[She Says] Episode 19: Wrong Impression


11.35 AM

Jakarta, di sebuah lapangan kecil terbuka di bilangan Senayan

Suara gue serak dan napas gue masih memburu, tapi gue lega setengah mati.  Teriakan gue barusan teredam oleh suara hujan yang turun dengan cukup deras.  Tapi, seandainya malam itu tidak hujan pun, gue masih akan kemari dan melakukan apa yang sejak tadi ingin sekali gue lakukan: berteriak sekeras-kerasnya sebelum pulang, memesan one way ticket ke Singapura, dan melupakan segala hal yang telah terjadi pada gue selama dua puluh empat jam terakhir ini.

Terdengar suara petir menyambar, dan hujan turun dengan semakin deras.  Kalau sampai ada orang yang lewat dan melihat gue, mereka pasti berpikir kalau gue itu either gila atau haus perhatian.  Tapi saat ini gue sudah tidak peduli lagi orang mau mikir apa.  Lagipula, besok juga gue udah cabut dari Jakarta.  Siapapun yang malam ini melihat kegilaan gue kemungkinan tidak akan bertemu dengan gue lagi.  

Gue menengadah ke arah langit, membiarkan payung gue jatuh sehingga air hujan membasahi tubuh gue.

This one is for you, Dad…” gue berteriak ke arah langit malam.

The Carpenters mengalun di telinga gue, dan dalam sekejap gue kembali ke momen dimana bokap gue mengajak gue berdansa waltz untuk pertama kalinya.  Waktu itu usia gue masih enam tahun, dan  malam itu adalah malam ulangtahun bokap gue.  Gue ingat, waktu itu gue baru saja pulang ke rumah setelah menginap di rumah teman sekolah gue.  Itu adalah kali pertamanya nyokap gue mengizinkan gue untuk pergi menginap di rumah teman.  Selama ini, nyokap gue tidak pernah mengundang teman gue untuk sekedar bermain ke rumah, apalagi menginap.  Makanya gue girang setengah mati ketika nyokap gue mengizinkan gue untuk pergi menginap di rumah teman gue.

Namun, begitu gue menginjakkan kaki di rumah teman gue, gue menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.  Bokap dan nyokap teman gue itu saling berbicara pada satu sama lain dengan nada ceria.  Selalu ada tawa menggema di dalam rumah itu.  Dan ketika waktu makan malam tiba, semua duduk di meja makan sambil berbagi cerita akan hari yang telah mereka lewati.

Di rumah gue, bokap dan nyokap gue sangat jarang berbicara pada satu sama lain.  Waktu makan malam adalah waktu dimana nyokap gue duduk dengan bibir terkatup rapat sementara bokap gue terus-menerus mengisi ulang gelas anggur merahnya.  Mereka hanya bicara jika nyokap gue menemukan kritik untuk dilontarkan pada gue.  Kritik itu kemudian akan dijawab oleh bokap gue, dalam upaya untuk membela gue.  Lalu mereka akan mulai saling melontarkan cacian pada satu sama lain, sementara gue hanya bisa duduk memandangi mereka dalam diam tanpa tahu harus berbuat apa.

I’m finding it hard to do anything
You see I feel sad when you’re sad
I feel glad when you’re glad
If you only knew, what I’m going through
I just can’t smile without you

Mata gue terasa panas ketika gue mulai menari sendiri mengikuti irama musik, persis seperti yang bokap gue ajarkan pada gue sebelas tahun yang lalu.  Ketika lagu The Carpenters yang berkumandang lewat iPod gue itu nyaris habis, gue memejamkan mata dan gue hampir bisa merasakan keberadaan bokap gue di dekat gue.  Gue bisa merasakan tangannya yang kokoh memeluk gue, dan gue bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuhnya mengusir hawa dingin yang dibawa oleh hujan yang sedang turun dengan derasnya.

You’re an amazing dancer…” Bokap gue berbisik di telinga gue.

Gue tersenyum senang mendengar pujian dari bokap gue, tapi kemudian senyum gue itu menghilang ketika gue menyadari bahwa khayalan gue nggak mungkin bisa terasa senyata itu.  Kemudian gue menyadari bahwa gue tidak lagi menari sendiri.  Gue bisa merasakan pipi gue bersandar pada tubuh yang solid.  Gue bisa merasakan tangan orang tersebut melingkari sebelah bahu gue, dan gue bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa puncak kepala gue.

Perlahan-lahan, gue membuka mata gue, berharap bahwa kegilaan yang barusan gue lakukan itu nggak lantas membuat gue jadi beneran gila.

Yang pertama gue lihat saat mata gue membuka adalah sepasang sepatu kets Adidas putih yang terkena bercak-bercak tetesan hujan.  Sepasang kaki yang dibalut jins Superdry gelap. Polo shirt Lacoste hijau.  Jam tangan Tag Heuer.

Mendadak gue tersedak.

“Ngapain lo di sini?” tanya gue seraya bergerak menjauh.  Gue memandang berkeliling untuk memastikan tidak ada yang melihat kami berduaan seperti tadi.  Tenggorokan gue terasa kering, dan tiba-tiba saja gue merasakan kupu-kupu beterbangan di perut gue.

Something is really, really wrong here.

*

4.46 PM

Union, Plaza Senayan

Gue ngerasa bahwa hidup lagi pengen banget menghukum gue ketika gue tahu-tahu berpapasan dengan Noraemon di rumah sakit pagi itu.  Gue baru saja mengalami malam yang sangat emosional, dan dengan kejamnya jaring-jaring jalan kehidupan malah mempertemukan gue dengan Noraemon lagi.  Dengan girangnya, dia malah mengundang gue untuk ngopi bareng nyokap gue sore ini.  Dan sebelum gue sempat memikirkan alasan untuk menolak ajakannya, dia mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin emas putih dengan batu biru oval yang melingkar di jari manisnya.

“Itu…” Gue hanya bisa menunjuk cincin di jari si Emon dengan mata membelakak lebar.  Mulut gue terasa kering, dan kepala gue berdentum-dentum hebat sampai gue harus berpegangan pada tembok supaya gue tidak terjatuh.

What is this?  Some kind of sign from the universe that everyone else deserves to be happy but me?

Tanpa memedulikan gue yang masih berdiri dengan wajah syok, si Emon melompat-lompat kegirangan dan menarik gue ke dalam pelukannya.

Yes, I’m getting married!”  seru si Emon keras-keras, tepat di telinga gue.

“Eh… uhm… selamat, ya….”  I can’t believe I’m saying this, but I seriously have no idea who’s engaged to her.   “Uh, sama siapa?”

Nora melepaskan pelukannya,  semangatnya turun sedikit begitu mendengar pertanyaan gue.  Mendadak gue merasa bersalah karena gue nggak pernah mencoba untuk menjalin komunikasi dengannya selama ini.  Bagaimanapun, dia itu adalah bagian dari keluarga gue, dan bukan salahnya jika gue dan keluarga gue nggak pernah akur.  Bahkan sebelum Nora muncul pun gue memang sudah tidak akur dengan keluarga gue.  Perpecahan di antara gue dan keluarga gue terjadi semenjak bokap gue meninggal saat usia gue menginjak sepuluh tahun.

Nora mencoba menyembunyikan kekecewaannya dengan seulas senyum tipis, namun gue  bisa menangkap bahwa ia kecewa saat ia berbicara.  “Nanti aku kenalin deh, sore ini.  Sekalian ngopi-ngopi yuk sama Ibu.”

Mendengar Ibu disebut,  rasa kantuk gue seketika lenyap. Lima tahun telah berlalu semenjak terakhir kali gue bertatap wajah dengan nyokap gue, dan dalam rentang waktu yang lumayan lama itu, jumlah percakapan kami lewat telepon bisa dihitung dengan jari.  Tentu saja semuanya berakhir dengan gue mengubur wajah gue di bantal sambil menangis hingga ketiduran.

Njur arep tekan kapan toh, Nduk?  Yang penting kan bibit, bobot, bebet.  Kalau tiga-tiganya itu udah lengkap, wis kamu tunggu opo lagi?”  Nyokap gue — a beautiful 55 year old woman yang memiliki struktur wajah memesona menyerupai Madeleine Stowe — menutup pidato kepresidenannya, menyadarkan gue dari kondisi setengah tidur gue.

What is it with certain people and their obsession with anything related to marriage?  

Tahan, tahan, Taya.  Jangan muter bola mata lo depan nyokap lo.  Kesenangan beberapa detik itu bakalan lo bayar dengan harga yang sangat mahal kalau lo sampai tertangkap bertingkah seperti rakyat jelata — istilah yang digunakan nyokap gue setiap kali anak-anaknya mulai bertingkah kurang santun — dan setelah semalaman lo nggak tidur sama sekali, lo nggak bakalan punya tenaga buat menjawab argumen dari nyokap lo.  So, shut it!

Tarik napas… satu… dua… tiga…

Buang napas… satu… dua… tiga…

Gue memutuskan untuk menanggapi perkataan nyokap gue itu dengan seulas senyum polos, sebelum membuang tatapan gue pada  lapangan kecil yang letaknya berseberangan dengan Union, tempat yang dipilih oleh Nora sore itu untuk mempertemukan gue dengan tunangannya.  Beberapa orang duduk sambil merokok, memandangi atraksi air mancur yang terletak di tengah lapangan itu.  I can’t actually say it’s a fountain.  Lebih tepatnya, setiap beberapa menit sekali, lapangan itu mengeluarkan cipratan air yang melompat kesana-kemari.  Maaf kalau deskripsi gue jelek.  Gue terlalu capek untuk bisa mendeskripsikan atraksi air bodoh itu.

Nduk, tak kenalke anake Tante Mustika.  Lulusan Amerika juga.”

Lagi, gue menahan diri untuk nggak memutar bola mata gue di depan nyokap gue.  Ingin rasanya gue berlari ke lapangan di seberang dan berteriak sekeras-kerasnya, melampiaskan kepenatan gue.

“Nanti aja deh, Bu…” gue buru-buru mengelak.  “Besok udah mau balik Singapur soalnya.”

Gue mencuri pandang ke arah Nora, yang duduk di sebelah nyokap gue sambil sibuk dengan BlackBerry-nya.  Sejak tadi, si Emon nggak banyak bicara.  Tumben.  Selain menceritakan tentang jam Tag Heuer yang ia berikan untuk calon suaminya sebagai kado tunangan mereka, si Emon memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat.

Melihat Nora membuat gue teringat akan apa yang terjadi pada gue sebelum kami berpapasan. Pagi itu, ketika gue sedang berjalan perlahan menuju pintu keluar rumah sakit, gue merasa diawasi.  Begitu gue memutar tubuh gue, gue menemukan Tejas berdiri sambil bersandar ke tembok, memandangi gue dalam keheningan.  Tapi ia tidak sendirian.  Karena tak jauh dari tempat ia berdiri, calon bos gue  duduk di atas kursi roda dengan pandangan yang diarahkan pada gue.

Saat menatap keduanya, gue menemukan diri gue tidak bisa merasakan apa-apa selain rasa lelah yang tak bertepi.  Gue terlalu lelah — physically and emotionally — untuk bisa merasakan apapun.  I’m overwhelmed.  Akhirnya, gue hanya bisa menatap mereka secara bergantian sebelum berpaling dan melangkah pergi.

Utowo wis duwe calon dewe?” suara nyokap gue memotong lamunan gue.

Calon?  Calon dari mana, Bu?  Anakmu ini selingkuhan dari seseorang yang ngotot nggak mau melepaskan anakmu sehingga  dia tidak kunjung bisa bertemu dengan calonnya — entah calon apaan itu yang Ibu mau.

Seperti biasa, perkataan nyokap gue selalu membuat telinga gue panas.  Melewatkan beberapa jam mendengarkan apa yang nyokap gue harapkan dari gue selalu membuat gue nyaris meledak.  Dan dengan setiap harapan yang ia inginkan dari gue, gue merasa semakin kangen sama bokap gue.  Things would be different if he was still here with me.

Mata gue mendadak terasa panas.  Sebelum airmata gue tumpah, gue buru-buru berdiri dan pamit ke toilet.  Nyokap gue membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi gue terlanjur berlalu.  Dengan kepala tertunduk, gue melangkah menuju toilet tanpa memerhatikan jalanan di hadapan gue.  Gue terlalu sibuk berusaha menahan airmata gue hingga gue tidak melihat seseorang berjalan ke arah gue dengan tergesa-gesa.  Tanpa terelakkan, tabrakan pun terjadi.

“Aduh!”

“Jack!” Gue mendengar suara Nora berseru, disusul dengan suara langkah-langkah kaki mendekat.

“Kamu nggak apa-apa?” Seseorang bertanya pada gue sambil mengulurkan tangannya untuk membantu gue berdiri.

“Ummm…” gue hanya bergumam tanpa menjawab.  Ketika gue menerima uluran tangannya, gue menengadah dan menemukan si Emon berdiri di samping orang yang barusan gue tabrak dengan ekspresi khawatir.

“Taya, kenalin.  Ini Jack Hanafiah, tunangan gue,” kata si Emon, memperkenalkan cowok berkulit gelap itu pada gue.

Cowok itu menatap gue lekat-lekat dalam waktu yang lama —  membuat gue merasa bak serangga yang sedang diamati di bawah mikroskop.  Tatapannya itu membuat gue merasa ditelanjangi, dikupas seperti bawang.  Lalu, perlahan-lahan, bibirnya membentuk sebuah senyum, memamerkan lesung pipi di kedua pipinya. Matanya menyala, dan gue bisa merasakan bahwa ia menyukai apa yang dilihatnya.

Damn, I smell trouble.

8 thoughts on “[She Says] Episode 19: Wrong Impression

  1. Ngga jd END ?? … *Jingkrak-jingkrak* .. Wwaa … Thanks kak omi .. Cerita Taya masih berlanjut . Sepert.a kali ini Taya sdg bergalau ria masalah keluarga .. Dan si NORAEOMON itu benar-benar …. *Tarik nafas*…
    Mana Tejas Mana ???? Ooo

  2. maafin kalau aku terlalu bolot sampe harus baca 2x buat paham betul sama latar waktu di cerita ini. dan aku rasa aku mesti membiasakan diri sama alur mundur yang (sepertinya) hobi banget dipake sama penjaja kata satu ini.

    ada cast baru muncul and yes, I smell trouble too. a big trouble.
    ga bisa ngebayangin cinta segi berapa yang bakal terjadi di episode2 selanjutnya.
    tapi plis, taya sama tejas aja ya #teamtejas

  3. *ngumpet sebelum dihujat karena melempar spoiler meleset tentang ceritanya berakhir di episode 18*

    Terima kasih Dora & Wahyunnie untuk antusiasnya karena seri ini nggak jadi berakhir.

    Aya, maaf yah kalau alur maju-mundurnya membuat kamu kebingungan. Kalau kamu ada saran untuk memudahkan pembaca lain, jangan ragu untuk berbagi ya heheh🙂

    Tejaaass… fans kamu bertambah lagi!! :p

  4. Cowok itu menatap gue lekat-lekat pada waktu yang lama — membuat gue merasa bak serangga yang sedang diamati di bawah mikroskop. Tatapannya itu membuat gue merasa ditelanjangi, dikupas seperti bawang. Lalu, perlahan-lahan, bibirnya membentuk sebuah senyum, memamerkan lesung pipi di kedua pipinya. Matanya menyala, dan gue bisa merasakan bahwa ia menyukai apa yang dilihatnya.

    Samasekali enggak menyangka keadaannya akan terbalik seperti ini.Awalnya saya percaya kalau nanti si Nora bakalan ngerebut cowoknya Taya. Tapi ternyata sebaliknya. Taya-lah yang dikejar-kejar sama tunangan Nora… –___–” ya ampun. enggak disangka-sanggka banget.

    Dan satu lagi, hal yang aku sukai dari cerita Kakak ini, yang bikin aku menyadari kalau cantik itu bukanlah segalanya. Kalau cantik bisa saja menimbulkan masalah, well, masalahnya semacam dikerubuti cowok2 kek gini sih. Bukannya saya bersyukur jadi orang yang kurang cantik sih, tapi cerita Kakak membuat saya untuk lebih PD lagi. I like the way you try to tell me that beauty is not everything, Sist.

    Terima kasih.
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s