[She Says] Episode 14: Nunc Scio Quid Sit Amor*


Dulu, waktu gue masih kecil, yeye (panggilan untuk kakek bagi kaum Tiong Hoa) adalah satu-satunya orang di rumah yang selalu menanggapi kebengalan gue dengan tawa.   Kebanyakan orangtua lain menghukum anaknya yang badung untuk memberikan pelajaran agar mereka tidak mengulangi kenakalan yang sama.  Sayangnya, orangtua gue nggak bisa menerapkan hukuman apa-apa karena biasanya gue suka inisiatif mencari cara untuk lolos dari hukuman.  Contohnya, waktu gue disetrap di kelas gara-gara ketiduran di kelas.  Gue tahu banget nyokap bakal menyambut gue di rumah dengan sabetan lidi di kaki gue begitu beliau mendengar kabar itu lewat telepon dari wali kelas gue.  So, begitu sampai di rumah, gue langsung cuci kaki, ganti baju, meraih sebatang lidi, dan mulai menyabet-nyabet kaki gue sendiri.  Nyokap gue kontan bengong lah ngelihat gue.  Waktu dia tanya gue lagi ngapain, gue jawab aja:

Ho i bo thia mama phak e si, lu ok phak ka ki seng (supaya nggak sakit pas dipukul Mama nanti, aku latihan dulu pukul-pukul diri sendiri),” jawab gue polos.  Sekedar info, itu gue ngomong dalam bahasa Hokkian, bukan bahasa planet, ya.  Keluarga gue berdarah Hokkian dan percakapan sehari-hari kami selalu menggunakan bahasa Hokkian.

Terpanalah nyokap gue melihat inisiatif gue yang tidak pada tempatnya itu.  Tapi sebelum beliau sempat mencak-mencak dan mencari alternatif hukuman lain, yeye tertawa keras-keras melihat ulah gue.  Dengan suaranya yang dalam dan berwibawa, dia berkata:

“Sudahlah, jangan dihukum.  Biarkan saja.”

Be ane lah, Yeye.  Tan Tejas pien phai khi (nggak bisa begitu dong, Yeye.  Nanti Tejas-nya jadi bandel),” bantah nyokap gue.

Yeye menggeleng-gelengkan kepala sambil menghirup cangklongnya dalam-dalam.  “Ling… Ling… itu bukan bandel namanya, tapi kreatif.  Anakmu itu pintar.  Janganlah sedikit-sedikit kau hukum setiap kali kau kira dia berbuat salah.  Pelajaran yang didapat dari kehidupan sehari-hari itu jauh lebih berharga daripada nilai-nilai raport dia,” ucap yeye seraya mengedipkan mata ke arah gue.  Kontan lah gue langsung lompat-lompat kegirangan karena dibelain yeye.

Ya, yeye itu orangnya memang sangat bijaksana.  Berkebalikan dengan nainai (nenek) yang cerewetnya minta ampun, yeye jarang banget angkat suara.  Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sering membuat orang-orang tertegun.  Salah satu nasehat yeye yang paling gue ingat adalah yang beliau berikan pada gue waktu gue dikeluarin dari sekolah gara-gara gue tanpa sengaja nampar dada guru gue (sumpah gue nggak sengaja!).

Sehabis dimarahi oleh seisi rumah, yeye tiba-tiba menghampiri gue yang lagi bengong di teras lantai atas dengan kepala penuh.  Entah dari mana datangnya, mendadak yeye berbisik di telinga gue.  Waktu itu gue udah jauh lebih tinggi dari orang-orang rumah, sehingga gue harus menunduk agar bisa mendengar suara yeye dengan jelas.

“Suatu hari nanti, kamu akan terbangun dan menyadari bahwa arti hidup yang sebenarnya itu ada pada senyuman orang yang kamu cintai.”

Lalu yeye pergi sambil senyum-senyum tipis, meninggalkan sejuta pertanyaan di kepala gue.  Waktu itu gue baru tiga belas tahun, jadi jelaslah gue nggak ngerti kenapa kakek gue ngasih nasehat begitu tepat setelah gue dikeluarin dari sekolah.  Gue sampai kepikiran pengen nanya sama orang-orang rumah apakah yeye barusan tidur sambil berjalan atau nggak, tapi gue takut dikemplang mengingat seisi rumah lagi kesal banget sama gue saat itu.

Malam itu, sebelum tidur, nasehat yeye bergaung kembali di telinga gue.  Layaknya kebanyakan anak laki-laki berusia belasan tahun, gue boro-boro ngarti cinta itu apaan.  Yang gue tahu cuma gimana cara bedain cewek cakep dan cewek biasa-biasa aja; sama gimana caranya nyembunyiin majalah bokep di kamar gue.  Ya, sedangkal itulah kapasitas otak gue.  Jangankan ngomongin soal cinta, ngobrol sama cewek cakep aja gue nggak berani.  Yang ada gue jadi gugup nggak jelas dan akhirnya gue ngacir.

Tapi… selagi nasehat yeye berputar-putar di kepala gue, mendadak tawa seorang perempuan bermata cokelat-kehijauan mengisi kepala gue.  Detik selanjutnya, gue mulai membayangkan sederet freckles yang menghiasi hidungnya, membuat penampilannya jadi jauh lebih menggemaskan dari perempuan-perempuan lain di sekolah gue.  Dia adalah satu-satunya murid di sekolah gue yang nggak pernah ngejek gue dengan sebutan ‘Cina’ (sekolah gue dulu itu adalah sekolah swasta pribumi, dimana murid-murid keturunan Tiong Hoa kayak gue adalah kaum minoritas).  Tahu-tahu, ada rasa hangat aneh berdesir mengisi hati gue, yang disusul oleh perasaan sesal karena gue tahu bahwa mulai besok gue nggak akan bisa lagi duduk di sebelah perempuan itu.

Ternyata, cobaan yang menimpa keluarga gue tahun itu tidak berhenti ketika gue dikeluarkan dari sekolah.  Tidak lama kemudian, kerusuhan Mei 1998 pecah.  Keluarga gue adalah keluarga pedagang yang mempunyai retail supermarket-supermarket kecil di seantero Jakarta, dan saat kerusuhan Mei 1998 pecah, secara tragis, tidak satu pun retail milik keluarga gue berhasil diselamatkan.  Dari bisik-bisik yang beredar di antara keluarga gue, gue kemudian tahu bahwa kerusuhan Mei 1998 itu bukanlah penyebab utama mengapa toko-toko kami dijarah.  Selama tiga generasi, keluarga bokap gue memiliki musuh bebuyutan, dan kerusuhan ini dijadikan oleh mereka sebagai kedok untuk menghabisi bisnis keluarga kami.  Menyadari betapa gentingnya situasi ini, bokap gue akhirnya berinisiatif untuk mengungsikan keluarga gue ke rumah sanak saudara di Serang.  Untunglah bokap gue bertindak cepat, karena selang beberapa hari kemudian, kami mendengar bahwa rumah keluarga kami pun turut dijarah dan dibakar hingga tidak bersisa.

Namun, kerugian materi yang harus kami tanggung bukanlah hal terburuk yang harus keluarga gue hadapi.  Kakak perempuan gue satu-satunya, yang usianya terpaut dua belas tahun dari gue, diperkosa oleh lima orang selama dua hari berturut-turut.  Karena kerusuhan yang pecah di dekat kantor kakak gue, keluarga gue nggak bisa menjemput dia dan membawanya serta ke Serang.  Akhirnya, tunangannya mengusulkan agar dia tinggal bersama keluarganya untuk sementara.  Naas, kakak gue diculik ketika sedang dalam perjalanan dari kantor ke rumah tunangannya.

Itulah cobaan terberat yang harus keluarga gue hadapi.  Kakak gue, yang gue sayang banget dan selalu membuat gue bangga, kini mengurung diri seharian di kamar sambil menangis hingga suaranya hilang.  Dia menolak untuk berbicara dengan siapapun, dan setelah tunangannya memutuskan untuk meninggalkannya, kakak gue memutuskan untuk tidak pernah berbicara lagi.

Melihat kenyataan bahwa keluarga gue tidak memiliki apapun tersisa di Jakarta, nyokap gue mengusulkan agar kami sekeluarga pindah ke kampung halamannya di Tanjung Morawa, Medan.  Tahun demi tahun berlalu, dan gue perlu menekankan di sini bahwa hidup gue benar-benar sulit pada saat itu.  Gue bantu-bantu dagang masakan nyokap gue di sekolah, dan sebisa mungkin gue jalan kaki pulang-pergi ke sekolah untuk menghemat uang, walaupun sebetulnya jarak antara rumah kontrakan keluarga gue dan sekolah gue lumayan jauh.

Namun, di antara kesibukan gue membantu keluarga gue, bayangan akan wajah teman sebangku gue itu masih sering menghampiri gue.  Sayangnya, seiring dengan berlalunya waktu, semakin lama gue semakin kesulitan untuk bisa menggambarkan sosoknya dengan sempurna di dalam benak gue.  Lama kelamaan, ia tidak lagi berdiri di titik yang sama dalam memori gue.  Awalnya gue hanya butuh kurang dari semenit untuk memunculkan sosoknya di dalam kepala gue, tapi lama-lama, sosoknya tidak kunjung muncul meskipun gue telah sekuat tenaga berusaha mengingatnya.  Dan ketika akhirnya gue lulus dari Kedokteran, yang bisa gue ingat darinya hanyalah sepasang mata cokelat-kehijauannya.

*

Memang benar bahwa God works in a mysterious way.

Empat belas tahun kemudian, gue lagi iseng dengerin lagu barunya Angus and Julia Stone ketika gue melihat sebuah payung putih tergeletak di kolong kursi MRT yang gue tumpangi.  Entah dapat dorongan dari mana, akhirnya gue meraih payung itu dan menemukan pesan yang ditulis pake spidol anti air di permukaannya: IN CASE I GOT DRUNK AND LOST THIS UMBRELLA, PLEASE CALL +65-9722-xxxx.  Gue kontan geleng-geleng kepala dan cengengesan sendiri sambil berusaha membayangkan seperti apa sosok si pemilik payung itu.  Iseng, gue tekan nomor yang tercantum di payung itu.  Terdengar suara childish perempuan menjawab panggilan gue.  Dia kedengaran girang banget waktu gue bilang gue nemuin payung dia.

It’s raining cats and dogs right now,” kata gue seraya memandangi tetesan hujan besar yang membobol turun dari langit Singapura.  “Do you have another umbrella with you?” 

Nah, the only umbrella I have is with you right now.

Okay, if it’s okay with you, I can come to where you are and hand this umbrella to you.”

Gue nggak percaya sama yang namanya kebetulan atau keberuntungan.  Hidup gue yang keras mengajarkan gue untuk selalu siap dalam kondisi apapun.  Jadi ketika gue menemukan bahwa pemilik payung itu memiliki mata cokelat-kehijauan seperti sepasang bola mata yang selalu menghiasi ingatan gue, gue mulai bertanya-tanya apakah yang namanya kebetulan dan keberuntungan itu memiliki peran yang signifikan dalam hidup seseorang.

“T-Taya?”

*

When you’re sad, you look sad.”

Taya tersenyum sleepy dengan mata tertutup, sehingga gue nggak yakin bahwa dia mendengar perkataan gue.

Gue dan Taya — perempuan yang keindahan matanya tidak pernah lenyap dari ingatan gue — baru menghabiskan berjam-jam bertukar cerita.  Sumpah, waktu dia cerita bahwa dia berstatus sebagai selingkuhan, gue pengen banget maksa dia ngasih nama cowoknya supaya gue bisa hajar itu bangsat sampai bengep-bengep.  Nggak ada otaknya itu monyet!  Cewek sebaik, secantik Taya kok diperlakukan semena-mena, sih?

Melihat betapa rapuhnya Taya ketika sedang tertidur seperti itu membuat gue ingin melindungi dia dari cowok-cowok bangsat nggak berotak; tipe-tipe cowok sialan yang tega ngejadiin Taya selingkuhannya.  Tangan gue terulur, dan jari-jari gue membelai wajah Taya dengan hati-hati.  Hati gue rasanya membengkak karena nggak bisa lagi menahan rasa yang gue simpan untuknya.

Hati-hati, gue beringsut mendekat hingga wajah Taya dan wajah gue hampir tidak berjarak.  Debar jantung gue begitu kencang hingga gue yakin Taya bisa mendengarnya.  Namun melihat Taya tetap tidak bergerak dalam tidurnya, keberanian pun muncul di dalam hati gue.

Semua kenangan-kenangan indah yang pernah gue alami sepanjang hidup gue berputar di dalam kepala gue ketika gue mengecup bibir Taya perlahan-lahan.  Bibirnya terasa hangat dan halus, seperti yang ada dalam bayangan gue.  Ini bukan ciuman pertama gue, tapi gue berharap bahwa ini adalah ciuman pertama gue, karena ciuman ini terasa sangat… benar.  Bibir kami menyatu dengan sangat tepat, seolah-olah Taya memang diciptakan hanya untuk gue seorang.

Ciuman itu tidak berlangsung lama.  Gue memundurkan tubuh gue karena gue yakin gue bisa kena serangan jantung saking kencangnya jantung gue berdetak saat itu, dan dalam diam gue memandangi Taya.

Kemudian, sesuatu yang aneh terjadi.

Dalam tidurnya, Taya tiba-tiba tersenyum lucu, seperti anak perempuan yang diberi permen.  Gue terhenyak menyaksikan betapa indahnya senyum Taya itu; jauh lebih indah dari senyum-senyum yang pernah gue lihat muncul di wajah Taya.  Lalu, nasehat yang yeye berikan pada gue empat belas tahun yang lalu tiba-tiba bergaung kembali di telinga gue.

“Suatu hari nanti, kamu akan terbangun dan menyadari bahwa arti hidup yang sebenarnya itu ada pada senyuman orang yang kamu cintai.”

*Now I Know What Love Is

8 thoughts on “[She Says] Episode 14: Nunc Scio Quid Sit Amor*

  1. (lanjut komentar di twitter)
    Okeh, saya pribadi entah mengapa merasa kalau pada akhirnya si Taya akan bersama Tejas dengan adanya Diary Tejas ini. Jadi sekarang namanya Diary T-Two (mirip duo Tika-Tiwi ya hahaha).
    Mungkin kebersamaan mereka bakalan terhalang oleh adanya si Bos tiang listrik itu. Dan bakalan ada cinta segitiga antara Tejas, Taya, dan si Bos setelah Taya beres berurusan dengan Pria berhati dua itu. Emmmh. (Sepertinya saya ancang-ancang diusir deh ini, pembeli sok tahu, tipe menyebalkan. Hahaha)

    wokeh, saya tunggu keanjutan diary T-Two ini! Semangat menulis ya Kak, semoga penyimak tulisan Kakak semakin banyak!^^

    • hello!
      sebetulnya posting yang ini terbuka pada interpretasi pembaca masing-masing, hehe tapi saya sebagai penulisnya ingin menegaskan kalau entri berbentuk diary dalam cerita ini hanyalah milik Taya. Yang lain adalah chapter biasa, a different point of view dari karakter lain yang perannya muncul dalam diary Taya. Saya merasa perlu menjabarkan ini karena ke depan kemungkinan besar akan ada entri lain yang ditulis dari sudut pandang tokoh lain dalam hidup Taya. Hehe, sekian :’)

  2. Yup, semoga kalau lancar mereka juga kebagian bercerita :’)
    terima kasih atas kunjungannya ! nantikan kisah selanjutnya setelah pesan-pesan berikut, hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s