Embun


Aku mencintaimu seperti embun
Yang dalam hening menitis ke atas daun
Tak terlihat, tak teraba, tak terucap
Cinta yang membasuh hati untuk sekejap

Dan bila bersinar mentari pagi, merayap naik
Menggelitik kuntum-kuntum pudar nan letih
Kurela walau dengan airmata menitik
Menguap, lantas lenyap bagaikan buih

Dan kesejukan tanpa nama itu,
Lama setelahnya, tak jemu
Kuharap tetap tinggal dalam hatimu
Ini bukanlah kenangan cinta semu

10 thoughts on “Embun

  1. Komentar pertama yang aku tuliskan. Sekedar berjalan sembari menggali ilmu dari kata-kata yang bertebaran. Puisinya ringan. Setidaknya aku ga perlu jungkir balik untuk menerima maknanya hehe =))

  2. Meleleh.

    Jadi ingat cintaku yang tak kunjung bisa bersatu.
    Kami selalu terpisah oleh bunyi weker di pagi hari.
    Karena itulah aku cinta tidur *Plaaaak*

    kekekeke
    Good job Gina. Kegetiran ini… janganlah cepat berlalu #IniKode.

      • Ini kode untukmu Hay nona penulis jomblo getirrr :”D
        *Tunjuk dengan garpu* *Tarik coco keluar*

        Bukan. Ini untuk si mata tajam.
        The one that used to be a fat kid on the corner.
        Ah… kenapa kita selalu bertemu saat malam dan terpisah saat pagi.
        Bagai romeo dan juliet yang tidak direstui bantal dan weker *hux*

        LOL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s