[She Says] Episode 18: Sputnik Sweetheart


5.51 AM

Jakarta, MRCCC Hospital

I hope I can just text a stranger and tell her or him all my problems.  

It’s just a few minutes before the sun rises when I finally realize that I always set myself up to get hurt.  It’s nobody’s fault but mine.  I wonder if there’s somebody out there who feels exactly what I feel right now.  

They said that love is just a state of mind.  A piece of missing puzzle you can never find.  

That’s why some people spend a lifetime looking for that missing puzzle, hoping that it will complete themselves.  They’re looking for a travel companion, someone to hold their hand when the road gets bumpy.  Their very own ‘sputnik’, a Russian word for ‘traveling companion’.  

They’re looking for their very own Sputnik Sweetheart.

*

Lima belas menit berlalu dalam keheningan yang begitu intens.  I find myself admiring my own self because I haven’t exploded yet after the series of unfortunate serendipity that have happened to me tonight.  Instead, I find my thoughts roaming around freely while Tejas sits mutely in front of me.

Ya, sejak tadi Tejas hanya diam sambil memainkan lighter di tangannya.  Sesekali, gue bisa merasakan tatapannya terarah pada gue, tapi gue tak kunjung bergeming.  He said that he wants to talk, so I won’t say anything unless he starts talking.  Here we are, duduk di kegelapan kafetaria rumah sakit yang sudah tutup sejak berjam-jam lalu, duduk berhadap-hadapan tanpa mengatakan apapun terhadap satu sama lain.

Memori gue terbang kembali pada momen saat Tejas meninju cowok gue hingga ia terpental dan menghantam dinding.  Bahkan hingga sekarang, sepertinya keterkejutan gue masih tak kunjung habis.  Membayangkan Tejas membiarkan emosi sesaatnya mengancam kariernya adalah sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh logika gue, mengingat perjuangan panjang yang harus ia tempuh agar bisa sampai ke titik ini.  Tapi Tejas sama sekali tidak kelihatan menyesal akan apa yang telah dilakukannya.  Gue sampai harus melerai mereka karena Tejas kelihatannya masih sanggup menghajar cowok gue tanpa ragu-ragu.

“Jangan coba-coba ngehalangin gue, Tay,” kata Tejas dengan napas memburu.  “Dia harus tahu apa yang selama ini udah dia sia-siakan.”

Cowok gue bertumpu pada tembok dan mulai berjalan terhuyung-huyung ke arah Tejas, siap untuk membalas bogem mentah yang tadi diterimanya.  Gue mulai panik.  Kemanakah sekuriti di saat genting begini?  Masa sih nggak ada satu orang pun yang mendengar keributan ini?

Tawa rendah bernada mengejek yang keluar dari mulut cowok gue membuat gue seketika menoleh ke arahnya.  Pada saat itu, barulah gue teringat akan apa yang baru saja menimpa cowok gue.  Kegilaan yang menimpa gue secara terus-menerus beberapa jam terakhir ini sampai membuat gue lupa bahwa nyokapnya cowok gue baru saja meninggal.  Yang membuat gue kemudian bertanya-tanya sendiri: ngapain itu orang berkeliaran di rumah sakit jam segini?  Bukankah seharusnya dia mengurus pemakaman nyokapnya?

“Jadi dia yang bikin lo pengen putus dari gue, Ya?” tanya cowok gue.

Tanpa sadar, gue mundur satu langkah begitu mendengar betapa dinginnya nada bicara cowok gue.  Seperti yang pernah gue bilang, cowok gue adalah tipe manusia santai kayak di pantai. Melihat dia tiba-tiba terbakar oleh amarah seperti ini membuat gue tidak hanya syok, namun juga bingung harus melakukan apa.  Tejas menangkap tatapan kebingungan gue, dan ekspresi wajahnya berubah menjadi tidak terbaca.  Ia menatap gue selama beberapa saat dengan tatapan yang nggak bisa gue artikan, lalu kembali menatap cowok gue dengan tatapan menantang.

Gila, benar-benar gila.  Saking gilanya, gue sampai lupa untuk menjawab pertanyaan yang tadi dilontarkan cowok gue pada gue.

“Taya… jawab gue,” perintah cowok gue.  Suaranya turun satu oktaf, sehingga perintahnya itu terdengar seperti sebuah ancaman.

Jawabannya sangat sederhana, dan gue bisa merasakan jawaban itu merayap ke ujung lidah gue, menunggu untuk melompat keluar dari mulut gue.  You know how tolerating each other more often means you’re losing yourself in the process?  Well, tolerating him has made it hard for me to recognize myself anymore.  

So if he’s looking for the answer, he doesn’t have to go far to be able to obtain it.  Jawabannya menyapa dia setiap kali dia melihat bayangannya di cermin.  Ya, jawaban mengapa gue ingin memutuskan hubungan ini adalah dia.  Karena dia tidak kunjung bisa menentukan pilihan hatinya.  Karena dia membuat gue merasa tidak cukup berharga untuk menjadi satu-satunya perempuan di dalam hidupnya.  Karena dijadikan nomor dua olehnya selama ini membuat gue kesulitan untuk memercayai bahwa gue mempunyai segala hal yang membuat gue layak untuk dicintai seutuhnya.  Tapi… tegakah gue memberikan jawaban gue setelah cowok gue baru saja kehilangan nyokapnya?

Akhirnya gue hanya diam dan menurunkan tatapan gue, menatap lantai putih cemerlang yang gue injak.  Gue mendengar cowok gue melengos tak percaya, dan detik selanjutnya Tejas mengerang kesakitan.  Ketika gue memutar kepala gue, gue menemukan Tejas di lantai, memegangi perutnya dengan wajah kesakitan sementara cowok gue melangkah pergi.  Mengingat ukuran tubuh cowok gue yang memang jauh lebih kekar daripada Tejas, gue nggak terlalu kaget begitu melihat dia bisa melumpuhkan Tejas dengan mudah.

Gue bergegas berlutut, berusaha membantu Tejas berdiri, all the while thinking where the hell is the security team when we need them most?!  

“Tay…” bisik Tejas, masih dengan wajah merengut menahan sakit.  Hembusan napasnya terasa hangat menerpa wajah gue, dan tiba-tiba saja sebuah kilasan muncul di kepala gue.  Kilasan itu terlihat blurry, dan gue nyaris tidak bisa menangkap detail apa-apa selain sebuah sensasi hangat yang membuat jantung gue berdebar keras ketika gue merasakan jari telunjuk gue menyentuh bibir Tejas.

Gue terhenyak halus, dan tanpa sadar gue menatap jari-jari tangan Tejas yang melingkar di bahu gue.  Gue berusaha untuk mengingat lebih banyak, namun detail-detail dari memori itu malah semakin hilang saat gue memaksa diri gue untuk mengingatnya dengan lebih jelas.

*

“Lo benar-benar nggak ingat akan kejadian malam itu, ya?”  Akhirnya Tejas membuka mulut, menyadarkan gue dari lamunan gue.

Pada saat itu, sinar matahari pertama pagi itu mulai menyeruak masuk lewat jendela-jendela, dan untuk pertama kalinya gue menyadari bahwa gue sudah terlalu lelah untuk bisa merasakan apapun.  Gue bahkan nggak lagi merasa benci ataupun marah pada Tejas, meskipun ia telah membawa-bawa kejadian itu lagi.  Gue hanya merasa… hampa.  Jauh di dasar hati gue, ada sebuah lubang hitam yang menganga.  Seperti hujan tipis-tipis tak kasat mata yang turun di kala matahari belum menampakkan wajahnya, rasa yang bergumul dalam lubang itu pun tak bisa gue lihat dengan mata telanjang.  Gue bahkan tak tahu sejak kapan lubang itu muncul di hati gue.

Gue menggelengkan kepala perlahan, dan Tejas menunduk seraya meletakkan lighter-nya di meja.  Sebuah kilasan muncul lagi dalam kepala gue begitu lighter itu menyentuh meja.  Gue melihat percikan api, yang disusul dengan pekikan kesakitan yang terdengar seperti suara gue sendiri.  Lalu gue melihat bayangan samar Tejas mencium ujung telunjuk gue.  Dan lagi-lagi memori itu lenyap dari benak gue sebelum gue sempat tahu lebih banyak.

I can’t say that I’m sorry it happened,” kata Tejas pelan, matanya terlihat seperti lelehan cokelat Hershey’s Kisses ketika sinar matahari menimpanya.  “Gue tahu, bukan itu yang lo ingin dengar dari gue.  Tapi gue nggak akan bohong sama lo.  And when I told you that I love—”

Stop there, Jas, please…” gue menyela.  Mendadak gue merasakan airmata gue mulai membayang di pelupuk mata gue.  Mati-matian, gue berusaha menahan airmata gue.  Namun ketika gue mengangkat wajah dan pandangan gue bertemu dengan pandangan Tejas — who is obviously and obliviously smitten by me — gue nggak bisa lagi menahan airmata gue.

I’m a mess, Jas.  I’m a failure.  My family detest me. I have no career I can be proud of.  I don’t even have a life, what with no real friends to speak of.  People put vague moral judgement on me ever since I was a teenager.  This face… this beauty… is like a curse to me because it gives people the rights to put certain irrational expectation on me.  What is it you’ve found in me that makes you look at me that way?  The way you look at me makes me feel as though I have fooled you with my outer beauty.

“Gue maafin lo, Jas,” kata gue akhirnya.

Tejas mengangkat wajahnya dengan ekspresi terkejut.  Mulutnya membuka sedikit, namun tak ada kata-kata apa-apa yang keluar dari mulutnya.

“Meskipun gue nggak inget apa yang sebetulnya terjadi malam itu, gue tahu itu bukan sepenuhnya salah lo.  I just wish I could remember more,” kata gue.  Gue menggelengkan kepala sebelum Tejas sempat menawarkan diri untuk mengisi kevakuman yang muncul di otak gue setiap kali gue berusaha mengingat lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu.  “No, please don’t tell me anything about that night.  I need to remember it on my own.

Tejas mengangguk dalam diam.  Ketika akhirnya ia bicara lagi, ia terdengar terluka, dan gue bisa melihat lewat sorot matanya bahwa tidak mudah baginya untuk melakukan itu.  “So… I guess, this is goodbye?

Gue mengangguk mengiyakan.  Lalu, keheningan kembali memenuhi udara di sekeliling kami.  Namun keheningan yang kali ini menyelimuti kami adalah keheningan yang berbeda.  Keheningan yang melegakan.  Keheningan yang selalu muncul saat hujan turun.  Keheningan yang menenangkan.  Keheningan dua orang teman yang bisa menerima satu sama lain apa adanya.

Dan dalam hening itulah gue menemukan diri gue bertanya pada sosok cowok gue yang saat ini tidak gue tahu di mana keberadaannya:

Why can’t you let me go so that I can finally find my own sputnik sweetheart?

14 thoughts on “[She Says] Episode 18: Sputnik Sweetheart

    • Hai, Dora & Gina…
      Ini tamatnya begini. Ini episode terakhirnya She Says.

      ^ kemudian penulis disiram oleh para pembaca karena ending-nya gak jelas
      hahahahha :p

      • Aaaaaahhh..omi-san..jahaaaaatt..hik..requestku yg jangan digantung endingnya tak dihiraukan..hik..hik..hik..aaaaahh..kalau memang begitu saya akan berdemo di komen ini setiap hari sampai keluar lagi episode baru..=)

  1. Terusin nggak, ya?
    Gini deh… kalau Jotir Episode 2 rilis, saya terusin She Says Episode 19 –> wolf grin ke arah Gina, Stella, dan Yasmin

    Hohoho…
    Silakan demo sama mereka, Dora =P

  2. Hihihi… terusin nggak, ya?
    Gini deh… kalau Jotir Episode 2 rilis, saya tulis Episode 19 –> wolf grin ke arah Gina, Stella, dan Yasmin

    Jadi mari kita sama-sama demo agar Jotir segera rilis! =P

  3. “Meskipun gue nggak inget apa yang sebetulnya terjadi malam itu, gue tahu itu bukan sepenuhnya salah lo. I just wish I could remember more,” kata gue. Gue menggelengkan kepala sebelum Tejas sempat menawarkan diri untuk mengisi kevakuman yang muncul di otak gue setiap kali gue berusaha mengingat lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu. ”No, please don’t tell me anything about that night. I need to remember it on my own.

    So, Taya, when you remember that night, lu bakal jadiin Tejas pacar lu enggak? Masalahnya, gue kasihan sama itu cowok. Lu kok gitu banget sih… *mata berkaca-kaca* *puk puk Tejas*

    Yah, Akhirnya, Taya dan Tejas saling… et, Taya akhirnya memaafkan Tejas, saya pikir mereka akan memiliki konflik yang lebih lama lagi dari ini. Ternyata akhirnya Taya pun tak sanggup terlalu lama marah sama Tejas kayaknya.

    emmh, berhubung si Tejas dan Taya enggak saling bertemu, saya rasa si Bos bakalan punya kesempatan untuk nyelip. Hihihihi. Semangat Bos! I’m Yours deh :3

    Terima kasih ya Kak atas suguhannya Kak, semoga semakin maju blognya!^^

    • Saya pikir juga begitu…

      Pada akhirnya hati sudah memilih ya🙂 Taya selalu balik lagi ke Tejas.

      Si boss kerjaannya bakal berat ya ahahahahahaha… tapi, saya rasa si boss dgn sebagian kepribadiannya yang ditunjukkan di beberapa post yg lalu akan membuat gelombang besar di hati Taya yang sedang galau.

      Entah kenapa tiap bayangin si bos, kebayangnya angin sejuk di pantai di awal musim gugur~~

      • Yup, Taya dan Tejas memang tak bisa dipisahkan. Mereka punya ikatan, entah apa namanya. Yang hanya bisa dijelaskan oleh si Penulis dan dunia mereka. Hihihi. Jadi saya hanya bisa menunggu dan menduga-duga apa yang akan terjadi pada dunia mereka😛

        Hahaha, iya, kalau si Bos mau ngerebut hati Taya. Kayaknya memang harus berhadapan langsung dengan Tejas. Pasalnya, itu cowok sudah memenuhi dunia Taya secara penuh seluruh. Tapi bukannya si bos engggak punya kesempatan sih. Seperti yang Kakak bilang, si Bos telah mencuri love at the first sight-nya Taya. Sementara Tejas First Love-nya.

        Kalau saya bayangin si Bos, saya bayangin tiang listrik .___. *ditendang Kak Omi*

    • Halo, Dikta. Dan halo juga Gina🙂
      Saya senyum-senyum sendiri membaca komen kalian, seakan-akan saya ini Taya. Hehe🙂

      Taya bakal beruntung sekali kalau memiliki teman seperti kalian dalam dunianya yang sepi itu.

      Yang saya tangkap, sepertinya saya misled beberapa pembaca, membuat mereka mengira Tejas itu cinta pertamanya Taya, seperti layaknya Taya itu cinta pertamanya Tejas. Padahal…. *spoiler alert*

      Ihihihi…
      Gina, sama. Yang saya bayangkan tentang si bos itu adalah angin musim gugur di pantai🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s