Dandelion


 

Untuk setiap kuncup yang takut mekar, dan semua cinta yang tak terbalas.

Wahai cinta, apakah kau pernah melihatku?

Aku menantimu di pagi sebuah musim semi, saat masa semua yang beku telah berlalu. Mentari mulai tersenyum cerah lagi, perlahan mendaki undakan menuju puncak langit. Burung-burung beterbangan kesana-kemari sembari berkicau ramai, berebut giliran untuk saling bercerita setelah lama tak bertemu. Semilir angin dingin kadang masih berhembus datang, lalu lantas bergegas pergi, mungkin malu karena salah musim.

Ah, ini memang musimnya kehangatan dan langit biru cemerlang, menaungi ladang-ladang hijau yang menyubur. Termasuk ladang tempatku menantimu, sepetak tanah di tepian jalan kecil.

Wahai cinta, apakah kau pernah melihatku? Aku, kuncup kecil yang tak pernah diperhatikan oleh siapapun.

Di ladang ini banyak kuncup sepertiku, namun entah mengapa semuanya terlihat lebih indah jika dibandingkan dengan diriku. Di kejauhan sana, di tempat yang sedikit lebih tinggi, terlihat serumpun mawar. Angkuh, tak tersentuh karena duri-duri tajam, namun menawan semua hati yang melihatnya. Sampai mereka rela tergores, luka demi mendapatkan kuntum itu. Sampai mereka tak sadar, bahwa dalam perjalanan mereka ke sana, mereka menginjak-injakku. Mereka mengeluh; tak ada cukup mawar. Seharusnya tak ada ilalang sepertiku, melainkan mawar semua yang tumbuh di ladang. Begitulah kata mereka.

Ilalang pun makhluk hidup, sama seperti mawar. Apakah tak berhak ada?

Wahai cinta, seandainya saja kau pernah melihatku. Ini aku, kuncup yang tak dianggap oleh manusia sang empunya ladang. Ladang, surga kecil miliknya.
Aku bukan mawar! Aku merasa sakit. Aku remuk terinjak. Aku lelah. Ada saat-saat di mana aku berpikir, lebih baik jika aku tak usah mekar saja. Untung aku masih kuncup yang menutup. Kelopak-kelopak ini bisa memeluk erat, membungkus rapat dan setidaknya melindungiku supaya tidak benar-benar hancur saat terinjak.

Namun, waktu terus berjalan. Aku pun sadar, akhirnya aku toh tetap akan mati juga walaupun terus menolak untuk mekar. Aku ini memang kuncup kecil, bukan apa-apa, tetapi aku ingin tahu bagaimana rasanya mekar. Aku ingin berbunga, hanya karena aku bisa. Karena aku hidup. Karena aku ada. Dan, saat aku mekar nanti, aku akan mekar dengan indah… walau mungkin tetap tak akan ada yang menyadarinya.

Perlahan kubuka kelopakku, satu demi satu. Hatiku sedikit gentar, namun semangatku tanpa henti bergetar. Selapis lagi, selapis lagi. Lihat! Walau kecil, tangkai yang tadinya hanya berkepalakan kuncup kini mempunyai sebuah mahkota. Kini aku membuka diri, membiarkan matahari dan angin selewat-selewat membelaiku. Rasanya hangat dan nyaman. Hatiku serasa menjadi lebih luas dan lapang. Akhirnya, aku bisa menyebut diriku bunga.

Wahai cinta, apakah kau pernah melihatku? Aku, bunga kuning kecil yang baru saja mulai mekar.

Pagi berikutnya, dalam diam kutunggu embun fajar turun dengan lembut dari langit, sejuk membasuh hatiku yang kering. Aku ingin mereguk semua kekuatan yang bisa kudapatkan. Dan, aku akan berusaha untuk tumbuh lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi, semakin dekat lagi kepada matahari. Aku akan tumbuh seindah yang kubisa, karena mungkin hari ini adalah kesempatan terakhirku untuk mekar. Bisa saja hari esok tak akan ada untukku, namun pada hari ini aku hidup, bunga kuning kecil yang sedang mekar ini.

Wahai cinta, pernahkah kau melihatku? Mungkin tidak.

Tapi, tiba-tiba sesuatu terjadi. Ke duniaku yang kecil dan sepi, datanglah lebah. Datanglah kupu-kupu. Datanglah berbagai makhluk yang hendak singgah. Dalam pengembaraan mereka yang panjang dan jauh, tiba-tiba mereka sadar bahwa aku ada di sana. Mereka ingin hinggap, beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan untuk mengarungi dunia. Akankah kupersilakan? Hatiku masih letih dan pedih, namun kutawarkan juga pada mereka tempat bernaung, tempat bersandar.

Saat itu, kuingatkan diriku. Kalau aku mau mekar dengan indah, aku harus kuat berjuang. Untuk diperhatikan, aku harus memperhatikan. Semua kebaikan yang ingin kurasakan, akan kucurahkan terlebih dahulu dengan murah hati. Mungkin suatu saat nanti, saat aku sudah cukup mencintai, aku pun akan dicintai. Mungkin, hanya mungkin.

“Bunga kecil,” kata mereka kepadaku, “sungguh baik perjuanganmu ini. Mekarlah dengan indah…”

Mereka pun mengepakkan sayap, memanggil angin sebelum pergi. Dan dalam sekejap, dalam saat-saat perpisahan itu, mereka merombak susunan hatiku. Aku merasa, inilah waktuku. Sudah tiba saatnya. Ini musimku untuk bersemi. Aku akan mekar dan menjadi indah.

Dengan ringan hati, aku biarkan diriku menari, meliuk-liuk ditiup angin sepoi. Berubah, berubah, dan berubah… sampai kutemukan diriku terbalut dalam gaun putih, seputih bulan terang dalam malam-malam sepiku.

Kini, aku adalah bunga bulat berwarna putih. Kelopak-kelopak mungilku berganti rupa menjadi laksana untaian benang tipis. Aku kini terlihat seperti bola kapas, suatu rangkaian dari serat yang teramat ringkih. Aku semakin tak mencolok di mata, namun percayalah aku tetap ada di ladang, berusaha tumbuh selagi hari masih hangat terhadapku.

Aku tahu musim semi yang lembut ini akan berlalu secepat kecupan embun pagi. Matahari pun akan tiba di puncak langit dan bertahta selama mungkin. Ia akan berusaha mengusir rinai hujan dan memamerkan keperkasaan sinarnya. Hari-hari akan menjadi semakin panjang, berkilauan tetapi juga terik melelahkan. Bagi yang kuat berjuang, ini adalah musimnya kesempatan. Bagi yang lelah dan menyerah, ini adalah musimnya kekeringan dan kematian.

Lalu, setelah tiba waktunya bagi matahari untuk lengser dari puncak langit, siang akan menjadi semakin pendek. Petang akan memanjang. Waktu untuk berbunga akan berakhir, dan satu-satunya yang bisa tumbuh di musim ini hanyalah penyesalan tatkala hidup tak dijalani dengan sepenuh hati. Burung-burung akan berhenti bernyanyi. Bahkan mereka akan menghilang, terusir oleh dingin yang diam-diam mulai datang menusuk. Tetapi, saat hari itu datang, ia takkan membawa penyesalan untukku.

Hari itu akan menjadi waktu untuk gugur dengan anggun. Ya, akan datang saatnya di mana angin akan berhembus kencang. Lalu semua bagian hatiku, semua harapanku, semua kepedihanku, semua kesepianku akan tertiup pergi. Ceritaku akan terbang menjelajahi dunia ini, ke tempat-tempat yang tak pernah kuketahui sebelumnya.

Lalu akan ada puluhan kuncup baru milikku. Mereka mengerti kesedihan, tetapi mereka juga mengerti harapan. Mereka lebih kuat. Lebih baik. Dan pada saatnya mereka pun akan mekar dengan indah. Lalu mereka akan menyebarkan lebih banyak lagi serpihan diriku. Lalu akan ada ratusan kuncup baru milikku. Ribuan. Jutaan…

Pernahkah kau melihat diriku? Mungkin tidak.

Tak apa. Aku sudah merasakan kesepian dan kepedihan yang begitu rupa sehingga tak ada lagi rasa sakit. Tak ada lagi yang kupertaruhkan. Aku mulai berdamai dan bahagia, hidup dan berkembang menjadi bunga terindah, seindah yang aku bisa. Dan aku akan terus menghias ladang manusia, menjadi sebagian kecil dari kebahagiaannya tanpa ia sadari. Tak apa. Karena, aku pun ada di ladang.

Aku hidup. Dan, aku hanya ingin diriku tahu kalau aku ini indah. Aku, si kuncup kecil itu, bisa mekar dengan indah. Bukan untuk dilihat dan dikagumi, tetapi karena aku adalah bunga, dan setiap bunga pasti mekar. Selama aku tak menyerah, dunia ini pun akan penuh oleh bunga-bunga dari serpihan hatiku.

Mungkin akhirnya seseorang akan sadar kalau aku ada di sini. Mungkin akan ada yang menganggapku indah, dan menginginkanku untuk dirinya sendiri. Mungkin akan ada yang mencintaiku selamanya… Atau mungkin, aku akan terus menetap di sini, melewati malam menatap bulan putih, menunggu embun pagi menetes.

Aku akan tetap mekar. Apapun yang terjadi.

Wahai cinta, apakah kau pernah melihatku? Aku, bunga putih kecil yang hampir tak kasat mata. Membawa harapan dan impian, bunga ini pun tumbuh di ladang.

Apakah kau bisa mengerti makna dari tarian serpihan-serpihan bunga dandelion kecil? Perlahan mengendarai angin, diterangi sinar lembayung senja… berusaha untuk hidup. Seakan tak terlihat, tak berarti, melayang-layang lunglai tanpa kekuatan, tanpa nyawa layaknya debu. Tetapi, saat jatuh di atas tanah yang tepat, akan berakar dan menyambung kehidupan. Demikianlah harapan. Demikianlah impian. Dan jika kau mengerti maknanya, meski tarian ini hanya sejenak, kau sedang disuguhkan pertunjukan terindah di panggung dunia ini.

Wahai cinta, apakah kau pernah melihatku?

Dari balik jendela yang mengarah ke ladang,
Melbourne, menjelang musim gugur 2007,
sebagai hadiah untuk diri yang baru.

Image taken from http://jeroenboszontwerp.nl

12 thoughts on “Dandelion

  1. Aku terbawa menapaki rerumputan yang hangat di padang rumput di kiri-kanan jalan menuju Great Ocean Road. Bertelanjang kaki, menatap matahari musim semi yang hangat. Merasakan kulit kakiku digelitiki oleh kuncup-kuncup dandelion yang tengah menengadah mencurahkan semua mimpi dan harapannya pada kekuatan angin.

    Berharap hidup mereka yang singkat akan membawa kebahagiaan dan harapan baru bagi siapapun yang menyaksikan mereka terbang, menyongsong hidup baru.

  2. Sama, baca ini jadi kangen ada di ruangan terbuka🙂 ah, that little patch of land, brimming with spreads of dandelions… (dulu deket kosan gw ada, thus i finished the story there)

    • aahh! I once found an entire family of cute, light brown bunnies in an open field like that!! *bawa karung, tangkap semua, dan bawa pulang ke rumah untuk dipiara*🙂

  3. Dandelion tampak menarik diawal musim semi, meski tak bisa menyaingi anggunnya sakura tapi aku menyukainya, sangat.. taburan dandelon yang menggantikan tumpukan salju, ohh… indah.. sekarang dimusim panas dandelion lebih senang bersembunyi, ahh.. mungkin bukan bersembunyi, tapi disembunyikan.. ayolah dandelion cantik tumbuh lebih tinggi, aku ingin melihatmu lagi…🙂

    • Dear Ra,

      Terima kasih sudah mengunjungi lapak kami🙂 Dandelion saya juga senang sekali ada yang menyukainya seperti itu ihihihihihihi… Kami akan tumbuh dengan baik🙂

      Sering-sering mampir ya!

  4. ih bagus deh hehehe. banyak pelajaran didalem cerita ini tapi dikemas pake diksi yang unik. aku juga suka bikin kayak gini, tapi bahasanya masih…ece2….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s