[She Says] Episode 15: Noraemon and The Tampon Incident


Ini adalah dua puluh empat jam teraneh yang pernah gue alami.

Allow me to elaborate.  

Pertama, lo mungkin bertanya-tanya mengapa gue bisa terjebak dalam situasi aneh ini selama dua puluh empat jam ke depan.  Well, it’s simply because I’m a loser when it comes to love at first sight.  I’m not exactly saying that I can fall in love easily, but when I spot someone that I like, I will immediately go after them.  Gue bukan tipe perempuan pasif yang bisa menunggu hingga the hot hunk menyadari bahwa gue tertarik sama dia.  Menurut gue, paling nggak lo harus menunjukkan bahwa elo menyimpan ketertarikan pada orang tersebut, as subtle as possible.  Kenapa harus as subtle as possible?  Karena bagaimana pun juga proses mengejar itu tetap harus dikuasai oleh seorang pria.  They love the challenge, so never give it all away.  Leave clues here and there.  Okay, I’m gonna stop here before this entry turns into some kinda love-trick-article that you usually spot in urban female magazines.  

It takes tons of confidence and pride for me to be able to walk back into his room right after he spotted me in an uncompromising position (heh! Jangan ngeres!  Uncompromising position di sini maksud gue adalah momen ketika si kembaran Andrew Garfield itu menemukan gue nangis kejer-kejer di kamar rawat inap dia).  Ketika dia menemukan gue, gue udah nggak tahu mesti ngapain lagi saking malunya.  Jadi, gue kabur.  Literally.  Kabur terbirit-birit tanpa memerhatikan kemana kaki gue membawa gue.  The next thing I knew, I was in a cab, about to pack my things from my boyfriend’s apartment.

Then it hit me.

Tiba-tiba aja gue merasa menyesal karena barusan gue kabur gitu aja tanpa tahu lebih banyak tentang si AG.  Gue nggak bisa menjelaskan kenapa, tapi yang jelas gue nggak kunjung bisa mengusir ekspresi wajah dia ketika menemukan gue: concerned, tapi nggak terkesan ngebet pengen tahu lebih banyak juga.  And let’s be honest, he’s so unbelievably good looking it’s practically illegal!  Hahaha, gue selalu meledak-ledak begini setiap kali gue tertarik sama seseorang.

Jadi, setelah membereskan barang-barang gue — thankfully, cowok gue nggak ada di apartemennya sehingga kita nggak perlu meneruskan percakapan kita tadi pagi — gue check in di hotel yang paling dekat dengan MRCCC Siloam Hospital Semanggi, rumah sakit dimana si AG dirawat.  Semalaman gue terus-menerus menimbang-nimbang apakah sebaiknya gue kembali menemui dia atau nggak.  Gue merasa kayak abege yang lagi ngebet sama kakak kelasnya.  Setiap kali teringat akan si AG, jantung gue berdebar-debar and I feel so giddy I want to hug myself gleefully every time he crosses my mind.  

Now or never, Taya.  Now or never.

Keesokan harinya, ketika gue dengan malu-malu mengetuk pintu kamarnya, AG menyambut gue dengan seulas senyum hangat yang membuat mata cokelat besarnya bersinar-sinar.  Dia melambai ke arah gue dan memberi isyarat agar gue masuk, dan dalam beberapa menit, kita sudah terlibat dalam obrolan macam-macam.  Dari obrolan kita, gue mempelajari bahwa passion dan apresiasi dia terhadap art begitu besar.  Sama seperti gue, dia penggemar film-film karya sutradara Asia kawakan semacam Kim Ki-duk, Wong Kar Wai, dan Park Chan-Wook.  Dia juga seorang penikmat buku karya penulis-penulis besar layaknya Haruki Murakami, Kazuo Ishiguro, Vladimir Nabokov, Edith Wharton, Leo Tolstoy, dan masih banyak lagi.  Seriously, he’s like my own version of ‘the right kinda guy’!  

Jadi, ketika akhirnya dia menawarkan posisi art director di perusahaan majalah indie yang dia dirikan, gue langsung melayang ke langit ketujuh.  Jelas lah gue mau banget!  Tapi sebelum gue sempat menjawab, pintu kamar tempat dia dirawat mengayun terbuka, dan dimulailah dua puluh empat jam teraneh dalam hidup gue.  Ternyata oh ternyata, the serendipity thing is not over yet.

Di ambang pintu, berdirilah seorang perempuan di awal usia dua puluhan dengan rambut berpotongan asymmetric bob yang mengenakan seragam perawat.  Wajahnya sih standar, nggak cantik-cantik amat, namun dia memiliki sepasang mata berbentuk buah zaitun yang mengagumkan.  Dan mata itu kini sedang memandangi gue dengan tatapan terkejut, yang gue balas dengan tatapan yang nggak kalah terkejutnya.

“Nora…?”

“Taya…?”

Mata gue buru-buru turun menatap name tag yang tersemat di dadanya, berharap bahwa gue hanya mengkhayalkan pertemuan ini.  Sayang, harapan tinggallah harapan, dan gue hanya bisa menelan ludah tanpa tahu harus mengatakan apa pada adik angkat gue.  Ya, Nora — suster itu — adalah anak perempuan yang diangkat nyokap gue ketika gue mulai sering mengecewakannya.  Diam-diam, di belakang orang-orang, gue menjulukinya Noraemon karena kehadiran Nora itu besar banget artinya buat nyokap gue.  Kayak kehadiran Doraemon bagi Nobita, deh.  Noraemon selalu membuat nyokap gue bahagia dengan menuruti semua keinginannya.  Noraemon selalu ada untuk nyokap gue.  Tinggal dikasih kantong dan cat bell, jadi dah doi bak pinang dibelah kampak sama Doraemon.

La la la… Ibu sayang sekali Noraemon…

Singkat cerita, belum habis keterkejutan gue, Noraemon tiba-tiba berlari menghampiri gue dan memeluk gue erat-erat.

“Tayaaa…!  Kok ke Jakarta nggak bilang-bilang sih?” serunya sambil lompat-lompat girang.

Gue yakin banget reuni keluarga dadakan ini bikin AG makin terpana — and NOT in a good way — sama gue.  Nggak cukup ya kemarin dia menyaksikan gue nangis kejer, sekarang dia harus menyaksikan reuni keluarga dadakan ini juga?  Aduh, so much for my first impression on him.  

Lalu, seolah teringat kembali akan tujuan utamanya, Noraemon melepaskan gue sambil melempar senyum minta maaf ke arah AG.  “Aduh maaf Pak, ini kakak saya yang udah lama banget nggak ketemu,” katanya ramah.

AG tersenyum sambil menatap gue dan Noraemon berganti-gantian dengan tatapan sangsi.  Pasti dia bingung banget mendengar penjelasan Noraemon karena gue dan Noraemon nggak memiliki kemiripan apa-apa secara fisik.  Namun dia menutupi keheranannya itu dengan sopan, dan nggak lama kemudian obrolan antara dia dan Noraemon pun berputar soal kesehatan dia.

Begitu Noraemon selesai melaksanakan tugasnya, dia lalu berkata, “Maaf, Pak.  Jam kerja saya sudah resmi berlalu.  Bapak keberatan nggak kalau saya pinjam Taya-nya sebentar?  Udah lama banget nggak ketemu soalnya.”

Gue melotot ke arah Noraemon.  Haduh ini hantu satu!  Masa sih dia nggak ngerti kenapa gue nggak kunjung pulang ke Indo?  Do I really need to spell it out loud that the reason why I never come home is because I don’t like spending time with my family?

Sayangnya, AG nggak menyaksikan tampang desperate gue.  Karena dengan ringannya dia segera mengiyakan permintaan Noraemon, membuat gue terpaksa mengikuti langkah-langkah si Emon keluar dari kamar AG.

“Tayaaa…!  Ya ampun, banyaaaaaks banget yang pengen aku omongin,” kata Noraemon dengan semangat 45 begitu gue dan dia udah berada di luar kamar AG.  Dia menarik tangan gue dan membimbing gue ke arah kafetaria rumah sakit.  “Kamu gimana kabarnya?  Masih belum dapet kerjaan?  Ih kasihan, sini kita ngopi.  I’ll buy.”

Is it me or my step sister really DOES sound condescending?  Apaan tuh maksudnya dia bilang mau nraktir gue ngopi karena gue belum dapet kerjaan baru?  Prihatin apa mau ngejek gue sih?  Mentang-mentang sekarang udah resmi jadi perawat di rumah sakit bertaraf internasional.  Gila ya, si Emon ini dari dulu nggak berubah.  Selalu aja berusaha menyaingi gue dalam segala hal.  Dulu, segala cara dia lakukan supaya nyokap gue menaruh perhatian lebih banyak pada dia ketimbang pada gue.  Padahal gue sendiri nggak tertarik untuk bersaing apa-apa dengannya.  Berada di dekat Noraemon selalu membuat gue merasa setiap hari itu adalah 17 Agustusan, karena setiap kesempatan diubah oleh si Emon menjadi perlombaan.

Belum selesai kedongkolan gue akan serendipity bodoh yang mempertemukan gue dengan si Emon, tiba-tiba doi memekik kaget.  Dengan mata membelalak lebar, dia menarik gue ke arah toilet.

“Apaan sih lo?” tanya gue, setengah membentak.

Nora memandang berkeliling dengan tatapan panik sebelum akhirnya menjawab pertanyaan gue.  “Taya, kamu sadar nggak kalau itu… hmm… hmmm… kamu ‘tembus’?”

Gue melotot kaget dan buru-buru memutar badan untuk mengecek bagian belakang flapper skirt hijau laut yang gue kenakan.  Begitu gue melihat warna merah darah menyeruak ke permukaan rok gue, gue langsung teriak dengan refleks, membuat si Emon melompat kaget.  Little does she know, gue teriak bukan karena panik melihat bercak darah di rok gue, melainkan karena lega.  This means that I’m not pregnant, and I won’t have anything to do with Tejas anymore!  Yee-ha!

Nora merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah tampon.  “Nih, pake aja.  Nanti aku bantu bersihin roknya.”

Gue melirik tampon itu dengan heran.  “Tampon?  Nggak ada pembalut biasa, apa?”

Si Emon menggeleng.  “Aku selalu pakai tampon semenjak masuk Akademi Perawat.  Lebih praktis dan higienis.”

Gue diem aja karena nggak mau ketahuan sama si Emon bahwa gue sama sekali nggak punya ide gimana caranya buka-pasang tampon.  Setelah mendengarkan her condescending sneer, nggak mau banget gue ngasih amunisi bagi dia untuk kembali menghina gue.  Bodo!  I’ll figure out myself!

Tapi ternyata sodara-sodara, I never figure out how to take off the goddamn tampon.  Semalaman gue jadi gelisah sendiri karena itu tampon udah overflowing dan harus gue lepas.  Ini gimana lepasnya??  Ya ampun, toloong…!  Gue terlalu gengsi buat menelepon Noraemon dan menanyakan gimana caranya melepas tampon itu, tapi gue juga nggak bisa tahan lebih lama memakai tampon itu.

Akhirnya, gue memutuskan untuk mengambil langkah drastis: pergi ke IGD.

Untunglah letak hotel gue dekat banget dengan rumah sakit, jadi kurang dari lima menit berjalan kaki, gue udah mendarat di IGD MRCCC Siloam Hospital.  Dengan muka yang dibuat semerana mungkin, gue menghampiri front desk dan meminta untuk diperiksa oleh dokter jaga secepat mungkin.

“Keluhannya apa, Mbak?” tanya si petugas front desk, membuat muka gue sontak memerah.  Nggak mungkin ya gue me-reveal alasan kenapa gue harus ketemu dokter jaga di depan dia!  Muke lu gila.

“Perut sayah… sssaaakkiit…” jawab gue dengan nada sok dramatis.  Ada untungnya juga gue pernah main sinetron dulu, karena gue jadi terlatih buat berakting.

Melihat gue berakting kesakitan begitu, si petugas buru-buru mengantarkan gue ke IGD untuk menemui dokter jaga yang bertugas malam itu.

“Selamat malam, Mbak.  Ada yang bisa saya… whoa, Taya?”

Gue mengangkat wajah dengan terkejut, dan  dalam sekejap hilang sudah rasa nggak nyaman yang disebabkan oleh tampon sialan itu ketika mata gue menemukan wajah Tejas Bakara di hadapan gue.

Is there some place I could go to cancel my so-called serendipity subscription for good?!

6 thoughts on “[She Says] Episode 15: Noraemon and The Tampon Incident

  1. GYAAAAAAHH!!!! *Guncang-guncang Kak Omi*
    INI APAAAAH!!? INI APAAAH?!! *tiba-tiba bengek*
    KEREN BUANGETTT SERENDIPITY-nya!!!

    Pertama, saya udah kecewa waktu menyadari kalau ternyata yang muncul di kamar si Bos itu bukan Tejas. Tapi enggak kecewa-kecewa amat sih, soalnya saya sudah tahu kakak itu pesulap. Ah, sedendipity yang gampang ditebak itu bukan Kakak banget. Dan saya lanjut baca tanpa bayangan kalau sosok Tejas akan muncu di sini.

    Kedua, si NORAemon. Entah mengapa, makhluk yang satu ini terasa banget menyebalkannya. Meski percakapannya dengan Taya enggak begitu banyak, tapi dari satu kalimat ini:

    ”Kamu gimana kabarnya? Masih belum dapet kerjaan? Ih kasihan, sini kita ngopi. I’ll buy.”

    Ah, dipikiran saya langsung: like B**** yeah! Tokoh antagonis, pencari muka, dan perebut pacar orang. Plus jago akting. Hahahaha, kayaknya saya benar-benar jago berkhayal dan pencuriga ulung. Yah, gak bisa nge-judge Nora begitu sih, dan saya gak mau banyak berharap karena harapan saya pasti langsung patah kalau sama Kakak. Hahaha. Kakak hebat banget!!^^

    Ketiga, YEAH!! TEJAS MUCUL! Jujur, saya kangen dia, meski baru saja baca diary dia kemaren, dan dari diary itu saya tahu kenapa Taya bisa mimpi kissing sama seorang pria di diary yang lalu. Hahaha. saya kangen moment T-Two di sini. Cukup shipperin Taya Tejas bersama sih. Meski kecewa sama ‘kecelakaan di ranjang’ itu, tetep saja saya udah terlanjur fall in love sama ini tokoh. Hehehe.

    Terakhir, EHEM, si Bos, CIEEEH! Cinta pada pandangan pertama eaaah.asik deh, saya semacam pria berhati dua itu, karena kayaknya saya juga bakal fall in love sama si Bos. Ditunggu momen Taya dan si bos lagi. Okeh? ^^ Hahahaha.

    Terima Kasih atas tulisan Kakak ya, saya selalu menyukai tulisan Kakak! ^^

    • *melihat banyak bintang setelah diguncang-guncang Dicta* :p

      hihi… kamu team Tejas, dong? *wondering ada yang mau jadi team Pria Berhati Dua nggak*

      Nggak masalah, silakan judge karakter-karakternya sesuka hati :’)
      Biar nanti kalau semisalkan ternyata memang sesuai bayangan, ada rasa ‘horee betul kan dugaanku’

      Terima kasih juga sudah menyimak.
      Sampai jumpa di blog kamu ya!

  2. Aaaaaarrrrgggghhhh …. Itu yg muncul bukan tejas .. Ya ??? Hwaa aku salah duga ternyata … Hihi .. Noraemon …. Eh … Dari pada moment Si BOSs & Pria berhati 2 .. lebih nungguin moment Taya & Tejas lg.. #Yeah Team Tejas . Walau ada kecewa pas accident ‘Ranjang’ .. Tetap Tejas Selalu …
    Good Job …..:)

  3. Omi-san..you’ve found yourself a new fan..I can’t help myself from digging through the archive (I’ve filed a complained to G-san coz it is so difficult to find) just to find the beginning of this story..I like it so much..it really suit my taste..and I can’t wait to read the next part!!Keep up the good work!!!

    PS:I’m team Tejas too..=)

    • Hi, Dora!
      I’m so flattered hearing that you appreciate my writing *grinning from ear to ear*
      Thank you for the spirit, it boosts me to be more creative in the upcoming episode, and thank you for the suggestion too. I have found several readers got lost when they were trying to find the beginning of this story. Now that Gina has kindly created a very helpful catalog, I hope readers will not find it hard again to surf this blog.

      Please flip through other’s works too if you have some leisure time🙂

      And hey, Tejas says hi😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s