[She Says] Episode 17: Half of My Heart


Your faith is strong
but I can only fall short for so long
Down the road, later on
you will hate that I never gave more to you than half of my heart
but I can’t stop loving you
I can’t stop loving you [x3]
but I can’t stop loving you with half of my…

half of my heart
half of my heart

Half of My Heart — John Mayer

Have you ever laid your eyes on someone and immediately thought: I want you today, tomorrow, next week, and for the rest of my life?

Dua tahun lalu, pikiran itu melintas di kepala gue saat gue pertama kali melihat Taya Kadhita menertawai sesuatu yang gue katakan.

Pria mana pun pasti setuju kalau gue bilang bahwa kecantikan Taya itu jauh di atas rata-rata.  Darah Indonesia-Jepang-Belanda di dalam tubuhnya telah menciptakan perpaduan yang sempurna: tubuh tinggi, kulit putih halus, sepasang bola mata sempit berwarna cokelat-kehijauan, dan rambut lurus kecokelatan yang tergerai hingga hampir menyentuh pinggangnya.  Jauh sebelum gue resmi berkenalan dengannya, gue sering menangkap cowok-cowok di kampus gue mencuri pandang ke arah Taya setiap kali ia lewat.

Uniknya, Taya itu bukan perempuan cantik yang tidak menyadari kelebihan dirinya.  Gue tahu banget kalau dia nyadar akan kelebihan fisiknya, tapi dia nggak pernah menjadikannya sebagai alasan untuk bertingkah congkak.  Malah, ia memperlakukan kelebihan dirinya itu layaknya sesuatu yang biasa-biasa saja.  Like a birth right she has been having ever since the day she was born.  Makanya gue heran kenapa banyak cewek-cewek yang nggak suka sama Taya.  It’s not like she goes around advertising her beauty for her advantages.

Selama empat bulan gue berbagi kelas Professional Imaging Portfolio dengan Taya, telinga gue selalu menangkap komentar-komentar miring yang diarahkan padanya.  Kebanyakan sih yang ngomentarin adalah sesama mahasiswa Indonesia.  Awalnya gue denger mereka ngomongin soal karier singkat Taya di dunia modeling ketika ia masih remaja.  Lalu mereka mulai berpindah topik dan ngobrolin soal karier Taya sebagai peragawati termuda di runway-nya Jakarta Fashion Week.  Lalu kemudian mulailah mereka memunculkan macam-macam spekulasi gila mengenai alasan mengapa Taya bisa menjadi peragawati termuda yang dipercaya oleh desainer-desainer kondang untuk melangkah di event sekelas Jakarta Fashion Week.

“Bisa dipake.”

“Udah terkenal banget tuh cewek kesukaan pejabat-pejabat.”

“Eh, dia katanya kerja di Alexis juga, lho!”

Gila, bener-bener gila.  Memang sih Taya itu terkenal sebagai perempuan yang suka party, tapi…

Ah, gue nggak ngerti deh sama otak orang-orang Indo kebanyakan.  Setiap kali lihat orang yang pergi clubbing, ngebar, atau minum-minum, langsung deh itu orang kena cap sebagai orang nggak bener.  Ini lagi, mahasiswa-mahasiswa Indo yang udah jauh-jauh sekolah ke San Fransisco juga masih aja sempit pemikirannya.

Sori, gue memang terbiasa menganalisa setiap aspek kehidupan dengan logis dan tanpa melibatkan emosi-emosi yang tidak gue anggap perlu.  Emosi-emosi itu sering merundungi tatapan kita sehingga kita tidak bisa melihat dengan jelas sesuatu yang memang benar atau salah.  Gue dibiasakan oleh kedua orangtua gue untuk selalu mengandalkan logika gue sejak kecil, dan orangtua gue tidak pernah setuju setiap kali gue menunjukkan perasaan gue dengan terlalu gamblang.  Menurut mereka, itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang menjadikan manusia lemah.

Berkebalikan dengan orangtua-orangtua lain yang suka memanjakan anak tunggal mereka, orangtua gue justru menjadi lebih determined untuk membentuk gue menjadi sosok yang kuat sehingga gue nggak perlu bergantung pada siapa-siapa.  Lagipula, kalau gue menjadi sosok yang lemah, pada siapa pula gue akan bergantung?  Gue nggak punya saudara kandung.  Kedua orangtua gue adalah anak tunggal, sama seperti gue.  Gue juga nggak dekat dengan sanak saudara jauh gue.

Menjadi anak tunggal membuat gue memperlakukan teman-teman gue layaknya saudara.  Gue senang bergaul dengan siapapun, karena itu membuat gue lupa akan rasa sepi yang menghinggapi gue saat gue pulang ke rumah.  Sejak kecil, gue punya banyak teman.  Mulai dari teman-teman di sekolah, teman-teman di tempat les, teman-teman di kompleks rumah, dan masih banyak lagi.  Namun dari sekian banyak teman yang gue miliki, hanya ada satu yang benar-benar dekat dengan gue: Naya Sastrawidjaja.

Naya adalah alasan mengapa gue nggak bisa ninggalin pacar gue.  Naya adalah alasan mengapa gue dan Taya tidak bisa bersama seperti layaknya pasangan normal lainnya.  Naya memang telah pergi selama lebih dari sembilan tahun, namun tidak satu hari pun berlalu tanpa gue memikirkan dia.

Karena Naya telah meninggalkan Rania untuk menjadi tanggung jawab gue selamanya.

*

Rania Syahida adalah pacar pertama dan terakhir bagi Naya.  Rania pindah ke SMP kami dari Bandung ketika gue dan Naya duduk di bangku SMP tahun terakhir.  Seperti mojang Bandung kebanyakan, Rania memiliki tata bahasa yang halus dan sopan.  Wajahnya selalu bersemu merah setiap kali ia menangkap cowok-cowok di sekolah mencuri-curi pandang ke arahnya.  Rania memang cantik sih, tapi dia bukan tipe gue.  Makanya gue cuek-cuek aja melihat teman-teman gue heboh berusaha menarik perhatiannya.

Naya nggak pernah cerita sama gue kalau ternyata dia juga naksir Rania.  Dia selalu belagak nggak peduli setiap kali Rania melintas.  Dan karena kelas Rania bersebelahan dengan kelas kita, frekuensinya melintas di hadapan kita lumayan banyak.  Tapi Naya sama sekali nggak menunjukkan ketertarikannya.  Hingga suatu hari, tiba-tiba Rania-lah yang menghampirinya duluan dengan malu-malu.  Di tangannya, ia membawa selembar surat.  Gue mengenali tulisan tangan Naya yang gede-gede kayak anak TK itu tercantum di dalam surat itu.  Otomatis gue langsung meliriknya dengan kaget.

Kapan Naya ngirim surat itu?  Dan ngapain juga Naya nulis surat buat Rania?  Padahal, Naya itu terkenal banget paling alergi disuruh ngarang untuk pelajaran Bahasa Indonesia.

Naya cuma membalas keterkejutan gue dengan cengiran lebar sebelum ia meraih tangan Rania, mengajaknya untuk berbicara berdua di sudut kelas yang sepi.  Gue nggak pernah tahu apa isi surat Naya, dan gue juga nggak pernah tahu apa yang mereka bicarakan setelah Rania membaca isi surat Naya.  Yang jelas, semenjak hari itu, Rania dan Naya tak pernah terpisahkan.  Dimana ada Naya, di sana ada Rania, dan begitu pula sebaliknya.

Kebersamaan mereka terpaksa terganggu ketika orangtua Naya memutuskan untuk mengirim Naya kuliah ke Singapura bareng gue.  Namun entah kenapa, gue yakin banget bahwa hubungan Rania dan Naya bakal baik-baik aja.  Gue percaya bahwa apa yang mereka rasakan itu cukup kuat untuk mengatasi jarak yang memisahkan mereka.  Lagipula, jarak itu kan bukan jarak yang permanen.  Naya masih bisa pulang setiap liburan.  Tanpa terasa tiga tahun akan berlalu begitu saja, dan tahu-tahu Naya sudah kembali ke Indonesia.

Dan gue memang benar.  Apa yang Naya dan Rania rasakan pada satu sama lain memang begitu kuat.  Sebegitu kuatnya sehingga Rania benar-benar hancur ketika dia mendengar bahwa Naya tiba-tiba melompat terjun dari balkon kamarnya.

Di hadapan gue.

*

Tangan gue gemetaran hebat saat akhirnya gue menemukan apa yang gue cari.  Sebuah kotak kaleng kecil berisi beberapa linting ganja yang usianya sudah lebih dari sembilan tahun.  Benda yang gue kubur dalam-dalam di loteng rumah gue.  Benda yang telah mengacaukan sistem saraf Naya sore itu hingga akhirnya ia lompat dari balkon kamarnya.

One minute we were laughing like we didn’t care.  Tidak ada yang terasa salah.  Gue sudah terlalu terbiasa dengan sensasi yang membuat gue melayang setiap kali gue menghirup ganja bareng Naya hingga gue tidak lagi terkaget-kaget.  Gue mulai bisa menikmati kekosongan yang mengisi otak gue seiring dengan hisapan ganja yang mengisi tubuh gue.  I didn’t feel guilty anymore.  Why should I?  Everyone else was doing it too.  We were free, far away from home, we were young.  Might as well live like we’re dying.

Dentuman keras yang menggema dari lantai bawah membuat gue melompat kaget.  Keringat dingin mulai membasahi kemeja gue.  Suara dentuman itu mengingatkan gue akan suara yang terdengar ketika tubuh Naya menghantam aspal.  Tiba-tiba saja tubuh gue terasa limbung, dan kotak kaleng kecil itu meluncur lepas dari tangan gue, menimbulkan suara kelontangan ketika membentur lantai.

“Ale…?”  Satu suara lirih membuat gue sontak menoleh.

Mata gue menemukan Rania berdiri di ambang pintu loteng.  Sinar kekuningan dari lampu yang menyinari lorong menyirami tubuh mungilnya, membuat bola mata besarnya berkilau.  Ia kelihatan khawatir saat menemukan gue sendirian di dalam loteng.  Cepat-cepat, gue menendang kotak kecil berisi ganja itu hingga menghilang dari pandangan.  Rania tidak perlu diingatkan akan kenangan pahit itu.  Terutama setelah ia berbaik hati memberikan sandaran dan dukungan untuk gue seharian ini.  Rania telah banyak membantu gue dan bokap dalam mengurus pemakaman nyokap.  Ketika gue dan bokap masih terlalu syok untuk bisa mengurus ini-itu, Rania dengan gesit menelepon kesana-kemari, dan tiba-tiba saja semuanya sudah beres.

Get a grip, Allegro Anggoro.  The drugs won’t work.  It didn’t work back then, it won’t magically work for you now.  They just make you worse.

But can I go through life without it?  I’ve lost so much already.  Naya, nyokap gue, dan…

Gue memejamkan mata ketika bayangan Taya dalam dekapan sosok dokter sialan itu kembali muncul di pelupuk mata gue.

Apakah gue akan kehilangan Taya juga?

Sebelum gue sempat berpikir lebih jauh, tahu-tahu gue merasakan lengan Rania melingkari tubuh gue, merengkuh gue erat.  Sebelah tangannya membelai rambut gue dengan lembut, dan ia berbisik lembut di telinga gue, menenangkan gue.

“Aku ada di sini untuk kamu, Le.  Kamu dan aku, nggak ada satu pun yang nggak bisa kita lewati selama kita tetap bersama,” bisik Rania sambil mempererat pelukannya.

Gue termenung mendengar bisikannya.

Kamu dan aku, nggak ada satu pun yang nggak bisa kita lewati selama kita tetap bersama.  Itulah yang gue katakan pada Rania ketika ia bersimpuh di depan makam Naya.  Pada saat itu, gue berjanji pada diri gue bahwa gue tidak akan membiarkan Rania bersedih lagi.  Detik itu juga, gue bersumpah pada arwah Naya bahwa gue akan selalu menjaga Rania.  Gue akan membahagiakannya.  Karena secara tidak langsung, gue telah merenggut Naya darinya.  Kalau gue bisa menjaga Naya dari buasnya pergaulan di luar sana… kalau gue bisa menjadi sahabat yang baik… Naya mungkin masih akan berada di sini bersama kami.

Setitik airmata muncul di sudut mata gue ketika badai emosi mulai menguasai gue.  Gue kembali melihat Taya dalam benak gue, tersembunyi di balik tubuh dokter itu.  Gue bisa melihat wajah terkejutnya ketika dokter itu menghajar gue.  Walaupun gue kesal setengah mati pada dokter brengsek itu, harus gue akui, semestinya Taya bersama seseorang yang bisa membelanya seperti itu.  Seseorang yang rela melakukan apa saja untuknya.  Gue seharusnya melepaskan dia, agar dia bisa bersama dengan seseorang yang benar-benar bisa bersamanya setiap saat.

But I can’t.  She’s everything and more, and I want her today, tomorrow, next week, and for the rest of my life

“Makasih, Taya…” Bisikan itu meluncur lepas dari bibir gue sebelum gue bisa mencegahnya.

 

14 thoughts on “[She Says] Episode 17: Half of My Heart

  1. Omi-san..makasiiihh..cpt keluarnyaaa..Wah..saya jadi kasian sama si Ale “pria berhati dua” yang ternyata tidak sepenuhnya berhati dua..tapi entah kenapa tetep maunya Taya-Tejas..hik..

    Omi-san..jangan bikin Taya balik sama Ale..hik..tapi entah kenapa kayaknya Taya yang sekarang lagi kesel bgt sama Tejas..jdi berasa besar kemungkinan Taya balik kalo dy tau alasannya Ale..haiizzz..jadi down..ahahahaha..tapi tetep penasaran..hehe..

  2. Finally …. Si’Pria Berhati Dua’ itu muncul jg … Ale .. His name is Ale .. Ooo .. Jdi itu alasan dy gk bisa lepas dri pacar.a Renya.. Karna sobat.a . Naya … Rumit tpi seru ..
    Meski bgitu .. Masih suka Taya-Tejas .. Go Tejas Team .. Hihihi

  3. Team Ale mana nih suaranya? *ngarep*
    Hahahaha…
    Makasih kembali Dora & Wahyunnie yang sudah setia mengunjungi serialnya Taya. Jangan lupa mampir juga di serialnya Jotir ya, hehe🙂

  4. Kakak!! John Mayer potong rambuuuutt!! Ihiy, ihiy, gegara dia putus sama Caty Pary. Alamak, seksi abis deh tuh cowok! #okengelantur

    But I can’t. She’s everything and more, and I want her today, tomorrow, next week, and for the rest of my life

    “Makasih, Taya…” Bisikan itu meluncur lepas dari bibir gue sebelum gue bisa mencegahnya.

    Oke, saya sejak eps. 16 memang sudah curiga kalau ada sesuatu pada diri si Cowok berhati dua ini. Ada sesuatu yang saya yakini membuat dia tak bisa melepaskan kekasihnya juga Taya. Dan akhirnya terbukti di sini.

    si Tempo Cepat ini, mencintai Taya, namun di sisi lain ia sudah terlanjur bersumpah untuk menjaga Ranya akibat rasa bersalah yang ia tanggung atas sahabatnya yang meninggal. Poor him. Point of view saya atas dirinya berubah drastis. Meskipun tak bisa mendeklarasikan diri sebagai Team Alle, saya tetap suport dia untuk menemukan kebahagiaan dia sendiri.

    Alle enggak bisa mengikat Taya selamanya. Taya perlu Move On dari dia, dan Alle juga perlu Move On dari dirinya sendiri.

    Well, tapi ini masalah cinta, ya Sist. Si Cowok berhati dua itu juga perlu memperjuangkan cintanya sampai titik darah penghabisan. Mungkin ketika ia sudah berada di satu titik dan sadar kalau Taya bukan untuknya, ia akan melepaskan Taya…

    Untuk Tejas, atau untuk si bos tiang listrik.

    *puk puk* Alle, lu kalau bingung cari cewek, gue juga mau kok jadi tempat penghiburan lu… :3 *sadar diri kalau Tejas dan si Bos milik Taya*

    • Hai, Dikta…
      Iya, itu John potong rambutnya ditemenin saya kok di DPR. Katy Perry baru aja ngopi bareng saya di warung sebelah… tsk tsk, nyesel katanya doi karena putus sama abang John <– kemudian dihujat massa.

      Menanggapi komentar Gina, Ale harus bagaimana, dong? *mendadak curhat ke Coco sebelum lari ke Dikta* :p

      terima kasih kunjungannya! Selamat hari Minggu

      • Hi hii.. Kenapa nama saya ada disini ya? Its my real name loh renya tatiana inaya and I don’t know you T_T
        Dan tidak minta ijin akan menggunakan nama saya jg seblm nya

      • Wah, kebetulan yang sangat hebat. What are the odds?🙂

        Kami di sini benar-benar memilih nama secara acak, maaf kalau ternyata sama. Benar-benar tidak disengaja🙂 *lalu nongkrong tungguin penulisnya muncul*

    • Maaf yaa untuk penulis lain kali lebih profesional lagi untuk mencari nama tokoh, inikan cerita fiktif tp tokoh yg didlm nya itu nama saya pribadi, penulis tidak kenal saya dan seblm nya tidak meninta ijin dl sama saya, wajar kalau saya merasa tidak senang! apapun itu alasan nya mau kebetulan kek yg jelas saya tidak suka

  5. Sebelumnya mohon maaf karena saya baru muncul sekarang. Saya sedang tidak dalam keadaan sehat beberapa hari terakhir.

    Saya sebagai penulis memohon maaf sebesar-besarnya karena telah merugikan pihak Anda. Saya telah menghilangkan nama Anda dari posting saya dan tidak akan menggunakan nama Anda lagi di masa depan.

    Sekali lagi, saya mohon maaf atas ketidaknyamanan yang telah Anda rasakan. Saya sungguh menyesali hal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s