#Sans Soleil


Tahukah kau kalau bunga yang lain selalu mengejekku?

Mereka selalu bilang aku bodoh.
Tapi aku tak peduli.

Mereka tak tahu bagaimana perasaanku setiap kali memandangmu yang berada jauh sekali di atas sana. Bahkan tawa mereka yang sinis pun tak cukup untuk mengalihkan pandanganku darimu. Benar-benar tak bisa…

Setiap kali si Ibu Lebah datang, dia selalu bertanya, “Masihkah kau mendambakannya? Sang Matahari yang gagah perkasa?”

Dan aku selalu menjawab dengan anggukan yang sama, “Ya. Dan maukah engkau terbang sedikit lebih tinggi hari ini dibanding kemarin? Untuk menyampaikan salamku padanya?”

“Akan kucoba, tapi sampai sejauh ini belum pernah ada yang bisa menggapainya. Bahkan burung elang yang gagah itupun tidak,” jawabnya dengan sabar.

Aku bersyukur Ibu Lebah masih mau jadi kawanku. Hanya tinggal dia harapanku. Bahkan kalau dia melakukan ini atas dasar iba karena mengira aku sudah gila, aku tak keberatan.

Jujur, aku iri pada awan. Aku sering melihat mereka melewatimu dan menutupimu dari pandanganku.

Ah… apa yang kalian bicarakan di atas sana? Apakah suatu saat kau akan ikut dengannya dan pergi menghilang?

Kuharap tidak. Kumohon jangan…

Hm? Cahayamu memudar. Sepertinya hari ini kau sedang bosan dan memutuskan mengakhiri hari lebih awal dari biasanya. Tapi tak apa. Aku senang sudah melihatmu.

Sampai bertemu besok, Sayang.

Doaku setiap hari kepada Tuhan,
Bila nanti ada kesempatan,
Untuk aku meninggal dan kembali dilahirkan…

Aku ingin menjadi langit.
Tempat kau datang dan bernaung,
Hingga akhir hari memanggilmu pulang…

Takdirmu di lain kehidupan
-Bunga Matahari-

Photo courtesy: http://www.cri.cn

19 thoughts on “#Sans Soleil

  1. wah, keren sekali ya… saya sepertinya sudah beberapa kali membaca cerita tentang helianthus dan sang matahari seperti ini, dan ini salah tulisan bakal menjadi salah satu favorit saya.😀

    • Hai Mizuka🙂
      Maaf baru balas. Baru buka lagi setelah libur super panjang. Ahahahahaha :”D
      “ini salah tulisan bakal menjadi salah satu favorit saya” –> Aww… really, :3 saya terharu sungguh bacanya :”)

      Makasih ya sudah sudi mampir, bahkan sampe kasih komen.
      Really appreciate it.

      Feel free untuk browsing-browsing.
      Banyak karya bagus lainnya di sini😉

      GBU!

  2. Hallo Kak Stellaaa! *SKSD*
    Maafkan saya yang baru sekarang bisa komentar, soalnya kemaren baca FF kakak ini lewat handphone.

    Huwooo!!Ceritanya manis sekali meski sedikit menyedihkan karena kenyataannya Bunga Matahari tak mungkin mampu memeluk Matahari di atas sana.
    Tapi ya, gak ada yang gak mungkin kan? Hehehehe.

    Terima kasih atas suguhannya, semoga pembaca Kakak semakin banyak^^

    • Hai Sekarrrr ^^
      Dan aku juga minta maaf baruuu aja bisa balas.
      Aku sempet baca komen kamu via imel :”D ahahaha.

      Iya, aga sedih ya :”)
      Sad but beautiful love.

      Terima kasih juga sudah menyempatkan komen dan bahkan dikasi bonus doa. AMIIIN😀.

      Sebenarnya Gina Gabrielle punya lho cerita panjang soal legenda bunga matahari :”) *uhuk jadi spoiler* ahahahaha semoga suatu hari ada kesempatan ceritanya rampung, dan YBS rela mem-postnya di GPK *uhuk lagiii* :”D ahahaha

  3. Salam kenal, kak Stella😀

    Tampaknya foto bunga matahari di atas itu langsung menyesuaikan mood membaca saia. Beneran! Isi tulisan ini langsung kebayang suasananya kayak apa thanks to foto di atas. Untuk ini saia berpikir: apa yang terjadi seandainya tidak ada foto di kisah ini?

    Kedua, sajak di akhir tulisan ini juga dengan cantik menutup kisahnya. Lengkaplah itu duet antara foto dan sajak🙂 mereka berdua berhasil mendandani isi cerita. Hum hum. Ceritanya sendiri sederhana, tapi terasa manis… atau hambar-sepet, bila seseorang mencoba menjilat kelopak bunga matahari.
    *plak*

    Cabe dari saia cuma satu aja deh. Di awal kalimat langsung kayaknya lebih asik bila memakai huruf kapital. Iya, tetap huruf kapital meski sebelumya ada tanda koma, jika itu merupakan kalimat baru. Jadi:

    Setiap kali si Ibu Lebah datang, dia selalu bertanya, “Masihkah kau mendambakannya? Sang Matahari yang gagah perkasa?”

    Kecuali bila itu bukan kalimat baru, maka memang lebih enak tidak dikapital:

    “Masihkah kau,” tanya Ibu Lebah, “mendambakan Sang Matahari yang gagah perkasa?”

    Hehe. Itu aja deh. Sekali lagi, saia suka ini!

    • Hai Harbowo😀
      Ah, jangan panggil kakak. Di dunia maya, saya selalu muda :”) *Plaaaak*

      Ahahaha.
      Thanks sekaliii sudah memberi review yang panjang lebar.
      Cabe itu saya trima dengan senang hati *ambil dan masak sama indomi*
      Memang, penulis satu ini aga lemah dalam struktur dll dst, ga spt penulis lain yang lebih jeli dan teliti. Aku tahu ini kelemahan, tapi ini… kelemahan yang adiktif <- Bilang saja malas *Plaaak*

      Iyaa soal gambar, entah sejak kapan saya punya kebiasaan menaruh gambar, memang tujuannya untuk itu ^^ membangun mood membaca. (Ini namanya taktik. Toko boleh sama, bau menyannya berbeda *tersenyum iblis*)

      Dan yang terakhir…
      YES! Saya juga mencium aroma editor dari Andaaa!
      *Ikut menyodorkan formulir langganan GPK*
      *Bakar menyan*

  4. Pingback: Aku Hanya Udara | Kata-Kata Dicta

    • Hai Sekaar😉 Aku baruu aja liat ada post ini.
      Keu keu keu.

      Saya sangat terharu :”) *lempar petasan ke halaman tetangga*

      Tentu sajaa dengan senang hati aku baca. Segera meluncur ke TKP *bikin teh untuk bacaan siang*

    • Hai Ilham😀
      Maaf baru balas komennya.

      Thanksss sudah menyempatkan mampir
      dan kasih bonus komen pula. Hehe.

      Really appreciate it!
      Dan yesss, segera meluncur ke TKP😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s