskan kru film menyediakan satu ruangan ekslusif ber-AC sebagai ruang gantinya, sekalipun syuting sedang dilakukan di tengah hutan.  Bukan cuma itu aja,  ruang gantinya juga harus dipenuhi oleh mawar putih.  Ini orang titisannya Suzanna kali, ya?

Keluarga Hanafiah yang lain mencoba peruntungan dengan mengadakan proyek-proyek nggak jelas, membawa-bawa nama politikus yang juga nggak jelas untuk menjual proyek mereka.  Seringnya sih investor-investor mereka rugi besar karena kebanyakan proyek Hanafiah itu hanyalah sekumpulan omong kosong belaka.  Heran, kenapa masih juga ada orang yang mau memercayakan uang mereka pada keluarga itu.  Tapi, yang lebih mengherankan, kenapa masih ada juga orang yang mau memercayakan hatinya pada salah satu anggota keluarga itu?

Yes, I’m talking about Nora.  I mean, come on, she’s not stupid.  She graduated with flying colors.   Kenapa — dari sekian banyak pria di muka bumi ini — dia memilih seorang gold digger seperti Jack Hanafiah?  Dan ternyata, Jack memiliki status lain selain sebagai seorang gold digger: playboy.

How could Nora be so stupid?

Bahkan di depan Nora dan nyokap gue, Jack dengan beraninya melempar senyum ke arah tiga orang perempuan manis yang duduk tak jauh dari tempat kita duduk.  Lalu, setelah nyokap gue cabut, dia tiba-tiba berkata dengan pedenya:

“Cewek-cewek itu dari tadi ngelihatin gue terus, lho.  Hahaha, dikiranya gue nggak akan nyadar, apa?”

Gue nyaris tersedak mendengar ucapannya itu.  Gila, pede banget!  Padahal jelas-jelas yang dari tadi sibuk curi-curi pandang dengan nggak tahu malunya ke arah tiga perempuan itu adalah Jack.

Maaf ya, tapi jujur aja, he’s not exactly that good looking.  Dia adalah tipe cowok yang harus lo perhatiin lama-lama sebelum lo sadar bahwa sebetulnya dia itu lumayan manis juga.  Dan mengingat sejarah keluarganya yang ambruk itu, gue heran kenapa dia masih dengan pedenya mengira bahwa dirinya adalah the most eligible bachelor in town.  

And don’t get me started on how he treats Nora.  Ya ampun, ingin rasanya gue kemplang kepala si Emon agar dia tersadar akan betapa hancurnya calon suaminya itu.  Setiap kali berjalan, Jack selalu meninggalkan Nora di belakang, sehingga ia harus berlari-lari mengejarnya.  Lalu, kebetulan sore itu Nora memutuskan untuk mampir grocery.  Dan Jack sama sekali nggak menawarkan untuk membantu Nora membawa barang belanjaannya yang bejibun itu.  Gue sampai kasihan sendiri.  Akhirnya, gue tarik si Emon ke toilet supaya gue bisa menanyakan kestabilan jiwanya sebelum ia membiarkan dirinya terikat pada si brengsek Jack Hanafiah seumur hidupnya.

“Lo gila, ya?”

Nora mengerutkan kening.  “Maksud lo?”

“Lo mau nikahin orang kayak gitu?”

Nora hanya memandangi gue dengan tatapan bertanya, seolah-olah guelah yang sebenarnya gila.  “Apa yang salah sama Jack?” tanyanya dengan nada kalem.

“Lo nggak nyadar betapa buruknya cara dia memperlakukan elo?  He flirted with another woman in front of you, for God’s sake!  Don’t you think it’s totally out of line?”  gue berusaha untuk nggak meledak saking kesalnya gue.

Nora memandang gue lurus-lurus.  Selama beberapa saat, ia hanya memandangi gue tanpa berkata apa-apa.  Lalu, dengan suara yang dingin menusuk, akhirnya ia berkata, “I thought if I marry someone so awful like him, you wouldn’t consider stealing him from me.”

Ouch, that hurts.

*

Apakah gue memang seburuk itu?

Hati kecil gue dengan lirih membisikkan jawabannya.  Ya, tidak heran kalau Nora memiliki pikiran seburuk itu mengenai gue.  Gue ini seorang selingkuhan.  Wanita simpanan, kasarnya.  Gue telah secara sadar menempatkan diri gue di posisi yang bisa menyakiti seorang perempuan di luar sana.  Dengan kata lain, gue melakukan hal ini dengan sengaja.  Gue bukannya nggak tahu bahwa apa yang gue lakukan ini amoral.

I’m an awful person.  Even more awful than the guy standing right in front of me with a wolfish grin plastered all over his smug face.

“Jack,” kata gue datar.  “Ngapain lo di sini?”

Jack memandang berkeliling.  Kami tengah berdiri di sebuah lapangan kecil yang letaknya berseberangan dengan Union.  Lapangan yang tadi gue sebut sebagai lapangan tempat atraksi air itu berlangsung.  Tidak ada orang yang berkeliaran di sana selain gue dan Jack, dan hujan masih turun dengan derasnya.  Jack kelihatannya tidak keberatan dengan tetesan hujan deras yang terus-menerus menerpa dirinya.  Yang memuakkan adalah, bahkan derasnya hujan pun tidak sanggup menghapus ekspresi ‘hey, I’m special ’cause I’m Hanafiah‘ dari wajahnya.

This guy is such a waste of humanity.

“Jangan pura-pura nggak tahu, Taya,” ucapnya dengan kalem.  Even the way he speaks makes my skin crawl.

Gue melangkah mundur menjauhi Jack.  Ini orang ngomong apaan, sih?  Mabok, ya?  Damn, he’s so full of himself!  It’s clear that he only wants to marry Nora so that he can have access to our family’s wealth.

“Ada sesuatu di antara kita, Taya.  Gue bisa merasakan itu.  Lo tertarik sama gue, dan gue tertarik sama lo.  Jangan mencoba mengingkari itu,” lanjut Jack, tanpa mengalihkan tatapannya dari gue.

I think I just threw up a little in my mouth.  Ada sesuatu di antara kita?  Ngimpi!

“Sedari tadi, lo terus-terusan merhatiin gue.  Gue tahu, Taya.  Gue udah terbiasa dengan cewek-cewek yang terkena sama charm gue.”

Okay, that’s enough, you self-centered bastard!

“Gue merhatiin gerak-gerik lo dari tadi karena gue nggak ngerti kenapa lo tega memperlakukan adik gue seburuk itu,” sahut gue, darah gue menggelegak saking muaknya gue terhadap manusia di hadapan gue ini.  “Lo flirting sama cewek lain di depan dia.  Lo nggak mau direpotin sama dia.  Lo nggak nanya apakah dia baik-baik aja waktu dia kepleset barusan.  Lo beneran nggak perhatian sama dia.  Kenapa juga lo mau menikahi dia kalau lo bahkan nggak peduli sama dia?”

You and I, it’s gonna be beautiful,”  kata Jack, tanpa menjawab pertanyaan gue.  Malah, ia melangkah mendekat dan meraih tangan gue.

“Gue tahu!”

Serentak, gue dan Jack menoleh ke arah sumber suara itu, hanya untuk menemukan Nora berdiri di bawah payung bening.  Matanya membelalak lebar, dan lututnya gemetaran hebat.  Lalu, sebelum gue sempat melepaskan tangan Jack dari tangan gue, tiba-tiba Nora jatuh terduduk dan mulai menangis.  Ia menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya, membiarkan payungnya terjatuh hingga tubuhnya tersirami oleh hujan.

Gue bergegas lari ke arahnya, berusaha untuk membantunya bangkit.  Namun Nora segera mendorong gue menjauh dengan kerasnya sehingga gue terjatuh.  Begitu tatapan kami bertemu, Nora memandangi gue dengan tatapan dingin membekukan yang tak pernah gue lihat sebelumnya.  Matanya berkilat-kilat, dan bibirnya mengatup menjadi sebuah garis tipis.  Yang menyedihkan adalah, di balik kebencian yang menggelegak itu di matanya itu, gue bisa melihat bahwa sebenarnya Nora terluka.

Apakah selama ini gue telah memperlakukan Nora dengan begitu buruknya hingga ia terluka dan sanggup untuk membenci gue sebegitu dalamnya?

“Gue mau lo pergi dari hidup gue, Ya!” teriak Nora, suaranya sarat akan emosi.  Airmatanya hanyut dibasuh oleh hujan.  “Pergi lo!  Gue nggak kenal lo, dan gue nggak mau kenal sama lo lagi!  You’re done here.

“Nora…” gue berusaha menenangkannya.  Tidak mungkin dia benar-benar mengira bahwa ada sesuatu di antara gue dan Jack, kan?  Apakah dia tidak bisa melihat bahwa semua ini adalah ulah Jack?  Bukankah dia sendiri telah mengakui kejelekan Jack hanya beberapa jam yang lalu?

“Nggak!  Gue nggak mau denger lo lagi!”  teriak Nora.  “Pergi!  Pergi lo!”

Helpless, gue hanya bisa memandangi Nora menangis sendirian di tengah hujan, sementara orang yang seharusnya bisa menjadi sandarannya ketika ia sedih dengan ironisnya berdiri tak jauh darinya tanpa berusaha melakukan apa-apa untuknya.  Atmosfer yang mengelilingi kita bertiga tiba-tiba terasa sangat menyesakkan.  Untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue menyesal karena gue tak pernah ada untuk Nora saat ia terluka.  Kini, semuanya sudah terlambat.  Gue bahkan tidak tahu apa penyebab utama dari luka yang bersarang dalam hati Nora.  Luka yang kemudian membuat ia mengira bahwa gue mendedikasikan hidup gue hanya untuk menyakitinya.

Perlahan, gue menarik diri gue, lalu gue mulai berjalan menjauh.  Hujan masih terus turun, meredam keramaian lalu lintas yang gue lewati.  Gue memejamkan mata, membiarkan airmata gue berbaur dengan hujan.  I let the rain wash away my sanity.  I let the rain erase the sadness lingering inside me ever since the day I stepped my feet in this city.  Dalam heningnya hujan malam itu, sebuah pertanyaan sendu muncul di kepala gue.

Can someone tell me the difference between loneliness and the falling rain?

8 thoughts on “[She Says] Episode 20: When It Rains

  1. Ok. Can i punch that Jack?! Aaaargh! gw alergi banget sama cowok kayak gitu, ga peduli dalam bentuk apapun dia hidup. Di cerita atau kehidupan nyata, i just hate him. Grrrrr….

    *tarik napas hembuskan*

    Ocehan selesai, izinkan saya berbicara sedikit lebih serius. Sedikit…

    Taya itu unik banget (^__^)

    Sudah membaca cerita [She Says] secomot di episode sana dan sini. Sangat tertarik dengan penokohan Taya yang bisa dibilang penuh drama dan ‘kacau’ hidupnya. Juga bagaimana dia itu ga tipikal cewek pemeran utama. Fresh rasanya bertemu dengan tokoh seperti Taya.

    Sepertinya PR saya untuk saat ini adalah menghabiskannya mulai dari episode pertama secara berurutan.

    Ditunggu episode 21-nya🙂 dan semoga saat itu Tejas juga akan nonjok Jack, yeah.

  2. Poor you, Nora! segitu ga pedenya sama diri sendiri sampe milih cwo sebrengsek Jack cuma supaya ga direbut sama Taya? dan entah kenapa pas baca deskripsi soal latar belakang keluarga Jack, aku malah ngebayangi Panji-nya keluarga Cendana. Dont know his full name, but I think you already know him.

    The difference between loneliness and the falling rain? aku ga yakin aku tahu jawabannya. yang jelas, di kebanyakan kasus, hujan yang turun hampir selalu bisa bikin seorang tokoh utama dlm cerita ngerasain kesepian. dan utk Taya, I dont think she needs rain to make her felling lonely. hehehe…
    Taya, mau berteman sama aku?😀

  3. Selamat datang, Yasmin🙂
    Akhirnya kita bersua juga di lapak ini, hihi. Senang berkenalan dengan salah satu anggota Jotir lainnya. Addictive banget nih serial Jotir!

    Untuk Yasmin, Wahyunnie, dan Aya: terima kasih sebesar-besarnya dari Taya😀

    Oh ya Aya, hehe… karena kamu ngomong soal Panji, saya jadi ketawa. Masalahnya dalam bayangan saya, Jack nggak seganteng Panji :p <– penulisnya bias banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s