Rendez-Vouz


Hari ini hari istimewa.

Shana terbangun dengan menarik nafas kencang. Bagai orang tenggelam yang nyaris mati dan tiba-tiba saja terangkat ke permukaan. Kalimat itu mengiang di kepalanya, menariknya paksa dari bayang-bayang mimpi yang masih melekat di bantal.

Tanpa diperintah, matanya melirik jam digital merah di nakas samping ranjang. Jantungnya serasa berhenti. Mungkin ini yang namanya serangan jantung ringan.

Jam 9 pagi?! Ya, Tuhan.

Refleksnya langsung mengambil alih. Shana melompat dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dan mengabaikan jeritan protes dari pori-pori kulitnya yang timbul seketika bagai kulit jeruk.

Aroma lili putih perlahan naik memenuhi kamar mandi. Aroma ini. Yang entah kenapa selalu memiliki efek magis bagi syaraf Shana. Untuk pertama kalinya di pagi ini, detak jantung Shana memelan. Menghanyutkan Shana dalam irama konstan yang membuai. Aroma kesukaan dia.

Shana mengenakan baju yang sudah tergantung rapi di depan lemari. Disetrika hingga licin tanpa kerut satu pun kemarin malam. Baju yang didapat dengan menyeret sahabat terbaiknya menemani dia belanja seharian. Hari itu kuping Shana tuli dari teriakan pegal sang sahabat.

Mini dress cantik berbahan jeans lembut dengan warna biru muda kini membalut tubuhnya. Tulang leher Shana yang menonjol indah, terbingkai manis dengan kerah bulat berenda putih. Shana memakai stoking ala balerina berwarna putih, dan memakai flat shoes yang senada dengan dress-nya.

Rambut ikalnya yang biasa dibiarkan terjepit awut-awutan, kini digerai. Sebentuk keriting alami melingkar di ujung-ujung rambutnya. Di atas kepalanya bertengger bando pita satin kecil berwarna pink muda dengan butiran mutiara di tengahnya.

Tangan Shana dengan kikuk bermain-main dengan kuas dan bubuk-bubuk warna yang jarang sekali disentuhnya. Hari ini, dia memakai riasan wajah.

Untuk terakhir kalinya sebelum keluar kamar, Shana mematut dirinya di depan kaca. Ia tak mampu untuk tidak kagum melihat sosok berbeda yang menirukan raut wajah dan gerak-geriknya.

Dia bagai boneka yang siap dipajang di etalase toko berhiaskan pita-pita satin dan renda. Menanti tangan-tangan mungil menatapnya penuh ingin dari luar sana dan merengek pada ibu mereka agar ia jadi teman tidur mereka.

Ini tak seperti kamu yang biasa.

Ya, untuk satu hari ini, Shana memang sengaja berbeda.

Cantik…

Karena ini hari istimewa.

***

Ini memang hari istimewa.

Devon berjalan menyusuri trotoar di depan kawasan rumahnya. Langit tampaknya sedang bahagia. Ia biru dan menggandeng matahari yang sinarnya tidak sekejam biasa. Ramalan cuaca pagi tadi, seratus persen salah.

Devon membuka song playlist-nya. Dia tahu jelas lagu apa yang harus dilantunkan untuk teman pagi seindah ini. Alunan bossanova  membawa melodi menenangkan dari earphone putih khas gadget kesayangannya.

Anjing cokelat yang lewat dan tiba-tiba menyalak, tukang koran bersepeda yang nyaris menabraknya saat Devon akan menyeberang, omelan pagi tante tetangga yang memperjuangkan harga wortel murah di gerobak sayur sang abang, tak satu pun mampu mengganggu Devon. Tak ada.

Hari ini Devon memakai kaus putih berlapis kemeja biru pudar. Jeans biru gelap favoritnya sangat serasi dengan sneakers hitam. Devon membenarkan posisi tas cangklongnya. Tas favoritnya yang berbahan kulit, berwarna coklat, dan walau sudah se-belel apa pun, takkan pernah dia buang. Bukan pelit atau masalah harga.

Ini pemberian satu-satunya dari dia.

Bunyi bel kecil mengiringi kedatangan Devon di salah satu florist di ujung jalan. Bau khas toko warisan keluarga. Toko kecil dengan sentuhan pribadi di berbagai sudutnya. Devon menyapukan pandangannya dan matanya terhenti pada serangkaian bunga krisan yang masih segar dengan embun di kelopaknya. Detik itu juga, Devon tahu dia harus keluar dari sini dengan bunga itu.

Aku tahu ini tak biasa untukmu, tapi terimalah.

Bagaimana pun, ini hari istimewa.

****

Pelayan membukakan pintu kafe dan tersenyum ramah. Sepasang sepatu berwarna biru muda memasuki ruangan. Musik instrumental mengalun pelan dari speaker, seakan mengulurkan tangan untuk menuntun si pemilik sepatu, menemaninya berjalan ke meja pilihan takdir.

Kepala Shana penuh gaung teriakan putus asanya pada Tuhan. Shana tahu dia terlambat. Tapi biarkanlah khusus untuk hari ini, dia masih ada.

Semakin Shana berjalan, langkahnya semakin mengecil dan mengecil. Rasanya dia ingin meledak. Matanya menyipit—nyaris terpejam, takut melihat pemandangan yang dia tahu akan menantinya. Orang bijak bilang itu firasat. Dan hari itu Shana belajar, firasat, ternyata memang bisa salah.

“Maaf lama tak datang. Apa kabar di sana?”

“Ini frappuccino hangat kesukaanmu, juga krisan segar.”

“Dan aku tahu kamu ga akan peduli bunga apa itu.”

Suara itu terkekeh pelan. Suara yang terus menghantui Shana dan mengikatnya pada buaian masa lalu. Kaki Shana berhenti mendadak dan melemas.

Dia masih ada.

“Devon?”

Devon menoleh, matanya terbelalak. Sesaat, dia tak bisa mengenali gadis itu. Cantik. Semakin cantik.

Tercium di  hidung Devon, aroma yang selalu dia sukai. Lili putih. Wangi Shana yang ternyata tidak berubah. Belum berubah.

Shana tak sengaja melihat tas di samping kursi Devon. Warna tasnya sudah memudar, belel, dan mengelupas di beberapa bagian.

Ya, Tuhan. Itu tas yang sudah menghabiskan stok keberaniannya selama setahun. Shana ingat hari itu. Saat mulutnya kelu dan tangannya terulur ke depan sangat kaku sambil mempersembahkan kotak di depan Devon. Selamat ulang tahun. Tiga kalimat tersulit dalam tahun ke-16 hidup Shana.

Shana melihat ke kursi kosong di depan Devon. Ada secangkir kopi dan bunga di mejanya. Shana tahu sekali, itu kursi siapa. Kursi sahabat baik Devon yang meninggal saat SMA.

Shana menelan ludah. Dia tahu Devon dan sahabat baiknya selalu minum kopi di sini. Entah untuk mengerjakan tugas atau sekedar bersantai sehabis sekolah. Shana sangat tahu, karena dia selalu mengintip diam-diam dari luar jendela.

Setiap peringatan kematian sahabatnya, Devon selalu ke sini. Di jam seperti ini. Namun sudah 3 tahun ini Devon tak datang. Kabar burung berkata Devon melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Namun entah kenapa, Shana tak putus asa. Tahun berikutnya dia datang, dan tahun berikutnya juga demikian. Harapannya menolak dibunuh. Tampaknya harapan itu berkawan dengan masa depan dan tahu jelas, jika ia terus bertahan, hari ini pasti tiba.

Sepotong kalimat yang selama ini tersimpan rapat dalam peti cinta pertama mendesak di dada Shana. Sang Harapan tersenyum. Ucapkanlah, tak ada hari lain lagi yang lebih baik dari ini.

“Boleh… duduk di sebelahmu?”

 

Ternyata memang benar.

Hari ini hari istimewa.

Image

15 thoughts on “Rendez-Vouz

  1. Cerpen yang istimewa, tapi saya sedikit bingung. Dia yang dicetak bold itu, Devon, kah?

    Suka penggambaran debar-debar tidak keruan khas remaja yang kamu gambarkan di sini. Membuat saya jadi terkenang kembali masa-masa itu, hihi.

    • “Cerpen yang istimewa” –> ahahahak ini pasti karena kalimat yang terus menerus di ulang di cerpen :”D

      Terima kasih terima kasihhh :”3

      Iya ahahah yang dicetak bold memang yang dimaksud. Tapi kalau yang dari Devon kan sempet ada yang dibold juga, nah itu si shana :”D

      Pelajaran hari ini: Kalau pembaca masih bertanya-tanya berarti saya kurang berhasil. Ahahak gapapa! Next time fail better! *singsingkan lengan baju*
      *putar mars 17 agustus*

      • Bukan kurang berhasil, namun kurang jelas saja :’)
        Tapi ada saatnya pembaca harus dibiarkan ‘tersesat’ dalam ketidakjelasan juga, kok. Biar menarik🙂

        Selamat ya atas pos pertama. Pos kedua kapan? *nyengir gak sabar

  2. Huaahhh…

    Selamat atas postingan pertamanya! *bakar petasan*

    “Ucap kalimat” itu terasa agak janggal ya, mungkin sebaiknya diganti?

    Lalu, “sang harapan” karena dijadikan seperti oknum, sepertinya harus pakai huruf besar, jadi “Harapan”.

    Terakhir, good job. Endingnya ga ketebak. Tadinya saya kira ini cerita ttg first date, ternyata bukan ckckckck… ah, jadi ikut deg2an dan miris. *demikian komen si kutu buku yg pacar satu2nya semasa sekolah adalah diktat*

    • Gyabooo akhirnyaaa *peluk*

      *bakar menyan* #eh

      Akakakaka kemarin gue determined. Post today or don’t sleep at all. Akhirnya yang cuma dua halaman, sakses beranak jadi 4. Ga berasa ya? Ahahaha.

      Obrolan di oh lala itu sukses memaksa gue nongol hari ini :”D

      ““Ucap kalimat” itu terasa agak janggal ya, mungkin sebaiknya diganti? –> pas lu bilang gini, yang ada di kepala gue… itu kalimat di mana? *wajah datar* <- penulis yang lupa kalimat tulisannya sendiri :"D

      dan gue baru sadar. Oh my! itu ada di belakangggg.
      Hmmmm ada saran? *menerawang hitung cicak*

      Dan yang harapan iya noted akan g edit😉

    • “ah, jadi ikut deg2an dan miris. *demikian komen si kutu buku yg pacar satu2nya semasa sekolah adalah diktat*” –> Mba-mba, coba tolong curcolnya dipindah ke bbm :”D *ngakak*

      Cinta semasa SMA? Banyak!
      Yang berhasil?

      Malu… aku… malu… Pada semutt merah.
      Ahahahahak :”D

  3. Haiii makasi banget uda sudi mampir.
    Udah begitu, memuji pula.
    Oh… membawaku ke langit ke tujuh *Curtsy*

    Semoga posting kedua bukan hanya menggetarkan jiwa tapi juga menggetarkan jempol untuk merekomendasikan blog ini ke teman-temanmu yaaaa <—- Doktrinasi marketing tersembunyi :"D

    Eniwei.. Kalau tidak salah lihat tanda-tandanya..
    Are you? B-to the-I-to the G. B-to the-A-and-G??!

    *sodorkan mic* :"D

  4. keliatan banget yang nulis pasti udah dewasa. bahasa yang digunain bukan bahasa anak seumur aku lagi ini. rada sedikit bingung sih. tapi gapapa. at all emang otak aku yang belom nyampe umurnya /plak. aku suka banget hihihihi :$

    • Wah salut sekali sama kamuu ahahah.
      Benar-benar karya kita dibaca dan dikomen satu-satu.
      Terima kasih banyak yaaa :”)

      Sangat menghargainya.
      Semoga kamu betah main-main ke GPK ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s