[She Says] Episode 12: How I Met My Boss


Ilfil.

Ilfil seilfil-ilfilnya ilfil.  Lebih ilfil daripada ilfil itu sendiri.

Kira-kira itulah bentuk perasaan gue ke cowok gue setelah trip ke kuburan tempo hari itu.  Trip yang dia bilang udah dia rencanakan spesial buat gue.

Asal lo tau ya, gue itu bukan tipe orang yang gampang marah.  Jadi ketika akhirnya gue meledak marah, siapapun itu yang bikin gue marah udah pasti kebangetan tingkah lakunya.  Gue nggak inget kapan terakhir kali gue semarah ini.  Sialnya, saking jarangnya gue marah, sekalinya gue marah, orang-orang malah nggak nanggapin gue dengan serius.  Biasanya mereka bakal nanggapin dengan tertawa terpingkal-pingkal seakan-akan gue itu Tukul.  Semakin marah gue, semakin keras tawa mereka.

Damn!

Dari dalam kamar tamu, telinga gue menangkap cowok gue dengan santainya bersiul-siul di dapur sambil nyiapin sarapan yang gue yakin banget mengandung dairy product-nya.  Sekedar informasi, gue itu lactose intolerant, sementara cowok gue itu pecinta sejati keju dan susu, apalagi yang kejunya diimpor langsung dari Australia.  Sebetulnya itu manusia tahu banget kalau kulit gue bakal langsung bruntusan sama jerawat segede kutil kalau gue mengkonsumsi dairy product, tapi dia nggak pernah peduli.  Katanya, badan itu nggak boleh dimanjain.  Lama-lama juga bakal kebal.  Dasar sok tahu!  Lo kira lo dokter, apa?  Banker sok tahu lo!

Detail yang biasanya nggak pernah gue besar-besarin itu tiba-tiba bikin gue pengen ngemplang kepala cowok gue pake teflon.  Atau haruskah gue ngemplang kepala gue sendiri karena mau-maunya gue jadi selingkuhan manusia nggak berhati ini?  Siapa sih yang salah sebenarnya?  Aaaaghh… kesel!  Pengen ngamuk!  Monyong semua!

“Tayaaa… sarapan!” manusia tanpa hati itu berteriak memanggil gue dari dapur untuk kelima ratus kalinya.  Ih, dia nggak nyadar apa kalau gue lagi marah berat sama dia?

Karena nggak tahan diteriakin terus, akhirnya gue bangkit dari tempat tidur dan menyeret diri ke dapur sambil mencari-cari barang yang bisa gue lempar buat menunjukkan betapa marahnya gue saat ini.  Males banget kalau sekali lagi orang malah menertawakan gue karena mengira gue cuma ngambek-ngambek manja doang.  Gue beneran marah!  Darah gue mendidih, dan gue pengen teriak sekeras-kerasnya sampai suara gue habis, hanya untuk menunjukkan betapa marahnya gue.

Terdengar desisan dari teflon ketika cowok gue menuangkan adonan omelet, disusul suara lonjakan dari mesin pemanggang roti ketika memuntahkan dua potong roti yang kini permukaannya berubah menjadi cokelat muda.  Harum aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara.  Tapi gue sama sekali nggak ngerasa laper.  Amarah yang menguasai gue membuat langkah-langkah kaki gue menjadi lebih lebar dan dalam sekejap gue pun tiba di dapur, menemukan tersangka sedang menata meja makan sambil siul-siul nggak jelas.

“GUE BENCI SAMA ELO!!” Gue berteriak sekeras-kerasnya.

Senyum sumringah di wajah cowok gue perlahan-lahan menghilang.  Selama sepersekian detik, doi kelihatan kaget melihat gue tiba-tiba meledak seperti itu.  Tapi kemudian, sebuah cengiran muncul di wajahnya.  Aaaaaghhh… kenapa sih nggak pernah ada yang percaya kalau gue beneran marah?  Sialan!  Pokoknya gue bakal nunjukin ke dia kalau gue beneran marah.  Gue nggak terima cara dia memperlakukan gue.  Gue mau putus!

“Kenapa sih kamu, Sayang?” tanyanya seraya meraih gue ke dalam pelukannya.

Gue langsung mendorong dia menjauh sambil melotot berapi-api.  Cengiran di wajahnya itu malah bertambah lebar.  Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil senyam-senyum nggak jelas, bikin gue makin pengen nabok dia keras-keras.  Luka yang menganga di dalam hati gue mulai berdarah lagi, mengingat betapa dia nggak pernah sekali pun menyadari betapa dia telah menyakiti gue dengan menomorduakan gue dalam kehidupan dia.  Kenapa gue biarin dia nyembunyiin gue like I’m no more than an embarrassing Mom’s jeans?  Kenapa?

“Kamu cantik banget deh kalau lagi marah kayak gitu…” Pujiannya malah membuat gue semakin muak sama dia.

“Gue mau putus!” teriak gue lagi.

Cengiran di wajahnya itu menghilang seketika.  “You did not just say that.”  Ia terdengar terluka, tapi gue terlalu marah untuk bisa merasa kasihan padanya.

I just did.  And I mean it!

“Tapi kenapa…?  I thought we are happy.”

“Gue bego.  Awalnya gue pikir, elo itu bijak banget karena nggak ninggalin cewek lo demi gue.  Gue pikir, elo baik banget karena elo nggak lantas ninggalin cewek lo demi cewek lain, padahal hubungan kalian baik-baik aja.  Gue salah.  Gue salah besar,” desis gue dengan napas terengah-engah, menahan amarah yang sebentar lagi bakal meletus.  Things are going to get ugly.  “Kalau elo emang beneran sayang sama cewek elo, elo nggak bakalan tergoda sama cewek lain.  Elo nggak bakal go around trying to find another girl because it will hurt your girlfriend.  Keeping her in the dark like this is even worse!  Bayangin betapa sakit hatinya dia kalau —”

Have you met someone else?” dia tiba-tiba menyela.

“Hah?”

Dia mengangkat bahu.  Ekspresi wajahnya seketika menjadi sulit untuk dibaca.  Bibirnya membentuk sebuah garis lurus.  “Lo mau putus sama gue?  Pertama-tama, putus itu hanya ada untuk dua orang yang pacaran.  Elo bukan pacar gue, elo itu selingkuhan gue.  Jadi technicallyyou don’t break up with me because we don’t even have a relationship to begin with.”

“Terserah.  Gue mau ini berakhir!”

“Karena elo bertemu seseorang?”

Gue mengerutkan kening.  Apaan sih?  Kok kesannya kayak dia mau nyalahin gue?

“Kenapa elo marah-marah sama gue?  Did I do something wrong, or are you just trying to pin all the wrong things on me so that you can walk away freely and be with him?” Kedua matanya menyipit.

“Apaan sih?  Kenapa juga lo pikir gue bertemu sama seseorang?” bentak gue.

“Karena elo mau mengakhiri ini,” jawabnya, menunjuk dirinya dan gue, untuk mengisyaratkan whatever-this-screwed-up-relationship-is-called.

“Hanya karena gue mau mengakhiri ini, bukan berarti gue udah menemukan orang lain.  Gue mau mengakhiri ini karena apapun ini nggak sehat buat gue.  Gue nggak suka lo sembunyiin dari orang-orang di dalam hidup lo seakan-akan gue nggak berarti apa-apa.  It’s been almost two years.  Masa sih elo masih belum juga bisa memutuskan pilihan hati elo?”

Wajah cowok gue mengeras, dan sorot matanya menggelap.  Mungkin karena dia merasa gue udah kelewatan batas, tapi gue tahu bagaimanapun juga salah satu dari kita harus mulai membicarakan prospek hubungan kita ke depan, sooner or later.  Apakah dia nggak bisa melihat betapa nggak adilnya dia memperlakukan gue?  Dengan menjadikan gue selingkuhannya, gue kehilangan kesempatan untuk bertemu, mengenal, dan dekat dengan seseorang yang ingin menjadikan gue pasangan sahnya. Sooner or later, gue yakin ceweknya bakal minta kejelasan hubungan mereka.  Nggak mungkin kan itu cewek mau pacaran selamanya?  Apalagi gue tahu mojang-mojang Bandung itu paling takut kalau belum merit saat usia mereka sudah melewati usia 25.  Mojang-mojang itu — maaf kata nih — ibaranya pohon natal: hot stuff before 25, old stuff after 25.  Apa yang akan terjadi pada gue dan dia saat waktu itu tiba?  Kita berdua seolah-olah bermain petak umpet.  Kenapa nggak sekalian aja gerak bubar jalan sekarang?  Toh mau sekarang atau nanti, hasil akhirnya tetap akan sama: hubungan kita nggak bakal bisa dibawa kemana-mana.

Dering telepon genggamnya memecah keheningan mencekam yang menyelimuti kita berdua.  Selama beberapa saat, ia kelihatan enggan untuk menjawab panggilan itu.  Tapi akhirnya ia mendesah dan meraih ponselnya.  Gue memutuskan untuk menunggu panggilan teleponnya selesai.  Kita harus membicarakan masalah kita hingga selesai, dan setelah akhirnya gue mengangkat masalah ini ke atas meja, gue nggak rela melakukan apapun sebelum gue tahu keputusan akhir dari hubungan kita.

Lima menit kemudian, cowok gue kembali ke dapur.  Ekspresi wajahnya yang tadi keras kini berubah menjadi pucat.  Ia kelihatan kalut, dan… apakah itu air mata yang gue lihat menumpuk di pelupuk matanya?

“Ya…” Cowok gue memulai, dan perlahan-lahan air matanya mulai turun.  Tiba-tiba saja tubuhnya merosot ke atas kursi meja makan, dan ia mulai menangis terisak.  “Nyokap gue meninggal…”

*

Gue nggak pernah kenal nyokapnya cowok gue, tapi anehnya gue menemukan diri gue menangis hingga seluruh tubuh gue berguncang hebat ketika gue dan cowok gue tiba di rumah sakit.

Bukan, gue bukan menangis sehebat ini karena gue turut merasakan kesedihan cowok gue.  Gue tahu, seharusnya gue ikut merasakan kesedihannya, tapi rasa sedih yang menghantam gue membuat gue kesulitan untuk turut meresapi tragedi yang baru menimpa cowok gue.

Gue menangis karena begitu kaki kita menginjak rumah sakit, cowok gue segera berlari meninggalkan gue menuju Unit Gawat Darurat dan gue tersadar bahwa di kala berduka seperti ini pun, gue nggak akan pernah bisa secara terbuka menenangkan dan menghibur cowok gue.  Berada di sisinya pun tidak mungkin, karena itu hanya akan mengundang pertanyaan tentang siapa gue dari segala pihak.

Gue menangis karena gue hanya bisa berdiri pilu menyaksikan cowok gue roboh di pelukan pacarnya, menghempaskan semua kesedihannya di sana bersama-sama anggota keluarganya yang lain.  Bahkan dari jarak sejauh ini pun gue bisa melihat betapa pihak keluarga cowok gue sudah menerima dan menganggap cewek itu sebagai bagian dari mereka. Gue menangis karena gue tahu, 2 tahun telah berlalu dan gue masih tidak mempunyai kesempatan untuk berada di sepatu pacarnya.  Gue menangis pilu karena setelah menyaksikan semua itu, gue hanya bisa berlari mencari sebuah ruangan kosong supaya gue bisa menelan kesedihan gue sendiri.  Gue tahu, seandainya cowok gue melihat gue seperti ini, itu hanya akan membuatnya bertanya-tanya kenapa, dan bila gue memberitahu kenapa, gue yakin hal itu hanya akan menghidupkan kembali pertengkaran kita.  Gue cukup tahu diri untuk tidak menambahkan bebannya pada saat dia sedang berbela sungkawa seperti sekarang.

Gue menangis karena bagi orang-orang di kehidupan cowok gue, gue akan terus menjadi orang asing tanpa nama yang hanya sekedar numpang lewat di hari-hari mereka.

I’m nobody.

Gue menangis dan terus menangis hingga akhirnya air mata gue mengering dan gue hanya bisa bersandar ke tembok sambil memeluk kedua lutut gue.  Tangisan yang meluap dari mata gue itu sama sekali tidak membuat gue lega.  Masih ada rasa kosong yang menyakitkan bersarang di dada gue, menyedot seluruh tenaga yang gue miliki ke dalam ruangan hampa tanpa cahaya.

“Ahem…” Satu suara bariton membuat gue nyaris melompat kaget.

Tiba-tiba sebuah lampu kecil di atas tempat tidur yang terletak di pojok terjauh kamar itu menyala, menerpa sosok seorang cowok seumuran gue yang gantengnya bukan main.  Mata cokelat besarnya membuat gue teringat akan Andrew Garfield, aktor favorit gue yang memainkan film adaptasi dari novel kesukaan gue, Never Let Me Go.  Ia tersenyum ragu-ragu ke arah gue, menunjukkan lesung pipi di wajahnya.  Tangan kanannya dibebat perban, dan ada lapisan perban lain yang dililitkan di sekeliling keningnya.

Sontak wajah gue terasa panas terbakar, dan mendadak gue jadi salting sendiri begitu menyadari bahwa ternyata…

Ternyata… kamar ini ada pasiennya, toh?

2 thoughts on “[She Says] Episode 12: How I Met My Boss

  1. “Dengan menjadikan gue selingkuhannya, gue kehilangan kesempatan untuk bertemu, mengenal, dan dekat dengan seseorang yang ingin menjadikan gue pasangan sahnya.”

    Guess who? TEJAS? *caps tiba-tiba jebol* Hahaha, pikiran saya langsung melayang ke sosok Dokter-Chinese-seksi itu waktu selesai membaca kalimat tadi. Hahahaha.

    Oke, cukup untuk Tejas, kali ini fokus ke si cowok-tak-berhati dan si Boss. akhirnya! Keluar juga kalimat putus itu! Putus deh loooh, putus! Baru tahu kalau Taya marah kayak gimana. Hahahaha. Saya gak berhenti senyum waktu baca bagian Taya minta putus. Tapi ternyata oh ternyata. -__-” Kok tiba-tiba Mami-nya si cowok-tak-berhati meninggal? Ngerusak suasana aja *ditendang si cowok-tak-berhati*

    Tapi… pada akhirnya, gara-gara itu si Taya ketemu juga kan sama si Boss. Hahahaha. Itu lucu banget ngebayangin betapa malunya si Taya. Apalagi dia udah menangis meraung-raung, dan ternyata di ruangan itu ada boss-nya. Hahaha. Tapi saya suka pertemuan yang unik kayak gitu. Sama kayak Tejas juga, romantis gimana-gimana gitu #alah

    Oke, penghujung komentar, I NEED MORE!! saya pengen kenalan sama si Boss! *diusir keluar lapak karena ngerusuh*

  2. Ah… cowo baru…. another Silly.
    Please please more more moreeee!
    Kenapa ya kok aku mesem2 sendiri membayangkan cowo ituuu.
    kikiki *ngikik genit* *dijepret*

    Dan cowo entah-siapa-namanya-yang-ibunya-meninggal-ini sih asli nyebelin tingkat awan. Pergi kamu dari hidup Taya! *tarian hujan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s