[She Says] Episode 11: Ketinggalan Jaman


“DaDa-da, da-da, da-da, da, da-da, da-da, da-da…”

“Lagu apaan sih yang lagi elo dengerin?”  Cowok gue akhirnya mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dibacanya.  The Personal MBA: Master the Art of Business karangan Josh Kaufman.  Yawn… boooring!

“Hmmm…?” Gue menurunkan headphone Sennheiser gue ketika gue menangkap betapa terganggunya cowok gue dengan senandungan gue.

Siang itu — tepat dua minggu setelah Tejas menghilang dari muka bumi dan gue harap dia nggak akan pernah nongol-nongol lagi deh thankyouverymuch — cowok gue tiba-tiba ngajakin gue jalan.  Tiga hari yang lalu, dia mutusin segala kontak dengan gue karena ceweknya dateng berkunjung dari Bandung.  Yak, sodara-sodara, pacar sahnya cowok gue adalah mojang Bandung kebanyakan: dengan wajah ayu, tubuh pendek-mungil, tutur kata halus dan santun… ya pokoknya wanita banget, deh.  Dia adalah kebalikannya dari gue yang sama sekali nggak memiliki ciri-ciri fisik wanita Indonesia kebanyakan, bertubuh tinggi menjulang, omongannya sadis… ya pokoknya barbar banget deh dibanding itu cewek.  Demi keselamatan doi, gue memutuskan untuk nggak mencantumkan nama itu cewek di sini.

Jujur, gue berharap banget ceweknya itu bakal tinggal lebih lama supaya gue punya lebih banyak alasan untuk menghindari cowok gue.  Semenjak Tejas pulang, gue selalu parno gue bakal keceplosan tentang affair kami.  Gue juga jadi sensi berat karena kurang kerjaan.  Gue baru mengundurkan diri dari kantor gue dan lagi berusaha setengah mampus ngirim resume kesana-kemari.  Sialnya, menjadi pengangguran bikin gue nggak bisa mengalihkan pikiran dari kemungkinan bahwa di dalam tubuh gue ini benih Tejas sedang berkembang.  Berkali-kali gue berusaha untuk menyelinap buat membeli test pack, tapi sialnya cowok gue selalu aja berada di dekat gue.  Dia bilang dia mau menghabiskan waktu bareng gue banyak-banyak sebelum ceweknya dateng dan kesempatan kita untuk berinteraksi jadi terbatasi.

Gila ya, kenapa dulu gue bisa cinta mati sama cowok labil satu ini?

Tejas bener juga.  Kalau dia emang cinta mati sama ceweknya, dia nggak bakalan kepikiran buat nyari cewek lain.  Kenapa juga gue mau diduain sama dia, sih?  Eh, tunggu… kok Tejas lagi, sih?!  Damn!

“Lagi dengerin lagu siapa?” Cowok gue mengulangi pertanyaannya sambil menyeruput minuman kebangsaannya, double shot iced latte.  Dulu, sekalipun Frisco lagi dinginnya minta ampun, cowok gue tetep aja maunya minum double shot iced latte.  Seakan-akan kalau minumannya diganti jadi panas, otaknya bakal mengalami kerusakan permanen.

Wow, gila ya… cowok yang dulu gue puja-puja sekarang malah jadi sumber caci-maki gue sehari-hari.

“Paris Hilton.”

Kening cowok gue mengerut.  “Emangnya dia bisa nyanyi?”

“Ya gitulah.  Lagu-lagu one hit wonder,” jawab gue, malas buat menjelaskan lebih lanjut.

So tell me what you’re waiting for when you’re here with me?
Most guys would die

You should know
What it’s like
When it hurts
‘Cause it feels so right

Gue menatap cowok gue yang kini kembali memusatkan perhatiannya ke lembaran buku di hadapannya.  Dia tahu nggak sih betapa beruntungnya dirinya?  Maaf-maaf kata nih, tapi most guys would die just to get my number.  Kalau aja dulu gue nggak minta dia buat cium gue… kalau aja dulu dia tegas menolak permintaan gue itu karena teringat akan ceweknya yang setia menunggui dia… mungkinkah cerita cinta gue bakal berbeda seandainya hari itu servis bus berjalan dengan normal dan gue nggak perlu berbagi taksi dengannya?

“Eh, kamu kan lagi nganggur,” katanya tiba-tiba.  “Mau ikut gue balik Jakarta nggak Sabtu ini?  Cuma sampai Senin sih.  Nggak bisa lama-lama soalnya ada proyek di kantor yang harus gue beresin.  Tapi lumayan lah, kita bisa liburan bareng.”

Gue mengerjapkan mata tak percaya.  Pertama, gue masih nggak terbiasa mendengar cowok gue mengucapkan ‘proyek’.  Bagaimana ceritanya seseorang yang menyandang gelar Master of Fine Arts seperti cowok gue kemudian bisa berakhir bekerja di investment banking?  Sungguh absurd.  Kedua, apa gue barusan nggak salah dengar?  Cowok gue beneran ngajak gue buat liburan bareng?  Apakah sesuatu yang buruk terjadi di antara dia dan ceweknya waktu itu cewek main ke Singapore?  Apakah akhirnya gue bakal menjadi pacar sahnya dia?

Dibuai oleh angan-angan yang manis itu, seulas senyum seketika muncul di wajah gue.  Mungkinkah akhirnya cowok gue memilih gue?  Mungkinkah akhirnya cerita cinta gue bakal berakhir happy ending?

Cowok gue mengulurkan tangannya di bawah meja dan menggenggam tangan gue dengan erat.  Senyuman hangat yang dulu pernah membuat gue susah tidur itu mengembang di wajahnya.  “Maaf ya, kemarin-kemarin itu gue nggak bisa ada di samping elo.  Gue pengen nebus itu semua dengan ngajak lo liburan bareng.  Lo mau, kan?”

Mimpikah gue?

*

Ya.  Semua harapan-harapan semanis segelas es teh manis di kala matahari tengah bersinar terik itu hanyalah buaian belaka.

“Ya, kamu bisa jalan duluan ke tempat check-in, nggak?” tanya cowok gue ketika kita sudah berada di Changi, dua jam sebelum penerbangan kami ke Jakarta.  “Gue takut ada yang ngenalin gue.  Kita cari aman aja, ya?  Jangan duduk sebelahan.”

“…”

Ketika gue menerima tiket elektronik Singapore Airlines di akun e-mail gue — fully paid by my boyfriend — gue sontak lompat-lompat girang.  Kelihatannya cowok gue memang berusaha banget untuk ‘memenangkan’ hati gue.  Gue semakin positif kalau hubungannya dengan pacarnya sudah berakhir, dan gue tinggal menunggu berita resminya dari cowok gue.  Eh tapi… dia dengan entengnya menghancurkan khayalan indah gue itu dengan beberapa potong kalimat sialan yang barusan terlontar dari mulutnya.  Ternyata dia memang masih belum putus sama ceweknya.

Karena gue males berdebat, akhirnya gue maju aja ke konter.  Seorang wanita berparas oriental menyapa gue dan menanyakan apakah gue punya bagasi.  Gue menggeleng singkat.  I’m a light traveler.  Gue cuma butuh beberapa potong baju ganti dan kamera andalan gue, Leica M6.  Tadinya sih gue sempet berpikiran untuk ngebawa Mamiya gue, tapi batal di detik-detik terakhir karena gue males menggotong-gotong kamera seberat itu di saat gue seharusnya berlibur.

Tanpa menunggu cowok gue, gue langsung cabut jalan-jalan ngelilingin bandara hingga waktunya boarding tiba.  Cowok gue kayaknya merasa bersalah atas tingkahnya itu, karena dalam perjalanan dari Soetta menuju apartemennya di bilangan Kemang, dia tiba-tiba meminta maaf dan berjanji bakal ngajak gue pergi besoknya.  Gue melengos malas.  Paling juga janji-janji manis semata seperti biasanya.

“Serius.  Besok gue harus ke San Diego Hill.  Elo ikut, ya?  Please?”  Dia merajuk sambil menatap gue lekat-lekat.  Tahu banget dia kalau gue paling nggak tega nolak kalau dia udah menatap gue sedalam itu.  Demi apa Taya, pull yourself together!  

Mau sampai kapan elo dijadiin selingkuhan, Tay?  Suara Tejas yang menyebalkan itu mengambang di kepala gue, menampar gue telak-telak.  Apparently the phrase ‘the more you try to forget someone, the more you think about him unconsciously’ is somewhat true.

“Okay deh…” Gue mengiyakan, mengusir suara Tejas yang terus saja menghantui kepala gue.  Diem deh lo, Jas!  Cowok gue mau ngajak gue ke this fancy place called San Diego Hill.  Gue nggak tahu sih apa persisnya tempat itu karena gue udah lima tahun nggak pulang ke Jakarta.  Tapi tebakan gue sih kayaknya itu nama mall baru.  Nggak mungkin kan ada supermarket dengan nama yang sebegitu sophisticated-nya?

Namun keesokan harinya, harapan gue kembali hancur lebur.  Gue sedikit bingung ketika cowok gue mengarahkan mobilnya keluar Jakarta, tapi gue mencoba untuk kalem.  Mungkin dia mau mampir kemana dulu.  Eh… tapi… lho, kok?  Gue terperangah kaget ketika beberapa jam kemudian pemandangan di hadapan gue mulai tergantikan dengan bukit-bukit yang ditanami rumput hijau.  Tidak ada bangunan apapun sejauh mata memandang.  Di atas bukit-bukit hijau itu, tersebar beberapa nisan dengan jarak yang tertata dengan apiknya.

What?!

“San Diego Hill itu nama pemakaman, toh…” Suara gue terdengar kecil karena gue masih belum bisa mengatasi keterkejutan gue.

Cowok gue melirik gue dengan heran.  “Lho?  Kamu nggak tahu?”

“Ng-ngapain kita di sini?”

Cowok gue terdiam sejenak.  “Di Jakarta terlalu riskan buat jalan bareng tanpa ketahuan.  Kebetulan… gue juga mau ngelayat teman SMA gue dulu.  Orangtuanya memindahkan makamnya kemari karena pemakamannya yang dulu dibongkar, dan gue belum sempet ngelayat karena sibuk.  Gue rasa—”

Gue nggak lagi mendengarkan kata-kata cowok gue.  Gue hanya bisa melongo kaget sambil memandangi nisan-nisan yang berjejer rapi di hadapan gue.

Cowok gue ngajak gue liburan, ngebeliin tiket pesawat buat gue, hanya untuk mengajak gue hang-out di kuburan?

8 thoughts on “[She Says] Episode 11: Ketinggalan Jaman

  1. Dan pesona Tejas telah mempengaruhi hati Taya… –____–” Akhirnya saya pun memutuskan untuk memberkan kesempatan kedua untuk Tejas. Dipikir-pikir, sebenarnya Tejas memang masih memiliki banyak sekali nilai plus ketimbang jeleknya. Jadi… ya gitu deh. Semoga Taya bisa menemukan akhir dari ceritanya. Sama siapa aja boleh, asal Taya bahagia.🙂

  2. Ketawa baca komen Dikta, ternyata kamu sudah dalam sekali cintanya sama Tejas ya🙂

    Dan, cowoq yang mendua hati itu, pengen saya gerus jadi bubuk.

    • Kasian ya… segitu ketinggalan jaman dan berharapnya Taya sampai dia gatau kalau cowoknya ngajak dia jalan ke…. kuburan *gebugin itu cowo*

      Saya juga senang karena Taya — sekalipun tengah dirundung masalah berkaitan dengan Tejas — akhirnya mulai ‘membuka’ mata dan melihat kalau cowoknya itu jauh dari bayangan sempurna yang selama ini merundungi benaknya.

      Terima kasih atas kunjungannya🙂

  3. Gue ga tau kenapa…. baca ini….
    LOL! Kuburan? Man!!! *gali liang untuk si cowo buduk itu*

    ahahaha.
    Tapi you always manage to put a great twist omiii
    a great twister indeed!

    heheheeh

    dan ini…
    the more you try to forget someone, the more you think about him unconsciously’
    I feel this! totally. Ah… always good to write something most ppl could relate to, And you did it! Aku masih harus banyak belajar.

    *Curtsy sambil mundur perlahan*

    • terima kasih, terima kasih…
      itu kalimat muncul saat lagi bengong… bengong… bengong… mikirin setumpuk assignment, in denial berusaha melupakan itu assignment… dan tiba-tiba muncul kalimat itu. Membayangkan betapa banyak mahasiswa merana di luar sana yang juga merasakan hal yang sama.

      Belajarlah dari hidup.
      Banyak celetukan yang tanpa kita sadari ‘ih gue banget!’🙂

      *nenek mundur sambil shuffle* –> nenek gaul

      • “Membayangkan betapa banyak mahasiswa merana di luar sana yang juga merasakan hal yang sama.” —> Praaang! Dan seketika, keindahan kalimat itu kok… jadi… fana? *menatap langit dan bertanya “WHY!”

        Maaf, saya cinta Indonesia. *mundur sambil dangdutan*

  4. HAHAHA. sumpah endingnya unpredictable banget lho. aku suka banget sama cerita yang endingnya unpredictable. nice bangeeet🙂 aku sukaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s