[She Says] Episode 13: Serendipity


Is it legal to flirt in hospitals?

Atau gue aja yang keterlaluan?  Satu menit gue nangis tersedu-sedu, satu menit kemudian gue udah terjun menyelami sisi flirty gue.  Atau jangan-jangan gue ini psikopat, yang mood-nya bisa berubah-berubah sendiri layaknya seorang pembunuh berdarah dingin?  Well, mengingat gue orangnya paling nggak tahan lihat darah, kayaknya kemungkinan terakhir itu bisa gue eliminasi thankyouverymuch.  Although, melihat sinetron jadul yang sedang tayang ulang di layar televisi sekarang, you might safely assume that I have some kind of bipolar disorder.

Di layar televisi swasta itu sedang diputar sebuah sinetron yang usianya sudah hampir empat tahun.  Sinetron itu diproduksi nggak lama setelah film Ayat-Ayat Cinta-nya Hanung Bramantyo rilis, dan sebagai efeknya, kebanyakan sinetron mengadopsi tema religi yang menurut gue nggak masuk akal dan berlebihan.  Plotnya selalu sama: seorang wanita berjilbab yang shalehnya melebihi istri-istri para Nabi versus wanita-wanita materialistis ber-makeup tebal.  Timpang abis, deh!  Kayaknya gue juga nggak perlu menjelaskan lebih detail tentang plot dan durasi sinetronnya ya, secara bahkan rumput-rumput yang bergoyang pun udah males banget ditanyain perihal sinetron-sinetron kelas kambing itu.

Terus, kenapa tiba-tiba gue lompat topik dari flirting di rumah sakit ke sinetron-sinetron religi yang menjamuri televisi-televisi swasta?  Karena — saat gue lagi berusaha bonding sekalian flirting sama kembaran Andrew Garfield yang kemarin menyaksikan gue nangis-nangis kejer — tiba-tiba gue menemukan wajah gue menghiasi tayangan tivi yang asal-asalan gue comot beberapa menit lalu.  Gue nyaris pingsan melihat betapa hancurnya penampilan gue di tivi: pakai baju tidur tapi makeup setebal pengantin, ditambah dengan rambut yang dibuat curly dengan nggak naturalnya.  Singkat kata, dalam kehidupan nyata, nggak ada orang yang bangun tidur dengan penampilan seheboh itu.

Yak, sodara-sodara, here goes one of my darkest secrets:  gue pernah main sinetron.

Silakan tertawa sepuas-puasnya.

Apa daya?  Waktu itu gue nggak kunjung dapat kerjaan di Singapura, sementara pengeluaran di sana mahalnya nggak kira-kira.  So, waktu seorang pencari bakat yang lagi liburan ke Singapura menemukan gue — yang lagi bengong dengan nggak atraktifnya sambil memandangi patung Merlion saking desperado-nya — dan menawarkan gue buat casting peran kecil-kecilan di sinetron, tanpa pikir dua kali, langsung gue sambar kesempatan itu.  Lumayan, marah-marah doang beberapa episode bisa menambahkan dua puluh juta ke rekening gue.  Sesuatu, kalau kata fans beratnya Rama Aiphama: Syahrini (note: mereka sama-sama gila kaftan, hence I assume Syahrini was heavily inspired by him).

Kenapa sih di dunia ini harus ada yang namanya serendipity??  Dan kejamnya, kebetulan-kebetulan indah layaknya apa yang direkam dalam film Serendipity itu JARANG banget terjadi dalam kehidupan gue.  Nggak percaya?  Tuh liat sinetron yang sekarang lagi diputar di depan gue.

Gue langsung panik, berusaha menemukan remote tivi.  Walhasil gue spontan langsung pengen meringkuk di tempat duduk gue waktu menyadari si Andrew Garfield lagi megang remote sambil memandangi tivi dengan mulut setengah terbuka saking syoknya melihat gue dengan kejamnya menjambak-jambak jilbab Marshanda.  Yes, sodara-sodara, di sinetron itu gue berperan sebagai antek-antek tokoh antagonis utama yang akhirnya mati kesamber kilat.  I know, I know, the plot was totally dumb.  Seisi kebon binatang selalu meluncur dari mulut gue setiap gue membaca naskah itu sinetron.

“Eh… itu kamu?” AG bertanya, memalingkan wajahnya ke arah gue dengan kening berkerut.

“Hehehe…” Gue cuma bisa menjawab dengan cengiran kuda.  Mati deh gue!

Di luar dugaan gue, dia tersenyum lebar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.  “Silly me, I should have known from the moment I saw you crying right there,” katanya seraya mengangguk ke arah pintu, dimana kemarin dia menemukan gue nangis sekejer-kejernya.

Know what?” Suara gue melengking panik.

That you are famous.  I mean, someone so pretty like you… of course you’re famous,” jawabnya dengan nada matter-of-factly.  

Buset deh, ini orang memuji cewek kok dengan nada seolah-olah dia lagi membeberkan bahwa Jakarta itu ibukota Indonesia, sih?  Datar gila, seolah-olah dia nggak tahu bahwa pujian yang terlontar dari mulutnya itu flattering banget.

Seumur hidup, gue telah terbiasa dengan orang-orang melontarkan pujian pada gue, dan gue sudah terlatih untuk memberikan berbagai macam tanggapan (tergantung karakter si pemuji), mulai dari anggun sekaligus santun, tersipu malu, atau sekedar ngakak dan menganggap pujian itu seperti angin lalu.  Tapi kali ini,  gue bener-bener nggak tahu harus nanggapin pujian si AG kayak gimana.  Haruskah gue bilang ‘makasih’?  Ah, kok kayaknya nggak tepat ya?  Ngetawain?  Buset, gue baru kenal kemarin.  Masa iya gue udah ngetawain dia?

“Kamu masih sibuk main sinetron?”

Sontak wajah gue memanas.  Dia mengira bahwa gue make a living by doing stupid, fake act like that?  Tidaaaak!  Rusak sudah citra gue di hadapan Adonis satu ini.  Buru-buru gue menggelengkan kepala.  “Itu sinetron udah lama banget, kali.  Itu sinetron terakhir gue.  Waktu itu gue lagi stres banget karena nggak dapet-dapet kerjaan, sementara biaya hidup di SG kan mahal banget.  Jadi waktu gue diajak casting, gue mau-mau aja.  Tapi gue nggak PERNAH terpikir buat terus-terusan main sinetron.  I’m done with the so-called-on-stage-life, if there’s a name for it.  I’m more comfortable being the person behind the stage, composing pictures, stories—”  Terus, terus, terus aja Ya, belom nabrak kok.

Sigh, begitulah gue kalau lagi gugup: suka blabbing nggak jelas.

Si AG menatap gue dengan mata berbinar-binar.  “Behind the stage?  Like, productions crew?

Gue mengangguk sambil menggigit lidah gue supaya gue nggak mulai ‘mendongeng’ lagi.  Muka gue masih juga terasa panas, dan gua hanya bisa berdoa bahwa rona muka gue bakal terlihat seperti blush on alami ketimbang membuat gue terlihat kayak lobster rebus.

Dan dari situlah kemudian dia mulai menceritakan tentang bisnis indie young adult art magazine yang lagi dia rintis di Singapura.  Singkat cerita, akhirnya dia berkata bahwa dia sedang membutuhkan art directorkarena art director-nya baru aja dicatut sama Esquire.  Lalu, meluncurlah permintaan yang kemudian menjadikan dia bos yang gue puja-puja di kemudian hari.

Sayangnya, sebelum gue sempat mengiyakan — dih, kesannya kayak gue baru dilamar aja, ya? — tiba-tiba pintu kamar VVIP itu membuka dan seorang dokter berperawakan tinggi yang mengenakan kemeja putih plus celana abu-abu melangkah masuk.  Begitu tatapannya bertemu dengan tatapan gue, dunia seolah berhenti berputar.

Damn you to hell, serendipity!  Damn you to hell!!

9 thoughts on “[She Says] Episode 13: Serendipity

  1. Gyaaaaaa!! Benerkaaaaan, sudah saya duga pasti ketemu sama Tejas di rumah sakit! Rumah sakit kan identik sama dokter, dan Tejas dokter! YES! *joget-joget*
    Gimana ya kalau misalnya di pria berhati dua itu tiba-tiba aja lewat dan menemukan Taya sedang melempar pandangan ke Tejas dan si Bos. Kya, kya, kya *khayalan ini setinggi-tingginya #nyanyi*

    Jujur ya Kak Omi, dari semua cerita Taya lainnya, cuman cerita ini yang bikin saya ketawa ngakak. Dimulai dari kenyataan kalau si Taya pernah jadi bintang sinetron sampai kemunculan Tejas. Hahahaha, ya ampun, ketawa gak berhenti-berhenti! Kok bisa gitu? Hahahaha.

    Yeah, Serendipity! Anda melakukan pekerjaan yang hebat!

    • Hai, Dicta…
      Saya jadi ketularan semangat kamu nih dan nggak bisa berhenti nulis entri diary-nya Taya *grin*

      Memohon maaf dulu sama penghuni lapak karena saya curiga saya bakal memenuhi lapak dengan pos saya :p

      Hehehe, kayaknya pada yakin kalau Tejas yang muncul di akhir cerita, ya? Ya semoga aja memang Tejas, bukan hantu emak cowok heartless itu :p

      Jadi ikutan berandai-andai reaksinya itu cowok kalau melihat Taya lagi curi-curi pandang ke arah Tejas/bosnya. Any suggestion?😀

  2. cerita taya yg ini benar” sukses bikin ngakak .. Main sinetron .. Artis donk ??.. Kkkeeee peran antagonis ya ???… Hihihi.. Taya taya …. Itu yg terakhir nongol Tejas ya ?? Dokter ganteng …. Taya, Tejas, Cowo Berhati 2 + Boss .. Kyaaaa Serendipity .. Like it .

    • terima kasih ya sudah mampir membaca dan memberikan komentar :’)
      jangan bosan-bosan ya, silakan mampir-mampir lihat dagangan kata dari penulis-penulis lainnya juga.

  3. salam kenal, para penjaja kata🙂 aku orang yang terdampar secara ga sengaja di lapak ini dan sptnya bakalan sering mampir setelah ngeliat apa2 aja yang dijajakan di blog ini. aku kira ini semcam blog pribadi yang diisi sama curhatan empunya blog, tapi setelah ngeliat2, akhirnya aku nyadar aku salah.

    kisah taya di serendipity udah sukses bikin aku ngefans sama penulis cerita ini. rasanya benar2 kayak lagi ngebaca buku diary yang ditemuin secara ga sengaja. ini semacam cerita bersambung gitu kan ya? aku baru baca sebagian, dan ga tau mau komen apa di tiap cerita yg aku baca. boleh aku ringkas komenku di sini? satu kata, KEREN!!

    • Salam kenal juga🙂
      Terima kasih atas kunjungannya dan selamat datang di lapak sederhana kami. Semoga betah ya, ehehe

      Betul sekali, curhatan Taya ini adalah diari dalam bentuk cerita bersambung. Terkadang tokoh-tokoh lain yang lain mampir untuk menyuarakan pendapat mereka tentang tokoh Taya. Kamu bisa cari cerita lengkapnya dengan tagar “Taya Kadhita” atau “Ominous”

      Terima kasih ya atas waktu yang kamu luangkan untuk menyimak cerita Taya. Saya sebagai pengarangnya senang sekali atas kunjungan kamu.

      Jangan sungkan-sungkan ya untuk mampir di karya-karya lainnya juga.
      Enjoy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s