[She Says] Episode 16: Boys and Girls and The Freaks in The Middle


Tejas Bakara bukanlah dokter biasa.

No, I’m not saying that he has the ability to turn into a huge, bulky green monster you’ve seen on the cinema.  Tapi Tejas memang bukanlah dokter biasa yang bisa dengan mudah elo lupakan, terutama mengingat dia punya segudang penggemar di tempat ia bekerja.  Dia memang nggak seseksi atau seganteng Dr Mark ‘McSteamy’ Sloan, tapi itu nggak mengurangi kapasitasnya untuk dikagumi oleh banyak orang.  Mulai dari sederetan perawat yang matanya berbinar-binar melihat segala sesuatu yang dilakukannya hingga para dokter-dokter senior yang mengagumi dedikasinya pada pekerjaannya.  Gue nggak bakal heran kalau kemudian gue menemukan bahwa dia pun mempunyai segudang fans di luar tempat kerjanya.  Bisa terbayang oleh gue reaksi para cewek-cewek di luar sana:

“Hah?!  Ganteng gitu profesinya dokter?  Wow, tipe calon suami idaman, tuh!”

“Ya ampun, dia bisa nyembuhin sakit hatiku, dong!”

Hingga komentar-komentar yang rada pervert seperti:

“Asyik dong!  Bisa main dokter-dokteran sama doi!”

“Gue bisa jadi suster pribadinya, dong!  Ihihihi… seksi juga ya kalau…” Okay, gue harus berhenti di situ sebelum gue digugat sama Lembaga Sensor Indonesia.  Tapi lo kira-kira get the picture, kan?

Singkat kata, sosok Tejas itu sangat dikagumi.  Yang membuat gue menjadi satu-satunya spesies anomali karena gue bisa menemukan sebuah alasan untuk tidak mengagumi Tejas.  

Nggak perlu lah gue bahas kegemparan yang malam itu terjadi di IGD saat para fans Tejas melihat gue menampar Tejas keras-keras.  Dan nggak perlu lah gue bahas pekikan-pekikan kagum yang menggema di sana-sini waktu Tejas tiba-tiba menggendong gue.  Dan juga nggak perlu lah gue bahas keterkejutan cowok gue ketika bogem mentah dari Tejas mendarat di wajahnya.  Kenapa?  Karena hal itu sama sekali nggak akan membuat Tejas kehilangan penggemar.

Let’s go back to the beginning.

*

Suara Tejas sampai berubah jadi serak karena nggak henti-hentinya dia berusaha membujuk gue untuk keluar dari bilik toilet rumah sakit.  Berkali-kali juga gue mendengar suara sekuriti yang berusaha untuk menyeretnya karena dokter satu itu telah menyalahi kodratnya sebagai laki-laki dengan nongkrong di toilet wanita.  Sesekali gue juga menangkap suara perawat-perawat yang memanggilnya karena ada pasien yang harus Tejas rawat.  Gue pikir, dengan sederet panggilan pasien yang harus ditanganinya, akhirnya Tejas bakal nyerah dan ninggalin gue sendiri.

Tapi Tejas terus-menerus kembali mendatangi bilik toilet yang telah gue tempati selama sejam terakhir, mengundang sekuriti untuk kembali berusaha menyeretnya keluar dari toilet wanita.  Lama kelamaan, para sekuriti itu pun capek sendiri karena Tejas nggak menunjukkan niat untuk keluar dari toilet wanita sebelum gue keluar.

Rese!

“Taya… gue mohon, keluar dong.  Sebentar aja.  Gue khawatir elo kenapa-kenapa.  Atau, elo mau dokter lain yang nanganin elo?  Paling nggak, tolong kasih tahu gue kenapa elo datang ke rumah sakit dini hari begini.  Elo nggak apa-apa?”

Silakan ngomong sampai berbusa-busa!  Gue nggak peduli.  Ini orang nggak ada kerjaan lain, apa?  Dari tadi bolak-balik ke sini mulu kayak setrikaan.  Pfft!

“Tay… mau gue panggilan perawat?”

Perawat?  Ntar dulu!  Jangan-jangan si Noraemon masih bertugas.  Bisa mati berdiri karena kebanyakan ketawa tuh orang kalau tahu kenapa gue bisa nangkring di dalam toilet MRCCC pada jam aneh begini.  Monyong itu hantu!  Gara-gara dia insist nyuruh gue pake tampon, gue jadi terjebak di sini.  Awas kalau sampai gue ketemu dia lagi!

Can you please let me know what you want?  I’m really, really worried about you, Tay…” Tejas menarik napas dalam-dalam.  Dan ketika akhirnya dia berbicara lagi, suaranya turun satu oktaf sehingga gue nyaris tidak bisa mendengar perkataannya.  “Tay, are you… pregnant?”

Mendengar pertanyaan Tejas yang diucapkannya secara tentatif itu membuat emosi gue tiba-tiba melonjak naik.  Pertanyaan bodohnya itu membuat gue teringat akan ulahnya bulan lalu.  Perbuatannya itulah yang kemudian merusak persahabatan kita, dan membuat gue mengurung diri di balik bilik toilet ini.  Lo pikir gue masih sanggup melihat wajah dia setelah apa yang dia lakukan ke gue di kala gue lagi mabuk berat?  Tejas sialan!  Brengsek!  How could he…?

Peristiwa yang terjadi berikutnya berlalu dengan begitu cepat hingga gue tidak yakin bahwa itu benar-benar terjadi.  Kalau gue nggak melihat dengan mata kepala sendiri darah yang mengalir deras dari hidung cowok gue, gue nggak yakin bahwa peristiwa malam ini memang benar-benar terjadi.

Secepat kilat, gue menarik daun pintu bilik toilet yang gue tempati hingga tersentak membuka, membuat Tejas mundur satu langkah karena terkejut.  Namun dengan cepat ia berhasil mengendalikan dirinya dan keterkejutan yang mengisi bola mata kelamnya itu berganti dengan tatapan khawatir.  Ya, tatapan khawatir.  Seakan-akan dia masih berhak buat memiliki perasaan itu setelah apa yang dia perbuat pada gue.  Terlambat, Jas.  Terlambat.  Kalau elo memang peduli sama gue, elo nggak akan merusak persahabatan kita.

Refleks, tangannya terulur ke arah gue, dan dengan kasar gue menepisnya sambil terus berjalan menuju ke pintu toilet tanpa sekali pun menoleh ke belakang.  Gue bisa merasakan Tejas mengikuti gue dalam jarak dekat, tapi gue nggak peduli.  Gue terus berlalu tanpa memelankan langkah gue.  Tahu-tahu, gue merasakan Tejas meraih lengan gue, memaksa gue untuk memutar tubuh gue dan berhadapan dengannya.  Gerakan yang tiba-tiba itu membuat gue kehilangan momentum selama beberapa saat sehingga tubuh gue pun terayun ke depan, membentur dadanya.

Selama beberapa saat, gue terlalu terkejut merasakan kedekatan gue dan Tejas sehingga gue kehilangan kata-kata.  Tatapan Tejas yang intens itulah yang kemudian menyadarkan gue akan apa yang sedang berlangsung.  Lalu, dalam satu gerakan cepat, gue mengangkat tangan gue yang bebas, dan…

“PLAK!”

Terdengar tarikan napas terkejut dari sana-sini ketika tamparan gue mendarat di pipi kanan Tejas, yang disusul dengan bisikan-bisikan lirih dari orang-orang yang berusaha menebak apa yang sedang berlangsung di antara gue dan Tejas.  Gue memanfaatkan keriuhan itu untuk melepaskan diri dari Tejas dan berlari kecil meninggalkan rumah sakit.  Namun, sebelum gue sempat melewati pintu utama, tiba-tiba gue merasakan kaki gue tidak lagi memijak lantai.

“TURUNIN GUE!” teriak gue, membuat kepala-kepala kembali berpaling ke arah gue dan Tejas.  Gue yakin banget bahwa gue udah ngasih para pekerja MRCCC stok gosip yang nggak bakal habis hingga satu minggu ke depan.

“Nggak, Taya, gue nggak akan nurunin elo sampai gue tahu elo baik-baik aja,” bantah Tejas.  Tangannya yang kuat itu memegang erat bahu dan kaki gue sampai gue nggak bisa berontak.

Tatapan-tatapan iri mulai diarahkan pada gue, dan pada saat bersamaan tatapan-tatapan serta bisikan-bisikan kagum menghujani Tejas.  Sial.

“Ngapain sih lo, Jas?  Norak!  Turunin gue, atau gue bakal teriak!”

“Teriak aja.  Gue tinggal ngasih lo obat penenang biar lo diem.  Pokoknya gue nggak bakal biarin elo kemana-mana sampai gue yakin elo baik-baik aja.  Kenapa pula elo tiba-tiba ke rumah sakit malem-malem gini?  Sendirian, pula!  Mana cowok elo yang—”

“Taya…?”

Satu suara bernada lelah menghentikan langkah Tejas.  Baik gue maupun Tejas sama-sama terpaku di tempat selama beberapa saat, sebelum akhirnya Tejas memutar langkah, menemukan sosok pemuda yang mengenakan kemeja biru tua lecek dan jins yang sudah kelewat pudar.  Ada dua lingkaran gelap di bawah matanya, dan wajahnya terlihat kuyu dan kelelahan.  Matanya sontak membesar ketika melihat Tejas menggendong gue.  Dia menghampiri kami dengan dua langkah lebar, matanya menyala oleh rasa cemburu.

“Siapa dia?” tanya cowok gue dengan nada menuntut.

“Eh…” Mendadak gue nggak tahu mau ngomong apa.

“Taya, siapa dia?” cowok gue mengulangi.  Ada nada tidak sabar bercampur jengkel dalam suaranya, dan ia menatap Tejas dengan tatapan yang membuat darah membeku.  Belum pernah gue lihat cowok gue semarah ini sebelumnya, karena dia adalah tipe makhluk santai kayak di pantai.

“Anda siapanya Taya?” tanya Tejas, nadanya kalem.

Cowok gue menatap Tejas dengan tatapan menusuk dan menjawab dengan ketus, “Nggak penting gue siapa.  Elo yang harus ngejawab pertanyaan gue.  Kenapa elo ngegendong cewek gue?”

“… elo, pacarnya Taya?”

“Iya!  Kenapa?”  balas cowok gue.

Tejas menurunkan gue perlahan-lahan, lalu dengan hati-hati ia menyembunyikan tubuh gue di belakang tubuhnya, sebelum ia menghampiri cowok gue dan mendaratkan bogem mentah di wajahnya.

See?  Tejas Bakara memang bukanlah dokter biasa.

9 thoughts on “[She Says] Episode 16: Boys and Girls and The Freaks in The Middle

  1. Aaaaaaa…Omiiiiii…kmu membuatku penasaran setengah matiiii..dan karenanya kmu akan kukejar terus sampai keluar lanjutannya lagii..ahahahaha..aduh2…Tejas keren bangeeett…aaahh…sampe rela nongkrongin Taya di wc cewe..n ga peduli sama pandangan2 fans2 dy d rs..mantappp..*two thumbs up*

    Ayo..ayo..mana lanjutannyaa..hehehehe..

  2. TEJAAAAASSS!!! Jangan main pukul duooong, itu orang nyokapnya baru meninggal! *jewer telinganya* *cubit pipinya* *puk-puk pria berhati dua* *seret ke pojokan* Tenang, Tejas sudah dikerangkeng kok….

    Wokeh, seperti biasa, saya mau ngutip bagian dari cerita ini:

    “Can you please let me know what you want? I’m really, really worried about you, Tay…” Tejas menarik napas dalam-dalam. Dan ketika akhirnya dia berbicara lagi, suaranya turun satu oktaf sehingga gue nyaris tidak bisa mendengar perkataannya. ”Tay, are you… pregnant?”

    harusnya baca bagian ini orang tegang kan? matanya membulat dan terkaget-kaget. Tapi entah kenapa, saya malah ketawa! Kwkwkwkw. Somplak deh saya ini. Saya bayangin Tejas begitu frustasinya, pakaian dokternya awut-awutan, kacamatanya mereng, keringat dingin, jalan mondar-mandir, dan meikirkan hal-hal yang enggak seharusnya dipikirkan!! *ngakak lagi* Silly, deh.

    Terus ditanya begitu, ya terang aja si Taya berang. Itu udah kayak ngesayat Taya, dan kemudian dikasih garem lagi. Duh, emang ya di Tejas enggak peka banget. Seharusnya Taya tendang ‘itu’ Tejas ketimbang cuman nampar biar dia tahu rasa! –____–”

    Btw, emmmh, akhirnya mereka bertemuuuuu!!
    Pria berhati dua dan Tejaaas!! Ihiy, ihiy, ihiy, tinggal tunggu si bos tiang listrik deh mampir, terus seret Taya pergi dari kedua orang itu. Awwwwwh, Totuit…

    Ditunggu lanjutannya ya Kak, I like this serendipitiy dan cara Kakak memulai cerita itu dari tengah, dan kemudian ke belakang…^^ Mempermainkan perasaan banget. Saya jadi kepengen bikin yang alur maju mundur begini.

    Benar-benar menakjubkan.

    • ehehe, terima kasih atas antusiasmenya, Dikta.
      Boleh, silakan dicoba membuat alur undur-undur seperti ini haha :’)

      Tunggu ya si bos tiang listrik lagi manjat tiang listrik buat nangkep layangan putus :p

  3. Tejas Baskara memanglah dokter luar biasa …. Hihihi … Suka bgt karakter Tejas … Kecuali soal insiden *itu* … Tejas fans ??? Oooo aku jg Tejas team… Meski sedikit melirik si boss tiang listrik . Si Pria berhati 2 … Go away … Tendang dy *Kejam* Sweet serendipity .. Like it ….

    • Hehe
      Jadi penasaran. Apakah bagi pembaca, kesalahan Tejas pada Taya itu benar-benar sebuah ‘pengecualian’ besar yang membuat kelebihan-kelebihan dia tidak berarti apa-apa?🙂

      Terima kasih sudah mampir, Wahyunnie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s