[She Says] Episode 10: So Much For My Happy Ending


Regrets collect like old friends
Here to relive your darkest moments
I can see no way, I can see no way
And all of the ghouls come out to play

And every demon wants his pound of flesh
But I like to keep some things to myself
I like to keep my issues drawn
It’s always darkest before the dawn

Shake It Out – Florence + The Machine

Selama ini gue nggak pernah merasa kalau gue butuh seorang teman perempuan.  A real girlfriend, bukan sekedar teman haha-hihi sambil ngopi atau berburu midnight sale keliling Orchard.  Tapi kali ini, gue merasa butuh banget mencurahkan isi hati gue pada seseorang sebelum gue meledak.

Jari gue yang kulitnya keriput karena gue ngabisin hampir satu jam di bawah shower tadi pagi — membuahkan omelan dari landlord gue — menelusuri kontak yang berderet di iPhone gue, berusaha menemukan someone decent enough untuk gue ajak bicara akan kejadian yang baru saja terjadi pada gue.  Wait, scratch that.  Someone decent enough untuk gue ajak bicara akan apa yang semalam terjadi di antara gue dan Tejas kayaknya lebih tepat.  Jari gue sempat berhenti di nomor ponsel cowok gue, tapi kemudian gue langsung menoyor kepala gue sendiri.  Gila aja, masa gue mau telepon dia dan bilang: “hei, selingkuhan elo baru aja selingkuhin elo.”

See how twisted it is?

Gue mengerang pelan ketika sisa-sisa hangover oleh-oleh dari Avalon tadi malam kembali menyapa gue.  Gue nggak pernah semabuk tadi malem.  Boleh percaya boleh nggak, tapi gue nggak pernah hangover kayak gini.  Gue selalu tahu kapan harus berhenti.  Gue nggak tahu apa sebetulnya yang membuat gue sampai lepas kontrol kayak gitu.  Tapi gue lebih nggak tahu lagi kenapa Tejas — yang gue kira adalah my long lost bestfriend — tega meniduri gue saat gue lagi fragile begitu.  I thought he’s a decent man, a gentleman.  For crying out loud, he’s my best friend!  He should know better, right?  Setelah ceramah tentang betapa gue harus menghargai diri gue sendiri, dia lalu ngerebut keperawanan gue?  How twisted he is, actually?!  

Dan senyum yang muncul saat dia mengetuk pintu kamar gue pagi tadi , muncul membawakan gue sarapan di tempat tidur seakan-akan apa yang terjadi semalam itu bukan such a big deal buat dia.  Lalu apa yang dia katakan saat melihat betapa marahnya gue… ugh, did he really think I’d buy that crap?!  Bilang betapa dia sayang banget sama gue, bahkan dari jaman kita masih SMP dulu.  Betapa dia nggak pernah ngelupain gue dan blablabla.  For heaven’s sake, kalau memang gue sebegitu berartinya buat dia, kenapa dia nggak berusaha nemuin gue setelah dia dikeluarin dari sekolah kita dulu?  Sumpah ya, yang namanya cowok itu bangsat semua!

“Gue sayang sama elo, Tay…” suara Tejas melemah, hingga gue nyaris nggak menangkap kelanjutan kalimatnya, “more than you know.”

Gue tertawa sinis sambil merapatkan bathrobe gue.  Rasa mual yang sangat kuat tiba-tiba menghantam gue ketika gue menyadari usaha gue untuk menutup setiap inci tubuh gue dari Tejas adalah usaha yang sia-sia.  Toh dia udah ngelihat semuanya tadi malam.  God, how could he do that to me?!

“Please, Jas… jangan ngomong apa-apa lagi.  Gue nggak akan percaya,” kata gue ketus.  Gue mencoba menarik lepas seprai tempat tidur gue, tapi kemudian gue terkesiap menemukan bekas darah gue tercetak di sana.  Agaknya Tejas juga melihatnya.  Hal itu membuat gue ngerasa semakin muak sama diri gue sendiri.  Sialnya, itu seprai entah gimana stuck hingga gue mengerang frustasi dan menyerah.

Tejas maju mendekat untuk menawarkan bantuan, tapi gue menerjangnya dan mendorong tubuhnya kuat-kuat, lalu mulai memukuli dadanya.

“Tega ya lo, Jas!  Brengsek lo!  All those craps you said about how I should respect myself, all those line you used just to get me laid!  Bangsat!”  suara gue meninggi, nggak peduli sekalipun landlord gue nguping.  Damn, saat itu gue pengin banget nyekik Tejas, hanya supaya ekspresi sok-sok menyesalnya itu lenyap dari wajahnya.

“I really meant those words.  I still do.  Please, if you just let me explain how I lo—

Don’t!” Gue memotong kalimat Tejas sebelum ia sempat melontarkan those three freaking words.  Amarah menggelegak di dalam dada gue, bercampur dengan racun bernama rasa benci yang entah lebih berat mengarah pada Tejas atau pada diri gue sendiri.  “Did you even use condoms last night?”

….”

Gue memejamkan mata.  Tejas nggak bisa menjawab, yang berarti ya dia nggak inget atau nggak mau ngaku.  Brengsek!

“Gue dokter, Tay, gue tahu—”

“Tahu apa lo?!  Lo jelas-jelas nggak tahu gimana cara ngehargain sahabat elo sendiri.  Lo tahu betapa rapuhnya dia, dan elo malah ngambil manfaat atas keadaan dia.  Lo tahu kan betapa brengseknya elo?” teriak gue.  Suara gue bergetar, pertanda kalau sebentar lagi airmata gue bakal tumpah.  Gue nggak pernah sesedih, sefrustasi ini.  Kalau gue sampai on the verge of crying, that means I’m totally losing it.  “Bangsat lo, Jas!”

Tejas tetap diam mematung setelah tamparan keras gue mendarat di wajahnya.  Keras, sampai setitik darah muncul di hidungnya.  Dia hanya menatap gue dengan perpaduan tatapan menyesal,  longing, dan entah apalagi.  Matanya berkabut, tapi gue malah semakin muak ngelihat dia sok-sok pasang ekspresi nggak berdaya kayak gitu.  Terlalu marah untuk bisa membentuk kata-kata, gue hanya bisa menunjuk pintu kamar gue dengan jari gemetar.  Tejas mengarahkan pandangan memuakkan itu ke arah gue sekali lagi, tapi akhirnya ia menyerah dan meninggalkan gue.

Hari itu hari Minggu, dan hujan turun seharian sementara gue duduk tanpa bergerak di depan jendela dengan tatapan menerawang kosong.  Perlahan namun pasti, memori akan peristiwa tadi malam mulai kembali membayang di kepala gue.

Tejas tengah berada di Singapore karena rumah sakit tempat ia bekerja mengirim dia untuk seminar entah apa, dan Sabtu ini dia bakal bebas setelah jam empat sore.  Setelah beres dinner, kita duduk di Starbucks Wheelock Place dan mendadak obrolan berubah mengarah ke topik yang lebih berat.  Awalnya gue nanya Tejas kenapa dia nggak ambil spesialis, dan akhirnya dia cerita tentang apa yang terjadi pada keluarganya.

“Keluarga gue pedagang, dan toko-toko kita habis dibakar waktu kerusuhan Mei 1998.  Habis, nggak bersisa.  Bahkan rumah kita di Petogogan juga kena jarah.  Untungnya waktu itu bokap udah ngirim kita sekeluarga ke rumah yeye di Serang.  Kayaknya keluarga gue emang juga punya musuh di bidang usaha mereka, deh.  Kerusuhan itu cuma kedok doang.  Musuhnya itu pasti udah ngerencanain itu dari jauh hari.  Long story short, keluarga gue bangkrut total dan pada saat bersamaan gue juga dikeluarin dari sekolah.  Nyokap ngusulin supaya kami sekeluarga pulang ke kampungnya di Medan, dan akhirnya kita semua pindah ke Tanjung Morawa.  Bokap harus mulai dari nol lagi.  Usaha serabutan apa aja.  Dia harus minjem sana-sini hanya supaya gue bisa lulus dari Kedokteran.  Gue mau banget lah ngambil spesialis, tapi sebelum itu, gue bercita-cita buat bisa ngebangun ulang rumah keluarga gue di Petogogan itu.  Bokap gue emang nggak pernah ngomong apa-apa, tapi gue tahu banget arti rumah itu buat dia.”

“Wow… you’ve really grown up, Jas.” Gue tersenyum bangga ke arah sobat SMP gue itu.  “Gue bangga banget denger cita-cita mulia elo.”

“Ah, it’s nothing.  Elo sendiri gimana?  Masih gontok-gontokan sama nyokap lo?”

Gue tertawa pahit.  “Makin parah.  Setelah gue berontak gila-gilaan itu, nyokap gue mutusin buat ngangkat anak perempuan.  Buat ngegantiin anaknya yang sableng ini kayaknya.  Dan seakan itu semua belum cukup, bokap gue ninggalin nyokap buat janda beranak satu.  Social climber nggak jelas yang gue tahu banget cuma ngiler sama harta bokap gue.  Sialnya, anak ibu tiri gue itu seakan bikin bokap gue lupa akan anak perempuan kandungnya.  Setiap kali gue ketemu dia, bokap gue selalu bangga-banggain itu cewek layaknya anak sendiri.  Anin juara satu, lho.  Anin manjat Monas, lho.  Anin numbuhin kumis, lho.  Whatever.  Akhirnya gue muak dan mutusin buat nggak pernah ngontak-ngontak bokap gue lagi.  Gue terpaksa balik ke dunia modeling, kerja banting tulang waktu SMA hanya supaya gue bisa bayar kuliah gue sendiri.  Apapun gue lakuin asal nggak perlu berhubungan sama bokap gue dan keluarga barunya.”

“Taya…” Tejas meraih tangan gue dan menggenggamnya erat.  “Orang yang nggak tahu betapa berharganya elo nggak berhak buat bikin elo down.  Bokap elo rugi besar karena nggak mau berusaha buat mengenal betapa hebatnya elo.”

Gue nggak pernah open up tentang betapa kacaunya kehidupan keluarga gue sama siapapun selama ini.  Bahkan cowok gue pun nggak pernah tahu.  Pernah, dulu banget gue cerita sama mantan gue di Melbourne.  Dia malah nyuruh gue buat minta maaf dan menjalin hubungan dengan kedua orangtua gue lagi.  Menurut dia, bagaimanapun juga, orangtua itu selalu benar dan anak selalu salah.  Dia lantas ngancam buat mutusin gue kalau gue nggak mau kembali berhubungan sama orangtua gue.  So I saved him the trouble and I broke up with him right at that moment.  Really, I don’t need someone to tell me what is wrong in all I say or do.

Tejas lain.  Tejas bukan mereka.  Or at least, I thought he was at that moment.  Siapa yang menyangka, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, gue malah kemudian membenci dia mati-matian?

And that’s not even the worst part.  

The worst part is, with Tejas gone for good, now I really have nobody I can talk to.

And I am done with my graceless heart
So tonight I’m gonna cut it out and then restart
‘Cause I like to keep my issues drawn
It’s always darkest before the dawn

Florence + The Machine, gue, kamar ini, dan sebuah ponsel dengan sederetan kontak yang nggak satu pun bisa gue hubungi untuk membagi beban dalam hati gue.  All alone again naturally.

6 thoughts on “[She Says] Episode 10: So Much For My Happy Ending

  1. #PRAAANG!! *kepingan hati yang hancur*

    No coment, Kakak… *nyapu serpihan hati*

    Bos tiang listrik, you’re the only one… don’t make me dispointed at you like Tejas has done… *ngesot pulang*

  2. Awwwwww😦
    Entah kenapa the ending really break my heart,
    Gue bisa merasakan kesepian Taya.

    Dan I can’t help but wonder, how you can make these background, negara-negara tempat-tempat ini yang seem believable🙂 I like it really😀

    • Dan I can’t help but wonder, how you can make these background, negara-negara tempat-tempat ini yang seem believable I like it really

      wah jadi malu, terima kasih ya. Detail. Saya memang suka banget bermain-main sama detail. Hihi. Ngga menyangka ada yang menyukainya🙂 *tersanjung episode 1892836* :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s